IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya

“IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”

(Ezr 6:7-8.12b.14-20; Luk 8:19-21)

“Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “KKN” = Kolusi, Korupsi dan Nepostime, itulah ungkapan atau kata-kata yang cukup mewarnai dalam aneka pembicaraan. Hemat saya kolusi dan nepotisme tidak apa-apa alias baik-baik saja asal tidak korupsi. Kata bahasa Latin ‘corruptio’ (1) secara aktif berarti  hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan, penyuapan, (2) secara pasif berarti keadaan dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan. Sedangkan kata bahasa Latin ‘corruptor’ berarti perusak, pembusuk, penggoda, pemerdaya, penyuap. Dari pengartian kata ‘corruptio’ di atas kiranya dapat dipahami arti korupsi,yaitu kemerosotan moral dengan merusak yang lain demi keuntungan diri sendiri. Dari sudut pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur: melanggar hukum yang berlaku, penyalahgunaan wewenang.merugikan Negara, memperkaya pribadi/diri sendiri. “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”, demikian tanggapan  Yesus atas informasi bahwa Ia dicari oleh saudara-saudari dan ibuNya. Kunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam ‘mendengarkan firman Allah dan melakukannya’, alias dalam pelaksanaan atau penghayatan aneka macam saran, ajaran nasihat, petuah, aturan dan tuntunan hidup. Hidup dan bertindak jujur alias tidak korupsi hemat saya merupakan hal yang mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan dalam hidup dan bekerja bersama pada masa kini, mengingat dan memperhatikan korupsi dalam berbagai bentuk masih marak di sana-sini. Saya sangat prihatin mendengar dan memperhatikan bahwa departemen yang terkait dengan pembinaan iman dan kepribadian manusia di Indonesia, yaitu Departemen Agama dan Departemen Pendidikan masih sarat dengan korupsi di berbagai tingkatan pelayanan. Dalam Pendidikan misalnya masalah penyaluran BOS, Bantuan Operasional Sekolah, bagi mereka yang miskin dan berkekurangan dipotong alias dikorupsi dengan alasan beaya administrasi, dalam Agama kiranya entah di kalangan agama manapun juga masih sarat dengan korupsi. Di paroki-paroki, lingkungan Gereja Katolik, juga masih terjadi korupsi yang dilakukan oleh seksi-seksi tertentu. Marilah kita berantas aneka macam bentuk korupsi dalam hidup dan kerja kita dimanapun dan kapanpun.  

· Karena para imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para imam, dan bagi dirinya sendiri” (Ezr 6:20). Para imam dan orang-orang Lewi untuk masa kini adalah para imam/pastor dan bruder serta suster. Mereka telah mentahirkan atau menyucikan diri, paling tidak secara liturgis, maka kami harapkan para imam/pastor, bruder dan suster (juga para pendeta, kyai, biksu, dst..)dapat menjadi teladan kesucian, orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah melalui cara hidup dan cara bertindak sehari-hari. Hari ini kita masih dalam suasana perayaan Idul Fitri, dimana para anggota keluarga dan kenalan saling bersalam-salaman, bersilaturahmi, saling memaafkan. Saudara-saudari kita, umat Islam khususnya, kiranya menyadari dan menghayati diri sebagai yang telah disucikan setelah selama sebulan berpuasa, berusaha mengendalikan diri sedemikian rupa sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau firman Allah. Bukankah peristiwa ini merupakan situasi yang kondusif dan bagus bagi kita semua untuk saling memperteguh dan memperkuat penghayatan iman kita masing-masing. Semoga apa yang terjadi dan dialami pada hari-hari ini dalam rangka merayakan Idul Fitri dapat terus terjadi dan dihayati dalam hidup sehari-hari, bukan dalam hal makan dan minum tetapi dalam hidup yang dijiwai oleh persaudaraan atau persahabatan sejati. ‘Hari Kemenangan atas setan atau kejahatan’ yang dirayakan hendaknya terus terjadi dalam hari-hari berikutnya. Marilah kita perangi bersama setan dan kejahatan yang masih terjadi dan menggema di sana-sini.

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud” (Mzm 122:1-5)

Jakarta, 22 September 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on September 23, 2009, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: