Hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut”

(Kel 40:16-21.34-38; Mat 13:47-53)

“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.” Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ”(Mat 13:37-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Telinga atau pendengaran merupakan indera yang pertama kali mulai berfungsi, bahkan ketika anak masih berada di dalam rahim atau kandungan ibu, ia sudah dapat mendengarkan aneka macam suara di lingkungan hidupnya, dan tentu saja apa yang disuarakan oleh sang ibu. Hemat saya semua ibu atau orangtua senantiasa menyuarakan atau menyampaikan apa yang baik kepada anak-anaknya. Anak-anak pada umumnya menerima dengan sepenuh hati apa yang dikatakan oleh ibunya atau orangtuanya, maka ketika yang disampaikan oleh ibunya adalah segala sesauatu yang baik atau budi pekerti luhur, pada waktunya anak-anak ketika dapat berbicara pasti ia akan meneruskan apa yang telah diterimanya tersebut. Maka dengan ini kami mengharapkan kepada para ibu atau orangtua untuk senantiasa menyuarakan apa yang baik atau budi pekerti luhur kepada anak-anaknya. Tentu saja ketika anak-anak tumbuh berkembang hendaknya dalam suasana atau iklim kebebasan dan cintakasih Injili, agar ia terus tumbuh berkembang dengan baik sebagaimana kita dambakan atau cita-citakan. Kebiasaan mendengarkan dengan baik hendaknya ditanamkan sedini mungkin di dalam kelaurga dan kemudian dikembangkan selama berada di dalam proses pembelajaran serta kemudian diperkuat dan diperdalam ketika mereka sudah mulai bekerja atau berkarya. Kita semua diharapkan dan dipanggil untuk mengelauarkan perbendaharaan yang baik dari hati kita masing-masing, sehingga cara melihat, cara merasa,. cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak kita senantiasa baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu.

· “Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel dari setiap tempat mereka berkemah. Tetapi jika awan itu tidak naik, maka mereka pun tidak berangkat sampai hari awan itu naik. Sebab awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel pada setiap tempat mereka berkemah”(Kel 40:36-38) . Apa yang terjadi di dalam perjalanan bangsa terpilih ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi perjalanan hidup kita masing-masing. Kita hidup terus berjalan, mengalir terus, dan di dalam perjalanan ini kiranya ada tanda-tanda zaman yang perlu atau harus kita cermati dan perhatikan. Agar kita peka terhadap tanda-tanda zaman kiranya kita perlu cukup banyak mendengarkan apa yang terjadi di lingkungan hidup kita dan secara rutin setiap hari mawas diri atau mengadakan pemeriksaan batin dengan baik, sebagaimana menjadi bagian dari doa malam, doa harian. Di dalam pemeriksaan batin diharapkan kita dapat memilah dan memilih, tentu saja memilih apa yang baik, yang tidak laio merupakan bentuk konkret penyertaan, pendampingan atua karya Tuhan di dalam perjalanan hidup kita. Jika kita terampil dalam pemeriksaan batin maka kita juga akan terampil dalam aneka bentuk analisa social yang dibutuhkan dalam cara hidup dan cara kerja kita. Maka hendaknya setiap hati mengadakan pemeriksaan batin dengan baik dan benar. Langkah-langkah pemeriksaan batin yang baik adalah : “ (1) berterima kasih pada Allah Tuhan kita atas anugerah-anugerah yang kita terima, (2) mohon rahmat untuk mengenali dan melepaskan diri dari dosa-dosa, (3) minta pertanggunganjawaban dari jiwa, mulai dari waktu bangun sampai pemeriksaan kini, dari jam ke jam atau dari waktu ke waktu; pertama mengenai pikiran, lalu kata-kata, akhirnya perbuatan-perbuatan,… (4) memohon ampun kepada Allah Tuhan kita atas kekurangan-kekurangan, (5) membuat niat untuk memperbaiki diri dengan rahmatNya, ditutup dengan doa Bapa Kami” (St.Ignatius Loyola, LR no 43).

“Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau” (Mzm 84:3-6a)

Jakarta, 30 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 31, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: