Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat

“Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat”

(Ul 6:4-13; Mat 17:14-20)

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itu pun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:14-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Dominikus, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· St.Dominikus dikenal sebagai pengkotbah ulung dan mendirikan Ordo Para Pengkotbah/Dominikan. Ia mewartakan apa yang benar sebagaimana diwartakan oleh Injil serta mengembalikan orang kepada kepercayaan atau iman yang benar atau mempertobatkan yang tersesat. Kiranya Dominikus menghayati sabda Yesus ini: “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pergilah dari tempat ini ke saa – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu”. Iman memang merupakan rahmat kekuatan dari Allah yang handal dan penuh kuasa untuk mengusir aneka macam bentuk kejahatan atau godaan setan. Orang yang sungguh beriman pada umumnya sehat wal’afiat dan segar bugar baik secara jasmani maupun rohani, sedangkan mereka yang kurang atau tidak beriman pada umum mudah jatuh sakit atau sakit-sakitan melulu, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Maka marilah kita mawas ini: seberapa dalam, kuat dan tangguh iman kita kepada Allah serta kita hayati dalam hidup kita sehari-hari. “Tak ada yang mustahil bagimu” jika anda beriman. Nah, mungkin kita memiliki cita-cita, harapan atau dambaan, maka percayalah akan terwujud jika kita sungguh beriman. Sungguh beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya pada panggilan dan tugas pengutusan atau kewajiban alias bekerja keras dan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tenaga dalam melaksanakan tugas pengutusan atau menghayati panggilan, tidak main-main atau seenaknya dalam hidup dan bekerja. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka- Jakarta 1997, hal 10).

· Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”(Ul 6:5-7). Kutipan ini hemat saya merupakan perintah moral yang cukup jelas, dan memang mungkin sulit untuk dilaksanakan atau dihayati. Kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan, dan tentu saja kasih tersebut juga harus menjadi nyata dalam relasi dengan saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Orangtua atau bapak-ibu hendaknya menjadi teladan dalam saling mengasihi sebagaimana pernah dijanjikan ketika saling menerimakan sakramen perkawinan, saling berjanji untuk mengasihi sampai mati. Keteladanan orangtua merupakan wahana pengajaran atau pendidikan kepada anak-anaknya, dan dari keteladanan dapat berkembang ke pembicaraan atau omongan, maka “hauslah engkau mengajarkannya berulang-ulan kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”, alias kapan saja dan dimana saja. Yang diajarkan atau dibicarakan adalah kasih, yaitu “sabar, murah hati; tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri., tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran” (lih 1Kor 13:4-6)

·

Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku”(Mzm 18:2-4)

Jakarta, 8 Agustus 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on August 10, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: