Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku

“Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”

(Yes 3:7-10a.13-17; Mat 18:21-19:1)

“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.”(Mat 18:21-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Entah sudah berapa kali kita telah menyakiti atau melukai saudara-saudari kita dan kita dibiarkan saja alias diampuni serta tidak diingat-ingat perbuatan kita yang menyakiti atau melukai tersebut. Pada masa kanak-kanak kiranya kita telah merepotkan dan menyusahkan alias menyakiti orang lain terutama ibu kita masing-masing dan kita menerima kasih pengampunan. Dengan kata lain masing-masing dari kita hemat saya telah menerima kasih pengampunan dari Tuhan melalui sesama dan saudara-saudari kita secara melimpah ruah, maka perintah Yesus agar kita mengampuni saudara-saudari kita yang bersalah sampai tujuh kali tujuh puluh alias terus menerus tiada henti, hemat saya mudah kita laksanakan jika kita berani dengan rendah hati mengimani dan menghayati kasih pengampunan yang telah kita terima. Maka marilah kita hdup dan bertindak dalam kasih pengampunan, jika kita mendambakan hidup damai sejahtera, bahagia lahir dan batin. Kita imani dan hayati doa ini: “Berkat kuasaMu juga, cinta mengalahkan kebencian, ampun menaklukkan balas dendam dan saling kasih mengenyahkan perselisihan”(Prefasi DSA VI). Kebencian, balas dendam dan perselisihan masih marak di sana-sini di dalam kehidupan kita sehari-hari, yang disebabkan oleh berbagai bentuk egoisme dan perbedaan. Untuk menghayati cinta, saling kasih dan ampun tersebut hendaknya pertama-tama kita lihat dan akui apa-apa yang baik dalam saudara-saudari kita yang bersalah atau berdosa. Kami percaya bahwa apa-apa yang baik lebih banyak daripada yang tidak baik atau buruk di dalam diri kita masing-masing. Dengan melihat dan mengakui apa yang baik kiranya dengan mudah kita mencintai mereka yang membenci kita, mengasihi mereka yang sedang berselisih dan mengampuni mereka yang dendam terhadap kita. Marilah kita meneladan Yesus yang dalam puncak penderitaanNya di kayu salib mendoakan dan mengampuni mereka yang menyalibkanNya:” Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Luk 23:34) . .

· “Kamulah yang memusnahkan kebun anggur itu, barang rampasan dari orang yang tertindas tertumpuk di dalam rumahmu.Mengapa kamu menyiksa umat-Ku dan menganiaya orang-orang yang tertindas?” demikianlah firman Tuhan ALLAH semesta alam”(Yes 3:14-15).Firman ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Mungkinkah kita menjadi pengumpul barang rampasan atau menganiaya orang-orang yang tertindas? Jawabannya adalah ‘mungkin’. Sebagai contoh pembantu rumah tangga dipaksa bekerja keras padahal mereka hanya menerima imbal jasa kecil, buruh-buruh diperas oleh para pengusaha, anak-anak dimarahi seenaknya dst.. Memang mereka yang tertindas dan teraniaya pada umumnya tidak berteriak atau melawan karena takut akan terjadi penindasan atau penganiayaan yang lebih keras dan kejam. Para penguasa dan orang-orang kaya juga sering seenaknya memusnahkan hutan dan bukit-bukit hijau dem keserakahan mereka, antara lain dengan membabati pohon di hutan seenaknya serta membetoni tanah dan lahan pegunungan dan bukit untuk villa-villa mewah dan megah. Pengalaman telah menunjukkan bahwa karena penganiayaan, penindasan dan keserakahan tersebut telah terjadi banyak korban manusia dan harta benda yang tak terhitung jumlahnya serta mengakibatkan penderitaan banyak orang, antara lain karena banjir bandang maupun pemanasan global. Kami berharap dan mendambakan mereka untuk bertobat alias meninggalkan penganiayaan, penindasan dan keserakahan yang telah dilakukannya. Tentu saja pertobatan juga harus disertai dengan perbuatan konkret antara lain mohon pengampunan kepada mereka yang telah menjadi korban penganiayaan, penindasan atau keserakahan serta memperbaiki hidup mereka agar sejahtera. Apa yang telah anda rampas dari mereka hendaklah dikembalikan, dan selanjutnya hendaklah hidup sederhana serta dijiwai oleh kasih pengampunan.

“Laut melihatnya, lalu melarikan diri, sungai Yordan berbalik ke hulu. Gunung-gunung melompat-lompat seperti domba jantan, dan bukit-bukit seperti anak domba. Ada apa, hai laut, sehingga engkau melarikan diri, hai sungai Yordan, sehingga engkau berbalik ke hulu, hai gunung-gunung, sehingga kamu melompat-lompat seperti domba jantan, hai bukit-bukit, sehingga kamu seperti anak domba “ (Mzm 114:3-6)

Jakarta, 13 Agustus 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on August 18, 2009, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: