Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah

“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah

(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.”Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.”Dan seorang lain lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.”Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”(Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Hieronemus, Imam dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hari ini adalah hari terakhir bulan Kitab Suci/September 2009. Kiranya di antara anda semua selama bulan Kitab Suci terlibat dalam aneka pendalaman Kitab Suci dalam berbagai kesempatan, dan mungkin juga telah ditemukan ayat-ayat atau teks kitab suci yang mengesan serta tergerak untuk menghayati atau melaksanakannya di dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain setelah membacakan dan mendengarkan ayat-ayat Kitab Suci anda tergerak untuk memperbaharui hidup, agar cara hidup dan cara bertindak lebih sesuai dengan kehendak Tuhan. Anda siap sedia untuk memperbaharui atau diperbaharui, dibentuk atau dibina oleh sabda-sabda Tuhan, maka hendaknya pesan atau peringatanYesus ini diperhatikan:”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” .  Kami harapkan anda melangkah maju terus tanpa kenal lelah, setia memperbaharui diri atau diperbaharui orang lain. Jauhkan aneka macam bentuk mangkir atau malas yang sering menggejala dalam alasan yang nampak rational dan tak terbantahkan, misalnya ‘urusan keluarga, off the record’. Dengan kata lain sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya setia pada janji baptis, yang menjadi imam setia pada janji imamat, yang berkeluarga setia pada janji perkawinan dan yang hidup membiara setia pada  tri-kaulnya dst..  Mereka yang sedang belajar setia pada janji pelajar sehingga semakin terampil belajar, dan mereka yang bekerja setia pada  janji kerja sehingga terampil bekerja. Maju terus, jangan menoleh ke belakang, namun sekali-kali menoleh ke belakang dalam rangka refleksi silahkan. Kita percayakan diri kita kepada Penyelenggaraan Ilahi, kepada kehendak Allah.

· Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”(Neh 2:3), demikian kata seorang pelayan kepada rajanya. “Pekuburan nenek moyang” merupakan symbol penghormatan kepada nenek moyang, dan mungkin dengan menyaksikan pekuburan nenek moyang yang baik orang juga akan teringat dan terkenang akan nasihat-nasihat baik dari nenek moyang,  sebaliknya jika pekuburan nenek moyang amburadul atau berantakan serta kumuh, mungkin melambangkan tiada yang mengesan dari nenek moyang. Amburadul, berantakan atua kekumuhan pekuburan nenek moyang juga dapat melambangkan bahwa kita, para penerus hidup dan bertindak seenaknya sendiri, tidak memperhatikan dan melaksanakan aneka macam nasihat baik dari nenek moyang. Kata-kata atau ayat-ayat dalam Kitab Suci boleh dikatakan sebagai ajaran, nasihat, petuah atau perintah ‘nenek moyang’ kepada kita semua. Jika cara hidup dan cara bertindak amburadul dan tidak teratur ada kemungkinan kita kurang atau menghayati sabda-sabda Tuhan atau janji-janji yang pernah kita ikrarkan. Marilah kita buka, baca dan renungkan teks janji yang pernah kita ikrarkan guna memperbaiki cara hidup dan cara bertindak kita yang amburadul. Jika perlu baiklah kita menyepi sejenak, entah satu jam, satu atau dua hari, untuk mawas diri perihal cara hidup dan cara bertindak kita, apakah sudah sesuai dengan janji-janji yang pernah kita ikrarkan; dalam menyepi ini dapat sendiri atau berdua atau bertiga, jika suami-isteri hendaknya berdua bersama dengan pasangan hidupnya. Moga-moga rumus janji-janji tidak menjadi ‘kuburan mati’, melainkan hidup dan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita.

Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: “Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!” Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!”

(Mzm 137:1-5)

Jakarta, 30 September 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on September 30, 2009, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: