Renungan: Saya Harus Bercerai?

Saya Harus Bercerai..

Saya bertemu dengan seorang bapak, awalnya kami membicarakan hal-hal umum saja sampai berbicara mengenai pekerjaan dan akhirnya saya katakan bahwa saya sering membawakan seminar tentang keluarga.

            ”Anda pastilah salah seorang yang menentang perceraian.” Katanya.
            ”Tentu saja. Tidakkah bapak juga demikian?” Tanya saya.
            ”Saya punya pemikiran yang lain. Buat saya, hidup adalah tanggung jawab masing-masing pribadi. Pernikahan yang utuh tidak memberikan garansi apa-apa.” Katanya datar. ”Apakah ada yang salah di dalam pernikahan bapak?” Tanya saya ingin tahu.
            ”Oh! Tidak, tidak sama sekali… Pernikahan kami baik-baik saja, sangat baik, saya tidak menemukan alasan berarti untuk bercerai.” Katanya lagi. Saya merasa janggal dengan pernyataannya sehingga saya bertanya, ”Maaf, saya agak bingung. Bukankah hal itu baik, Pak? Mengapa harus mencari alasan untuk bercerai?”
            ”Anda tahu, ayah saya menikah tiga kali. Setelah diceraikan ayah saya, ibu saya menikah lagi. Dari empat orang adik saya, dua orang adik saya sudah bercerai, seorang lagi tidak ingin menikah dan seorang lagi hidup dengan pasangan tanpa ikatan pernikahan. Sekarang saya melihat, mereka semua hidup baik-baik saja…” Jelas bapak itu. ”Dan bapak merasa aneh karena hanya bapak yang hidup di dalam pernikahan yang utuh?” Tanya saya mulai mengerti arah pembicaraannya. ”Jika kita bisa hidup bahagia tanpa ikatan, lalu mengapa kita membiarkan diri kita terikat?” Tanyanya. ”Ikatan itu adalah suatu komitmen kesetiaan yang besar yang akan menjaga keutuhan perasaan dikasihi, sampai anak-cucu kita, Pak. Tidak hanya berhenti pada kita dan pasangan kita saja.” Jawab saya. ”Maksudnya?” Ia bertanya setengah protes.
”Ketika ayah-ibu bapak bercerai, apa yang terjadi dengan bapak?” Tanya saya.
            ”Saya masih berusia 12 tahun saat itu. Jelas… Saya marah pada ayah saya. Saya putus sekolah dan saya harus menghidupi adik-adik saya dengan berjualan kue buatan ibu saya. Adik-adik saya yang masih kecil pun, terpaksa harus turut bekerja saat itu.” Jawabnya geram. ”Jika bapak bercerai, menurut bapak, berapa lama anak sulung bapak akan sanggup mengatasi permasalahan perceraian orangtuanya?” Kembali saya bertanya.
            ”Pertanyaan anda agak kejam.” Katanya setengah tertawa. ”Si sulung? Jagoan saya itu? Harus jualan kue seperti saya? Nggak kebayang…” Lanjutnya.
            ”Bapak adalah orang yang baik. Lingkungan bapak memang tidak memberikan teladan yang baik tentang keluarga yang utuh. Jika bapak tidak bercerai, bukan bapak yang ’aneh’, tetapi bapaklah yang memperjuangkan agar hal ’aneh’ itu tidak terjadi lagi di kehidupan anak-cucu bapak selanjutnya. Bapaklah yang akan memberikan teladan akan pentingnya keluarga yang utuh.” Kata saya. Bapak itu menatap saya dan tersenyum.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Follow twitter: @Yacinta_Senduk

Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on February 27, 2012, in Renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: