Tanda-tanda Kepunahan Peradaban Bangsa

Tulisan Abdillah Toha (mantan pendiri Partai PAN) di Kolom Politik GeoTimes, Sabtu, 30 Desember 2017, dengan judul “Kaleidoskop 2017: Tahun Keprihatinan Beragama”.

Tahun 2017 segera akan lewat. Tahun ketiga pemerintahan Joko Widodo yang mulai menunjukkan hasil kerja fisiknya, namun bagi saya dan banyak Muslim lain di negeri ini terasa sebagai tahun yang menyesakkan, penuh gejolak, ujian, dan sekaligus bahan untuk merenung.

Di negeri yang indah ini umat Islam sedang menghadapi cobaan. Ada tanda-tanda mencolok banyak Muslim di sini sedang mengeras sikapnya. Agresif dan cenderung menyudutkan yang bukan seiman dan sepemahaman karena alasan yang sulit dicerna. Berlebihan waspada dan curiga karena yang di luar kelompoknya dianggap membahayakan eksistensi agamanya.

Ayat-ayat suci al-Qur’an dibaca, dikutip, dan ditafsirkan secara harfiah, di luar konteks peristiwa, tempat, dan waktu diturunkannya wahyu. Pengkafiran serta ancaman azab neraka dilontarkan kepada mereka yang tidak sependirian. Surga dimonopoli seakan hanya cukup untuk mengakomodasi mereka yang sealiran. Rasa empati, kasih sayang, dan penghormatan kepada yang berbeda mendadak lenyap dari kehidupan beragama.

Sebagian ustaz dan pendakwah ketika memegang pengeras suara menjadi galak, nyinyir, marah-marah, dan penuh kebencian. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini? Apa penyebabnya?

Menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah. Ada berbagai kemungkinan atau kombinasi dari berbagai kemungkinan di bawah ini yang bisa menjadi faktor paling berpengaruh.

Pertama, selama sepuluh tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah terjadi lepas kendali terhadap kegiatan dan tumbuh suburnya ormas-ormas garis keras yang berkembang biak dan mencapai puncaknya pada permulaan periode Presiden Jokowi. Sikap SBY yang sering diutarakannya dengan ungkapan “one thousand friends and zero enemy” bagi politik luar negerinya, kenyataannya juga mencerminkan sikapnya di dalam negeri.

Menutup mata dan melakukan pembiaran terhadap ormas-ormas radikal menjadi bagian dari kebijakannya untuk menambah kawan dan mengurangi lawan, seperti juga kebijakannya yang tak bersedia mengurangi pemborosan ratusan triliun rupiah subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Kedua, Pemilu Presiden 2014 adalah awal dari pesta demokrasi yang tercemar oleh kampanye hitam yang memprihatinkan. Nafsu meraih kekuasaan telah mengambil alih akal sehat dengan menebar kebohongan, fitnah, dan kebencian. Masih segar dalam ingatan kita ketika calon presiden Jokowi disebut komunis, keturunan Cina, ibunya bukan muslimah dan lain-lain. Hampir saja taktik ini berhasil dengan defisit suara yang tidak seberapa, maka dilanjutkan dengan lebih intensif pada pemilu gubernur DKI dengan sukses di tahun ini.

Kali ini taktik yang serupa diterapkan tetapi dengan intensitas lebih tinggi pada fokus “pembelaan” Islam dan propaganda bahwa Islam akan tersingkirkan dari ibu kota bila seorang calon gubernur Nasrani terpilih. Suatu momentum serangan yang dengan sistematis dimanfaatkan terhadap seorang petahana yang memang tidak tertolong, sebagiannya karena kebiasaannya ceplas-ceplos tanpa mempedulikan akibatnya.

Sejak saat itu umat Islam, dan tidak terbatas hanya di Jakarta, mulai terbelah menjadi yang pro dan anti Ahok, yang merasa terancam keislamannya dan yang merasa aman, yang “membela” Islam dan yang merasa tak ada yang perlu dibela dalam keislamannya sejauh ini, yang literalis dan yang kontekstual, serta yang merasa murni serta memonopoli kebenaran dan yang berkeyakinan bahwa perbedaan dalam pemahaman Islam adalah rahmat.

Ketiga, partai oposisi sekuler Gerindra bersama partai berbendera Islam (PKS) dan belakangan didukung Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga berbasis pemilih Muslim, bergabung menyatukan kekuatan dan mengombinasikan kampanye berbagai “kegagalan” pemerintah yang berkuasa dengan sentimen agama pada Pilkada DKI lalu. Fokus kampanyenya bahwa negeri ini sedang dikuasai kekuatan asing dan aseng (baca: Cina) dengan umat Islam yang mayoritas menjadi korban dan terpinggirkan.

Akibatnya, kelompok Islam garis keras termakan oleh ilusi yang dirancang dengan sistematis, mendapat bahan masukan baru sebagai kelompok yang bukan saja merasa terancam eksistensi agamanya tetapi juga terpinggirkan kepentingan ekonominya.

Terdorong oleh ampuhnya strategi di DKI itu, ketiga partai politik itu ingin mengulang keberhasilannya dengan kembali bergabung baru-baru ini dalam koalisi untuk memenangkan Pilkada serentak 2018 di berbagai daerah, termasuk di seluruh provinsi di Jawa. Bergantung kepada hasil pilkada serentak nanti, bukan tidak mungkin kelompok ini akan menerapkan lagi taktik sentimen agama ini pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Keempat, kemajuan ekonomi dan meningkatnya jumlah kelas menengah secara signifikan selama satu dekade terakhir telah menciptakan kebutuhan baru. Ada kehausan kerohanian yang harus dipuaskan sehingga pengajian dan majlis zikir makin marak di mana-mana, termasuk pengajian kelas eksekutif. Akibatnya, timbul kebutuhan banyak ustaz.

Profesi ustaz kemudian menjadi menarik dengan imbalan yang menggiurkan, terutama setelah banyak contoh ustaz yang “sukses” menjadi selebriti dengan penghasilan melimpah. Maka, berbondong-bondonglah orang menjadi ustaz, termasuk yang ilmu agamanya cekak dan pemahaman Islamnya pas-pasan.

Pengajian kemudian disesuaikan dengan permintaan pasar, memberi solusi instan dunia-akhirat yang mudah dipahami, solusi hitam-putih surga-neraka. Sebab, baik sang ustaz maupun pendengarnya tak mampu menyampaikan dan menyerap lebih dari itu. Ketika itulah pemahaman agama yang tekstual bertebaran tanpa pemahaman konteks dari wahyu Ilahi yang diturunkan 1400 tahun yang lalu.

Kelima, tanpa perlu berpanjang-panjang lagi, kita semua tahu bahwa media sosial dalam era internet ini berperan besar dalam memperburuk situasi. Lebih buruk lagi ketika banyak penggunanya yang menyembunyikan identitas aslinya. Ajang perang kebencian menjadi makanan sehari-hari. Untunglah belakangan ketika pemerintah mulai sigap dan membawa beberapa lakon ujaran kebencian ke meja hijau, tampak ada sedikit keredaan dalam arena perang ini.

Keenam, dalam perang konvensional, penguasaan lapangan dan kawasan menjadi target perebutan yang berperang. Setelah kawasan dikuasai kemudian dilakukan fortifikasi guna menahan serangan musuh dan menyerang balik. Dalam perang persaingan pengaruh keagamaan di negeri kita tampaknya masjid dan mushola yang menjadi ajang perebutan. Siapa yang menguasai lebih banyak masjid, maka dialah yang akan menggaet lebih banyak pengikut. Inilah yang terjadi saat ini.

Dengan agresif dan sistematis berbagai kelompok garis keras terus mengembangkan penguasaan atas masjid-masjid dengan menyusup ke dalam kepengurusannya untuk kemudian mengambil alih sepenuhnya. Dengan begitu, merekalah yang akan menentukan siapa yang bisa tampil memberi tausiyah dan khutbah serta mengarahkan jamaah. Dengan modal ilmu agama yang minimal, mereka terlatih rajin dan berdedikasi sehingga menarik hati pendana masjid.

Bahkan masjid-masjid BUMN telah terkontiminasi dan konon mereka juga sudah masuk ke masjid-masjid TNI dan Polri. Di luar itu, Kementerian Pendidikan kita juga sudah kecolongan dengan adanya guru-guru agama beralira keras. Juga terjadi beberapa peristiwa ditemukannya buku-buku pelajaran agama yang tendensius dan bertentangan dengan ideologi bangsa. Dalam jangka panjang, kelengahan seperti ini akan berbahaya bagi kerukunan dan kesatuan republik yang kita cintai ini.

Ketujuh, kelompok garis keras ini adalah kelompok yang militan,agresif, dan berdedikasi tinggi serta terorganisasi dengan baik. Meski berulang kali kita mengatakan bahwa mereka itu minoritas, namun mayoritas yang diam dan tak terorganisasi menjadi tertinggal di belakang mereka dalam arena persaingan. Dengan penguasaan masjid serta bekerjasama dengan kekuatan politik yang membonceng, mereka memiliki kemampuan memobilisasi massa dengan cepat dan leluasa. Ini adalah salah satu kelebihan mereka yang sejauh ini tak tampak diimbangi oleh kelompok moderat.

Kumpulan massa besar-besaran di Monas yang telah beberapa kali berjalan dengan peliputan media secara luas, sedikit banyak telah pula menciptakan band wagon effect bagi mereka yang diluar kelompok menjadi tertarik untuk kemudian bergabung.

Tahun Politik

Di tahun baru 2018 yang segera datang dan pada tahun berikutnya, negeri ini akan disibukkan dengan kegiatan politik pilkada serentak dan disusul dengan pemilu presiden. Perhatian akan tercurah ke dua peristiwa itu dan rakyat akan digiring ikut meramaikannya atau memanaskannya. Bila suasana panas yang sudah mulai terasa kini berlanjut dan meningkat, negeri ini akan mengalami kerugian besar karena mengesampingkan konsentrasinya dari tugas utama negara untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

Khusus dalam kehidupan keberagamaan yang seharusnya membawa kedamaian dan kesejukan, bila gejala tahun 2017 berlanjut dan meningkat, akan berakibat koyaknya tenunan bangsa, perpecahan antara agama, golongan, suku, dan bahkan intra-agama. Kesatuan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa akan terancam dengan berbagai akibat yang tak terbayangkan.

Kebijakan yang antisipatif harus sudah disiapkan sejak sekarang bila kita tak ingin keadaan menjadi lebih buruk. Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang ormas anti-Pancasila yang telah disahkan menjadi undang-undang serta hukum yang mulai ditegakkan terhadap ujaran kebencian telah terbukti memberi dampak positif dengan menurunnya provokasi dan intensitas pencemaran nama baik dan fitnah di sosial media.

Ancaman hukum dan tindakan tegas kepada partai politik dan media massa yang menggunakan isu SARA dalam upaya meraih suara harus ditegakkan tanpa ragu. Media cetak dan tv agar didorong menonjolkan para ustaz dan dai yang bertanggung jawab dengan pemahaman Islam yang bersahabat.

Mayoritas diam agar dibangunkan dari tidurnya dan didoorong untuk bergiat tanpa melanggar aturan hukum untuk mengimbangi penguasaan arena oleh kelompok radikal. Ormas moderat besar seperti NU dan Muhammadiyah beserta lembaga-lembaga pendidikan di bawahnya bila perlu disokong dengan batuan langsung pemeritah untuk lebih mengintensifkan perannya dalam mewujudkan kehidupan beragama yang bermanfaat.

Dalam hubungan ini, kedua ormas besar itu agar didorong untuk lebih mengawasi masjid-masjid di bawah naungannya agar tidak jatuh di bawah kendali kepengurusan yang tidak dikehendaki. Begitu pula masjid di lingkungan BUMN dan instansi-instansi pemerintah. Masjid dan kampus agar dibebaskan dari kegiatan politik praktis.

Dalam jangka lebih panjang, perhatian agar diberikan oleh Kementerian Pendidikan pada kurikulum keagamaan serta rekrutmen guru-guru agama di berbagai sekolah. Akhirnya, semua permasalahan keberagamaan yang memprihatinkan di tahun ini sekali-kali tidak boleh dianggap enteng dan disepelekan bila kita tidak menghendaki negeri ini menjadi ajang kekacauan seperti tragedi yang terjadi di beberapa kawasan di Timur Tengah.

Tentu saja semua itu harus dilakukan dalam koridor hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku tanpa mengesampingkan hak-hak asasi manusia. (SFA)

Sumber: GeoTimes

Advertisements

Terlihat Kokoh namun sebenarnya Rapuh

Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.

Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali peperangan besar.

Pada setiap kali terjadi peperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.

Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.

Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:

1. Hancurkan tatanan keluarga.
2. Hancurkan pendidikan.
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan.

Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu.
Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru.
Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan rohaniwan/ulama adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai.
Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur ?
Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah.
Semuanya tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh.

Diadaptasi dari tulisan Jarred Diamond,penulis yang memperoleh penghargaan Pulitzer. Dalam sebuah pidatonya Jarred pernah mengatakan bahwa negara seperti: Indonesia, Columbia dan Philipina, merupakan beberapa peradaban yang sebentar lagi akan punah.

Tidak ada kata TERLAMBAT dan masih ada waktu….

Mari kita selamatkan negeri ini dengan kapasitas masing-masing terutama diawali dari diri sendiri, lalu keluarga dan komunitas…

*Mari teruskan untuk Indonesia tercinta…

Menang tanpa melawan

*RENUNGAN MALAM*
Seorang Guru membuat garis sepanjang 1m di papan tulis, lalu berkata : “Anak2, buatlah garis ini menjadi lebih pendek !”

Anak pertama maju ke depan, ia menghapus 20cm dari garis itu menjadi 80cm. Pak Guru mempersilakan anak ke-2. Ia-pun melakukan hal yang sama, sekarang garisnya tinggal 60cm. Anak ke-3 dan ke-4 pun maju ke depan melakukan hal yang sama, hingga garis itu tinggal 20cm.

Terakhir, seorang anak yang bijak maju kedepan. Ia tidak mengurangi garis yang sudah tinggal 20cm, namun membuat garis baru sepanjang 120cm, lebih panjang dari garis yang pertama.

Sang Guru menepuk bahunya, “Kau memang bijak, untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya, cukup membuat garis lain yang lebih panjang, maka garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya.”

Ternyata untuk menjadi yang terbaik tidak perlu menjatuhkan, menyingkirkan atau menjelekan pihak lain. Cukup lakukan kebaikan yang terbaik secara konsisten. Biarkan waktu yang akan membuktikan kualitas kita.

Permata akan tetap bersinar meskipun terpendam dalam lumpur yang gelap.

Bukan Hati Tidak Penting

*cropped-lukisan-kotbah-di-atas-bukit1.jpg*

_Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan._
Maleakhi 3:10

Baca : Maleakhi 3:3-12

Tuhan mengukur hati kita dengan angka. Ya, tentu kita telah banyak belajar bahwa Tuhan mengukur hati kita dari perbuatan kita. Namun hari ini, kita akan belajar bagaimana Tuhan juga mengukur hati kita dengan angka. Suka-tidak-suka, siap-tidak-siap, Alkitab berkata bahwa Tuhan mengukur hati kita dengan ukuran tertentu.

Hukum persepuluhan adalah cara Tuhan mengukur hati kita. Kebutuhan rumah Tuhan adalah tanggung jawab seluruh umat Tuhan. Mendukung pelayanan rumah Tuhan adalah bagian dari setiap orang percaya. Perpuluhan yang Tuhan perintahkan adalah keadilan Tuhan.

Perhatikan baik-baik bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan satu orang tertentu yang banyak hartanya untuk mencukupi seluruh kebutuhan rumah Tuhan. Sebaliknya, Tuhan juga tidak pernah mendesak orang-orang berkekurangan untuk memaksa diri berkorban sampai mati untuk mendukung pelayanan di Bait Allah. Peraturan persembahan yang Tuhan ajarkan bisa berupa sapi, domba, kambing atau burung sesuai dengan kemampuan jemaat Tuhan (Im. 1).

Bagaimana Tuhan mengatur kecukupan bagi gereja Tuhan? Dia memerintahkan persembahan persepuluhan! Tuhan memberkati kita dan Dia meminta sepersepuluh dari segala penghasilan kita untuk rumah Tuhan. Ini sebuah perintah yang bernilai harus, bukan optional. Tuhan sangat serius dalam hal ini. Dia bahkan menyebut mereka yang tidak memberi persembahan sepersepuluh sebagai penipu, pencuri, dan perampok Tuhan.

Dia memberikan ukuran yang adil bagi semua orang dengan ukuran “sepersepuluh dari segala penghasilan” kita. Dengan ukuran inilah Tuhan yang mengukur hati kita. Dengan matematika ini, mereka yang menurut ukuran dunia kaya bisa jadi justru selalu memberikan yang paling sedikit. Dan mereka yang disebut miskin bisa jadi memberikan jauh lebih banyak daripada mereka yang kaya (Luk. 21:3-4).

Demikianlah dalam memberikan persembahan kepada Tuhan bukan hati tidak penting, tetapi ada ukuran tertentu yang Tuhan tuntut untuk menilai kesungguhan hati kita. Belajarlah taat untuk memberi perpuluhan dari setiap penghasilan kita karena dari sanalah sebetulnya hati kita diuji, apakah kita lebih mengasihi kekayaan atau Tuhan Yesus?

*UKURAN YANG TUHAN BERIKAN DALAM HAL MEMBERI PERPULUHAN ADALAH ADIL BAGI SETIAP ORANG.*

Selamat hari Minggu, selamat beribadah dan memasuki minggu Advent!

Makna Natal yang Sejati

*Makna Natal yang Sejati*24312832_1613436238720615_2990904486523785750_n

_Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam_. —Lukas 2:8

Baca :
Lukas 2:8-14
Daniel 1–2
1 Yohanes 4

Lima puluh tahun lalu, suatu program berjudul A Charlie Brown Christmas(Natal Charlie Brown) pertama kalinya disiarkan di televisi Amerika. Sejumlah pihak di pertelevisian menganggap program itu tidak akan memikat banyak orang, sementara yang lain khawatir pembacaan Alkitab dalam tayangan itu akan menyinggung perasaan pemirsa. Ada pihak yang ingin agar Charles Schulz, pencipta tokoh kartun itu, untuk meniadakan kisah tentang Natal, tetapi Schulz berkeras untuk mempertahankannya. Program itu ternyata diterima luas dan selalu disiarkan ulang setiap tahun sejak tahun 1965.

Program tersebut bercerita tentang Charlie Brown, seorang sutradara pertunjukan drama Natal anak-anak, yang merasa frustrasi dan putus asa karena musim Natal yang terlalu berbau komersial. Ia pun bertanya, adakah yang dapat memberitahukannya makna Natal yang sejati. Linus pun mengutip Lukas 2:8-14, di antaranya, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya’” (ay.11-14). Kemudian Linus berkata, “Itulah makna Natal yang sejati, Charlie Brown.”

Di masa kini yang dipenuhi kebimbangan dan impian kita sendiri, ada baiknya kita merenungkan kembali kasih agung Allah yang dinyatakan dalam kisah yang sudah lazim kita dengar tentang Yusuf, Maria, sang bayi Yesus, dan malaikat-malaikat yang mengabarkan kelahiran Juruselamat.

Itulah makna Natal yang sejati.

_Bapa Surgawi, menjelang hari Natal yang kian mendekat, kiranya kami semakin menghayati anugerah-Mu yang luar biasa bagi kami._

*Allah masuk ke dalam sejarah umat manusia untuk menawarkan kepada kita anugerah keselamatan!*

Selamat pagi ,selamat menikmati anugerah keselamatan!

sapi, monyet, anjing, dan manusia

*Renunga Sore menjelang Malam..*

Konon..
Pada suatu ketika..

Dulu.. ketika Tuhan menciptakan sapi, monyet, anjing n manusia, Tuhan Berkata…:

“Hari ini Kuciptakan kau sbg sapi 🐂
Engkau harus pergi ke padang rumput 🌾🌿
Bekerja dibwah terik 🌞
matahari spanjang hari…
Kutetapkan umurmu skitar 50th..”

Sang sapi kberatan,
“Kehidupanku akan sgt berat slama 50th,
Kiranya 20th cukuplah,
Kukmbalikan yg 30th”

Maka setujulah Tuhan..

Di hari ke-2 Tuhan Menciptakan
monyet 🐒.
“Monyet
Aku berikan kau umur 20th”

Sang monyet 🐵 menjawab
“What? Mnghibur mereka n membuat mreka tertawa?
10th cukuplah, kukembalikan 10th “.

Maka setujulah Tuhan..

Di hari ke3, Tuhan menciptakan anjing 🐩
“Apa yg harus kau lakukan adalah
menjaga pintu rmh majikanmu.
Setiap org yg mndekat, kau hrs
mnggonggongnya,
Utk itu Kuberikan hidupmu slama 20th”

Sang anjing 🐕 mnolak,”Mnjaga pintu spanjang hari slama 20th? No way!
Kukmbalikan 10th”

Maka setujulah Tuhan..

Di hari ke4, Tuhan mnciptakan manusia 👶
Sabda Tuhan: “Tugasmu adalah makan, tidur n ber-senang2. Inilah khidupan,
Kau akan mnikmatinya,
akan Kuberikan engkau umur spanjang 25th”

Sang manusia 👨 kberatan,
Katanya “Mnikmati khidupan slama 25th?
Itu terlalu pendek Tuhan..Let’s make a deal..
Krn sapi mngembalikan 30th usianya,
lalu anjing 🐶 mngembalikan 10th,
& monyet🙊 mngembalikan
10th
Maka berikanlah smuanya itu pdku,
Smua itu akan mnambah masa hidupku mnjadi 75th, setuju ?”

Maka setujulah Tuhan..

AKIBATNYA:

Pd 25th pertama kehidupan sbg manusia kita makan, tidur n ber-senang2..

“Party ouii…” 🍹🍻🍧🎉🎊

30th brikutnya mnjalankan khidupan layaknya seekor sapi,
kita hrs bekerja keras sepanjang hari utk menopang kluarga kita..

10th kemudian kita membuat cucu kita tertawa dgn berperan sbg monyet yg mnghibur..
“Ciluk… ba”

Dan 10th brikutnya kita tinggal dirmh,
duduk (dikursi roda) didepan pintu n menggonggong
kpd org yg lewat,
Uhuk, uhuk (batuk)… Plus ngomel2…

“Makanya gunakanlah waktu se-baik2nya” ..

Lucu tapi maknanya dalam sekali..

Maksimalkan potensi diri. Kumpulkan amalan kebaikan. Ketahui tujuan akhir kita. Di dunia ini hanya sebentar. Lakukan yg terbaik.

Kemuliaan Palsu

20993055_1514772441920329_9193150519256176708_n

Aktor terkenal yang juga mantan gubernur California Arnold Schwarzenegger menghebohkan jagad sosial media setelah mengunggah foto dirinya yang sedang tidur di jalan di bawah patung perunggu dirinya di luar hotel, dan menulis dengan sedih, ‘How times changed’ (“Bagaimana waktu berubah”).

Melalui foto tersebut, dia menyampaikan sebuah pesan bahwa penghormatan orang terhadap Anda berubah seiring berjalannya waktu.

Seperti dilansir Trends Gulte (22/8/2017), alasan dia menuliskan kalimat tersebut bukan karena dia tua, tapi karena ketika dia jadi gubernur California meresmikan hotel tersebut dengan patung perunggu dirinya di depan hotel tersebut. Pihak hotel menyampaikan ke Arnold “Setiap saat Anda boleh datang dan ada kamar untuk Anda yang selalu tersedia”. Namun ketika Arnold sudah tidak menjabat gubernur lagi dan datang ke hotel tersebut, pihak hotel menolaknya dengan alasan bahwa kamar hotel sudah penuh.

Dia lalau membawa kantong tidur dan tidur di bawah patung dirinya dan berharap orang bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Arnold dengan kekayaannya bisa membeli hotel yang dia inginkan, tapi dia ingin menyampaikan pesan kepada orang-orang melalui tindakannya.

Dia memposting foto tersebut di media sosial, dia menyampaikan sebuah pesan bahwa ketika dia berada dalam posisi yang kuat, semua orang termasuk manajemen hotel memuji dia, namun saat dia kehilangan posisinya sekarang, mereka dengan mudah melupakan janji mereka kepadanya.

‘How times changed’

Ya waktu terus berubah.

Jangan percaya pada semua atribut duniawi: jabatan anda, harta benda anda, atau kekuasaan atau kecerdasaan anda. Semua itu tidak ada yang abadi. Kecuali kehidupan setelah kematian

Benih Jagung

Di satu desa di Osaka, Jepang, terdapat seorg petani yang menanam jagung2 unggulan & seringkali memenangkan penghargaan tingkat Nasional dengan kategori : _Jagung Terbaik Sepanjang Musim_*

_Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara untuk menggali rahasia Kesuksesan Petani Tersebut._

*_Wartawan itu menemukan bahwa ternyata Petani itu selalu Membagikan Benih Jagungnya kepada para Tetangganya._*

_”Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?”_
_tanya wartawan, dengan penuh rasa heran & takjub._

_”Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah & membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain._

_Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang._

_Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus_ jawab si Petani itu.

Petani ini sangat menyadari hukum _*”Saling Berhubungan” ( law Of Attraction)*_ dalam Kehidupan.

_Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya,_
_Jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama._
Itulah sebabnya sang petani memberi benih Kualitas Terbaik kepada para Tetangganya

Bukan malah memberi Benih Buruk dan Cacat untuk mempermainkan dan mengakali para Tetangganya

*_Dalam kehidupan ini,_*

_Jika kita ingin Menikmati Kebaikan, kita harus memulai dengan Menabur Kebaikan kepada Orang Orang di Sekitar Kita._

_Jika kita ingin Bahagia, maka kita harus Menabur Kebahagiaan Untuk Orang Lain._

_Jika kita ingin hidup dengan Kemakmuran, maka kita harus berupaya pula untuk meningkatkan Taraf Hidup Orang Orang di Sekitar Kita._

*_Sebaliknya, jika kita menebar Keburukan dan Kejelekan kepada orang Orang di Sekitar Kita,_*

*_Maka percayalah, Keburukan dan Kejelekan itu niscaya akan Menyelimuti Hidup kita._*

Kita tidak akan mungkin menjadi Pribadi yang Sukses, jika kita tidak berhasil menabur dan Menebar Kebaikan pada orang orang di sekitar kita.

*Kualitas Kita Ditentukan Oleh Orang-Orang di Sekitar.*

_Orang yang Cerdas itu Sejatinya adalah orang yang Mencerdaskan Orang Lain,_

_Begitu pula orang yang Baik adalah orang yang mau berbuat Baik utk Orang lain._

*Menjadi orang penting itu Baik, tapi menjadi orang baik itu lebih Penting.*

_Semoga kita dapat terus berupaya untuk:_

_- Berhati Bersih dan Mulia tanpa mempermainkan orang lain dan menggunakan Akal Licik,_

_- *Berpikiran jernih*,_
_- *Berkata baik, dan*_
_- *Berperilaku positif*,_
_- *Memberi yg terbaik*._

Mat Hari Minggu …

Buah Kejujuran: Jujur itu Luar Biasa

Jujur itu Hebat…
*KEJUJURAN*

Seorang CEO bermaksud untuk Pensiun, dan ingin menyerahkan jabatan nya tersebut kepada salah Seorang Karyawan terbaiknya.

Untuk itu Ia memanggil Seluruh karyawannya, memberikan masing-masing sebutir BENIH di tangannya dan berkata :

_”Rawat, Pupuk, Siram dengan teratur Benih ini dan kembalilah 3 bulan dari sekarang dengan membawa Tanaman yang tumbuh dari Benih ini”._

_”YANG TERBAIK, akan menjadi penggantiku sebagai CEO di Perusahaan ini.”_

Salah seorang karyawan, bernama Toni yang juga mendapat Benih tersebut, langsung pulang ke rumah dan merawat dengan penuh disiplin Benih tanaman tersebut. Setiap hari Benih itu ia siram dengan air dan diberinya pupuk.

Setelah 3 bulan, di Kantor, semua orang saling membicarakan kehebatan tanaman mereka yang tumbuh dari Benih tersebut.

Ternyata hanya Benih tanaman Toni yang tanamannya tidak tumbuh sama sekali.

Toni merasa telah gagal.

Setelah 3 bulan, seluruh Eksekutif menghadap CEO memperlihatkan hasil Benih tersebut.

Toni berkata kepada istrinya bahwa ia tidak akan membawa Pot yang kosong karena Bibitnya busuk dan tidak bisa tumbuh.

Namun istrinya mendorong untuk tetap membawa Pot Kosong tersebut apa adanya untuk memenuhi janji kepada Sang CEO 3 bulan yang lalu.

_”Bawa saja Mas, meskipun Mas gagal untuk bisa menumbuhkan Benih tersebut, paling tidak Mas Toni sudah menunjukan itikad baik, sudah berusaha semaksimal mungkin merawatnya sesuai dengan permintaan dan arahan CEO”_, demikian kata Istrinya.

_”Baiklah”_, jawab Toni, meskipun dengan hati ciut karena merasa tidak bisa melaksanakan perintah sang CEO dengan sebaik-baiknya.

Masuk ruang meeting, Toni membawa pot kosong. Seluruh mata memandangnya kasihan.

Ketika CEO masuk ruangan, ia memandang keindahan seluruh Tanaman yang katanya Hasil dari Benih-benih yang diberikan sang CEO 3 bulan yang lalu itu, hingga akhirnya berhenti di depan Toni yang tertunduk malu.

Sang CEO memintanya ke depan & Toni disuruh menceritakan secara kronologis proses penanamannya kok sampai tidak bisa tumbuh?..

Ketika ia selesai cerita, CEO berkata dengan antusias, _”Beri tepuk tangan untuk Toni, CEO kita yang baru”_.

CEO tersebut kemudian menjelaskan:
_”Semua benih yang kuberikan kepada kalian, sebelumnya telah KUREBUS dengan AIR PANAS hingga mati & tidak mungkin tumbuh lagi. Jika Benih kalian dapat tumbuh, berarti kalian telah menukarnya & berbohong padaku. Kecuali Toni, hanya dia yang JUJUR.”_

*MORAL STORY* :
_Taburlah KEJUJURAN, karena dengan menabur Kejujuran maka akan menuai Kepercayaan._
_Jangan pernah takut berbuat JUJUR._

*The Real Moral Story* :
_Yang hebat itu Isterinya Toni. Hanya perempuan hebatlah yang bisa memberi dorongan semangat suaminya untuk selalu menjaga kejujuran._

Awali Hidup Bersih dengan *KEJUJURAN*.
Selamat Pagi dan Tuhan memberkati

Hal memberi: CERITA LUAR BIASA

*CERITA LUAR BIASA*

Seorang dosen tengah berjalan santai bersama seorang mahasiswa di taman kampus, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh.

Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.

_Sang mahasiswa melihat kepada dosennya dan berkata :_
*Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya,* kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya…”

_Dosen itu menjawab:_
“Mahasiswaku, _*tidak pantas kita menghibur diri dgn mengorbankan org miskin.*_ *Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya…*
*Sekarang cobalah kamu masukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya,* _kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?_”

_Sang mahasiswa sangat takjub dengan usulan dosennya._
*Dia langsung memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu.* _Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama dosennya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu._

Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya.

Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.

Saat ia keluarkan, ternyata, *uang…*
Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi *uang…*
Dia memandangi *uang* itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya.

Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.

_Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap :_
*“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah, Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang…*
_Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini._
*Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan…”*

_Dengan kepolosannya dia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari *Allah Yang Maha Pemurah*._

Sang mahasiswa sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu. Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.

_Sang dosen yang bijak berkata kepada mahasiswanya :_
_“Bukankah sekarang kamu *merasakan kebahagiaan yg lebih* dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”_

_Sang mahasiswa menjawab :_
*”Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku.”*

_Sekarang aku paham makna kalimat :_
*“Ketika kamu memberi,* _kamu akan memperoleh *kebahagiaan yg lebih banyak* daripada ketika kamu diberi”._

_Sang dosen melanjutkan nasehatnya, “Ketahuilah bahwa *bentuk pemberian itu bermacam-macam:*_
1. _Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam_,…adalah suatu *pemberian.*

2. _Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya_ (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga *pemberian.*

3. _Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu *pemberian.*

4. _Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya_ adalah *pemberian* juga.

Ini semua adalah *”pemberian”*

Marilah kita saling *”memberi & berbuat baik”*, niscaya _*hidup kita akan menjadi lebih indah.*