Sebuah Pintu Yang Menahan

Sebuah Pintu Yang Menahan

Hampir setiap hari aku dan istriku bertengkar. Di hari-hari melelahkan saat pulang kantor, aku berangan-angan mendapatkan suasana rumah yang tenang dan menginginkan istriku membiarkan aku tidur di tempat tidur yang nyaman tanpa gangguan apapun. Namun kembali ke rumah, bukan kenyamanan yang kudapatkan, istriku seperti telah selalu menanti kepulanganku dengan teror-teror masalah rumah. Entah aku harus bermain dengan anak tertua kami atau ia segera meminta aku mengurus bayi kami atau ia akan membuat aku pergi ke dapur entah menyiapkan makanan bayi, mensterilkan botol susu atau menakar susu bayi, ada saja kerepotan yang disediakannya bagiku. Sering sekali sengaja kuabaikan permitaan istriku dan langsung berlalu masuk ke kamar tidur. Tapi bukan tempat tidur hangat yang kudapatkan melainkan tempat tidur yang sering berantakan dengan mainan anakku yang berserakan di sana-sini dan terkadang bau pesing tercium karena bayi kami habis mengompol.

Suatu malam, sebuah pertengkaran hebat kembali terjadi, istriku menyambutku dengan memintaku membelikannya makan malam.

“Makan malammu saja harus aku yang mengurusi? Apa saja kerjamu seharian, ma?” Tanyaku marah.

“Aku bosan hanya makan telur dan sosis dari kulkas saja. Aku tidak bisa keluar seharian karena harus menjaga anak-anak?” Keluh istriku.

“Hanya karena kau bosan, kausuruh aku yang sudah capek begini seharian mengurusi pekerjaanku untuk kembali menyetir mencari makanan?? Kau terlalu manja! Tidak! Aku mau tidur!” Sahutku sengit. Dan seperti yang kuduga, istriku pun mulai marah-marah… Aku lelah! Aku bosan! Aku bisa gila! Aku bergegas mengambil kunci mobil hendak keluar rumah, aku harus keluar dari rumah ini dan mencari suasana baru. Aku tidak boleh membiarkan diriku menjadi sinting di rumah bodoh ini! Tepat ketika kupegang gagang pintu hendak keluar, muncul bayangan ayahku keluar dari rumah kami dulu meninggalkan ibuku dan kami anak-anaknya, bayangan itu sungguh menyakitkan hati. Ayahku keluar dari pintu rumah itu dan tidak pernah kembali lagi. Apakah aku harus mengikuti jejak ayahku meninggalkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga?? Perlahan kuberjalan ke kamar, kudapati istriku duduk di tempat tidur sambil menggendong bayi kami yang sedang tertidur, sementara si sulung tertidur di dekatnya sambil memegang mobil-mobilan kesayangannya. Mata istriku tertutup sambil berderai airmata. Ia sedang berdoa. Ia wanita yang sehari-harinya harus mengurus dua anakku dan malam ini kelaparan karena tidak sanggup lagi makan makanan yang sama dan aku telah menolak membantunya. Begitu banyak masalah proyek besar di kantorku dilemparkan padaku, dan aku selalu berhasil mengatasinya. Sementara mengatasi istriku yang minta dibelikan makan malam… Aku hampir memilih untuk menyerah.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
Principal of Yemayo Advance Education Center – Kursus Kecerdasan Pribadi Pertama di Indonesia untuk usia 2 s.d 19 tahun

FB fanpage: Yacinta Senduk

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 12, 2013, in Artikel. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: