Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi

“Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”.

(Rut:1:1.3-6.14b-16.22; Mat 22:34-40)

“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:24-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Pius X, Paus, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Di dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun, entah dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara atau beragana, ada aturan atau tatanan hidup yang diberlakukan dan harus dihayati atau dilaksanakan oleh semua warga yang ada di dalamnya. Aneka aturan atau tatanan hidup bersama hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan dalam, demi dan karena kasih alias sebagai terjemahan ajaran kasih sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini. Maka dalam rangka mengenangkan St.Pius X, Paus, kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang merasa menjadi pemimpin di tingkat atau di wilayah manapun untuk dapat menjadi teladan dalam melaksanakan aneka aturan dan tatanan hidup yang dijiwai oleh cintakasih, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan. Mungkin hal ini perlu terjadi di dalam hidup bersama paling dasar, yaitu keluarga. Para orangtua atau bapak-ibu hendaknya menjadi teladan dalam melaksanakan aneka aturan dan tatanan hidup bagi anak-anaknya. Sekali lagi para bapak-ibu kiranya memiliki pengalaman untuk saling memberikan diri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual sebagai perwujudan saling mengasihi. Para bapak-ibu juga memiliki pengalaman dalam mengasihi anak-anaknya. Ketika anak-anak memperoleh teladan dari orangtua dalam hal pelaksanaan aturan atau tatanan hidup, kiranya mereka kelak kemudian hari juga akan taat dan setia pada aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup dan panggilan pengutusannya. Saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tubuh merupakan panggilan dan tugas pengutusan kita semua sebagai orang beriman. “Segenap” berarti seutuhnya, maka kalau tidak utuh berarti sakit: sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi/bodoh dan sakit tubuh. Mereka yang sedang menderita sakit pada umumnya akan mengalami kesulitan dalam mengasihi. Marilah kita saling bekerjasama dan mengingatkan dalam menjaga kebugaran hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, agar kita senantiasa siap sedia untuk saling mengasihi.

· “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku”(Rut 1:16), demikian kata Rut kepada Naomi, mertuanya. Apa yang dikatakan dan kiranya juga dilaksanakan oleh Rut ini kiranya dapat menjadi teladan bagi para isteri, termasuk juga ketika harus menjanda karena kematian suaminya. Sering terjadi bahwa relasi seorang ibu dengan menantunya perempuan kurang harmonis atau kurang baik alias tidak dapat hidup bersama dengan baik. Menantu perempuan sering diperlakukan sebagai pembantu atau pelayan oleh mertuanya perempuan. Rekan-rekan perempuan hemat saya dalam hidup sosial kemasyarakatan dapat menjadi symbol kasih dan kelemah-lembutan, karena secara psikososial memang lebih halus, lemah lembut daripada laki-laki. Memang juga ada perempuan yang hidup dan bertindak bagaikan singa ganas, yang kelaparan dan dengan demikian siap menerkam orang lain alias memarahi orang lain seenaknya. Semoga perbedaan suku atau bangsa tidak menjadi hambatan untuk hidup dan bertindak dalam kasih dan lemah lembut. Para menantu perempuan ketika mendapat desakan sebagaimana dialami oleh Rut dari mertuanya, hendaknya meneladan Rut dan tidak perlu marah-marah atau berlaku kasar. Allah itu hanya satu, maka jika kita beriman kepada Allah kiranya kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun akan saling mengasihi dan dengan demikian terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati.

“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya” (Mzm 146:5-9)

Jakarta, 21 Agustus 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on August 20, 2009, in Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: