Bagaimana Menjadi Bahagia?

Yoel 2:23
Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 53; Kisah Para Rasul 25; Imamat 16-17

Banyak orang terbiasa bekerja, pergi berlibur dan memiliki uang – tapi mereka tidak bahagia. Sementara itu orang lain kelihatannya benar-benar bahagia, meskipun miskin, tidak punya pekerjaan atau dikelilingi berbagai masalah. Mengapa?

Profesor Mihaly Csikszentmihalyi, dari Universitas Chicago, telah mewawacarai ribuan orang yang memiliki kehidupan yang bahagia, untuk mencari tahu apa rahasianya. “Banyak orang merasa bahwa waktu yang mereka habiskan di tempat kerja adalah sia-sia. Tapi sering waktu luang mereka juga disia-siakan dengan melakukan hal yang pasif – nonton acara TV yang tidak bermutu, misalnya. Akibatnya, kehidupan dilewatkan dengan serangkaian pengalaman-pengalaman yang membosankan.

Ia menemukan bahwa orang merasa bahagia ketika masuk pada kondisi yang ia sebut “aliran”. Ketika seseorang seperti terserap masuk dalam sebuah pekerjaan, yang terdefinisikan dengan baik dan menantang, mereka mengalami “aliran” – suatu keadaan di mana mereka tidak merasakan waktu berjalan. Tidaklah begitu penting apa pekerjaan itu, yang lebih penting adalah melakukan sesuatu, merasa positif dengannya dan mencoba melakukannya dengan lebih baik. Orang yang tidak bahagia bisa belajar bagaimana menjadi bahagia, jika mereka secara terus-menerus masuk dalam kondisi “aliran”, kata si profesor.

Lantas bagaimana pandangan Alkitab? Filipi 3:1, 4:4 menuliskan bersukacitalah dalam Tuhan. Jika menurut si profesor orang yang tidak bahagia bisa belajar bagaimana menjadi bahagia, dengan cara secara terus-menerus masuk dalam kondisi “aliran”, maka menurut Alkitab “aliran” itu berarti terus-menerus berada “di dalam Tuhan”. Apakah kebahagiaan semudah itu? Ya. Tinggallah di dalam Tuhan, dan sukacita senantiasa menyertai Anda!

Sukacita dapat Anda miliki ketika Anda tinggal di dalam-Nya.

Renungan: Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku

Mazmur 119:105
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 42; Kisah Para Rasul 14; Keluaran 33-34

Apakah kita seringkali merasa bingung atau tidak mantap saat kita harus membuat keputusan atau pilihan? Ini adalah pertanyaan yang akan kita renungkan pada hari ini. Beberapa orang mengalami kesulitan bahkan untuk membuat keputusan yang sederhana sekalipun. Belum lagi jika kita berbicara mengenai keputusan-keputusan yang sulit dan kontroversial.

Cobalah bandingkan dengan mengamati kehidupan para pemimpin besar. Sepertinya mereka selalu tahu apa yang harus dilakukan. Keputusan yang mereka ambil sepertinya sangat mantap dan mereka tidak menjadi bingung saat menghadapi situasi yang sulit. Rasanya mereka seperti memiliki suatu pedoman yang tidak kita ketahui untuk melakukan semuanya itu dengan mantap.

Memang benar! Dalam kebanyakan kasus seseorang yang sering sulit dalam mengambil keputusan dan pilihan disebabkan karena mereka tidak memiliki landasan yang kokoh dalam kehidupan mereka. Landasan ini dinamakan “prinsip”. Jadi orang yang berhasil bangkit menjadi pemimpin besar selalu memiliki kualitas ini. Mereka hidup dalam prinsip-prinsip karena situasi dan kasus mungkin akan berbeda, namun prinsip adalah kompas yang tidak akan berubah.

Hari ini kita mau membangun kualitas ini dalam kehidupan kita. Firman Tuhan berisi prinsip-prinsip kebenaran yang kekal, yang akan membuat jalan kita lurus dan mantap. Bahkan dikatakan dapat menjadikan kita lebih bijaksana daripada guru-guru kita. Luangkanlah waktu untuk merenungkan Firman senantiasa dan jalan kita akan diterangi oleh-Nya.

Firman-Nya akan menjadikan Anda seorang yang berhikmat.

Renungan: Kesepian?

Kesepian

 

Mazmur 62:6-9
Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 40; Kisah Para Rasul 12; Keluaran 29-30

Kesepian merupakan satu problem yang terbesar bagi orang yang tinggal di Amerika. Di negara yang amat maju ini, banyak orang berpacu dengan waktu dan kesibukannya sehingga tidak memiliki waktu untuk bergaul dengan sesamanya. Tetapi, problem kesepian tidak hanya terjadi di Amerika saja. Setiap orang pernah mengalami kesepian sekalipun berada di tengah keramaian atau di tengah pesta.

Kesepian tidak hanya ditentukan oleh keadaan di luar hati kita, tetapi terutama oleh keberadaan di dalam hati kita. Hati yang kosong dan tidak memiliki arti hidup akan merasa sepi dan merana. Kitab Amsal berkata supaya kita menjaga hati kita dengan waspada sebab dari situlah terpancar kehidupan. Bagaimana kita dapat mengatasi kesepian?

Kita perlu memiliki hubungan dengan Tuhan sehingga hati kita diisi oleh kasih, damai sejahtera, dan kuasa-Nya. Hanya Tuhan yang dapat memuaskan hati nurani kita. Di samping itu, kita juga perlu memiliki hubungan dengan sesama kita – belajar untuk hidup aktif dalam komunitas yang baik seperti keluarga, persekutuan, gereja dan lain-lain. Hidup kita menjadi berarti dalam hubungan kita dengan orang lain. Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri adalah orang yang paling malang dan kesepian. Sebaliknya, orang yang memberikan hidupnya untuk orang lain biasanya akan menemukan kebahagiaan dan kepuasan.

Berlarilah kepada Tuhan dan temukan bahwa Anda tidak sendiri!

Renungan: Good Idea Vs God’s Idea

Good Idea Vs God’s Idea

 

Yesaya 55:8-9
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 39; Kisah Para Rasul 11; Keluaran 27-28

Dalam kehidupan, tidak jarang kita dihadapkan dengan begitu banyak pilihan yang sangat menarik. Tawaran pekerjaan di tempat baru, melanjutkan pendidikan di luar negeri, kesempatan melayani, menemukan pasangan hidup yang sepadan dan masih banyak lagi lainnya. Setiap pilihan selalu mengandung resiko dan menuntut komitmen. Ketika kita dihadapkan dengan begitu banyak ide-ide yang baik, kita membutuhkan hikmat Tuhan agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Diperlukan prioritas yang tepat dalam menentukan pilihan.

Alkitab mengatakan bahwa seringkali rancangan Tuhan dan jalan Tuhan itu berbeda jauh dengan rancangan dan jalan kita. Dalam hal ini, kita perlu mengetahui dengan jelas apakah isi hati Tuhan bagi kita. Good’s idea often is not God’s idea. Seringkali ide-ide yang baik menjadi musuh dari ide-ide yang terbaik. Sebagai Bapa yang baik, Tuhan selalu merencanakan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Pada hari ini, pilihlah dengan bijaksana untuk menjalankan ide-ide dari Tuhan dan bukan berdasarkan hikmat dan pemikiran manusia. Bapa sumber segala hikmat dan pengetahuan akan memberikan kita kreatifitas dan kemampuan untuk melangkah dan berkarya yang terbaik selama kita mengikuti jalan-jalan-Nya yang ajaib. God will make a way. Would you step in?

Segala yang terbaik berasal dari Tuhan, melangkahlah bersama-Nya.

Renungan: Aku Berharap Karena Iman……?

Roma 4:18
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 38; Kisah Para Rasul 10; Keluaran 25-26

Seorang ibu mengisahkan pengalaman hidup anaknya. “Waktu itu, anakku berusia lima tahun ketika ia mengalami luka bakar yang cukup parah di bagian tungkainya. Dokter mengatakan bahwa ia tidak akan bisa berjalan lagi seumur hidupnya. Anakku tahu tentang vonis dokter itu, tetapi ia tidak pernah menyerah pada apa yang mereka katakan.

Setiap hari aku menyaksikan bagaimana ia berusaha sekuat tenaga untuk belajar berjalan. Tekad dan harapan yang membara di hati anakku, membuat ia terus melatih kakinya meskipun ia harus menahan rasa sakit di setiap langkahnya. Beberapa waktu berlalu, ketekunannya tidak sia-sia. Ia sudah bisa berlari meski awalnya sangat lamban tetapi makin lama ia bisa berlari dengan cepat. ‘Sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa aku pasti bisa berjalan lagi, bahkan akan akan berlari lebih cepat dari siapapun’ katanya. Pada tahun 1936 ia meraih prestasi lari untuk jarak satu mil dalam waktu 4:06 dan untuk saat itu merupakan rekor dunia.”

Tekad dan harapan adalah dua ‘sahabat’ yang akan mendampingi kita mencapai sukses. Harapan akan membuat kita tersenyum, saat semua orang menangis. Harapan membuat kepala kita tetap tegak menatap jauh ke depan, saat begitu banyak tantangan yang menghadang. Harapan merupakan kekuatan yang diberikan Tuhan agar kita dapat terus berjuang. Harapan akan menunjukkan arah, ketika kita mulai kehilangan tujuan.

Hidup akan terasa lebih hidup jika kita masih menyimpan sejuta harapan dan tekad di hati. Banyak hal yang dapat kita raih dan wujudkan dengan sebuah harapan, karena itu jangan pernah kehilangan harapan dan tekad di dalam hidup Anda.

Tidak ada yang dapat dicapai sebelum Anda memulainya. Kesuksesan akan lebih cepat diperoleh saat Anda mengharapkannya.

Renungan: Hari Yang Baik

Hari Yang Baik

Mazmur 5:4
TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 35; Kisah Para Rasul 7; Keluaran 19-20

Hari ini adalah hari yang dijadikan Tuhan, karena itu marilah kita bersukacita di dalamnya. Setiap hari Tuhan memberikan berkat, kesempatan dan pengalaman baru. Bagaimana kita dapat menjadikan hari ini menjadi ‘baik’?

1. Mulailah hari ini bersama Tuhan. Bila kita mengawali hari ini dengan doa, maka hidup dan tindakan kita akan berbeda. Doa ini akan membuat kita berfokus pada hal-hal yang penting dan bernilai kekekalan. Kita menyerahkan hari ini ke dalam pimpinan Tuhan sehingga apa yang kita kerjakan hari ini akan mendatangkan kebaikan.

2. Rencanakan apa yang akan kita kerjakan hari ini. Pikirkan dengan spesifik apa yang akan kita lakukan hari ini. Pikiran dan sikap kita dalam menghadapi hari ini dengan pesimis dan perasaan segan, maka besar kemungkinan bahwa kita tidak akan ‘produktif’ hari ini. Plan your work and your plan.

3. Hadapi hari ini dengan antusias. Kata antusias berasal dari kata “entheos” yang berarti di dalam Tuhan. Bila kita di dalam Tuhan atau bila hidup kita dipenuhi oleh kuasa dan kasih Tuhan, maka kita dapat menghadapi hari ini dengan optimis dan mantap.

Kecaplah kebaikan Tuhan dan bersukacitalah atas hari ini.

Renungan: Menderita, Perlukah?

2 Korintus 11:30
Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 33; Kisah Para Rasul 5; Keluaran 15-16

Penderitaan adalah topik yang rumit dalam ke-Kristenan. Pada satu sisi kita sering mendengar bahwa hidup ke-Kristenan adalah hidup penuh kemuliaan laksana anak Raja, penuh kemakmuran dan berkat berlipat-lipat. Di satu sisi, kita bahkan mendengar orang-orang yang sengaja menyiksa diri atau hidup dalam kemiskinan ekstrim sebagai bagian dari ibadah.

Alkitab sendiri dengan jelas menyatakan bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup kita. Setiap kita tidak menyukai hidup menderita, tapi Allah melihatnya berbeda. Ia justru menghadirkan penderitaan untuk mengajar, mendidik dan mendisiplinkan kita. Ada beberapa penyebab mengapa kita menderita adalah:

•Kita menderita karena dosa. Konsekuensi dosa adalah kesukaran hidup dan penderitaan.

•Kita menderita agar kita belajar untuk taat.

•Kita menderita untuk Kristus. Kita diejek karena iman kita. Kita dikucilkan karena Firman Tuhan yang hendak kita taati. Kita dianiaya pada saat kita hendak menyatakan iman kita. Saat ini kita hidup di dunia, di mana aniaya karena iman, bukanlah hal yang asing lagi.

Penderitaan bukanlah selalu berarti hal yang buruk. Penderitaan jika dilihat dengan perspektif yang benar adalah bagian dari kehidupan kita dalam tuntunan Allah.

Kelemahan dan penderitaan merupakan tenunan tangan Allah untuk menguatkan kita.

Renungan: Identitas Diri, Ukurannya?

Siapakah Aku?Matius 16:15

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 27; Matius 27; Keluaran 3-4

Biasanya, ketika ditanya siapa kita, jawaban yang diberikan berkisar sekitar tempat lahir, pekerjaan, pendidikan dan prestasi hidup. Identitas kita seakan-akan tidak dapat terlepas dari prestasi atau status sosial. Apalagi budaya kita sering mengaitkan prestasi seseorang dengan materi: mobil yang dipakai, status lajang/menikah atau bahkan prestasi anak di sekolah. Ketika kita tidak “mempunyai apa-apa”, kita seakan-akan menjadi nobody.

Sepanjang sejarah pelayanan Tuhan Yesus, beberapa kali Dia ditanya mengenai identitas-Nya. Di lain kesempatan, orang saling bertanya dan memperbincangkan siapa Kristus. Mereka juga meragukan ke-Tuhanan-Nya hanya karena Dia sekedar anak tukang kayu dari Nazaret. Pertanyaan, perdebatan, pengakuan maupun penolakan mengenai siapa Kristus tidak pernah habis sejak dua ribu tahun lalu.

Bila pertanyaan siapa Kristus dan mengapa mempercayai-Nya diajukan kepada kita, apa jawaban kita? Apakah Dia betul-betul tak tergantikan? Bila Dia memberikan kesembuhan, bukankah dokter modern atau ahli penyembuhan alternatif pun bisa melakukannya? Bila Dia mampu memberikan materi, mengapa dengan bekerja keras, pendidikan tinggi atau warisan lebih kita rasakan sebagai jaminan yang menjanjikan? Seandainya Tuhan Yesus tidak memberikan pekerjaan, materi, kesehatan, penampilan fisik yang baik, pasangan hidup atau anak pada kita, siapakah Kritus bagi kita?

Temukan identitas Kristus dalam hidup Anda, seberapa pentingkah Ia untuk Anda?

Renungan: Syarat menerima Berkat Tuhan?

Berkat Tuhan

Mazmur 133:1
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 16; Matius 16; Kejadian 31-32

Mazmur 133 adalah mazmur yang indah dan berisi banyak hikmat. Mazmur ini berkata bahwa Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya bilamana kita hidup rukun bersama. Tuhan Yesus, pada akhir hidupnya, berdoa agar kita – semua orang yang percaya – dapat bersatu. Hidup dalam kerukunan atau kedamaian merupakan syarat yang penting untuk menerima dan menikmati berkat Tuhan. Mengapa?

Orang yang tidak dapat hidup rukun dengan sesamanya tidak mugkin dapat hidup rukun dengan Tuhan. Bila hidup kita dengan sesama dipenuhi dengan konflik, maka hati kita akan penuh dengan luka dan kepahitan yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Surat Petrus berkata bahwa ketidakrukunan antara suami dan istri dapat menjadi penghalang doa. Tuhan Yesus juga memerintahkan agar kita terlebih dahulu membereskan hubungan kita dengan sesama sebelum kita datang kepada-Nya untuk memberikan persembahan kita.

Kerukunan menghasilkan kebahagiaan. Ini adalah berkat Tuhan yang terbesar dalam hidup sebab setiap orang ingin berbahagia. Bila kita ingin berbahagia, kita harus belajar untuk hidup rukun dengan sesama. Yesus, Raja Damai itu, ingin bersemayam di dalam hati yang dipenuhi dengan kedamaian.

Pintu berkat Tuhan akan terbuka ketika Anda hidup dalam kerukunan.

Sumber : 365 Perjalanan Bersama Tuhan, Jeanne Handojo

Renungan Harian: Peace Maker atau Trouble Maker?

Renungan Harian: Peace Maker

Matius 5:9
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 7; Matius 7; Kejadian 13-14

Konflik tentu sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja. Keberadaan konflik ini memang akan sangat mengganggu terutama dalam bagian yang membutuhkan kerjasama di antara para karyawannya. Seringkali konflik timbul karena di tempat kita bekerja terdapat orang yang cenderung sebagai pembawa masalah. “Trouble Maker” ini tidak berarti orang tersebut yang membuat masalah dengan orang lain ataupun mencari gara-gara, tetapi lebih menjurus pada pribadi yang mendorong terjadinya kondisi konflik.

“Pengadu” inilah istilah yang lazim digunakan bagi mereka. Selain memiliki kecenderungan untuk menceritakan semua masalah pada setiap orang, dan apa yang dikatakannya itu seringkali mendatangkan konflik di antara orang-orang di sekitarnya. Mungkin apa yang diceritakan bukanlah dusta dan benar adanya, tetapi “Pengadu” ini memanfaatkan hal ini untuk menunjukkan keburukan atau kesalahan orang lain dan menempatkan dirinya di posisi yang lebih baik dan atau meninggalkan kesan baik tentang dirinya.

Tanpa sadar seringkali orang percaya yang katanya memiliki nilai-nilai yang lebih baik, terjerumus dalam perkara seperti ini. Kita sering menceritakan mengenai keburukan-keburukan orang lain, bahkan membocorkan rahasia dan kesalahan rekan kerja kita. Bukan berarti kita harus selalu tutup mulut, tetapi kita harus menguji alasan kita melakukan “pengaduan” ini. Untuk meninggikan diri? Untuk menjelekkan posisi orang lain? Atau memang untuk alasan yang benar dan sangat perlu untuk dilakukan. Profesional, bukankah kita dipanggil menjadi pembawa damai?

Kasih menutupi banyak pelanggaran.