Tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri

“Tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”

(Yun 3:1-10; Luk 10:38-42)

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”(Luk 10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Ora et labora” = Berdoa dan bekerja, demikian bunyi sebuah motto. Motto ini kiranya dapat disejajarkan dengan 2 (dua) tokoh Warta Gembira hari ini, Maria sebagai pendoa dan Marta sebagai pekerja. Mana yang lebih baik: berdoa atau bekerja? Hemat saya keduanya baik dan yang terbaik adalah doa menjiwai kerja, maka berdoa dan bekerja bagaikan mata uang bermuka dua. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya terarah untuk bekerja, sebagaimana dikerjakan oleh Marta. Marta ditegor oleh Yesus karena selama bekerja ia mengeluh atau menggerutu. Memang kerja keras dalam bentuk apapun ketika diserta keluh kesah atau gerutu berarti tidak bermutu. Doa menjiwai kerja senada dengan “contemplativus in actione” atau menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati karya dan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu, dengan demikian selama orang bekerja senantiasa dalam keadaan ceria, gembira dan dinamis, meskipun harus bekerja keras tidak akan pernah merasa lelah. “Bagi kaum beriman ini merupakan keyakinan: kegiatan manusia baik perorangan maupun kolektif, atau usaha besar-besaran itu sendiri, yang dari zaman ke zaman dikerahkan oleh banyak orang untuk memperbaiki kondisi-kondisi hidup mereka, memang sesuai dengan kehendak Allah. Sebab manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, menerima  titahNya, supaya menaklukkan bumi beserta segala sesuatu yang terdapat padanya, serta menguasai dunia dalam keadilan dan kesucian, ia mengemban perintah untuk mengakui Allah sebagai Pencipta segala-galanya, dan mengarahkan diri beserta seluruh alam kepadaNya” (Vatikan II: GS no 34). Di dalam bekerja orang semakin menyucikan atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan atau semakin mendunia, terlibat dalam seluk beluk dunia berarti harus semakin beriman. Mendunia tanpa iman pasti akan merusak ciptaan-ciptaan Tuhan.

·   “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya” (Yun 3:10). Para penjahat memang menimbulkan malapetaka atau kesengsaraan bagi orang  lain dan lingkungan hidupnya, entah sekecil apapun kejahatan yang telah dilakukannya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua, yang mungkin masih sering berbuat jahat untuk bertobat. Ada kejahatan yang terstruktur dan terselubung, misalnya: pemalsuan berat atau ukuran -> satu botol obat tertulis 10 cc, tetapi dalam kenyataan hanya 9 cc, dalam kemasan tertulis berat 10 kg, tetapi dalam kenyataan hanya 9,5 kg, dst… Bentuk kejahatan lain adalah ‘mark-up’ anggaran sebagaimana cukup banyak dilakukan, atau ‘mark-up’ kwitansi. Juga ada kejahatan yang cukup memprihatinkan yaitu pemberian obat oleh dokter kepada pasien, yang sebenarnya bukan obat yang dibutuhkan pasien, melainkan sang dokter menjadi agen penjual obat tertentu. Memang mereka yang melakukan kejahatan pada umumnya boleh dikatakan pandai tetapi tidak beriman, dan hal ini kiranya disebabkan oleh pendidikan yang salah, yaitu pendidikan yang hanya menekankan otak dan kurang memperhatikan hati, yang ada kecenderungan untuk menyontek dalam ulangan umum atau ujian. Marilah gerakan pertobatan kita mulai dalam diri anak-anak kita dan para peserta didik, dan tentu saja harus disertai keteladanan dari orangtua atau para pendidik/guru. Hidup dan bertindak dengan jujur hendaknya dibiasakan sedini mungkin dalam diri anak-anak kita. Jauhkan aneka macam bentuk kemunafikan dan kebohongan dalam hidup sehari-hari!

Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan”

(Mzm 130:1-4a)

Jakarta, 6 Oktober 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on October 5, 2009, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: