Maria telah memilih bagian yang terbaik

“Maria telah memilih bagian yang terbaik”

(1Yoh 4:7-16; Luk 10:38-42)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”(Luk 10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Maria, Marta dan Lazarsus, sahabat Tuhan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ora et labora” = Berdoa dan bekerja, demikian bunyi salah satu motto. Maksud motto ini kiranya adalah jangan memisahkan hidup doa dan kerja. Dalam kisah Warta Gembira hari ini ada kesan babwa Marta sibuk bekerja dan Maria dengan khusuk sedang berdoa, “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya”. Rasanya mayoritas waktu dan tenaga kita lebih untuk bekerja daripada berdoa, sedangkan waktu untuk berdosa pribadi sedikit atau bahkan ada orang yang melupakan doa harian. Baiklah dalam rangka mengenangkan orang-orang kudus hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri salah satu spiritualitas Ignatian yaitu “contemplativus in actione”, yang dapat diterjemahkan secara harafiah berarti “berdoa dalam kegiatan”, sedangkan maksudnya adalah ‘menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan’. Salah satu tanda atau gejala dalam menghayati motto ini adalah selama bekerja, meskipun berat dan sarat dengan tantangan atau hambatan, tidak pernah mengeluh atau menggerutu, tetapi gembira dan ceria serta bergairah. Memang orang akan dapat bertindak demikian jika yang bersangkutan tidak melupakan hidup doa, dan doanya bersifat kontemplasi disertai mawas diri. Bahan untuk kontemplasi adalah Kitab Suci, kisah-kisah yang ditulis di dalam Kitab Suci. “Kita tidak perlu merasa besalah dan betul, bila kita membaca Kitab Suci dengan cara seperti itu, karena segala sesuatu yang kita alami, seperti terjadi dalam Kitab Suci, tidak lepas dari sentuhan dan sapaan Allah. Allah tidak dibatasi oleh waktu. Dia hadir dan dan bertindak sekarang ini juga, seperti Dia hadir dan bertindak di dalam peristiwa Kitab Suci’ (Buku Latihan Rohani St.Ignatius, Penerbit Kanisius, hal 246).

· “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”(1Yoh 4:7-8). Pesan atau peringatan Yohanes ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita semua berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah, dan karena Allah adalah kasih, maka selayaknya kita hidup saling mengasihi. ‘Saling mengasihi’ merupakan pertintah utama dan pertama dari Allah bagi semua umat beriman. Masing-masing dari kita adalah ‘yang terkasih atau buah kasih’, maka jika kita berani menghayati diri sebagai yang terkasih atau buah kasih, kiranya panggilan untuk saling mengasihi dapat kita laksanakan atau hayati dengan mudah. Setiap bertemu dengan orang lain berarti ‘yang terkasih’ bertemu dengan ‘yang terkasih’, maka dengan sendiirinya atau secara otomatis akan saling mengasihi. . “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.”(1Yoh 4:12). “Allah tetap di dalam kita” dalam situasi atau kondisi apapun dan dimanapun itulah dambaan dan kerinduan kita semua, sehingga kebersamaan hidup kita penuh persaudaraan dan persahabatan sejati dan dengan demikian menarik dan memikat bagi siapapun. Sekali lagi kami mengingatkan dan mengajak bahwa kebersamaan hidup yang demikian ini hendaknya pertama-tama dan terutama terjadi di dalam keluarga, antara suami-isteri, orangtua dan anak serta seluruh anggota keluarga. Apa yang terjadi dan dialami di dalam kelaurga akan sangat bermanfaat dalam kehidupan bersama di luar keluarga, di tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya. Keluarga merupakan dasar hidup berbangsa, bernegara, bermayarakat dan beriman atau beragama.

Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.”(Mzm 34:2-5)

Jakarta, 29 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 29, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: