Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya

“Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya”

(Im 25:1.8-17; Mat 14:1-12)

“Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.”(Mat 14:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Alfonsus Maria de Liguori, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Pemimpin Negara pada umumnya ‘gila akan harta benda, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi’ seperti Herodes. Segala sesuatu yang mengganggu jabatan atau kehormatannya pasti segera dihabisi atau dikucilkan dari pergaulan di masyarakat. Sebaliknya pemimpin Gereja hemat saya bersikap mental melayani, seperti Alfunsus Maria de Liguori, yang kita rayakan hari ini. Alfonsus termasuk orang yang pandai, tetapi dalam menghayati jabatan atau fungsinya sebagai uskup ia tetap rendah hati, banyak berdoa, bekerja keras dan bekerjasama dalam rangka mewartakan Kabar Baik. Maka dalam rangka mengenangkan pesta St.Alfonsus Maria de Ligouri hari ini saya mengajak dan mengingatkan siapapun yang berfungsi sebagai pemimpin di dalam hidup atau kerja bersama untuk banyak berdoa, bekerja keras dan bekerjasama dalam menjalankan fungsinya. Yang mungkin baik untuk digarisbawahi kiranya dalam hal bekerjasama; bekerjasama dengan rekan kerja, para pembantu maupun yang harus dilayani. Untuk itu kiranya perlu menghayati keutamaan mendengarkan dan kepemimpinan partisipatif. Pemimpin hendaknya juga tidak mudah menjanjikan sesuatu kepada rekan kerja, para pembantu maupun yang dipimpin, seperti yang telah dilakukan oleh Herodes. Dalam hal bekerjasama kiranya kita dapat belajar dari masyarakat di pedesaan yang masih dijiwai semangat ‘begotong-royong’ dalam mengerjakan sesuatu, dimana semua anggota masyarakat berpartisipasi secara aktif dan proaktif selama bekerja.

· Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu”(Im 25:17). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, lebih-lebih ajakan untuk “Jangan kamu merugikan satu sama lain”. Kita dipanggil untuk saling menguntungkan, membahagiakan dan mensejahterakan dalam hidup dan bekerja bersama. Marilah kita lihat dan cermati dengan teliti dan tekun apakah ada di antara saudara-saudari kita ada yang merasa dirugikan oleh cara hidup dan cara bertindak kita, apakah mereka merasa disakiti atau dilecehkan, dst.. Memang untuk itu kita harus rela berkorban dan berbesar hati untuk bertukar pengalaman atau bercurhat, saling membagikan pengalaman , perasaan, isi hati dll. Kita diharapkan dengan rendah hati saling mendengarkan. Sekiranya kita telah merugikan atau menyakiti orang lain hendaknya segera minta maaf serta mengganti kerugian yang ada, syukur lebih dari apa yang telah dirugikan. Saling memaafkan dan mengganti kerugian mungkin harus kita lakukan bersama-sama, mengingat dan memperhatikan bahwa kita semua adalah orang-orang yang lemah dan rapuh, yang sering tidak sadar ketika merugikan atau menyakiti orang lain. Marilah kita saling bermurah hati artinya menjual murah hati kita kepada orang lain atau siapapun alias memperhatikan orang lain atau siapapun. Kita juga harus saling bersyukur dan berterima kasih; “bersyukur adalah sikap dan perilaku yang tahu mau berterima kasih kepada Tuhan atas hikmat dan karunia yang telah dilimpahkanNya” (Prof Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 13)

“Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia”(Mzm 67:2-3.5.7-8)

Jakarta, 1 Agustus 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 31, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: