Kata orang banyak, siapakah Aku ini

“Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”

(Hag 2:1b-9; Luk 9:18-22)

“Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ada orang yang kesibukan sehari-harinya berdagang di pasar atau sebagai kontraktor bangunan dst. tetapi dalam  KTP atau ID-nya tertulis ‘buruh’; ada orang katolik yang tidak berani memakai nama baptis di tempat kerja, tidak berani berdoa sebelum dan sesudah makan ketika makan di rumah makan umum, dst..  Memang di balik ‘ketidak-jujuran’ atau ‘ketakutan’ dalam hal jati diri tersebut ada berbagai kemungkinan alasan, misalnya takut akan kewajiban besar, takut diejek atau disingkirkan dst..  Ketakutan untuk mengakui atau mengimani Yesus sebagai ‘Mesias dari Allah’ mungkin  masih mewarnai cara hidup dan cara bertindak kita sebagai murid-murid atau pengikut Yesus, karena mengandung konsekwensi berat yaitu ‘harus menanggung banyak penderitaan’. Setia pada jati diri, panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban memang tak akan terlepas dari penderitaan dan perjuangan, sehingga cukup banyak orang kurang atau tidak setia. Setia pasangannya ialah jujur, setia dan jujur bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan dan tak dapat dipisahkan. Pertama-tama marilah kita jujur terhadap ‘jati diri’ kita masing-masing dimanapun dan kapanpun, tanpa takut dan was-was mengakui ‘jati diri’ dihadapan umum. Sekiranya dengan kejujuran jati diri ini harus menghadapi atau mengalami tantangan, ejekan, sindiran dst.., jadikanlah semuanya itu sebagai bantuan atau dukungan agar kita konsekwen pada jati diri kita dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan jati diri kita masing-masing. Tumbuh berkembang dalam jati diri alias panggilan dan tugas pengutusan memang harus berani menghadapi dan mengolah aneka macam tantangan, hambatan, ejekan, sindiran, dst.. Penderitaan dan perjuangan merupakan wahana pemurnian jati diri, bagaikan emas dibakar untuk memperoleh emas murni.

· Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag 2:7-9). Gempa bumi berkekuatan cukup besar pada awal bulan September menggoncang pulau Jawa: bangunan yang tak kuat roboh, rata dengan tanah, sedangkan bangunan yang kuat tetap berdiri kokoh. Aneka masalah, perubahan dan perkembangan menggoncang kehidupan bersama, sebagaimana krisis moneter yang menggoncang dunia tahun lalu. Dalam krisis moneter mereka yang gila akan uang memang sungguh tergoncang, sedangkan mereka yang hidup sederhana dan tidak gila uang tak terasa apa-apa.  Kita telah mendengarkan melaui pengajaran atau kotbah: firman atau sabda Tuhan, yang diharapkan menjadi pedoman, pegangan dan kekuatan kita dalam menghadapi gelombang kehidupan yang tiada henti. Adakah kata-kata atau ayat yang mengesan bagi anda dalam rangka mendengarkan pengajaran atau kotbah? Jadikanlah kata-kata atau ayat yang mengesan tersebut sebagai pedoman, pegangan dan kekuatan hidup anda, sebagaimana dipakai oleh para gembala kita, para uskup, dengan mottonya. Saya pribadi merasa diteguhkan oleh ayat atau kata-kata ini: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” (Ef 3:12). Ayat-ayat ini, dengan rendah hati dan dari kelemahan dan kerapuhan saya pribadi, saya coba hayati antara lain dengan berusaha hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan alias berusaha taat dan setia pada aneka tatanan dan aturan yang  terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan. Hidup dan bertindak dalam Tuhan tiada ketakutan dan kecemasan sedikitpun.

“Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!” (Mzm 43:1-4)

Jakarta, 25 September 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on September 25, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: