Orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka

“Orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka”.

(Kel 33:7-11; 34:5b-9.28; Mat 13:36-43)

“Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”(Mat 13:36-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kita semua hidup di tengah-tengah ‘lalang dan benih baik’ atau ‘antara’, yaitu antara yang baik dan yang jahat, antara kehendak Tuhan dan kehendak setan, antara sehat dan sakit, dst.. Hidup di tengah-tengah ‘antara’ memang ada berbagai kemungkinan, misalnya orang tetap berada di tengah-tengah ‘antara’ alias diam saja, cenderung ke kanan atau ke kiri alias berbuat baik atau berbuat jahat, mengikuti kehendak Tuhan atau kehendak setan. Rasanya kita semua berharap senantiasa dapat berbuat baik atau mengikuti kehendak Tuhan dan dengan demikian kita dapat dikatakan sebagai “orang benar yang bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa”. Kita semua kiranya berasal dari ‘benih baik’, dan memang tumbuh berkembang di tengah ‘lalang’ atau aneka tawaran kenikmatan duniawi yang dapat menghancurkan pertumbuhan dan perkembangan kita. Maka marilah kita saling membantu dan bekerjasama agar pertumbuhan dan perkembangan kita tetap baik alias menjadi orang-orang benar, yang senantiasa setia pada kehendak Tuhan dalam situasi dan kondisi macam apapun. Sekiranya kita merasa sendirian sebagai orang benar atau baik alias merasa diri yang terbaik, hendaknya kebaikan kita menjadi nyata dalam berbagai bentuk perilaku atau tindakan, sehingga kita bercahaya bagaikan matahari dalam Kerajaan Sorga. Agar kita tetap dalam keadaan benar atau baik, hendaknya setia untuk mendengarkan sabda-sabda Tuhan, yang antara lain tertulis di dalam Kitab Suci, tulisan yang ditulis dengan ilham Roh Kudus.. Bacakan, dengarkan, resapkan dan hayati sabda yang tertulis di dalam Kitab Suci setiap hari bagi kita semua, di dalam keluarga kita masing-masing.

· TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” (Kel 34:7). Kutipan ini kiranya baik dan layak menjadi permenungan atau refleksti kita bersama. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati “Alah penyayang, dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya” di dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dnn kapanpun. Kita dipanggil untuk menjadi ‘penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia kita’. Jika kita berani mengakui dan menghayati telah menerima kasih, kesabaran dan kesetiaan Allah melalui orangtua dan saudara-saudari kita, kiranya kita dengan mudah untuk mengasihi, sabar dan setia. Maka secara konkret hendaknya kita berani mengakui dan mengimani semuanya itu melalui orangtua kita masing-masing yang begitu mengasihi, sabar dan setia kepada kita sehingga kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini,. Tanpa kasih, kesabaran dan kesetiaan orangtua atau bapak-ibu kita masing-maiing kiranya kita tidak menjadi orang atau manusia sebagaimana adanya saat ini. Sebagai tanda syukur dan terima kasih kita kepada orangtua tidak lain adalah kita hidup dengan saling menyayangi dan mengasihi, sabar dan setia satu sama lain. Pengampunan hendaknya juga kita hayati dan sebar-luaskan. Marilah kita ampuni mereka yang telah bersalah kepada kita atau menyakiti kita, dan biarlah di antara kita hidup dan berkembang keutamaan kasih pengampunan yang sungguh kita butuhkan demi kebahagiaan dan kesejhateraan kita semua.

“TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia”(Mzm 103:8-13)

Jakarta, 28 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 28, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. belajar banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: