GANDHI ON CHRISTIANITY

GANDHI ON CHRISTIANITY

Robert Ellsberg Gandhi and Jesus

PENDAHULUAN

Mohandas K. Gandhi, seorang pahlawan pergerakan kemerdekaan India, dan salah satu teladan yang paling berpengaruh sepanjang sejarah dalam perihal kesucian diri dan kecerdasan politik, selalu menajdi perhatian dan tantangan tersendiiri umat Kristen. Sebagai seorang pengacara muda di Afrika Selatan, Gandhi seingkali dibujuk oleh banyak kawan-kawan penginjil yang sangat ingin membuatnya masuk Kristen. Selalu terbuka terhadap kebenaran, darimanapun sumbernya, Gandhi dengan serius mempertimbangkan ajakan-ajakan tersebut. Mengkaji Alkitab, mengadiri pelayanan-pelayanan gereja dan persekutuan-persekutuan doa. namun akhirnya, ia tetap teguh dengan keyakinan hindu yang dipeluknya sejak lahir. Keimanan yang terbuka terhadap kebenaran sejati, kebenaran yang lebih luas. kebenaran yang dia rasakan lebihdari pada yang hanya dapat ditampung oleh kapasitas tiap-tiap manusia, gereja atau tradisi manapun.

Kemudian, saat dia melihat bahwa pencarian diri terhadap kebenaran tidak dapat dipisahkan dari perjuangan rakyat untuk kemerdekaan dan keadilan, dia menghadapi suatu tantangan yang lain. Inilah potret seorang Hindu yang denganhalus menolak klaim-klaim dogmatis Kristen, walaupun dia sendiri meyakini klaim-klaim etis Kristus di setiap gerak kehendaknya. Beberapa orang Kristen adalah murid-murid pertamanya di afrika Selatan, sepertiC.F. Andrews, seorang misionaris Inggris dan penulis biografi, dan beberapa kawan serta sahabat lamanya. Sedang muridnya yang lain seperti Dietrich Bonhoeffer, Peter Maurin, dan Jacques Maritain belajar padanya dari jauh.

Dalam banyak hal, pengaruh Gandhi terhadap orang-orang Kristen bukan semata terletak pada komentarnya yang spesifik mengenai Yesus atau agama Kristen. Namun, lebih pada kemampuannya untuk memperbaharui gambaran tentang yesus dan perintah Injil tentang Cinta-Kasih dalam kesaksiannya. Dekade yang lalu, ditandai dengan munculnya pemuka agama Kristen yang anti kekerasan : Dorothy Day dari Catholic Worker, Danilo Dolci dari Sisilia, Lanza del Vosto di Peransis, Cesar Caves, Thomas Merton. Mereka semua menemukan visi pada kesaksian dan pengajaran Yesus. Tetapi mereka mengakui telah menemukan bentuk ajaran anti kekerasan Kristus tersebut melalui metode Gandhi, bukan melalui pengajaran gereja-gereja Kristen.

Sebelum Gandhi, telah dan selalu ada saksi-saksi individual gerakan anti-kekerasan sebagai sebuah simbol diri atau agama. Sejarahpun mencatat banyak contoh-contoh gerakan anti kekerasan yang cukup berhasi. tetapi Gandhi menunjukkan sesuatu yang sangat luar biasa dalam menyatukan teori dan praktik. Dia memperlihatkan bahwa semangat gerakan anti-kekerasan yang dia peluk sebagai sebuah prinsip hidup pribadinya, dapat digunakan pula sebagai prinsip perjuangan politik rakyat yang efektif.

Dari banyak penafsir Kristen tentang Gandhi, salah seorang yang tidak disangsikan lagi dan terkenal di Barat adalah Marthin Luther King Jr. Dalam kepemimpinannya pada gerakan kemerdekaan orang kulit hitam di Amerika Serikat, dia berjuang menggabungkan inspirasi Injil dengan metode dan filosofi Gandhi. Menggambarkan apa yang didapatkan dari Gandhi, King Menulis “Saat saya memperlajari filosofi Gandhi, keraguan akan kekuatan cibta-kasih lambat laun berkurang dan saya mulai dapat melihat bahwa doktrin tentang cinta kasih yang diterapkan melalui gerakan anti-kekerasan metode Gandhi merupakan senjata yang paling potensial bagi rakyat tertindas dalam memperjuangkan kemerdekaannya…. Prinsip ini menjadi cahaya penerang bagi gerakan kami. Kristus memberi semangat dan motivasi sementara Gandhi memberi metode”.

Etika Gandhi tidak dapat dipahami sesederhana “membalik telapak tangan”. Dia telah menemukan apa yang dia sebut “kekuatan kebenaran”, sebuah kekuatan perlawanan tanpa senjata, peperangan ataupun jeruji-jeruji penjara. Semboyan Gandi ini disebut Satyagraha “berpegang teguh pada kebenaran” – diambil dari bahasa sansekerta, Sat, yang artinya “ada/nyata”. Dia meyakini bahwa gerakan anti-kekerasan menawarkan sebuah metode perjuangan yang ebrakar pada sifat dari kenyataan itu sendiri. Gandhi yakin bahwa ketidakberesan cinta-kasih dan kebenaran merupakan akar dari munculnya konflik-konflik dalam kehidupan. Cinta-kasih dan kebenaran merupakan sebuah prinsip yang mendasar. Saytagraha dibentuk untuk membawa kenyatan tersebut ke permukaan, untu bertindak, untuk dapat dilihat, jika perlu dengan kesukaran dan penderitaan yang dilakukan dalam sebuah semangat yan tidak berorientasi pada hasil.

Tujuan dari perjuangan anti-kekerasan bukanlah kemenangan satu pihak terhadap pihak yang lain, tetapi sebuah transformasi radikal terhadap bentuk hubungan dari kedua belah pihak yang bertikai. Onjeknya bykanlah penaklukan kekuatan, melainkan menemukan kebenaran. Dalam sebuah perjuangan, pilihan cara-cara yang akan digunakan harus dilakukan secara bijaksana. Pemahaman antara metode dan tujuan perjuangan merupakan aksioma terpenting dalam filosofi Gandhi. Dengan demikian, kebohongan, manipulasi, dan segala macam tindakan kekerasan terhadap manusia benar-benar bertentangan dengan tujuan kebenaran-cakrawala akhir yang terletak di balik berbagai tujuan perjuangan, apakah itu dengan menentang ketidak-adilan lokal, atau memperoleh kemerdekaan India. Seperti yang Gandhi katakan dalam salah satu rumusannya yang terpenting, yaitu “Kebenaran adalah Tuhan”.

Gagasan bahwa Yesus, dalam hidup dan ajaran-ajarannya mendukung bentuk etika yang sama terhadap anti-kekerasan masih merupakan suatu hal yang belum terungkap dalam sejarah Kristen. Sebuah konsep tentang kebenaran sebagai milik eksklusif dari suatu agama atau gereja telah memunculkan kelompok-kelompok yang dianggap bid’ah, terjadinya Perang Salib dan ratusan perang bernuansa agama. Dilema antara “ajaran yang sempurna” dan tuntuntan patriotisme telah mengakibatkan umat Kristen tetap memberkati dan melayani kedua belah pihak di setiap peperangan dalam sejarah Barat. Gandhi telah menolong umat Kristen Barat untuk memulihkan pemahaman mereka mengenai “kenangan berbahaya” Konthbah diatas Bukit dan perintah radikal Yesus tentang Cinta-Kasih. Karena kenyataan inilah, Gandhi mendapat sebuah tempat tersendiri dalam sejarah Kristen. Namun Filosofi Gandhi tentang anti-kekerasan bukanlah fokus utama tulisan ini. Ada banyak diantaranya ditunjukkan pada halaman selanjutnya. Keduanya tentang semboyan Gandhi dan refleksi pemikiran Gandhi dari beberapa penulis Kristen Kontenporer.

GANDHI DAN AGAMA KRISTEN :

Tulisan-tulisan Gandhi menunjukkan apresiasinya yang besar terhadap Yesus, pengaruh cita-cita Kristen dan kesetiaannya pada teman-teman Kristennya. Penggalian yang intens terhadap kitab suci umat Kristen menyebabkan munculnya kritikan tajam yang menuduhnya sebagai “seorang Kristen sembunyi-sembunyi”. Tuduhan terhadap Gandhi mengandung dua sisi, celaan dan pujian : “Ini celaan karena banyak orang yang percaya padaku untuk mampu menjadi apapun dengan sembunyi-sembunyi…. dan pujian atasku yaitu sebuah pengakuan hormat terhadap kemampuanku mengapresiasikan keindahan Kristen”. Memang, jika dia hanya meyakini “Kothbah diatas Bukit dengan interprestasinya sendiri tentang hal ini, dia dengan senang hati akan menyebut dirinya seorang Kristen. Tetapi, dia juga mengakui secara jujur bahwa interprestasinya akan jatuh menajdi sebuah pemahaman yang ortodoks.

Problem Gandhi dengan agama Kristen, semata-mata hanya pada pemahaman teologi dan etis. Dia tidak dapat mengimani bahwa Yesus Kristus hanya satu-satunya anak Allah, juga tidak dapat emnerima bahwa keselamatannya bergantung pada pengakuan tersebut. Pada saat yang sama, tinkah laku orang-orang Kristen membuatnya ragu, bahwa agama mereka mempunyai banyak klaim-klaim tentang kebenaran. Tidak hanya perilaku “orang-orang Kristen Barat” yang telah memunculkan dua kali perang dunia sepanjang hidup Gandhi, tetapi juga perilaku monarki Ingris dan seluruh agen-agen kekaisaran yang merupakan pemuja Kristus di Gereja.

Pemahaman Gandhi tentang agama Kristen, seperti diuraikan dalam otobiografinya, diawali dengan kenangan kanak-kanaknya yang buruk tentang orang-orang India yang berpindah agama lalu diharuskan meninggalkan warisan kebudayaan mereka untuk menerima “daging dan minuman keras”. Kemudian, sebagai seorang mahasiswa hukum di Inggris, dia bertemu dengan teman Kristennya yang pertama dan memulai perkenalannya dengan Alkita. Baru, setelah di Afrika Selatan, dimana ia tinggal dari tahun 1893 tingga 1915, dia menikmati persahabatan eratnya yang pertama dengan orang-orang Kristen. Kebanyakan mereka adalah penginjil Protestan yang mengundangnya ke pelayanan-pelayanan doa dan memintanya dengan sangat, untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Gandhi menghargai ketulusan dan misi diali usahanya untuk mengerti keyakinan Kristen. Walaupun, pada akhirnya pencarian agamanya tetap membawanya kembali kepada keyakinan Hiduisme.

Namun demikian, pada saat yang sama hidupnya terus menerus diperkaya oleh temuannya dari seorang penulis Kristen Leo Tolstoy. penulis novel Rusia, yang terkenal dengan Anna Kareninan dan War and Peace, telah menyebabkan dirinya tekun di tahun-tahun selanjutnya untuk menegaskan apa yang disebutnya dengan “pesan kenebaran dari Yesus”, seperti yang disampaikan Yesus pada Khotbah diatas Bukit. Pesan terpenting yang didapatkannya dalam hukum cinta kasih, adalah penolakan absolut atas tindakan kekerasan dalam segala bentuk. Paham cinta-damai Tolstoy, digabungkan dengan eprhatiannya pada kaum miskin, filosofi “buruh roti” dan komitmen terhadap kesederhanaan hidup-cita-cita, yang walaupun tidak sempurna direalisasikan dalam hidup Gandhi, tetapi gemanya dapat dirasakan pada diri pengacara India tersebut. pemahaman Gandhi tentang gerakan anti-kekerasan pada akhirnya merupakan hal yang paling luar biasa. Bahkan, diatas semuanya itu, Gandhi memperoleh ketegasan pribadinya untuk membedakan antara pesan dan ajaran yesus dan praktik gereja Kristen melalui Tolstoy. Maka, bagi Gandhi, Yesus tetap merupakan sebuah figur yang dihormati dan ditaati, yang tidak dapat dicemari oleh kegagalan dan ketidaktaatan para pengikut Kristennya.

Menjelang kepulangannya ke India, Gandhi telah membangun bentuk esensial filosofinya tentang anti-kekerasan. Selama 40 tahun berikutnya, hingga kematiannya tahun 1948, dia mencoba menyempurnakan filosofinya dalam aksi. Sebagian besar melalui gerakan Pribadi dan teladan kesuciannya yang luar biasa. Dia menolong rakyat India membuat transisi psikologis dari perbudakan menuju kemerdekaan.

Sejarah mencatat aksi-aksi terkenal seperti “Gerakan ke Laut” (March to the sea) dimana Gandhi ditangkap karena menentang monopoli orang-orang Inggris terhadap produksi dan penjualan garam. tetapi waktu yang dihabiskannya dalam masa penahanannya tidak berarti bila dibandingkan dengan kepentingan gerakannya, seperti dalam aktivitasnya yang revolusioner yaitu duduk di depan mesin pemintal, memproduksi kain tenunan sendiri. Hanya para laki-laki dan perempuan yang benar-benar merdeka saja, yang dapat memenangkan kemerdekaan bagi India. Ini benar-benar merupakan revolusi kesadaran, menyatu dengan rakyat jelata dan tidak sekedar berkampanye di depan umum untuk mengobarkan pembangkangan. Pembongkaran kesadaran ini akan membuat usaha kemerdekaan terwujud. Bakan, kemerdekaan ini pun tidak berarti bila dibandingjan dengan tujuan akhirnya, walaupun sukar dipahami, yaitu Kerajaan Tuhan.

Ketika Gandhi semakin dalam memahami jiwa India, dia membangun hubungan dialog lebiah luas denan orang-orang kristen. Populasi Kristen Pribumi di India tergolong kecil. menurut sensus tahun 1921, mereka hanya mewakili satu setengah persen penduduk, kebanyakan mereka terkonsentrasi di daerah India Selatan. Jadi, persentuhan Gandhi dengan orang-orang Kristen sebagian basar adalah dengan orang-orang asing. Umumnya para misionaris yang berbicara dengan Gandhi berkaitan dengan opininya tentang Yesus, agama Kristen dan kegiatan para misionaris secara umum.

Di berbagai persoalan, Gandhi mengungkapkan dirinya sendiri dalam istilah tertentu. Ia mengakui dengan tulus kesetiaannya pada figur Yesus, yang ia hargai sebagai perwujudan ideal dari Satyagraha. Dia tidak hanya mengimani Khotbah diatas Bukit, tetapi juga penderitaan Yesus di kayu salib serta teladan-teladannya tentang kasih-sayang sebagai esensi sebuah agama. Pada saat yang sama, dia menyarakan kristiknya terhadap paham Kristen Ortodoks, baik terhadap klaim-klaim dogmatiknya maupun terhadap kontribusi etikanya. Umat Kristen, dinilai dari pengalaman-pengalaman Gandhi, perilaku Kristen justru berlawanan dengan ajaran Khotbah diatas Bukit. Mengenai aktivitas para misionaris Kristen di India, dia berbicara terus terang, bahwa kebanyakan misionaris yang tinggal di India meremehkan adat-istiadat dan tradisi India dan tidak dapat membedakan antara nilai-nilai Injil dengan peradaban Barat. Dia menolak ajaran bahwa penyelamatan hanya ada melalui agama Kristen dan menilai usaha-usaha untuk merubah keyakinan agama sebagai sebuah penjajahan spiritual yang melanggar kepercayaannya sendiri tentang kesamaan seluruh keyakinan. Untuk menarik orang masuk ke dalam sebuah keyakinan, dia percaya bahwa keyakinan otentik bagi keyakinan seseorang harus ditunjukkan dalam perbuatan, bukan kata-kata. Ketika iman hidup, maka ia akan menebarkan harum dengan sendirinya.

Gandhi memiliki sikap yang sama dengan keyakinan lain seperti Budha dan Islam: penghargaan bagi semua agama sehingga dia mempunyai pemahaman yang sama tentang kebenaran; mengkritik semua pernyataan yang anti toleransi dan fanatik. Dia yakin bahwa semua agama pada dasarnya benar, semuanya bermuara pada satu kebenaran. Demikian juga, semuanya tidak sempurna, bertanggung jawab atas kekeliruan dan memerlukan pemurnian. Hal ini sama seperti dalam kebenaran Hindu contohnya seperti penindasan terhadap kasta Paria (orang Paria/ anak-anak buangan), sehingga dia menganggap itu sebagai perbuatan yang mengjina Tuhan dan memutar-balikkan kebenaran agama. Cukup dapat dimengerti jika dia lebih setia berjuang sepanjang hidupnya untuk memberantas penyebab munculnya kelas Paria – (atau anak-anak Tuhan, menurut istilahnya sendiri) dan membangun toleransi agama daripada berjuang secara langsung melawan kerajaan Inggris. memang, dia tidak dapat membedakan satu sebab debgab sebab lainnya. Dalam beberapa kasus, pergolakan komitmennya yang paling mendasar adalah merekonsiliasi imannya, yang menghabiskan waktu sepanjang hidupnya. Tak lama setelah kemerdekaan dan pertumpahan darah antara India dan Pakistan, sebuah perpecahan, walau dia melakukan apapun dengan segala kekuatannya untuk mencegah perang, dia terbunuh oleh ekstrimis Hindu yang merasa dikianati oleh kepeduliannya terhadap kesejahteraan umat Islam.

Kejadian ini mengingatkan kita bahwa tulisan-tulisan Gandhi tentang agama-agama dunia, termasuk tentang Kristen, tidak disusun dalam isolasi akademis atau dalam diskusi agama yang ramah, tetapi ditengah-tengah pergolakan sosial dan politik masyarakat yang terjadi terus menerus. penguasa Inggris mendapatkan keuntungan karena adanya perpecahan antara kelompok Hindu, Muslim ataupun kaum Parian. Maka, pandangan-pandangan Gandhi terhadap Kristen maupun agama-agama lain memiliki tekanan langsung pada perjuangan untuk kemerdekaan. tetapi usaha Gandhi untuk mengatasi perseteruan agama maupun persaingan kelompok berakar pada tujuan perjuangan yang jauh lebih dalam, yaitu menciptakan masyarakat yang anti kekerasan dibalik tujuan kemerdekaan.

Pertumpahan darah rakyat India dan Pakistan terjadi setelah perpindahan kekuasaan dari Inggris, menjadi bukti nyata yang mendorong pentingnya toleransi agama dan dialog antar agama. Tetapi, keyakinan Gandhi terhadap kesetaraan semua agama tidak semata-mata didasarkan pada alasan-alasan pragmatis. Hal ini bersumber dari pemahamannya atas kebenaran sebagai suatu kenyataan yang lebih luas daripada agama manapun, bahkan dasar dari segala hal. Tentunya, dalam dialog antar agama, seperti perjuangan melawan ketidak-adilan, anti-kekerasan adalah cara mencapai kebenaran. lebih Lanjut, inilah cara yang pasti menuntun seseorang ketengah konflik. Bagi Gandhi, dengan pemikiran yang melampaui orang-orang se-zamannya, yang menggariskan sesuatu yang baru dalam hal kesucian politik, Tuhan tidak berada di gua-gua Himalaya, tetapi diantara yang termiskin dari yang miskin dan dalam perjuangan mereka untuk martabat dan kemanusiaan.

TANTANGAN-TANTANGAN GANDHI :

Uraian-ulaian kritik yang tertulis dalam tulisan ini membicarakan sedikitnya empat macam tantangan yang Gandhi berikan bagi Kristen Kontenporer.

1. TANTANGAN BAGI DIALOG ANTAR AGAMA

Sejak era Gandhi, banyak kemajuan dialog antara orang Kristen dan non-Kristen. Dalam lingkup oikumene dan akademis, telah diterima secara luas bahwa nuansa dialog menuntut adanya saling penghargaan satu dengan yang lainnya, kerendahan hati yang sungguh-sungguh dan kesadaran penuh bahwa tidak ada satu pihak pun yang memonopoli kebenaran secara istimewa. Dewasa ini, ada tanda-tanda bahwa tantangan dialog memasuki fase baru. Dulu, alasan prinsip dialog, paling tidak dari perspektif orang Kristen, adalah untuk mengkonversikan orang-orang yang belum percaya. Dikemudian hari, dialog ini telah memberikan jalan pada usaha untuk mendengar dan mengerti keyakinan orang lain dengan penuh rasa hormat. Bahkan mungkin untuk menghargai kebenaran atau arti keselamatan dari keyakinan lain. Fungsi baru dari dialog dicapai, ketika diantara mereka yang melakukan dialog antaragama terbuka terhadap kemungkinan pengertian baru. Dngan kata lain, adalah satu hal untuk mengetahui bahwa untuk mengakui bahwa Hindu dapat mencapai keselamatan. Lagipula, seorang tampaknya dapat berusaha untuk mengerti, bagaimana hal tersebut mungkin melalui rencana keselamatan yang universal seluruh umat manusia oleh Tuhan seperti yang dinyatakan dalam Kristus. Pada point ini, seseorang bisa terus bergerak lebih jauh mempertanyakan bagaimana pemahaman seseorang tentang Kristus dapat diperluas atau dimodifikasi dengan dasar dan keyakinan Hindu. Apakah mungkin untuk mengerti tentang keselamatan melalui Kristus dalam istilah Hindu dan Budha?

Gandhi memberi banyak tawaran pada orang Kristen yang ikut dalam kegiatan ini, paling tidak untuk sumbangannyayang menurut Diana Eck disebut “Prinsip-prinsip Gandhi tentang dialog antar-agama”. Hal ini benar-benar penting, dalam usaha dialog, sehingga orang Kristen mulai melihat bagaimana mereka diakui oleh orang lain. Bahkan orang-orang Kristen yang telah memiliki sedikit lebih banyak pengalaman dengan melihat diri mereka sendiri melalui pandangan orang lain. penilaian simpatik Gandhi secara relatif pada Kristen membuat kritik-kritik halusnya menjadi berarti dan berpengaruh.

Tidak semua pihak yang ikut serta dalam dialoq antar agama ini siap untuk menerima keyakinan Gandhi tentang kesamaan agama. Banyak yang ingin berbagi hanya untuk menegaskan keunikan dari keyakinan mereka masing-msing dan berusaha untuk tidak tampak sebagai pemuja berhala, fanatik dan kikir. tetapi Gandhi memimpin dialog menuju tantangan yang lebih besar; harapan bahwa berbagai ragam untuk keyakinan agama dimuka bumi ini belajar untuk bekerja-sama menghadapi ancaman-ancaman global bagi kelangsungan hidup bersama. pada akhirnya saling pengertian antar-agama tidak dapat dipisahkan dari isu-isu kebebasan manusia, perdamaian, dan kebaikan seluruh umat manusia dimuka bumi ini.

2. TANTANGAN BAGI TEOLOGI ASIA

Gandhi adalah orang yang pertama besikeras membedakan antara Injil Kristus dengan kebudayaan serta peradaban Barat. menurutnya, yesus adalah orang Asia tulen yang ajaran-ajarannya terdistorsi oleh persampuran dengan kekuasaan Roma. Jika ajaran Kristen memiliki pesan yang universal, mengapa hal ini harus disampaikan dalam bahasa Barat, istilah-istilah sejarah Barat, dan dari sudut pandang Barat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul sebagai tantangan yang kuat bagi para teolog Kristen di Asia. Jika Kristen harus menjadi kekuatan nyata di Asia, mereka berargumentasi bahwa Kristen tidak bisa secara tergesa-gesa atau dangkal memakai “pakaian Asia”. Harus terjadi inkarnasi dan inkulturasi secara utuh dalam tradisi, filosofi dan kebiasaan berpikir Asia. Para Teolog India, terutama sekali para Jesuit (diwakili Ignatius Jesudasan) memahami Gandhi sebagai partner istimewanya dalam dialog antar-agama.

Kejeniusan Gandhi, sebagai seorang pemimpin gerakan kemerdekaan, adalah kemampuannya dalam melihatketidak-berdayaan bangsa India untuk dapat melawan kolonialissasi Inggris dengan efektif, karena merekaterperangkap dalam kebudayaan Inggris. Saat Gandhi menghadiri upacara minum teh dengan Raja Inggris, pakaiannya adalah pakaian yang ditenunnya sendiri, membuat pernyataan yang jauh lebih mengesankan daripada seratus manifesto. Saat dia ditanya apakah dia tidak merasa telanjang pada upacara tersebut, dia menjawab bahwa raja telah mengenakan pakaian yang cukup untuk digunakan mereka berdua.

Orang-orang Kristen Asia menghadapi tantangan untuk mencari jati-diri mereka di tengah-tengah masa yang kebanyakan non-Kristen dan miskin. Konsekuensinya, banyak yang telah berpendapat bahwa jalan menuju otensitas Kristen Asia membutuhkan cara khusus untuk inkulturasi, dialog antar-agama dan solidaritas bagi rakyat tertindas. Di semua tugas tersebut, Gandhi mewakili seorang pemimpin yang sangat diperlukan.

3. TANTANGAN BAGI PEMURIDAN KRISTEN

Saya telah menyinggung pengaruh Gandhi dalam pembentukan gerakan anti-kekerasan Kristen. Jim Douglas, seorang Kristen yang banyak mengkaji ajaran Gandhi, menulis dalam essay-nya, bagaimana Gandhi membantu orang-orang kristen menemukan kembali makna Salib sesungguhnya. Seringkali makna Salib tereduksi oleh kepentingan-kepentingan pribadi atau kesalehan pribadi. Gandhi menolak spiritualitas yang berfokus pada keselamatan diri; pencarian pencerahan diri tidak dapat dipisahkan dari hidup pelayanan dan komitmen pada transformasi sosial. Dalam istilah teologi pembebasan, gandhi mendorong orang-orang Kristen mengalihkan sifat kekolotan (ortodoksi) menuju keterbukaan (ortopraksi). Yesus, dalam pengamatan Gandhi, dianggap bukan yang datang untuk menciptakan agama baru tetapi untuk menciptakan kehidupan baru. Ekspsrimen-eksperimen gandhi dalam gerakan anti-kekerasan menantang orang-orang Kristen untuk melihat penderitaan Kristus lewat pemahaman lain.

Dengan humor khas-nya, Gandhi menolak orang-orang Kristen yang mempertahankan pendapatnya bahwa “seandainya dia menerima Kristus” teladan-teladannya akan sempurna. Lagipula, dia tidak pernah meminta orang lain untuk mengikuti keyakinan Hindunya. Yang selalu menjadi harapannya adalah, teladannya akan mendorong kaum muslim menjadi muslim yang lebih baik dan orang Kristen menjadi Kristen yang lebih baik. Banyak orang Kristen yang menadi Kristen dengan lebih baik karena Gandhi, yang telah menemukan penekanan yang berbeda dalam Injil, yang telah diingatkan oleh kata-kata Yesus “Bukan orang yang berseru ‘Tuhan, Tuhan’ yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.

4. TANTANGAN BAGI MISI KRISTEN

Kegiatan misionari Kristen Barat selalu berhadapan dengan kristik, bahwa kegiatan tersebut berada dibelakang kekuatan perdagangan kolonial. Bahkan, saat para misionaris yang berani itu membela orang-orang pribumi, tidak ada yang lari dari fakta bahwa mereka mewaliki agama penjajah. Para misionaris Barat seringkali pula terlupa dengan kecenderungan mereka untuk mengaburkan nilai-nilai Injil dengan nilai dan manfaat dari budaya, kemajuan, dan kemampuan teknis Barat. Mereka dengan mudah dapat menjadi agen alienasi kebudayaan. Maka, pada sat membangun sekolah dan rumah sakit, banyak para misionaris gagal melihat bagaimana kondisi kesejahteraan dan kemakmuran mereka yang lebih baik, justru memupuk perasaan ketergantungan dan kemarahan orang-orang yang merasa tertindas. Banyak orang-orang Pribumi terbujuk dengan sadar atau tidak sadar masuk agama Kristen sebagai jalam menuju Tuhan. Selanjutnya pada tingkat telologi yang paling penting, usaha keras para misionaris sering dibangun atas premis bahwa orang-orang non-Kristen adalah penyembah berhala yang hanya dapat diselamatkan jika mereka mengenakan pakaian Kristen. Gandhi benar-benar peka dengan masalah tersebut, sehingga hal yang paling penting dia katakan tentang para misionaris Asing di India adalah bahwa mereka tanpa sengaja telah mengilhami orang-orang India untuk memperbaharui keyakinan Hindu atau Muslim mereka.

Sejak Era Gandhi, kritik-kritik semacam itu telah dirasakan dan diterima oleh organisasi misionaris Barat – baik Protestan maupun Katolik. Semakin jarang misi diperkenalkan dengan cara melakukan pembabtisan “bayi-bayi persembahan”, melainkan ditingkatkan dengan kehidupan gereja di dunia, sebuah “penginjilan terpadu” yang dialamatkan pada berbagai tingkat keberadaan manusia. Misi Yesus bukanlah menaytakan sebuah agama yang kemudian disebut “Kristen” melainkan Kerajaan Tuhan tercipta di bumi ini. Gereja yang hidup dalam namanya menyebarkan misi tersebut.

Maka, tidak ada yang perlu dipertanyakan bahwa misi gereja mengharuskan keterlibatannya dalam kemajuan perdamaian, keadilan dan nilai-nilai tersebut bukanlah milik eksklusif orang Kristen, Gereja mencari kerjasama dengan agama lain dengan semua manusia dengan kehendak baik. lebih lanjut, Gereja Katolik, paling tidak sejak Vatikan II, serta banyak gereja Protestan, telah mengakui bahwa Tuhan berkehendak atas penyelamatan seluruh umat manusia dan penyelamatan itu terdapat dalam semua keyakinan Agama. Gandhi sendiri telah membantu mengembangkan pandangan teologi ini. Banyak orang Kristen dapat dengan mudah memakai pemahaman Gandhi dengan pendapatnya : “Jika aku membaca Alkitab dengan benar, aku tahu banyak orang yang tidak mendengar nama Yesus Kristus atau bahkan menolak interprestasi resmi Kristen yang mungkin akan memiliki Yesus lebih dari yang kita miliki jika Yesus datang di tengah-tengah kita saat ini”.

tentu saja hal ini telah membuat pertanyaan serius tentang rasionalitas dan metode kegiatan para misionaris asing, tentunya di tanah orang-orang non-Kristen. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menghapus gerak hati para misionaris yang penting bagi pemikiran dan kehidupan orang Kristen. Tetapi mereka telah mendorong pencarian jiwa yang dalam, pemikiran kembali dan proses penyangkalan-diri terhadap kesejahteraan, kekuasaan, martabat serta kejayaan, arogansi dan rasa superior. Hanya ketika hal ini dipenuhi, maka Injil dapat menyinari terus menerus dengan kemurnian yang tidak sombong.

Bob McCahili, Pendeta dari Marykoll yang telah menyumbangkan tulisan ini, tampak puas dengan gambaran Gandhi tentang misionaris yang ideal. Dlaam tugasnya di desa-desa Bangladesh, dia terus berusaha keras untuk memperkenalkan kebenaran Injil melalui pelayanannya dan dialog kehidupan diantara tetangga Muslimnya. Dia telah mendemonstrasikan suatu cara dimana “Khotbah diatas Bukit” mungkin dapat diwujudkan dalam istilah Gandhi. Pada kenyataannya dia layak memperoleh pujian dan ucapan terima-kasih atas saran-sarannya terhadap buku ini.

Tujuan dari penulisan ini tidak untuk menilai Gandhi dari sudut pandang Kristen, tidak juga mempersoalkan pandangannya dalam Kristen terhadap Kristik teologi. Akan lebih baik, tujuannya untuk memperluas dan memperdalam komunikasi antara Gandhi dan orang-orang Kristen, dengan ahrapan bahwa pembaca Kristen dengan teliti, emrespon tantangan Gandhi dengan pengertian sendiri dan keyakinan baru. Lagipula titik barat dalam dunia Kristen bergeser dari Eropa dan Utara menuju masyarakat bagian selatan, masyarakat miskin Amerika Latin, Asia, Afrika, dimana Tuhan, seperti kata Gandhi, harus muncul dalam bentuk Roti. Jika orang orang Kristen harus menawarkan roti hidup dan memanggung umat manusia daripada identitas imperialis semata, maka hal ini harus dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang Gandhi hadapi. Ia mengingatkan kita tentang Kristus orang Paria yang mengenakan secarik kain, saat yesus membasuh kaki murid-muridNya. Jika kenangan itu membuat kita merasa hidup berkelebihan dengan segala yang ada, itu akan jauh lebih baik.

Last edited by BP on Tue Apr 04, 2006 7:41 pm; edited 1 time in total

BAGIAN PERTAMA
GANDHI DAN KEKRISTENAN

BAB I
PERSENTUHAN DENGAN AGAMA KRISTEN

SEKILAS TENTANG AGAMA :

Mohandas Karamchand Gandhi lahir pada tahun 1869 di Porbandar, sebah kota pelabuhan di Gujarat, bagian barat India. Keluarganya merpakan Kasta Waisya atau pedagang. Kakeknya seorang Perdana Menteri di Kerajaan kecil kota Rajkot, sebuah kantor yang kelak menjadi milik ayahnya saat Gandhi berusia tujuh tahun. Agama keluarganya adalah Hindu Waisya, yang percaya kepada Dewa Wisnu. Walaupun begitu, dimasa-mudanya, Gandhi sudah nampak mulai kritis terhadap doktrin dari kitab suci. Kesalehan ibunya memiliki pengaruh yang sangat kuat pada masa kecilnya, bersama seorang perawat, Rambha, yang mengajarinya membuang rasa takut dengan mengucapkan berkali-kali Ramanama, nama dewa. Dalam bab autobiografinya, the story of my experiments with truth, Gandhi menggambarkan atmosfer religius pada masa kanak-kanaknya dan kesan pertamanya terhadap agama Kristen.

Di Rajkot, aku mendapat dasar-dasar awal toleransi terhadap semua aliran Hindu dan kepercayaan sejenis. Hal ini dikarenakan ayah dan ibuku akan mengunjungi Haveli (Kuil tempat beribadah para penganut Waisya) juga kuil Rama dan Syiwa, dan akan memberi serta mengirimkan kami, para anak muda kesana. Biarawan lain juga sering mengunjungi ayahku, bahkan melepas status kebiarawanannya untuk makan bersama kami para non-Jain. Mereka berbincang-bincang dengan ayahku tentang agama dan keduniaan. Ayahku juga memiliki teman-teman Muslim dan Parsi yang berbicara dengannya tentang keyakinan mereka masing-masing, dan ayahku dengan hormat serta antusias mendengarkan mereka. Sambil merawat ayah, aku sering mendapat kesempatan untuk hadir pada diskusi-diskusi mereka. Keadaan ini menanamkan sikap toleran pada diriku terhadap semua kepercayaan.

Hanya agama Kristen yang menjadi pengecualian. Aku membangun semacam ketidak-sukaan pada Kristen. Karena, para misionaris Kristen pada saat itu, biasanya berdiri di pojok dekat sekolah dan berbicara melontarkan kata-kata kasar pada orang-orang Hindu dan dewa-dewanya. Aku tidak tahan mendengarnya. Suatu ketika aku pernah memaksakan diri mendengar apa yang mereka katakan, tetapi itu cukup membuatku untuk tidak mendengarkannya lagi. Pada saat yang sama, aku mendengar seorang Hindu yang kukenal telah berpindah agama. Hal ini telah menajdi bahan perbincangan di kotaku. Ketika dia dibabtis, dia makan daging dan minum anggur, dia juga harus mengganti pakaiannya dan sejak itu dia mulai berpergian dengan kostum dan topi Eropa. Hal ini menggelisahkan pikiranku. Kupikir pastilah suatu agama tidak layak disebut agama jika mendorong seseorang untuk makan daging dan minum anggur serta mengganti pakaiannya. Aku juga mendengar bahwa pemeluk agama baru mulai mencela agama nenek moyang, adat-istiadat dan negaranya. Semua kejadian ini menyebabkan ketidaksukaanku pada agama Kristen.

Tetapi satu hal yang mengakar dalam diriku, keyakinan bahwa moralitas adalah dasar dari banyak hal, dab bahwa kebenaran merupakan substansi dari semua moralitas. Kebenaran menjadi satu-satunya tujuanku. Hal ini mulai tumbuh besar setiap hari dan definisiku ini juga semakin luas.

Sebuah stanza yang mendidik dari Gujarat juga memikat batin dan hatiku. Ajarannya ‘membalas kejahatan dengan kebaikan’ menjadi prinsip pedomanku. Stanza ini menimbulkan semacam gairah besar dalam diriku untuk memulai pengalaman ini. Inilah bait-bait yang menakjubkan itu.

Seperti semangkuk air menambahkan kelezatan makanan
Seperti sebuah salam engkau memulai kegiatan
Seperti memberi sedikit sedekah dibalas dengan emas
Jika hidupmu diselamatkan, hidup tak akan sia-sia
Maka kata-kata dan tindakan seorang bijak sangatlah berharga
Tetapi penghargaan yang sejati ada;ah mengakui semua manusia bersaudara
Dan membalas kejahatan dengan kebaikan
(The Story of My Experiment with Truth, Part I, Chap X)

PERKENALAN DENGAN AGAMA AGAMA

Tahun 1887 Gandhi pindah ke London untuk belajar hukum. Hal ini disebabkan prestasinya tampak biasa saja sehingga keluarga Gandhi merasa bahwa hanya pendidikan Inggris yang pantas dan akan menjamin masa depannya di kemudian hari. Melalui hubungan awalnya dengan dunia vegetarian Inggris, Gandhi berkenalan dengan gerakan-gerakan keagamaan yang beragam, termasuk theosofi dan filosofi-filosofi non-kompromis lainnya, yang kebanyakan dipengaruhi oleh Timur. Dari hubungan-hubungan inilah dia pertama kali diperkenalkan dengan teks-teks Hindu seperti Bagawadgita (Kitab suci agama Hindu), dalam terjemahan bahasa Inggris. Pada periode ini juga, ia membuat perkenalan pertamanya dengan para pemeluk Kristen.

Menjelang akhir tahun keduaku di Inggris, aku bertemu dengan seorang Kristen yang baik hati dari Manchester di sebuah apartemen para vegetarian. Ia menjelaskan padaku tentang agama Kristen. Aku menceritakan padanya pengalamanku di Rajkot. Dia sedih mendengarnya, dia bilang “Aku seorang vegetarian, tidak minum anggur. Banyak orang Kristen makan daging dan minum minuman keras. Hal tersebut tidak disangsikan lagi, karena memakan daging dan maminum anggur memang tidak dilarang oleh Alkitab. Bacalah Alkitab”. Aku menerima nasehatnya dan dia memberiku sebuah Alkitab. Aku tidak begitu ingat kalau dia sendiri biasa menjual Alkitab, dan aku membeli darinya sebuah edisi yang berisi peta-peta, indeks dan tambahan lainnya. Aku mulai membacanya, tetapi aku tidak dapat mencerna Perjanjian Lama. Aku membaca Kitab Kejadian dan pasal-pasalnya yang membuatku selau mengantuk dan tertidur. Namun supaya aku dapat mengatakan bahwa kau telah membacanya, aku terus berusaha membaca kitab-kitab yang ada dalam Perjanjian Lama walau tanpa sedikitpun tertarik dan mengerti. Aku bahkan betul-betul tidak suka membaca Kitab Bilangan.

Namun perjanjian Baru, memberi kesan yang berbeda, terutama Khotbah diatas Bukit yang amat berkesan dihatiku. Aku membandingkannya dengan Gita. Pada ayat : “Tetapi Aku katakan padamu, janganlah engkau melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena menginginkan bajumu, serahkanlah juga jubahmu” (Matius 5:39-40) luar biasa menggembirakan hatiku dan mengingatkanku pada ungkapan Shamal Bhatts “Seperti semangkuk air menambah kelezatan makan”. (The Story of My Experiment with Truth, Part I, Chap XX)

HUBUNGAN DENGAN ORANG-ORANG KRISTEN

Tahun 1893, Gandhi tiba di Afrika Selatan untuk memulai karirnya sebagai seorang pengacara yang melayani masyarakat India. Disanalah pengalamannya mengenai prasangka rasial, membuatnya terdorong untuk melakukan eksperimen-eksperimen pertamanya dalam perjuangan anti-kekerasan. Pada titik ini pengetahuan Gandhi tentang agama-agama dunia, termasuk keyakinan Hindunya, cukup dangkal dan dia bersikap ramah pada orang-orang Kristen kenalannya yang berusaha membuatnya tertark pada agama Kristen. Seorang pengacara AW Baker yang juga seorang penginjil, mengundangnya ikut dalam persekutuan doa.

Hari berikutnya pukul satu siang aku pergi ke persekutuan doa Pak baker. Disana aku diperkenalkan pada Nona Harris dan Nona Gabb. Pak Coates dan lain-lainnya. Setiap orang berlutut untuk berdoa dan aku mengikuti. Doa-doa itu merupakan permohonan pada Tuhan tentang berbagai macam hal menurut keinginan masing-masing orang. Biasanya permintaan agar sepanjang hari dapat dilewati atau supaya Tuhan membuka pintu-pintu hati.

Sebuah doa ditambahkan untuk kesejahteraanku : “Tuhan, tunjukkan jalan pada saudara baru yang telah datang diantara kami. Tuhan, berikan dia kedamaian yang telah engkau berikan pada kami. Semoga Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kami, menyelamatkan dia juga. Kami memohon semuanya ini dalam nama Tuhan Yesus”. Tidak ada nyanyian pujian atau musikk lain di pertemuan ini. Setelah permohonan doa untuk sehari-hari, kami bersam-sama menyantap sajian makan siang yang telah disediakan. Doa dilakukan tidak lebih dari lima menit.

Nona Harris dan Gabb merupakan perempuan yang sudah cukup umur. Pak Coates seorang Quaker (anggota suatu perkumpulan Kristen yang anti perang dan anti Sumpah). Dua perempuan itu sudah tinggal bersama dan mengundangku untuk minum teh pada pukul empat di rumah mereka setiap minggu.

Di saat kami bertemu di hari minggu, aku biasa memberikan catatan harian keagamaanku selama seminggu pada Pak Coates, dan mendiskusikan buku-buku yang telah kubaca serta kesan-kesan yang aku dapat dari buku tersebut. Sedangkan para perempuannya biasa menceritakan pengalaman-pengalaman manis mereka dan berbicara tentang kedamaian yang telah mereka temukan.

Pak Coates adalah seorang lelaki muda yang setia dan jujur. Kami pergi berjalan-jalan bersama dan dia juga membawaku ke pada teman-teman Kristennya.

Dengan kedekatan hubungan kami tersebut, dia mulai memberikan buku-buku pilihannya sehingga memenuhi rak bukuku. Dia menimbuniku dengan buku-buku. Dalam konteks keyakinan murni, aku menyetujui untuk membaca semua buku tersebut sambil terus mendiskusikan buku-buku tersebut bersama-sama.

Aku membaca sejumlah buku seperti diuraikan di atas di tahun 1893. Aku hampir tidak ingat judul-judulnya lagi, sebagian diantaranya adalah Comentary karya Dr. Parker tentang kota kuil, Many Infallible Proofs tulisan Pearson dan Analogy-nya Butler. Sebagian tidak dapat kupahami dengan baik. Aku menyukai beberapa bagian dalam buku-buku tersbut, namun juga tidak menyukai sebagian lainnya. Many Infallible Proofs merupakan bukti-bukti semangat agama dari Alkitab sebagaimana dipahami pengarangnya. Buku ini tidak berdampak apapun padaku. Commentary Parker secara moral dapat membangkitkan semangat, tetapi tidak dapat mempengaruhi seseorang yang tidak memiliki keyakinan yang lazim terhadap agama Kristen. Analogy Butle merupakan buku yang sangat sulit dipahami. Menurutku buku ini tampaknya ditulis atas pandangan merubah atheisme menjadi theisme. Agrumentasi-argumentasi di dalamnya yang menghargai keberadaan Tuhan merupakan hal yang tidak perlu bagiku, karena aku bukan orang yang tidak percaya Tuhan: tetapi argumentasi pembuktian Yesus sebagai satu-satunya penjelmaan Tuhan dan mediator antara Tuhan dan manusia membuatku tak berubah.

Namun Pak Coates bukanlah orang yang mudah menerika kegagalan. Dia sangat sayang padaku. Dia melihat kalung Vaishnaya dari biji Tulasi di leherku. Dia pikir, kalung ini berhubungan dengan ketahayulan dan membuatnya kecewa. “Kalung tahayul ini tidak pantas untukmu. Kemarilah biar kalung ini kuputuskan”.

“Tidak, tidak boleh. Ini hadiah suci dari ibuku”.
“Lalu apakah kamu percaya ini?”

“Aku tidak tahu makna misteriusnya. Aku tidak berpikir akan mengalami sesuatu yang membahayakan jika aku tidak memakainya. Tetapi aku tidak bisa melepas kalung ini tanpa alasan yang jelas, karena ibuku memakaikannya di leherku dengan cinta dan keyakinan bahwa kalung ini akan mendatangkan kesejahteraan bagiku. Jika dengan berlalunya waktu kalung ini hilang dan rusak dengan sendirinya aku tidak akan menggantinya dengan yang baru. Tetapi kalung ini tidak boleh dirusak”.

Pak Coates tidak bisa menerima argumentasiku, sama seperti dia tidak dapat menghargai agamaku. Dia selalu berusaha menyelamatkanku dari jurang ketidaktahuan. Dia ingin meyakinkanku bahwa, tak menjadi soal apakah ada kebenaran dalam agama lain, namun, penyelamatan menjadi mustahil bagiku, kecuali apabila aku menerima agama Kristen yang menajdi wujud kebenaran, dan bahwa dosa-dosaku tidak akan dapat dihapus kecuali melalui Yesus, dan semua perbuatan baikpun akan sia-sia.

Setelah dia mengenalkanku pada beberapa buku-buku, dia juga mengenalkanku ke beberapa kawan-kawannya yang dia anggap sebagai seorang Kristen yang setia. Salah satu perkenalan itu adalah dengan sebuah keluarga yang merupakan anggota sekte Plymouth Brethren.

Beberapa hubungan yang dikelola Pak Coates berjalan dengan baik. Kebanyakannya menyerangku sebagai seorang yang takut akan Tuhan. Namun, sepanjang hubunganku dengan keluarga ini, salah seorang anggota Pymouth Bother menekanku dengan sebuah argumen dimana aku tidak siap menjawabnya.

“Anda tidak bisa memahami keindahan agama kami. Dari apa yang anda katakan tampaknya anda harus memikirkan dosa-dosa anda setiap saat dalam hidup anda, selalu memperbaiki dan betobat. Bagaimana putaran kekuatan yang terus menerus ini dapat membawa anda pada penyelamatan? anda tidak akan pernah mendapatkan kedamaian. Anda mengakui bahwa kita semua berdosa. Sekarang, lihatlah kesempurnaan keyakinan kami. Usaha-usaha kami dalam perbaikan dan pertobatan menjadi sia-sia. Sehingga penebusan harus kita miliki. Bagaimana kita dapat menanggung beban dosa? Kita mampu, asal menyerahkannya pada Yesus. Dialah satu-satunya Anak Allah yang tidak berdosa. Inilah FirmanNya, bagi siapa yang percaya kepadaNya akan memiliki hidup yang kekal. Disanalah terletak belas kasih Allah yang tidak terbatas. Dan karena kami percaya kepada penebusan Yesus, dosa-dosa kami tidak akan mengikat kami; Kita semua berdosa. Tidaklah mungkin hidup suci di dunia ini. Karena itulah Yesus menderita dan menebus semua dosa manusia. Hanya orang-orang yang menerima penebusan besarNya dapat memiliki kedamaian abadi. Pikirkanlah, alangkah gelisahnya hidup anda dan alangkah menjanjikannya kedamaian yang kami miliki”.

Argumen itu benar-benar gagal meyakinkanku. Dengan sopan aku menjawab :

“Seandaianya ini adalah ajaran Kristen yang diakui oleh semua orang Kristen, aku tidak dapat menerimanya. Aku tidak mencari penebusan atas konsekuensi dosa-dosaku. Aku ingin ditebus dari dosa-dosa itu sendiri atau dari setiap pikiran dosa. Hingga aku mencapai akhir. Aku harus tetap gelisah dan terus berusaha”.

Keluarga Plymounth Bother itu menjawab : “Aku jamin usaha anda akan sia-sia. Pikirkanlah kembaliapa yang telah kukatakan”.

Dan orang Kristen itu membuktikan sebaik kata-katanya. Dia dengan sadar melakukan pelanggaran-pelanggarannya dan menunjukkan padaku bahwa dia tidak terganggu oleh pikiran-pikiran tentang itu.

Namun, aku sudah mengetahui sebelum pertemuan dengan kawan-kawan tersebut bahwa semua orang Kristen tidak percaya pada teori penebusan semacam itu. Pak Coates sendiri hidup dalam ‘takut’ (taat pada perintah Tuhan atau berusaha menghindari dosa) akan Tuhan. Hatinya bersih dan dia percaya pada kemungkinan pembersihan diri. Dua orang perempuan itu berbagi keyakinan juga. Bebrapa buku yang ada di tanganku berbicara penuh tentang ketaatan. Jadi, walaupun Pak Coates sangat terganggu dengan pengalaman terakhirku, aku dapat meyakinkan dia kembali dan mengatakan padanya bahwa kepercayaan yang menyimpang dari Plymounth Brother tidak membuatku memiliki prasangka buruk terhadap agama Kristen.

Kesulitan-kesulitanku ada di-mana-mana. Semuanya berkaitan dengan penghormatan terhadap Alkitab dan interprestasi yang diterapkan padanya. (The Story of My Experiment with Truth, Part II, Chap XI)

GEJOLAK RELIGIUS

Pak Baker tampak semakin mencemaskan masa depanku. Dia membawaku ke pertemuan Wellington. Orang-orang Kristen Protestan menyelenggarakan perkumpulan semacam ini setiap beberapa tahun sekali untuk pencerahan religius. pertemuan Wellington adalah contohnya. ketuanya adalah seorang pendeta yang terkenal di daerah tersebut, Andrew Murray. Pak Baker berharap antusiasme serta kesungguhan orang-orang yang menghadiri pertemuan ini akan memanduku untuk memeluk Kristen.

Tetapi harapan terakhirnya ada pada mujizat doa. Dia memiliki keyakinan penuh pada doa. Dia memiliki pendirian yang teguh bahwa Tuhan pasti mendengar setiap doa yang disampaikan dengan sungguh-sungguh. Dia mencontoh orang-orang seperti George Muller dari Bristol, yang percaya penuh pada doa bahkan untuk kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya. Aku mendengar uraiannya mengenai keutamaan doa dengan perhatian tanpa syak wasangka dan meyakinkannya bahwa tidak ada yang dapat mencegahku untuk memeluk Kristen, seharusnya aku merasakan panggilan itu. Aku tidak ragu-ragu untuk memberinya jaminan karena sejak lama aku sudah berpikir untuk mengikuti suara hati. Aku sangat senang menjalani hidup dengan cara seperti itu. Untuk bertindak melawan suara hati akan sulit dan sakit bagiku.

Akhirnya, kami pergi ke Wellington.

Pertemuan ini merupakan suatu perkumpulan orang-orang Kristen yang taat. Aku senang pada keyakinan mereka. Aku bertemu dengan pendeta Murray, aku melihat banyak yang berdoa untukku. Aku menyukai beberapa nyanyian pujian mereka. Lagu-lagu mereka sangat bagus.

Pertemuan itu berlangsung selama tiga ahari. Aku dapat mengerti dan menghargai keimanan orang-orang yang menghadiri acara ini. tetapi aku tidak menemukan alasan untuk merubah keyakinan agamaku. Tampaknya mustahil bagiku untuk meyakini, bahwa aku bisa masuk surga untuk mencapai keselamatan hanya dengan menjadi orang Kristen, mereka kaget. tetapi memang tak ada yang harus dipaksakan.

Kesulitaku semakin dalam. Lebih dalam daripada sekadar percaya bahwa Yesus ada;ah satu-satunya penjelmaan Tuhan dan bahwa hanya yang percaya padanya akan hidup kekal. Seandaianya Tuhan memilik anak, kami semua adalah anak-anakNya. Seandainya Yesus seperti Tuhan atau Tuhan itu sendiri, maka semua manusia seperti Tuhan atau Tuhan itu sendiri. Alasaku adalah, aku tidak siap meyakini secara harfiah bahwa Yesus dengan kematian dan darahNya menebus dosa dunia. Secara metafora, mungkin ada kebenaran di dalamnya. lagipula menurut ajaran Kristen, hanya manusia yang mempunyai jiwa dan bukan makhluk hidup lainnya, yang meyakini bahwa kematian merupakan akhir yang sempurna, sementara aku neniliki keyakinan sebaliknya. Aku bisa menerima Yesus sebagai seorang martir, wujud sebuah pengorbanan dan guru tentang Tuhan, tatapi tidak sebagai orang yang paling sempurna yang pernah ada. kematiannya di kayu salib adalah contoh besar bagi dunia, namun bahwa ada sesuatu yang misterius atau kebajikan ajaib di dalamnya, hatiku tidak dapat menerimanya. kesalehan orang-orang Kristen tidak membuatku melihat bahwa orang-orang yang berkeyakinan lain telahgagal memberikan sesuatu pada dunia. Aku telah melihat dalam kepercayaan lain mengenai kesamaan reformasi dengan yang telah aku dengan diantara orang-orang kristen. Secara filosofis tidak ada hal-hal yang luar biasa dalam prinsip-prinsip Kristen. Dari sudut pandang pengorbanan, bagiku tampaknya Hindu melebihi Kristen. karena itulah, tidak mungkin bagiku untuk mengakui Kristen sebagai sebuah agama yang sempurna atau sebagai yang paling besar diantara semua agama.

Aku berbagi gejolak rohani ini dengan teman-teman Kristenku, setiap ada kesempatan, tetapi jawaban-jawaban mereka tidak memuaskanku.

Maka, jika aku tidak dapat menerima Kristen sebagai agama yang sempurna atau yang terbesar, demikian juga dengan Hindu. ketidak sempurnaan Hindu dengan nyata dapat kulihat. Jika, keberadaan kasta Paria diakui sebagai bagian dari kepercayaan Hindu, mungkin bisa saja, tetapi tetap akan menjadi bagian terburuk atau sesuatu kekotoran. Aku tidak dapat mengerti alasan penyebab banyaknya sekte dan kasta. Apa maksudnya mengatakan bahwa Veda diinspirasi dari kata-kata Tuhan, seandainya benar, mengapa Alkitab dan Alquran tidak?

Ketika teman-teman Kristenku berusaha keras untuk merubah keyakinanku, begitu juga apa yang dilakukan teman-teman muslimku. Abdullah Sheth terus menerus membujukku untuk belajar Islam, dan tentu saja dia selalu mempunyai sesuatu yang perlu disampaikan tentang keindahan Islam.

Aku mengungkapkan kesulitan-kesulitan pada Raychandbhai (Seorang intelektual Jain di Bombai tempat Gandhi sering berkonsultasi mengenai masalah keagamaan. Dalam otobiografinya Gandhi menulis : “Tiga orang memiliki pikiran modern telah meninggalkan kesan yang dalam di hidupku dan memikatku : Raychandbhai melalui hubungan langsung, Tolstoy dengan bukunya The Kingdom of God is Within You dan Ruskin dengan bukunya Unto this Last ) melalui surat. Aku juga berkoresponden dengan ahli-ahli agama lain d India dan menerima balasan dari mereka. Surat Raychandbhai agak menentramkanku. Dia memintaku untuk bersabar dan mempelajari hidup lebih dalam lagi. Satu kalimatnya kira-kira berbunyi : “Mengenai problem pandangan ketidak-berpihakan, aku yakin bahwa tak ada agama lain yang memiliki pemikiran sehalus dan sedalam Hinduisme, visinya akan jiwa dan belas kasihnya.”

Aku membeli obral terjemahan Alquran dan mulai membacanya. aku juga memperoleh buku-buku lain tentang Islam. Aku berkomunikasi dengan teman-teman Kristenku di Inggris. Salah satunya mengenalkanku dengan Edward Maitland (pendiri Esoteric Christian Union) yang juga menjadi teman korespondensiku. Dia mengirimkan buku “The Perfect Way” yang dia tulis bersama dengan Anna Kingford. Buku tersebut berisi penolakan terhadap kepercayaan orang-orang Kristen saat ini. Dia juga mengirimiku buku yang lain, The New Interpretation of the Bible. Aku suka kedua buku itu, akrena tampaknya mendukung Hindu. Buku Tolstoy The Kingdom of God is within You (yang dicetak di Inggris tahun 1894. terdiri dari interprestasi paham cinta Tolstoy tentang khotbah diatas Bukit, meninggalkan pengaruh yang dalam pada filosofi Gandhi tentang anti kekerasan. Sesudah itu Gandhi memulai korespondensinya dengan Tolstoy yang berakhir hingga surat terakhirnya tahun 1910) . Buku ini memuaskanku, juga meninggalkan kesan yang mendalam pada diriku. Hal-hal tentang pemikiran bebas, moralitas dan kebenaran sejati yang terdapat dala buku ini membuat semua buku yang diberikan oleh Pak Coates tampak menjadi tidak berarti.

Penyelidikan kemudian membawaku ke arah yang tak terpikirkan oleh teman-teman Kristenku. Surat-menyuratku dengan Pak Edward Maitland cukup lama, dan dengan Raychanbhai berlanjut hingga kematiannya.

Walaupun aku mengambil jalan yang berbeda dengan yang diinginkan teman-teman Kristenku, selamanya aku tetap berhutang pada mereka untuk pencarian agama yang mereka bangun dalam diriku. Aku akan selalu menghargai kenangan berhubungan dengan mereka. Tahun-tahun selanjutnya hubungan menjadi lebih manis dan suci yang selalu menjadi kenangan untukku.

STUDI PERBANDINGAN AGAMA

Gandhi tiba di Afrika Selatan dengan tujuan memperoleh pengalaman sebagai seorang pengacara sebelum kembali ke India. tertarik akan perjuangan hak-hak sipil bangsa India, dia mengakhirinya dengan menetap di Afrika Selatan selama 20tahun. Baru disanalah dia menerapkan sendiri gerakan anti-kekerasan sebagai pandangan hidupnya. Pada saat yang sama, pertemuan-pertemuan dengan orang-orang kristen dan usaha kerasnya untuk menghargai agama mereka tidak membuatnya bergeming dari keyakinan Hindunya. Oleh karena itu, bagi Gandhi perjuangan untuk keadilan tidak dapat dipisahkan dari pencariannya akan Tuhan.

Teman-teman Kristen merangsang hasrat keingin-tahuanku yang hampir tidak pernah terpuaskan dan mereka tidak membiarkanku berhenti berpikir, sekalipun aku bersikap acuh tak acuh. Di Durban, Pak Spencer Walton, ketua Misi Umum Afrika Selatan mendapat keterangan tantangku. Aku menajdi seperti anggota keluarganya. perkenalan ini dilatarbelakangi oleh hubunganku dengan orang-orang Kristen di Pretoria. Pak Walton memiliki tata-krama dengan caranya sendiri. Aku tidak ingat lagi apakah dia pernah mendorongku untuk memeluk Kristen. Tetapi dia menempatkan kehidupannya seperi sebuah buku terbuka untukku dan membiarkanku melihat semua tindakan-tindakannya. Nyonya Walton adalah seorang perempuan lembut dan berbakat. Aku suka perilaku pasangan ini. Kami mengetahui perbedaan-perbedaan fundamental diantara kami. Banyak diskusi-diskusi tidak membuat mereka menonjolkan diri. Dimana ada toleransi, belas-kasih dan kebenaran, perbedaan-perbedaan ternyata bermanfaat. Aku menyukai kerendahan hati, ketekunan dan ketaatan berkarya Tuan dan Nyonya Walton, kami semakin sering bertemu.

Hubungan ini tetap menghidupkan ketertarikanku pada agama. tapi sekarang mustahil untuk dapat memiliki waktu senggang bagi studi keagamaanku seperti saat di Pretoria. Sedikit waktu bisa aku luangkan akan kugunakan dengan sungguh0sungguh. Korespondensi rohaniku terus berlanjut Ryachandbhai memanduku.

Dengan demikian, aku memperoleh lebih banyak ilmu dari agama lain. Studi ini mendorong sikap introspeksi diriku, dan membentuk kebiasaan untuk mempraktikkan yoga, sebisa yang dapat aku mengerti dari bacaan buku-buku Hindu. Tetapi aku tidak bida meneruskan lebih jauh dan memutuskan untuk mengikutinya dengan pertolongan beberapa ahli saat aku kembali ke India. Namun hasrat ini tidak pernah terpenuhi.

Aku juga membuat studi intensif tentang buku-buku Tolstoy. The Gospel in Brief, What to do? dan buku-buku lainnya juga memberi kesan mendalam pada diriku. Aku mulai lebih menyadari terhadap kemungkinan-kemungkinan cinta kasih yang universal.

Pada saat yang bersamaan, aku juga terus berhubungan dengan Keluarga Kristen yang lain. Atas saran mereka, aku menghadiri kebaktian di GerejaWesleyan setiap minggu. Selama itu juga, aku menghadiri undangan mereka untuk makan malam. Gereja Wesleyan tidak memberi kesan yangmenyenangkan untukku. Khotbah-khotbahnya tampak tidak memberikan semangat. Para jemaat tidak membuatku menjadi lebih religius, mereka bukan kumpulan jiwa Tuhan; mereka tampaknya hanya sekumpulan orang-orang yang memikirkan keduniawian yang pergi ke gereja hanya untuk rekreasi dan menjalankan tradisi. Pada saat itu, aku tanpa sengaja mengantuk. Aku malu, tetapi beberapa orang yang duduk di sampingku, yang berada dalam yang tidak lebih baik, mengurangi rasa maluku. Aku tidak bisa meneruskan ini dan segera berhenti menghadiri pelayanan.

Hubunganku dengan keluarga yang biasanya aku kunjungi setiap minggu tiba-iba putus. Ini dikarenakan, aku tidak bisa lagi mengunjungi mereka. Certinya begini, Sang nyonya rumah adalah seorang perempuan baik dan sederhana tetapi agak berpikiran sempit. Kami selalu berdiskusi tentang masalah keagamaan. Kemudian, aku membaca kembali buku Arnold (Kelompok misionaris Kristen yang berdomisili di Inggris) : Light of Asia sesekali kami mulai membandingkan kehidupan Yesus dan Buddha. “Lihatlah belas kasih Buddha” kataku. Belas kasih yang tidak dibatasi hanya untuk manusia, tetapi diberikan kepada semua makhluk hidup. Tidakkah hati manusia berkelimpahan cinta ketika berpikir tentang “anak domba” yang dengan gembira berbaring diatas pundaknya? Satu kegagalan dalam hidup Yesus, memberikan cinta-kasih ini pada semua makhluk hidup”. perbandingan ini menyakitkan perempuan baik hati itu. Aku dapat memahami perasaannya. Aku langsung memotong percakapan itu dan pergi ke ruang makan. Anaknya, seorang calon Rabbi (pendeta Yahudi) yang hampir berusia 5tahun, juga ada bersama dengan kami. Aku senang berada diantara anak-anak. Bagi anak kecil ini, aku telah menjadi temannya sejak lama. Aku mengolok-olok potongan daging ditas piringnya dan memberikan puji-pujian yang melangit pada apel milikku. Anak kecil itu terpengaruh dan ikut serta memakan apelku.

tetapi ibunya? Dia terkejut.

Aku tersentak, aku tersadar dan mengubah bahan pembicaraan. Minggu berikutnya aku mengunjungi keluarga itu seperti biasa, namun dengan perasaan ragu-ragu dan khawatir. Aku tidak memiliki alasan untuk berhenti pergi kesana. tetapi, aku juga merasa masih tidak pantas untuk datang kesana. Akhirnya, perempuan baik hati itu mempermudah jalanku.

“Tuan Gandhi” katanya. “Tolong jangan merasa tersinggung jika aku harus mengatakan kepada anda, bahwa anakku bukanlah yang terbaik untuk menjadi kawan anda. Setiap hari dia ragu-ragu untuk makan daging dan hanya minta buah, dan ini mengingatkanku pada argumen anda. Ini terlalu berlebihan. Jika dia tidak makan daging, dia akan menjadi lemas, walaupun tidak sakit. bagaimana aku bisa menerima ini? Diskusi-diskusi anda mulai sekarang mestinya hanya untuk kami yang lebih tua. Hal ini akan berakibat buruk kepada anak-anak”.

“Nyonya…” Jawabku. “Saya minta maaf. Saya mamahami perasaan anda sebagai orang tua, karena sayapun mempunyai anak. Kita dapat mengakhiri pernyataan-pernyataan yang tidak menyenangkan ini. Batasan saya tentang apa yang saya makan dan tidak dapat saya makan ternyata berdampak lebih besar padanya daripada apa yang saya katakan. Oleh karena itu, cara yang terbaik untuk saya adalah mengakhiri kunjungan-kunjungan ini. tentu saja ini tidak mempengaruhi persahabatan kita”.

“Terima kasih”. Jawabnya dengan lega.

(The Story of My Experiment with Truth, Part II, Chap XXII)

MENGAPA AKU TIDAK MENJADI KRISTEN

Kawan berbicara Gandhi disini, bernama Millie Polak, ia adalah istri Henry Polak, seorang vegetarian Yahudi yang menjadi murid pertama Gandhi di Afrika Selatan. Ny. Polak, seorang Kristen yang tinggal dengan suaminya, para Gandhian dan beberapa kekuarga di peternakan Phoenix, komunitas percobaan para Tolstoyan di Johannesberg.

Gandhi : Aku berpikir serius untuk memeluk Kristen. Figur lembut Kristus, sabar, ramah, penuh cinta, pemaaf sehingga dia mengajak para pengikutnya untuk tidak membalas dendam ketika diperlakukan keji atau ditampar, tetapi menyodorkan pipi yang lain. Aku pikir ini contoh yang indah dari manusia sempurna.

Ny. Polak : Tetapi anda tidak memeluk Kristen, kan?

Gandhi : Tidak, aku mempelajari Alkitab anda beberapa waktu dan menelaahnya dengan sungguh-sungguh tertarik pada ajaran Kristen, namun akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa apa yang ada dalam Alkitab anda juga kami miliki dalam kitab suci kami, dan bahwa menjadi Hindu yang baik juga berarti menjadi Kristen yang baik. Bagiku, tidak perlu bergabung dengan keyakinan anda untuk percaya pada keindahan ajaran-ajaran Yesus atau mencoba mengikuti teladanNya.

Ny. Polak : Tentu saja, ini juga pendapat yang dikatakan orang lain. Tetapi tolong katakan apakah anda meyakini pertobatan , perubahan (conversion) dari bentuk keyakinan pada keyakinan yang lain?”.

Gandhi : Apa yang anda rasakan?

Ny. Polak : Tidak menyenangkan hatiku, aku tidak bisa melakukannya.

Gandhi : Benar, jika seorang mencapai inti agamanya sendiri, dia juga mencapai inti agama yang lain. Hanya ada satu Tuhan, dan banyak jalan manujuNya.

Ny. Polak :Seandainya karma dan reinkarnasi betul-betul ada, kita bisa terlahir kedalam satu keyakinan yang betul-betul cocok untuk kita, sehingga kita tidak harus merubahnya.

Gandhi : Menurut anda, apa pelajaran yang paling esensial bagi manusia dalam ajaran Kristen?

Ny. Polak : Mungkin dua atau tiga ajaran. tetapi satu yang menonjol dalam benakku saat ini adalah cinta-kasih yang diungkapkan dalam kata-kata “Satu dalam Tuhanmu, Yesus Kristus, dan semua adalah saudaramu”.

Gandhi : Benar, Hindu mengajarkan kebenaran yang sama, begitu juga orang-orang muslim dan Zaroaster.

Ny. Polak : Menurut anda, apakah Hindu mengajarkan bahwa “semua manusia bersaudara?”.

Gandhi : Jangan terpaku pada interprestasi manusia yang tidak sempurna, lihatlah pada jalan aslinya. Anda tidak akan mengatakan kepadaku bahwa kehidupan orang-orang Kristen di dunia ini seperti bersaudara bukan? Pikirkanlah tentang perang, kebencian, kemiskinan dan kriminalitas.

Ny. Polak : Benar, aku pikir apa yang manusia idam-idamkan selalu jauh dari hal-hal tersebut, baik laki-laki maupun perempuan, sama di bagian manapun di dunia ini.

Gandhi : Jika kita menyadari apa yang kita idam-idamkan, mereka akan berhenti melakukan hal-hal buruk demi mencapai cita-cita tersebut. Kita harus mengosongkan diri untuk mencapainya.

(Mr. Gandhi : The man, halaman 40)

PEMELUKAN AGAMA BARU

Charles Freer Andrews, “Carlie”, begitulah Gandhi memanggilnya. Adalah seorang misionaris Kristen dan pendukung paham cinta-damai, bertemu Gandhi pertama kali di Afrika Selatan dan menjadi temannya hingga akhir hayat. Dia menulis salah satu dari biografi awal gandhi, sebaliknya Gandhi sering memuji Andrew sebagai teladan bagi orang Kristen lainnya.

Andrew : Apa yang akan anda katakan pada seseorang yag telah melalui pertimbangan matang serta doa yang tekun, yang berkata bahwa dia tidak akan mendapatkan kedamaian dan keselamatannya kecuali menjadi seorang Kristen.

Gandhi : Aku akan mengatakan, bahwa jika seorang non-Kristen (katakanlah seorang Hindu) datang kepada seorang Kristen dan membuat pernyataan itu, dia harus menyuruhnya menjadi Hindu yang baik daripada mencari kebaikan dengan merubah keyakinan.

Andrew : Aku tidak dapat berpikir sejauh itu dengan anda, walaupun anda tahu sikapku. Aku telah melepas sikapku bahwa tidak ada penyelamatan tanpa melalui Kristus. tetapi sekiranya orang-orang Pergerakan Oxford Group merubah kehidupan anak anda, dia merasa senang merubah keyakinannya, bagaimana menurut anda?

Gandhi : Aku akan mengatakan bahwa Oxford Group bisa merubah kehidupan banyak orang seperti yang mereka kehendaki tetapi tidak agama mereka. Oxford Group dapat menarik perhatian mereka untuk mendalami sebaik-bainya masing-masing agama dan kehidupan meeka dengan meminta mereka untuk hidup menurut itu. Ada seseorang datang padaku, anak dari keluarga Brahmana, yang mengatakan bacaannya tentang buku anda telah mendorongnya untuk memeluk Kristen. Aku bertanya padanya apakah dia pikir agama nenek-moyangnya salah?. Dia menjawab “tidak”. Kemudian aku lanjutkan “Adakah kesulitan dalam menerima Alkitab dan memeluk Kristen dan bahwa dia telah salah memahami buku-buku anda, kecuali, tentu sikap anda seperti almarhum Maulana Mohammed Ali (Dia dan saudaranya adalah teman nmuslim yang bekerja sama dengan Gandhi dalam pergerakan kemerdekaan India. Namun akhirnya, kesetiaan mereka berpindah ke gerakan nasionalis muslim”. Presbyter adalah gereja yang dipimpin orang-orang tua yang sejajar kedudukannya, tidak hirarkis dan termasuk golongan Protestan. Ia menjadi gereja nasional Skotlandia dan juga tersebar dimana-mana) yakin bahwa seorang muslim, bagaimanapun buruk hidupnya, masih lebih baik daripada seorang Hindu yang baik.

Andrew : Saya tidak dapat menerima sikap Maulana Mohammed Ali. Tetapi menurutku, jika seseorang benar-benar membutuhkan kesempatan untuk merubah keyakinan, aku tidak dapat menghalanginya.

Gandhi : Tetapi tidakkah anda lihat bahwa anda bahkan tidak memberinya kesempatan? Anda bahkan tidak menelaahnya kembali. Seandainya orang Kristen menghadapku dan berkata bahwa dia terpikat saat membaca Bhagawad dan begitu ingin menyatakan dirinya menjadi seorang Hindu, aku harus mengatakan kepadanya “Tidak. Apa yang Bhagawad berikan, didalam Alkitab-pun ada. Anda belum berusaha menggalinya. Galilah agamamu dan jadilah seorang Kristen yang baik.

Andrew : Aku tidak tahu, seandainya seorang berkata sungguh-sungguh bahwa dia akan menjadi seorang Kristen yang baik, aku akan berkata “Anda dapat melakukannya”, walaupun anda tahu dalam kehidupanku, aku berusaha mencegah orang dengan antusias datang kepadaku untuk melakukan itu, bila anda ingin melakukan hal-hal tersebut. Walaupun, pada dasarnya manusia memang membutuhkan iman yang kongkrit”.

Gandhi : Jika seseorang ingin mempercayai Alkitab biarkanlah, tetapi mengapa dia harus menolak agamanya sendiri? Pemeluk agama baru akan berarti tidak adanya kedamaian di dunia. Agama adalah masalah pribadi, kita seharusnya, mengisi kehidupan menurut cahaya kita, berbagi yang terbaik satu sama lain, dengan demikian akan menambah jumlah total usaha manusia dalam mencapai Tuhan. Entah anda akan menerima atau tidak sikap saling menghargai atau persamaan atas semua agama. Tetapi sikapku adalah bahwa semua agama besar secara fundamental adalah sama. Kita harus memiliki penghormatan yang tinggi terhadap agama lain yangkita lakukan pada agama kita sendiri. Untuk mengingatkan anda, bukan sekadar saling toleransi tetapi lebih dari itu, memberi penghargaan yang sama.

Harijan, 28 November 1936

SEORANGPENGINJIL TERSOHOR

Ny. Emily Kinnaird, seorang perempuan Inggris yang mencurahkan tenaganya kepada YMCA dan India, adalah perempuan yang berusia 86tahun pada saat itu mewawancarai Gandhi. Percakapan mereka dimulai dengan diskusi perlawanan pasif bangsa Denmark terhadap penyerbuan Hitler.

Lady Emily : Menurut anda, apakah Denmark sudah menerapkan gagasan anda tentang anti kekerasan?

Gandhi : Tidak sedikitpun. Ini adalah penyerahan diri, dan apa yang dimaksud bukan penyerahan tetapi perlawanan anti kekerasan.

Lady Emily : Tetapi Denmark tidak melawan dan melakukan dengan persis apa yang anda nasehatkan pada penduduk Britania itu.

Gandhi : Tetapi aku tidak meminta untuk penyerahan tanpa perlawanan atau penyerahan diri. Aku menyerukan pada orang-orang Britania dan setiap orang dalam keadaan buruk sekalipun, untuk menunjukkan keberanian yang besar bahwa manusia mampu, yaitu, untuk menolak mengangkat senjata dan menantang musuh, untuk berjalan melangkahi mayat mereka. Denmark tidak melakukan hal semacam itu.

Lady Emily : Tetapi Denmark tidak mempunyai kesempatan. Ini terjadi tiba-tiba dan tak ada yang dapat dilakukan kecuali memberikannya tanpa perlawanan.

Gandhi : Aku tahu. Tetapi ini adalah suatu kondisi mendadak yang meletakkan gerakan anti kekerasan sebagai percobaan. Dalam kondisi ini, merupakan suatu kebijaksanaan yang tidak diragukan untuk tidak melakukan perlawanan. Tetapi kebijaksanaan ini tidak sama dengan gerakan anti kekerasan. perlawanan tanpa kekerasan jauh lebih efektif daripada perlawanan dengan kekerasan, dan itulah yang aku inginkan dari bangsa-bangsa di dunia ini yang sudah terbiasa melakukan perawanan dengan kekerasan.

Lady Emily : Apa gunanya semuanya itu :

Gandhi : Apakah yang baik dari Yesus Kristus yang mengorbankan hidupnya?

Lady Emily : Oh itu masalah yang berbeda. Dia adalah Anak Allah.

Gandhi : Begitu juga kita!

Lady Emily : Bukan, Dia hanya satu-satunya Anak Allah.

Gandhi : Jadi ibu dan anak harus berbeda. menurut anda, Yesus hanya satu-satunya yang diperanakkan oleh Tuhan. Menurutku, Dia adalah anak Allah, tidak peduli betapapun Dia lebih suci dari kita, setiap orang dari kita adalah anak Allah dan mampu berbuat seperti apa yang Yesus lakukan, jika kita berusaha keras untuk menyatakan Tuhan dalam diri kita.

Lady Emily : Ya benar, disitulah aku berpikir bahwa anda salah. Jika anda menerima Kristus dalam hati anda dan meminta rakyat anda untuk melakukan hal yang demikian, anda bisa mengirim pesan anda dengan sangat mudah dan jauh lebih bermanfaat. Dia adalah penyelamat kita, tanpa menerimanya dalam hati, kita tidak dapt diselamatkan.

Gandhi : Jadi bagi siapapun yang menerima Kristus akan terselamatkan? Mereka tidak perlu melakukan apapun?

lady Emily : Kita semua berdosa, kita tidak memiliki apapun kecuali menerimaNya.

Gandhi : Lalu, kita boleh melanjutkan berbuat dosa? itukah yang anda maksud? anda bukan anggota Plymouth Brother, kan?

Lady Emily : Bukan, aku seorang Presbytarian

gandhi : Tetapi anda berbicara seperti beberapa anggota Plymouth Brother yanga ku temui di Afrika Selatan beberapa tahun lalu.

Lady Emily : Ya, aku kawatir anda menemui kegagalan dalam berhubungan dengan orang-orang Kristen yang anda bentuk di Afrika Selatan. Anda tidak bertemu dengan orang-orang yang tepat.

Gandhi : Sebenarnya, anda tidak bisa berbicara seperti itu, aku bertemu sejumlah orang-orang yang patut dihargai. Mereka semua jujur dan tulus hati.

Lady Emily : Tetapi, mereka bukan orang-orang Kristen yang sebenarnya.

Gandhi : Anda mengenal FW Meyer?

Lady Emily : Ya!

Gandhi : Baik, saya katakan pada anda bahwa FW Meyer-lah yang meminta teman-teman Kristen untuk membiarkan aku dengan agamaku, setelah berbicara panjang lebar denganku. Dia berkata pada mereka bahwa aku adalah seorang Kristen yang baik, dan bahwa aku tidak memerlukan berbagai macam proses formal pembabtisan. Namun, tentu saja hal ini tidak memuaskan mereka. Dan AW Baker, yang seharusnya sekarang berumur 80tahun masih berhubungan denganku. Dia menulis untuk mengingatkanku terus menerus bahwa aku tidak dapat diselamatkan, kecuali kalau aku menerima Kristus dalam jalanNya.

Tetapi, mengapasemua perdebatan ini hanya mengenai istilah? Tidak dapatkah beberapa ratus ribu orang India atau Afrika hidup dalam ajaran Kristus tanpa disebut Kristen?

Lady Emily : Tidak, karena tanpa anugerah Yesus, seseorang tidak dapat diselamatkan. Dia harus menerima Kristus dalam hatinya. Itulah definisi dari orang Kristen sejati dan aku mengakui bahwa hanya ada sedikit saja orang Kristen sejati saat ini.

Harijan, 4 Agustus 1940
Back to top

BP

Joined: 31 Aug 2005
Posts: 1496
Posted: Mon Nov 28, 2005 11:04 am Post subject:

________________________________________
BAGIAN PERTAMA
GANDHI DAN KEKRISTENAN

BAB II
PESAN YESUS

AHLI EKONOMI TERBESAR DIMASANYA :

(Gandhi kembali ke India pada tahun 1915 dan ;angsung terlibat dalam aksi-aksi Kongres Nasional India dan dalam perjuangan kemerdekaan. Sikap Kritis sejumlah elit pemimpin Kongres Nasional India membuatnya tertarik sejak awal untuk bergabung memperjuangkan kemerdekaan India yang menyebabkan kemiskinan di India. Uraian-uraian berikut diambil darisebuah ceramah yang dibawakan Gandhi pada pertemuan Masyarakat Ekonomi Universitas Muir di Allahabad 22 Desember 1916.)

“Jangan kawatir akan hari esokmu” adalah sebuah perintah yang dapat dirasakan bergema di semua kitab-suci agama-agama dunia. Di dalam masyarakat yang tertata baik, jaminan terhadap mata pencaharian seseorang dirasakan harus menjadi hal yang paling sepele di dunia. Jadi, ujian terhadap kesuksesan tatanan sebuah negara tidak dinilai dari jumlah jutawan yang dimilikinya, tetapi dari berapa berkurangnya kelaparan di antara rakyat. Satu-satunya pernyataan yang harus diuji untuk dapat diletakkan sebagai hukum universal adalah apakah kemajuan di bidang materi bisa berarti kemajuan di bidang moral?.

Sekarang kita ambil beberapa ilustrasi. Bangsa Roma mengalami kemerosotan moral, disaat mencapai kemakmuran di bidang materi. Begitu juga dengan bangsa Mesir dan mungkin juga kebanyakan negara-negara yang kita kenal catatan-catatan sejarahnya. Keturunan dan sanak saudara dari raja dan dewa Khrisna juga jatuh saat mereka bergelimang kekayaan. Kita tidak menolak ukuran umum moralitas yang dimiliki keluarga Rokeffeler dan Carnegies, yang dengan senang hati kita menilai mereka ini pemurah. Maksudku adalah bahwa kita tidak bisa mengharapkan mereka untuk memenuhi standard moralitas yang tertinggi. Menurut mereka, pelorehan kekayaan tidak harus berarti perolehan moral. Di Afrika selatan, dimana aku memiliki hak istimewa untuk bergaul sedekat mungkin dengan ribuan orang-orang sebangsaku, aku melakukan pengamatan hampir tanpa terkecuali, dan yang aku temui adalah semakin besar kepemilikan orang kaya, semakinbesar pula kejahatan moral mereka. Diantara bangsa India sendiri, setidaknya bisa dikatakan bahwa orang kaya tidak mendukung perjuangan moral untuk perlawanan pasif seperti yang telah dilakukan oleh orang miskin. Perasaan harga diri orang-orang kaya tidak terluka sebesar yang dialami orang miskin. Seandainya aku tidak takut menapaki tanah yang berbahaya, aku akan pulang dan menunjukkan bagaimana kepemilikan orang-orang kaya itu telah menjadi sebuah rintangan untuk mencapai perkembangan yang diharapkan. Aku berusaha memikirkan bahwa kitab suci yang ada di dunia, dalam hal hukum-hukum ekonomi merupakan risalah yang jauh lebih aman dan berguna daripada banyak buku-buku modern. Pertanyaan yang kita ajukan pada diri kita sendiri bukanlah hal yang baru. Hal ini telah dijawab Yesus dua ribu tahun yang lalu.

Kitab Markus telah menggambarkan kejadiannya dengan gamblang. Yesus ada dalam suasana hati yang khusus. Ia bersungguh-sungguh. Ia berbicara tentang keabadian. Dia tahu dunia dimana dia berada. Dia sendiri adalah ahli ekonomi terbesar dimasanya. Dia berhasil dalam menghemat ruang dan waktu, Dia mementingkan ruang dan waktu. Hal ini ditunjukkanNya dengan suatu peristiwa saat seorang datang kepada Yesus dihadapannya bertanya : “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus : “Mengapa kau katakan aku baik? tidak ada seoranpun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah : Jangan membunuh, berzina, mencuri, mengucapkan saksi-saksi dusta dan mengurangi hak orang lain, serta hormatilah kedua orang tuamu”. Lalu kata orang itu kepadaNya: “Guru, semua itu telah kulaksanakan sejak muda”. Lalu, Yesus memandangnya dan menaruh kasih padanya “Pergi dan juallah apa yang kau miliki dan berikanlah hasilnya pada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di Surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku”. Mendengar pernyataan itu ia tampak kecewa, kemudian pergi dengan perasaan sedih, karena dia memiliki banyak harta. Lalu Yesus memandang murid-murid di sekelilingNya dan berkata kepada mereka “Alangkah sukarnya orang kaya masuk ke Kerajaan Allah”. Murid-muridNya tercengang mendengar perkataan itu. Selanjutnya Yesus meneruskan lagi : “Anak-anakKu, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah”.

Disini anda memiliki aturan abadi tentang kehidupan yang dinyatakan dalam bahasa Inggris dengan bijak. tetapi para murid menggelengkan kepala tanda ketidak-percayaan seperti yang kita lakukan saat ini. KepadaNya, mereka berkata seperti yang kita katakan : “Tetapi lihatlah bagaimana hukum tersebut gagal ketika dipraktekkan. Jika kami menjual harta kami dan tidak memiliki apa-apa, kami tidak bisa hidup. Kami harus memiliki uang atau kami tidak layak bermoral”. Mereka kemudian menyatakan persoalan mereka, dan mereka semakin panik serta berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian siapakah yang dapat diselamatkan?”. Yesus memandang mereka dan berkata “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi tidak bagi Tuhan. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Tuhan”. Berkatalah Petrus kepada Yesus : “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikutimu!”. Yesus menjawab : “Aku katakan padamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudara laki-laki atau saudara perempuannya, ibu atau bapaknya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang dan saat ini juga menerima kembali seratus kali lipat : rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang abadi. Namun, banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir menjadi yang terdahulu”.

Disini anda memperoleh hasil atau imbalannya, jika anda lebih memilik engikuti hukum tersebut. Aku tidak punya masalah untuk mengutip pesan-pesan yang sama dari kitab suci non-Hindu lainnya dan aku tidak akan menghina anda dengan mengatakan, dalam mendukung hukum-hukum yang dinyatakan oleh Yesus, pesan-pesan dan tulisan-tulisan serta perkataan guru kami, pesan-pesan bahkan yang lebih kuat, jika mungkin, daripada penggalian Alkitabiah yang telah aku jelaskan pada anda. Mungkin kesaksian yang terkuat dari semua kesaksian-kesaksian dalam rangka memberikan jawaban yang meyakinkan dari pertanyaan kita adalah kehidupan guru-guru terbesar di dunia : yesus, Muhammad, Buddha, Nak, Kabir, Chaitanya, Shankara, Dyanand, Ramakhrisna adalah orang-orang yang memberikan pengaruh yang sangat besar dalam membentuk karakter ribuan umat manusia. Dunia ini adalah kekayaan bagi mereka yang memiliki kehidupan di dalamnya. Dan mereka semua adalah manusia yang dengan sengaja menjalani kemiskinan sebagai bagian hidup mereka.

Kita tidak perlu takut untuk meneladani atau menempatkan apa yang dilakukan mereka secara praktis. Bangsa kita hanya akan menjadi bangsa yang benar-benar beragama ketika kita mau menunjukkan lebih banyak kebenaran sejadi dibanding mendapatkan emas, keberanian yang kukuh daripada kemegahan kekuatan dan kesejahteraan, belas-kasih yang lebih besar dari pada cinta pada diri-sendiri. Daripada kita membersihkan rumah, istana-istana, kuil-kuil kita sebagai atribut dari kesejahteraan, juga atribut moralitas, maka kia lebih baik mengajukan peperangan terhadap berbagai bentuk kekuatan permusuhan dengan tidak menggunakan kejayaan kekuatan militer. Carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita. Ini adalah ekonomi yang sebenarnya. Semoga anda dan saya mencari dan melaksanakannya dalam kehidupan ini.
(Speeches and Writings of Mahatma Gandhi (Madras : Natesan & Co, 1933) hlmn 225-61)

PANDANGANKU TENTANG AGAMA KRISTEN

(Tulisan berikut ini dialamatkan pada ikatan pemuda Kristen (YMCA) di Colombo Caelon, tahun 1927) :

Pesan Yesus, menurut pemahamanku, ada dalam Khotbah diatas Bukit, interprestasi sederhanaku dari pesan tersebut dalam beberapa hal yang berbeda dari kaum ortodoks. Pesan itu, menurutku memiliki penyimpangan yang sangat dalam di Barat. Mungkin ini sepeti sebuah kesombongan, namun, bagaikan seseorang yang gemar terhadap kebenaran, aku seharusnya tidak ragu untuk mengatakan apa yang aku rasakan. Aku tahu dunia tidak sedang menunggu untuk mengetahui pandanganku mengenai Agama Kristen.

Bagaimanapun juga, agama adalah persoalan antara diri orang tersebut dengan penciptanya, bukan dengan yang lainnya. Namun, jika aku merasa terdorong untuk berbagi pikiranku dengan anda saat ini, itu karena aku ingin memperoleh simpati anda terhadap percarianku tentang kebenaran dan karena banyak teman-teman Kristen tertarik pada pemikiranku tentang ajaran-ajaran Kristus. Jika kemudian aku hanya menerima Khotbah diatas Bukit dan interprestasiku sendiri tentang sendiri tentang hal ini aku tidak ragu-ragu untuk mengatakan : “Ya benar, aku seorang Kristen”. tetapi aku tahu bahwa saat ini jika aku mengatakan hal semacam itu aku, maka akan membiarkan diriku terbuka terhadap salah pengertian. Aku akan terbuka pada anggapan-anggapan sepihak sebab pada akhirnya, aku akan mengatakan kepada anda apa makna ajaran Kristen bagiku, dan aku tidak punya keinginan untuk memaparkan pandanganku sendiri tentang ajaran Kristen pada anda. Namun sayangnya, bisa aku katakan pendapat sederhana, bahwa banyak yang diwariskan ajaran Kristen, berlawanan dengan Khotbah diatas Bukit. Tolong garis bawahi kata-kataku, saat ini aku tidak sedang berbicara tentang sikap orang-orang kristen. Aku berbicara tentang kepercayaan orang-orang Kristen, tentang ajaran kristen yang dipahami di Barat. Dengan penuh rasa tak enak hati, aku menyadari kenyataan yang ada, bahwa dimanapun suatu keyakinan tidak dapat terwujud sempurna dalam tindakan. tetapi aku tidak mengatakan ini sebagai suatu kritik. Aku tahu dari pengalamanku sendiri, bahwa walaupun di setiap waktu dalam kehidupan kucoba untuk berbuat sesuai dengan keyakinanku, sejauh ini, sikapku sendiri tidak sepenuhnya mencapai keyakinan tersebut. karena itulah, bukan maksudku untuk mengatakan ini dalam semangat kritik. Aku hanya ingin menyampaikan kesulitan-ksulitan mendasarku kepada anda.

Saat aku mulai menjadi seorang yang tekun untuk belajar kepustakaan kristen di Afrika Selatan pada tahun 1893, aku bertanya kepada diriku sendiri “Apakah ini agama Kristen?” dan selalu mendapat jawaban vedais (semangat Veda, seperti halnya ungkapan bersifat Qur’ani). Neti, Neti (bukan ini, bukan ini) dan hati kecilku mengatakan, aku benar.

Aku menyatakan diri untuk menjadi orang beriman dan taat bila aku disayat-sayat, Tuhan akan memberiku kekuatan untuk tidak menyangkal-Nya dan mengakui bahwa Dia ada. Umat Islam mengatakan : hanya Dia dan tidak ada tuhan yang lain. Umat Kristen ,engatakan hal yang sama, begitu juga Hindu. Dan jika aku bisa mengatakan lagi, bahwa Buddha menyatakan hal yang sama pula, walaupun dalam istilah yang berbeda. Kita masing-masing boleh menempatkan interprestasi kita sendiri tentang Tuhan-Tuhan yang mencakup tidak hanya dunia kecil tetapi jutaan, milyaran dunia-dunia kecil yang lain. Bagaimana mungkin, kita makhluk kecil yang begitu tidak berdaya dihadapanNya, dapat mengukur kebesaranNya, cinta-kasihnya yang tak terbatas, dan atau belas kasihNya yang tak terhingga, semua yang membuat Dia membiarkan manusia yang dengan tidak tahu diri menolakNya, bertengkar denganNya atau saling membunuh sesamanya? Bagaimana kita bisa mengukur kebesaran Tuhan yang begitu pemaaf dan pemurah? Maka, walaupun kita mengucapkan kata-kata yang sama tetapi kata-kata tersebut tidak mempunyai arti yang sama bagi kita semua. Dan karenanya, aku menyatakan bahwa kita tidak perlu mengajak orang untuk mengubah keyakinan melalui pidato dan tulisan-tulisan kita. Yang dapat kita lakukan hanyalah menunjukkan melalui kehidupan kita sendiri. Biarkanlah itu menjadi seperti buku yang terbuka untuk dipelajari semua orang. Semoga aku dapat membujuk pemahaman misionaris untuk menerima pandanganku ini dalam misi mereka. Hingga pada saatnya nanti tidak akan ada rasa tidak percaya, rasa iri-hati, rasa curiga dan tidak ada perselisihan.
(Young India, 8 Desember 1927)

HAL-HAL YANG BERKENAAN DENGAN SEMANGAT

Salah seorang diantara teman-teman misionaris ingin mengetahui bagaimana Gita dan Perjanjian Baru dapat diperbandingkan sebagai sumber-sumber yang memberi inspirasi bagi Gandhi; daripada memberikan jawaban kosong bahwa dia mendapat semua inspirasi yang dia perlukan dari Bagawad-Gita, Gandhi menceritakan kembali awal studi agamanya di Inggris, dimana semua pembaca otobiografinya tentu sudah mengetahui ceritera ini. Semua misionaris kelihatannya lupa bahwa orang-orang yang mereka dekati dengan ajaran Injil, memiliki tradisi dan agama sendiri yang dipercaya dari generasi ke generasi. Gandhi mengatakan pada teman-teman tersebut bahwa ketika dia membaca Khotbah diatas Bukit, dia tidak mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi menemukan didalamnya apa yang dia pelajari pada masa kanak-kanaknya, “tidak ada yang istimewa tentang hal memberikan segelas air pada orang yang memberimu segelas air atau memuji pada orang yang memujimu, tetapi ada kemuliaan dalam membalas kebaikan pada orang yang berlaku buruk padamu”.

Dia berkata, “Hingga kini aku belum dapat melihat perbedaan-perbedan antara Khotbah diatas Bukit dan Bagawad Gita. Apa yang Khotbah paparkan dengan rinci, Bhagawad-Gita mereduksinya ke dalam suatu susunan ilmiah. Ini mungkin bukan buku ilmiah seperti istilah ilmiah yang biasa diterima khalayak, tetapi buku ini telah menganjurkan hukum cinta-kasih, dalam istilahku, hukum tentang kebebasan dalam susunan ilmiah. Khotbah diatas Bukit memberikan hukum yang sama dalam bahasa yang sangat bagus. perjanjian baru memberiku inspirasi dan kegembiraan yang sangat terbatas, yang muncul setelah aku menolak bagian Perjanjian Lama yang telah kubaca. Saat ini, seandainya aku kehilangan Bhagawad Gita dan lupa akan semua isinya tetapi hanya memiliki salinan Khotbah diatas Bukit, aku harus mendapat kegembiraan yang sama dari salinan itu seperti yang aku dapatkan pada Gita.

Sambil menambahkan argumentasi tersebut dengan peringatan keras, dia berkata “Anda tahu ada satu hal dalam diriku, yaitu aku suka melihat sisi baik sesuatu, bukan sisi buruk dan aku dapat memperoleh kenyamanan dan inspirasi buku-buku bagus dari agama-agama besar. Aku mungkin tidak dapat mempuat satu kalimatpun yang mirip ayat dari Bhagawad Gita atau Perjanjian Baru. Seorang anak Hindu atau Kristen mungkin dapat mengkaji ayat-ayat tersebut dengan lebih baik, tetapi anak-anak cerdas itu tidak dapat menghalangiku untuk memadukan jiwa kedua kitab tersebut seperti yang kurasakan saat ini”.
(Mahadev Desai in, Young India, 22 December 1927)

YESUS YANG AKU CINTAI

(Atas permintaan teman-teman Kristen yang seperjalanan dengannya, Gandhi memberikan ceramah pada hari natal 1931, sambil berlayar kembali ke India setelah menghadiri Konferensi Meja Bundar II di London.) :

Aku akan mengatakan pada anda, bagaimana kisah Kristus seperti yang diceritakan dalam Perjanjian Baru, telah memberi kesan yang mendalam pada orang asing sepertiku. Perkenalanku dengan Alkitab simulai sekitar empat puluh lima tahun yang lalu dan perkenalan itu melalui Perjanjian Baru. Aku idak tertarik pada Perjanjian Lama, yang telah kubaca untuk sekadar memenuhi janjiku pada seorang teman yang kebetulan bertemu di sebuah hotel. Tetapi, ketika aku membaca Perjanjian Baru dan Khotbah diatas Bukit, aku mulai mengerti ajaran Kristen. Ajaran Khotbah diatas Bukit ini, menggemakan sesuatu yang telah aku pelajari pada masa kanak-kanak, sesuatu yang tampaknya menjadi bagian hidupku dan aku rasakan menggelisahkanku.

Aku katakan “terus-menerus menggelisahkanku”, artinya dengan cara demikian bukan tujuanku untuk mencapai semuanya dalam hidupku. Ajaran ini merupakan ajaran anti balas dendam, atau anti membalas kejahatan dengan kejahatan. Dari semua hal yang aku baca, apa yang melekat di benakku selamanya adalah Yesus hadir nyaris untuk selalu memberi hukum yang baru, walaupun tentunya dia mengatakan bahwa dia tidak datang untuk memberikan hukum yang baru, tetapi menambahkan sesuatu pada hukum Mozaik lama. Dia mengubahnya sehingga menjadi hukum baru, bukan hukum mata ganti mata, dan gigi ganti gigi, tetapi siap menerima dua pukulan saat menerima satu pukulan, dan berjalan dua mil saat diminta berjalan satu mil.

Aku katakan kepada diriku sendiri. Inilah yang seseorang pelajari pada masa kanak-kanaknya. tentu saja ini bukan ajaran Kristen yang sesungguhnya. Adalah pemahamanku semata, bahwa untuk menjadi seorang Kristen harus memegang sebotol bir disatu tangan dan daging di tangan yang lain. Akan tetapi Khotbah diatas Bukit menggantikan kesan tersebut. Seperti hubunganku dengan orang-orang Kristen sejati, antara lain orang-orang yang hidup dlam rasa takut terhadap Tuhan, aku melihat ajaran Khotbah diatas Bukit merupakan keseluruhan ajaran Kristen bagi siapa yang hidup dalam agama Kristen. Khotbah diatas Bukit inilah yang membuatku dekat dengan Yesus.

Kuakui bahwa aku tidak pernah tertarik pada sejarah Yesus. Aku tidak peduli jika suatu aat sejarah membuktikan bahwa Yesus tidak pernah hidup, dan yang dikisahkan dalam Injil adalah semata imajinasi penulis. Tetapi Khotbah diatas Bukit akan tetap menajdi kebenaran bagiku.

Oleh karena itu, membaca keseluruhan kitab itu dengan jelas, tampak bagiku bahwa jaran Kristen belum terwujudkan, kecuali kalau seseorang mengatakan bahwa dimana ada cinta-kasih tanpa batas dan tidak ada cita-cita balas dendam apapun, inilah agama Kristen yang hidup. Namun ini melampaui semua batasan dan ajaran Alkitab. Dan ini menjadi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, tidak mampu dikhotbahkan ke masyarakat, tidak mampu disebarkan dari mulut ke mulut, tetapi dari hati ke hati. Sayangnya, agama Kristen tidak bisa dipahami dengan cara demikian.

Bagaimanapun juga, dalam pemeliharaan Tuhan melalui oran-orang Kristen, Alkitab sudah dilindungi dari kerusakan, begitu istilahku. Lembaga Alkitab Asing maupun Lembaga Alkitab Inggris telah menterjemahkan Alkitab ke berbagai bahasa. Semoga semua itu bermanfaat untuk tujuan sesungguhnya di masa yang akan datang. Dua ribu tahun dalam kehidupan iman mungkin tidak berarti apa-apa. Karena walaupun kita bernyanyi “segala puji bagi Tuhan di surga dan damain turun ke bumi” saat ini tampaknya bukan puji bagi Tuhan dan tidak juga damai di bumi.

Selama masih ada kelaparan dan selama Kristus belum terlahir, kita harus terus mengharapkan Dia. Saat kedamaian sejati tercipta, kita tidak perlu memamerkannya, bahkan hal itu akan bergema dalam kehidupan kita, bukan hanya dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam kehidupan bersama. Kemudian itulah arti sesungguhnya dari ayat yang kita nyanyikan. Dan kita tidak akan berpikir tentang suatu hari istimewa dalam satu tahun untuk memperingati kelahiran Kristus, tetapi ini akan merupakan peristiwa yang terus menerus mengingatkan kita sepanjang kehidupan kita.

Dan semakin aku pikir tentang landasan agama, semakin aku berpikir tentang konsep-konsep yang menakjubkan dari begitu banyak guru yang telah hadir dari masa ke masa dan klaim ke klaim, semakin banyak pula aku melihat ada dibelakang mereka kebenaran abadi yang telah aku ceritakan. Itu semua tidak membutuhkan nama atau pengakuan. Ini ada dalam kehidupan, tidak pernah berhenti, selalu ingin mencapai perdamaian.

Oleh karena itu, saat seorang mengatakan “Selamat natal” tanpa mengetahui artinya, maka hal ini tidak lebih dari sekedar kata-kata kosong. kecuali kalau seseorang mengharapkan perdamaian bagi semua, dia tidak dapat mengharapkan perdamaian untuk dirinya sendiri. Ini adalah aksioma bukti diri, seperti aksioma Euclid, bahwa seseorang tidak dapat mendapatkan perdamaian kecuali kalau ada dalam dirinya kerinduan yang sangat besar bagi perdamaian di sekitarnya. Anda pasti dapat mengalami kedamaian di tengah-tengah perselisihan, tetapi hal tersebut terjadi hanya kerika untuk menghentikan perselisihan, anda meninggalkan seluruh hidup anda, mengorbankan diri anda sendiri.

Jadi, ketika kelahiran yang hebat itu adalah peristiwa abadi, begitu juga penderitaan Kristus merupakan peristiwa abadi dalam kehidupan yang penuh kekacauan ini. Oleh karena itu, kita tidak bisa berpikir tentang kelahiran tanpa berpikir tentang kematian di kayu Salib. Kehidupan Kristus berarti kehidupan penderitaan Kristus di Kayu Salib, tanpa ini hidup hanyalah kesis-siaan tanpa makna.

(Atas permintaan seorang wartawan Amerika, gandhi menambahkan pesan di bawah ini pada penghormatan kelahiran Kristus).

Aku belum pernah berdamai dengan diriku sendiri untuk menerima kegembiraan Natal ini. Bagiku hal ini nampaknya tidak sesuai dengan kehidupan dan ajaran Yesus.

Betapa Aku berharap Amerika dapat memimpin jalan dengan memberikan masa Natal ini untuk sungguh-sungguh mengevaluasi moral sesungguhnya dan menekankan pengabdian untuk melayani umat manusia seperti yesus yang hidup dan mati di Kayu Salib.
(Young India, 31 Desember 1931)

TEMPAT BAGI YESUS

Selama beberapa tahun, aku telah menghormati Yesus dari Nazaret sebagai salah satu guru diantara guru-guru besar yang pernah dimiliki dunia, dan aku mengatakan ini dengan segenap kerendahan hati. Suatu kerendahan hati untuk alasan yang sederhana yaitu bahwa inilah sebenarnya yang aku rasakan. Tentu saja, orang-orang Kristen mengakui Yesus orang Nazaret di tempat yang lebih tinggi daripada yang dapat dirasakan olehku sebagai orang non-Kristen dan sebagai orang Hindu. Aku dengan sengaja menggunakan kata “rasa” daripada menggunakan kata “beri” karena aku berpikir bahwa bukan aku atau juga orang lain, dapat begitu arogan terhadap dirinya sendiri dengan memberikan tempat bagi manusia hebat tersebut.

Guru-guru terbesar manusia telah mendapat tempat-tempat yang tidak sepantasnya bagi mereka. tetapi, tempat itu telah menjadi milik mereka sebagai hak, sebagai masalah pelayanan yang telah mereka sumbangkan; tetapu ini diberikan bagi orang-prang yang paling sederhana dan paling rendah diantara kita untuk merasakan hal-hal tertentu tentang orang-orang tertentu. Hubungan antara guru-guru besar tersebut dan diri kita sendiri agaknya seperti hubungan antara suami dan istri. hal ini akan menjadi masalah yangamat mengerikan, tragis. Seandainya aku haus membantah di luar kapasitas intelektualku tentang tempat apa yang aku berikan pada istriku di dalam hatiku. Ini bukanlah pemberianku tetapi dia mengambil tempat yang menjadi miliknya sebagai masalah hak-nya dalam hatiku. Ini hanya semata-mata masalah perasaan.

Kemudian, Aku bisa akatakan bahwa Yesus berdiam dalam hatiku, tempat dari sa;ah satu guru terbesar yang telah membuat pengaruh yang sangat kuat dalam hidupku. Tinggalkanlah orang-orang Kristen sejenak. Aku akan mengatakan pada umat Hindu, bahwa kehidupan kalian tidak akan lengkap kecuali kalau kalian menaruh hormat untuk mempelajari ajaran-ajaran yesus. Kesimpulannya, dalam pengalaman pribadiku, bagi siapa saja, tidak peduli dalam keyakinan apapun, yang dengan hormat mempelajari ajaran dan keyakinan lain, maka kepicikan akan tergantikan oleh keyakinan pelayanan dalam memperkaya manusia, bahkan telah memenuhi tujuannya.

Ada satu hal yang terpikir olehku, yang hadir dalam studi-dtudi awalku tentang Alkitab. hal ini menyita pikiranku segera setelah aku membaca pesan Yesus : “Buatlah dunia ini menjadi Kerajaan dan Kebajikan Tuhan, maka segala sesuatu akan ditambahkan kepadamu”. Aku akan mengatakan bahwa jika anda mengeryi, menghargai serta menjalankan semangat dari pesan itu, anda tidak akan perlu mengetahui dimana tempat Yesus atau guru-guru yang lain berdiam dalam hatimu. Jika anda akan melakukan pekerjaan seperti layaknya burung pemakan bangkai, bersihkan, murnikan dan jadikan hati anda siap, anda akan menemukan semua guru-guru hebat ini mengambil tempat di hati kita karena kita mengundangnya.
(Gandhi in Ceylon, hlmn 143)

“YANG TERTULIS MEMBINASAKAN”

Apa yang tertulis membinasakan, roh memberi kehidupan”. Bacaan pertamaku terhadap Alkitab menunjukkan padaku bahwa aku akan tidak suka pada banyak hal didalamnya, jika aku mengartikan secara harfiah banyak teks dan bahkan mengambil setiap pesan di dalamnya sebagai kata-kata Tuhan. Ternyata, ketika aku meneruskan studiku tentang kitab suci dari berbagai macam agama, setiap kitab suci harus diperlakukan sama, tanpa terkecuali Veda atau Upanishads. Karena itulah, kisah doktrin agama Kristen yang mengatakan bahwa gadis Maria mengandung tanpa pergaulan dengan pria, ketika kutafsirkan secara mistik, membuatku menerimanya. Aku akan merasa sulit untuk mempercayai secara harfiah ayat-ayat yang berhubungan dengan Doktrin Agama tentang Yesus. Kalau pun kuartikan secara harfiah maka tetap tidak akan memperdalam pernghargaanku pada Yesus. Hal ini bukan berarti bahwa penulis-penulis Injil adalah orang-orang yang tidak jujur. Mereka menulis dalam jiwa yang agung. Dari amsa mudaku, aku mempelajari seni penilaian Kitab Suci berdasarkan pada ajaran-ajaran etika agama tersebut. Oleh sebab itu, keajaiban tidak membuatku tertarik. Keajaiban-keajaiban itu tercatat telah ditunjukkan oleh Yesus, bahkan jika aku mempercayainya secara harfiah, tidak akan mendamaikanku pada ajaran yang tidak mewakili etika-etika unversal. Bagaimanapun, kata-kata yang sama yang dipanjatkan oleh manusia-manusia biasa yang tidak memilikinya.

YESUS SEORANG GURU BESAR DUNIA

Selanjutnya, Yesus bagiku adalah guru besar dunia diantara guru-guru lainnya. Dia tanpa ragu-ragu memberikan pada generasinya sebuah nama “Hanya satu-satunya Anak Tuhan”. Keyakinan mereka bukanlah keyakinanku. Dia mempengaruhi kehidupanku tidak lebih karena aku menghargainya sebagai salah satu diantara banyak anak Tuhan yang lain. Kata sifat “diper-anak” bagiku memiliki arti yang dalam dan mungkin arti yang mulia daripada arti harfiahnya. Bagiku, ini menunjukkan kelahiran spiritual. Pada masanya, dialah yang terdekat dengan Tuhan.

Yesus menebus dosa-dosa setiap orang yang menerima ajaran-ajarannya dengan menjadikan diriNya teladan yang sempurna untuk mereka. tetapi teladan-teladan itu tidak berharga sama sekali bagi siapa yang tidak pernah merasa punya masalah untuk merubah hidupnya. Sebuah pembaharuan menutupi dosa asal, sama seperti emas murni membungkus logam.

Aku telah membuat pengakuan sejujurnya dari dosa-dosaku. tetapi aku tidak membawa beban0beban mereka diatas pundakku. Jika aku mengadakan perjalanan bersamaNya, seperti yang kulakukan, aku merasa aman, karena aku merasakan kehangatan matahari bersinar atas kehadiranNya. Aku tahu bahwa ketekunanku, puasa-puasaku, dan doa-doaku tidak berarti apa-apa, jika aku mengandalkan hal-hal tersebut untuk pembaharuanku. tetapi hal itu memiliki harga yang tak ternilai, jika itu mewakili, karena aku berharap demikian, kerinduan akan perjuangan jiwa untuk meletakkan kepala yang letih dipangkuan Sang Pencipta.

ANAK-ANAK DARI SATU TUHAN

Bagiku Gita telah menjadi kunci Kitab Suci dunia. Gita membuka misteri terdalam yang dapat ditemukan didalam kitab suci tersebut. Aku menghargai semua kitab-suci dengan perintah yang sama, seperti aku berikan pada kitab-suci Hindu. Hindu, Muslim, Kristen, Parsi, Yahudi adalah anam-nama yang baik. Tetapi saat aku membingkar kitab-kitab tersebut aku tidak dapat membedakan satu dengan yang lainnya. Kita adalah anak-anak dari satu Tuhan “Sesungguhnya, aku berkata kepadamu bukan seseorang yang berseru ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk kedalam Kerajaan Surga, tetapi dia yang melakukan kehendak Bapaku yang ada di Surga akan masuk ke dalam kerajaanNya”. Disampaikan oleh semua guru-guru besar dunia, walaupun dengan kata-kata yang berbeda.
(Harijan, 18 April 1936)

MENGAPA AKU TIDAK MENJADI KRISTEN

Tidak ada sesuatupun di dunia yang akan dapat mencegahku mengakui agama Kristen dan keyakinan lain, saat aku merasakan kebenaran dan kebutuhan akan itu. Dimana ada ketakutan, maka tidak akan ada agama…. seandainya akudapat menyebut diriku seorang Kristen atau seorang Muslim, dengan interpretasiku sendiri terhadap Alkitab atau Alquran, aku tidak akan ragu-ragu untuk mengakui demikian. Karena dengan demikian Hindu, Kristen dan Muslim merupakan istilah yang sinonim.
(Young India, 2 September 1926)

Seorang kawan dari Inggris yang telah bersamaku selama tiga puluh tahun terakhir, mencoba membujukku bahwa tidak ada sesuatupun kecuali kebodohan dalam Hindu bahwa aku harus menerima agama Kristen. Ketika aku dipenjara, aku mendapat tidak kurang dari tiga salinan The life of Sister Theresa, dari sumber-sumber yang berbeda dengan harapan bahwa aku akan mengikuti teladan Bunda Theresa dan menerima Yesus sebagai satu-satunya Anak Allah dan Penyelamatku. Aku membaca salinan itu dengan sungguh-sungguh tetapi aku bahkan tidak dapat menerima kesaksian Bunda Theresa bagi diriku. Harus kukatakan bahwa aku memiliki pikiran terbuka terhadap pertanyaan “Mengapa aku tidak menjadi Kristen?”. Lagipula aku mengakui aku tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa aku adalah seorang Kristen, jika hal-hal tersbeut harus terjadi padaku seperti yang mereka lakukan pada Saulus sebelum dia menjadi Paulus.

Tetapi saat ini aku menentang Kristen Ortodoks, karena aku yakin bahwa mereka telah menyimpang dari pesan Yesus. Dia adalah orang Asia yang pesannya disampaikan melalui banyak cara dan ketika pesan itu ada di belakang kekaisaran Roma, pesan itu menjadi keyakinan para imperialis seperti yang terjadi saat ini.
(Harijan, 30 Mei 1936)

Walaupun aku tidak dapat mengaku menjadi seorang Kristen dalam pengertian sektarian, namun teladan dari penderitaan Yesus merupakan suatu faktor dalam susunan keyakinan abadiku tentang gerakan anti kekerasan yang mengendalikan semua aksiku baik secara menyeluruh maupun sesaat.
(Harijan, 7 Januari 1939)

HANYA SATU-SATUNYA ANAK TUHAN?

Gandhi : Aku menghargai Yesus sebagai guru besar kemanusiaan, tetapi aku tidak menerimanya sebagai satu-satunya Anak Tuhan. Istilah itu dalam interpretasiku materialnya tidak dapat kuterima. Secara kiasan, kita semua adalah anak-anak Tuhan, tetapi bagi masing-masing orang mungkin ada istilah yang berbeda-beda dalam pengertian khusus.

Tanya : Tetapi tidakkah anda percaya bahwa kesempuarnaan manusia dan tidakkah anda percaya bahwa Yesus telah mencapai kesempurnaan?

Gandhi : Aku percaya pada kesempurnaan manusia. Yesus memang sedemikian dekat dengan kesempurnaan itu. Untuk mengatakan bahwa dia sempurna adalah menolak superioritas Tuhan atas manusia. Dan dalam hal ini, aku memiliki teori sendiri. Keberadaan manusia dibatasi oleh segumpal daging, kita dapat mencapai kesempuarnaan hanya setelah tubuh jasmani tidak membatasi kita, oleh sebab itu, Tuhan sendiri mutlak sempurna. Ketika Dia turun ke bumi, Dia atas kehendakNya sendiri membatasi diri. Yesus mati di Kayu Salib karena Dia dibatasi oleh daging.

Aku tidak memerlukan ramalan atau mujizat-mujizat untuk membuktikan kebesaran Yesus sebagai guru. Tak ada yang lebih menakjubkan dibanding tiga tahun pelayananNya. Tak ada keajaiban dalam sikah orang banyak yang diberi makan dari segenggam roti. Seorang pesulap dapat menciptakan ilusi itu. Tetapi kesengsaraan menjadi bernilai pada saat seorang pesulap dielu-elukan sebagai penyelamat kemanusiaan. Ketika Yesus menghidupkan orang mati, aku sangsi jika orang-orang yang dia hidupkan memang benar-benar mati. Aku menghidupkan anak sepupuku yang disangka mati, tetapi itu karena anak tersebut belum mati, dan jika aku tidak ada disana mungkin dia sudah dikremasi. Tetapi, aku melihat bahwa dia masih hidup, Aku memberinya suntikan dan dia sadar kembali. Tidak ada keajaiban sama sekali. Aku tidak membantah bahwa Yesus memiliki kekuatan psikis tertentu dan Dia dipenuhi dengan cinta-kasih pada manusia. Tetapi Dia tidak membawa kehidupan untuk orang-orang mati, tetapi untuk mereka yang diyakini akan mati. Hukum alam tidak berubah, tidak dapat diubah dan tak ada keajaiban yang diartikan sebagai mematahkan atau menghentikan sementara hukum alam. Tetapi kita perlu membatasi diri terhadap angan-angan berbagai amacam hal atau menyalahkan Tuhan atas keterbatasan kita. Kita boleh meniru Tuhan, tetapi bukan Dia yang meniru kita. Kita tidak bisa mengklasifikasikan waktu untuk Tuhan, waktu baginya adalah kekal. Bagi kita, ada masa lalu, sekarang, masa depan. Dan apalah artinya kehidupan manusia selama ratusan tahun kecuali sekadar bintik belaka dalam keabadian waktu?
(Harijan, 17 April 1937)

APA ARTI YESUS BAGIKU

Walaupun aku telah menjalani sebagian besar hidupku untuk mendalami agama dan mendiskusikannya dengan para pemimpin agama dari semua keyakinan, aku tahu dengan baik bahwa aku tampaknya terlalu lancang untuk menulis tentang Yesus Kristus dan mencoba untuk menjelaskan apa arti dia bagiku. Aku melakukan ini hanya karena teman-teman Kristenku telah mengatakan padaku di setiap kesempatan bahwa alasan utama untuk mengatakan kepadaku di setiap kesempatan bahwa alasan utama untuk mengatakan bahwa aku bkanlah seorang Kristen dan bahwa (aku perlu mencantumkan secara jelas apa yang mereka katakan) “Aku tidak menerima Kristus di dasar hatiku sebagai satu-satunya Anak Tuhan”, adalah karena tidak mungkin bagiku untuk mengerti arti terdalam dari ajaran-ajaran yang semacam itu, atau mengetahui dan menginterpretasikan sumber kekuatan spiritual terbesar yang pernah diketahu manusia itu.

Mungkin benar atau tidak benar, aku memiliki alasan untuk percaya bahwa ini merupakan sudut pandang yang keliru. Aku yakin penilaian semacam itu bertentangan dengan pesan yang Yesus Kristus berikan pada dunia. Karena Yesus, tentunya adalah teladan besar dari Yang Maha Esa yang berharap memberikan segalanya tanpa pamrih, dan tidak memikirkan keyakinan apa yang diakui oleh penganutnya. Aku yakin, seandainya Dia hidup disini sekarang diantara orang-orang, Dia akan memberkati hidup orang-orang yang mungkin tidak pernah mendengar namaNya, seandainya hidup mereka mewujudkan nilai-nilai keteladananNya saat Dia hidup di dunia; cinta-kasih kepada sesama manusia seperti pada diri sendiri dan saling berbuat baik serta murah hati diantara sesama.

Kemudian, apa arti Yesus bagiku? Bagiku, Dia adalah salah satu guru terbesar kemanusiaan yang pernah ada. Bagi para pengikutnya, Dia adalah satu-satunya Anak Tuhan. Apakah bila aku menerima atau tidak, fakta tentang adanya keyakinan ini dapat membuat Yesus memberi lebih sedikit atau lebih banyak pengaruh dalam hidupku? Apakah kemudian semua kemuliaan ajaran-ajaran dan doktrinNya terlarang untukku? Aku tidak percaya. Bagiku hal ini menyatakan kelahiran spiritual. Dengan kata lain, interpretasiku adalah bahwa hidup Yesus sendiri merupakan kunci kedekatanNya pada Tuhan Dia mampu mengungkapkan semangat dan kehendak Tuhan, sementara yang lain tidak mampu melakukan. Inilah yang kupahami sebagai anak Tuhan ketika aku melihatNya dan mengenalNya. Tetapi aku [erbaya bahwa sesuatu dari semangat yang Yesus tunjukkan dalam langkah terbesarnya, benar-benar nyata, dalam rasa umat manusia yang paling dalam. Aku harus percaya tentang ini, jika aku tidak percaya aku akan menjadi skeptis; dan menjadi skeptis adalah hidup di dunia yang hampa dan kurang kandungan moral. Atau dalam istilah lain memandang negatif seluruh umat manusia.

Memang benar, ada berbagai alasan tertentu untuk menjadi skeptis kekita seseorang menyaksikan pembunuhan berdarah dari agresi eropa dan ketika seseorang berpikir tentang kesengsaraan dan penderitaan yang terjadi di setiap sudut dunia, serta wabah dan kelaparan, ketakutan dan perang yang tidak dapat dihindarkan. Atas kejadian ini, bagimana seseorang dapat berbicara serius tentang penjelmaan Roh Tuhan dalam diri manusia? Karena aksi-aksi teror dan pembunuhan tersbeut melukai hati nurani manusia; karena manusia tahu bahwa itu mewakili kejahatan; karena di dalam hati serta benaknya, dia menyesalkan tindakan tersebut. Dan lagi, karena ketika dia tidak tersesat, tetapi disesatkan oleh ajaran-ajaran yang salah atau dirusak oleh para pemimpin yang salah, di dalam hatinya ada dorongan kebaikan dan belas kasihan yang merupakan tanda ketuhanan. Aku percaya suatu hari nanti tanda itu akan meledak dalam sorak-sorai penuh bunga, yaitu harapan dari seluruh umat manusia. Contoh dari kebahagiaan ini mungkin ditemukan dalam figur dan kehidupan Yesus. Aku menolak untuk percaya kalau ada orang yang tidak meniru teladannya ketika orang tersebut ingin memulihkan dosa-dosa yang telah dilakukannya, bahkan orang tersebut mungkin sudah melakukan teladannya tanpa sadar. Kehidupan yang dimiliki semua manusia dalam ketingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah, telah dirubah oleh kehadirannya, tindakan-tindakannya dan kata-kata yang diucapkan melalui suara ketuhananNya.

Aku percaya bahwa tidak mungkin untuk menghitung jasa-jasa dari berbagai agama di dunia, terlebih lagi aku yakin bahwa tidak perlu, bahkan berbahaya untuk mencoba melakukan itu. Tetapi masing-masing agama, menurut pendapatku, mewujudkan kekuatan bersama yang memotivasi; hasrat untuk meningkatkan kehidupan manusia dan memberinya tujuan. Dan karena hidup Yesus memiliki arti amat penting seperti yang telah aku singgung, aku yakin bahwa dia tidak hanya semata-mata milik Kristen, tetapi milik seluruh dunia, milik semua suku angsa dan umat manusia, hal ini hanya masalah dibawah bendera, nama atau dotrin apa mereka memeluk suatu keyakinan atau suatu ibadah pada Tuhan, sesuatu yang sudah mereka terima sebagai warisan dari pendahulu mereka.
(The Modern Review, October 1941)

KRISTUS SEORANG PANGERAN DIANTARA PARA SATYAGRAHIS

Budha tanpa kenal takut membawa perang ke kemah musuh dan membuat seorang pendeta yang arogan bertekuk lutut dihadapannya. Kristus meng-obrak-abrik meja penukar uang di Rumah Allah di Yerusalem dan mengecam orang-orang munafik dan orang-orang Farisi. Keduanya merupakan contoh-contoh langsung yang sangat bagus. tetapi dalam menghukum, Budha dan Kristus menunjukkan dengan jelas kelembuatan dan cinta-kasih di belakang setiap tindakan-tindakan mereka. Mereka tidak akan mengangkat senjata melawan musuh-musuh mereka, tetapi dengan senang hati akan menyerahkan diri mereka sendiri daripada menyerahkan kebenaran yang telah mereka percayai. Budha lebih baik mati melawan pendeta, jika keagungan cinta-kasihnya tidak mampu mengatasi keangkuhan para pendeta tersebut. Kristus mati di kayu salin dengan mahkota duri dikepalanya sebagai penentangan terhadap kekuatan seluruh kerajaan. Dan jika aku mengangkat perlawanan dengan sikap anti kekerasan, aku dengan kerendahan hati hanya tinggal mengikuti jejak langkah guru-guru besar tersebut.
(Young India, 12 Mei 1920)

Bacaanku terhadap Alkitab telah menunjukkan dengan jelas pendapatku yang berasal dari bacaan kitab-kitab suci Hindu. Yesus menyatu dengan masyarakat umum dan para pendosa tidak sebagai seorang pelindung maupun yang dilindungi. Dia menyatu dengan mereka untuk melayani dan mengubah mereka agar dapat hidup dalam kebenaran dan kemurnian. Tetapi dia mengibaskan debu di kakinya untuk agar dapat hidup dalam kebenaran dan kemurnian. tetapi dia mengbaskan debu di kakinya untuk tempat-tempat yang tidak mendengarkan kata-katanya. Aku menganggap teladan itu sebagai tugas atau kewajibanku untuk tidak membiarkananak yang mencemarkan dirinya sendiri dengan hidup dalam rasa malu dan kejahatan. penolakan terhadap pencerahan adalah ekspresi dari penderitaan yang harus ditanggung oleh cinta kasih … maukah Yesus menerima hadiah dari penukar uang, mengambil dari emreka untuk menolong teman-temannya memberi pinjaman pada mereka untuk menjalankan perdagangan keji? Apakah pengaduannya atas orang-orang munafik, orang-orang farisi dan orang-orang Saduki hanya dalam kata-kata? Atau apakah dia tidak benar-benar mengundang orang-orang untuk memperingatkan mereka tapi justru menghindari mereka?
(Young India, 19 Januari 1921)

Kesempatan menjatuhkan kekuasaan Roma dengan caraku. Dan aku dapat melihat sesuatu yang ada di dalam kota yang besar dan kuno itu dan juga dengan Mussolininya, yaitu kediktatoran yang tangguh dari Italy. Apa yang tidak akan laku akan aku berikan adalah untuk menundukkan kepadaku di hadapan gambar hidup penyaliban Kristus di Vatikan. Bukanlah tanpa kesedihan aku dapat memeksakan diri untuk meninggalkan adegan tragedi kehidupan itu. Aku melihat disana, suatu saat nanti bangsa-bangsa, seperti juga individu-individu, hanya akan dapat dibentuk melalui penderitaan salib yang pedih, bukan dari jalan manapun. kegembiraan tidak datang dari penderitaan orang lain, tetapi keluar dari penderitaan yang lahir oleh kerelaan diri sendiri.
(Young India, 31 December 1931)

Nilai nilai belas kasihan, anti kekerasan, cinta kasih dan kebenaran dalam diri setiap orang hanya dapat benar-benar teruji pada saat mereka melawan kezaliman, kekerasan, kebencian dan kesalahan.

Jika ini benar, makla adalah salah untuk mengatakan bahwa AHIMSA tidak dapat digunakan menghadapi pembunuhan. Hal ini benar-benar dapat dikatakan bahwa melakukan Ahimsa dalam menghadapi pembunuh adalah untuk membiarkan diri sendiri binasa. Tetapi ini ujian yang sesungguhnya dari Ahimsa. Bagaimanapun juga, orang yang terbunuh semata-mata karena tidak berdaya, belum tentu melakukan Ahimsa. Seseorang yang saat ditendang tidak menjadi marah dan melawan, bahkan meminta Tuhan untuk memaafkan mereka adalah tindakan anti kekerasan sebenarnya. Sejarah berhubungan dengan Yesus Kristus.

Dalam menghadapi kematian di atas kayu salib, Ia masih mampu mengatakan, “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.
(Harijan, 28 April 1946)

Teorinya adalah bahwa usaha untuk menjangkau hati tidak akan pernah gagal. Munculnya kegagalan bukan bagian dari Satyagraha tetapi bagian dari ketidakmampuan para Satyagrahi oleh apapun penyebabnya. Bisa jadi tidak mungkin untuk memberikan contoh sejarah yang lengkap. Nama Yesus sekali-kali hampir diucapkan. Ini adalah contoh kegagalan yang brilian. Dan Dia telah diklaim di Baray sebagai pangeran dan pejuang-pejuang pasif. Aku tunjukkan di tahun-tahun yang lalu di Afrika Selatan bahwa kata sifat “pasif” adalah sebuah istilah yang tidak cocok, paling tidak seperti yang ditujukkan Yesus. Dia adalah pejuang paling aktif yang dapat dikenal sepanjang sejarah. perjuanganNya adalah anti kekerasan yang sesungguhnya.
(Harijan, 30 Juni 1946)

Bangsa Eropa salah mengira perlawanan yang berani dan hebat, penuh dengan kebijaksanaan, oleh Yesus dari Nazareth sebagai perlawanan pasif, seolah-olah ini adalah kelemahanNya. Saat aku membaca Perjanjian Baru, aku temukan tidak ada kepasifan, tidak ada kelemahan Yesus yang digambarkan keempat Injil, dan artinya menjadi lebih jelas bagiku saat aku membaca tulisan Tolstoy : Harmony of the Gospel dan ratusan tulisannya yang lain. Belumkah Barat membayar penuh penghargaan pada Yesus sebagai pejuang pasif? Umat Kristen bertanggung-jawab atas perang yang memalukan bahkan perang-perang yang digambarkan dalam Perjanjian Lama dan catatan-catatan lain, menurut sejarah atau sekarang.
(Harijan, 7 December 1947)

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on February 27, 2008, in Artikel and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: