Diam keluarlah dari padanya

“Diam keluarlah dari padanya!”

(1Tes 5:1-6.9-11; Luk 4:31-37)

“Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu”(Luk 4:31-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kata-kata yang keras dan singkat pada umumnya memang  berpengaruh bagi para pendengarnya, apalagi jika kata-kata tersebut keluar dari orang-orang yang berwibawa karena jabatan, kedudukan atau kepribadiannya.  Begitulah yang terjadi ketika Yesus menghardik setan yang merasuki seseorang sambil berkata: “Diam, keluarlah dari padanya”, maka setanpun terhempas keluar dari orang yang bersangkutan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang dinilai berwibawa di dalam kehidupan bersama, entah di dalam keluarga, tempat kerja atau masyarakat, untuk meneladan Yesus: berkata tepat dan singkat pada sasaran atau tujuan, lebih-lebih dalam rangka mengingatkan atau menegor mereka yang bersalah atau melanggar peraturan atau tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Dengan kata lain hendaknya tidak terlalu banyak bicara atau memberi nasihat. Memang agar kata-kata, entah sebagai nasihat, tegoran, peringatan, pujian dst.. dapat tepat sasaran, maka hendaknya lebih banyak bersikap mendengarkan: dengarkan apa yang sedang terjadi, dengarkan harapan, dambaan, keluh kesah, kritikan dst.. dari saudara-saudari anda. Tentu saja yang juga tidak kalah penting atau utama dan terutama adalah bahwa orang senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari dalam rangka memperdalam dan memperkuat kewibawaannya. Yang utama dan pertama-tama akan dihormati dan dijunjung tinggi di dalam kehidupan beragama atau beriman adalah mereka yang bersatu dengan Tuhan alias hidup suci atau berbudi pekerti luhur, bukan karena pangkat, kedudukan, gelar atau kekayaan akan harta benda, dst… Bersama dan bersatu dengan Tuhan pasti akan mampu mengalahkan aneka macam bentuk godaan setan.

· “Kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar”(1Tes 5:4-6), demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Tesalonika, kepada kita semua orang beriman. Pada malam hari pada umumnya orang tidur atau ada beberapa orang yang bermabuk-mabukan jika tidak dapat tidur. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menjadi ‘anak-anak terang dan anak-anak siang’, artinya hidup jujur, terbuka, transparan, terang-terangan alias tidak melakukan aneka macam bentuk korupsi atau kebohongan.  Kejujuran kiranya merupakan keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini mengingat dan memperhatikan masih cukup banyak tindakan korupsi dan kebohongan di sanasini. Memang ada rumor “hidup jujur akan hancur’, tetapi kiranya lebih dari itu yang benar, yaitu “hidup jujur akan hancur dan akhirnya mujur”. Keutamaan kejujuran ini hendaknya sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan  pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja butuh keteladanan dari para orangtua atau bapak-ibu. Selanjutnya hendaknya di sekolah-sekolah juga dibiasakan dan dididikkan kejujuran dalam seluruh proses pembelajaran. “Be honest” (=Jujurlah), itulah tulisan yang terpampang di halaman sepak bola, dan dapat anda lihat begitu masuk ke komplek Kolese Kanisius-Jakarta. Kejujuran dan kedisiplinan hendaknya menjadi cirikhas di sekolah-sekolah kita, agar kelak kemudian hari anak-anak ketika telah menjadi dewasa menjadi sadar dan siap sedia terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk semakin memperdalam hidup beriman.

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”(Mzm 27:13-14)

Jakarta, 1 September 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on September 2, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: