Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi”

(Kel 32:15-24.30-34; Mat 13:31-35)

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”(Mat 13:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Janin atau embriyo atau sel telor yang baru saja bersatu dengan atau dibuahi oleh sperma di dalam rahim ibu/ perempuan sangat kecil, namun begitu tumbuh berkembang selama kurang lebih sembilan bulan sudah menjadi besar dan beratnya kurang lebih 3 s/d 4 kg. Itulah karya Tuhan/Penyelenggaraan Ilahi. Demikian juga hal Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah, umat yang percaya kepada Allah atau secara khusus yang beriman kepada Yesus Kristus, Gereja atau ‘Tubuh Kristus’. Gereja merupakan paguyuban umat yang percaya kepada Yesus Kristus, di Indonesia ini kiranya jumlah anggota Gereja sangat kecil jika dibandingkan dengan paguyuban umat yang beragama lain. Bahkan di suatu tempat, desa atau daerah hanya ada satu orang/keluarga saja yang menjadi anggota Gereja dan sering merasa kesepian. Kepada mereka yang merasa kecil kami harap tidak takut atau kesepian, dan marilah kita menjadi ‘ragi’. Menjadi ‘ragi’ berarti cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun dapat membuat enak atau membahagiakan hidup bersama, cara hidup atau cara bertindak kita menarik dan memikat. Jika anda sendirian dan merasa kesepian dan tercancam kami harapkan tetap setia dan tabah dalam penghayatan iman, dan jadikanlah apa yang membuat anda merasa terancam atau kesepian sebagai wahana pendewasaan dan pertumbuhan anda. Seperti kecambah yang tertutup oleh rumput atau sampah justru semakin cepat tinggi atau panjang, demikian pula hendaknya aneka bentuk ancaman, tantangan atau hambatan menjadi wahana pertumbuhan dan perkembangan anda. Percayalah jika anda tetap setia dan taat pada iman anda , maka anda akan menjadi tempat bernaung sesama dan saudara-saudari anda sebagaimana pohon sesawi menjadi tempat berteduh dan bertengger burung-burung.

· “Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu.”(Kel 32:30), demikian kata Musa kepada bangsanya yang telah berbuat dosa dengan berbakti kepada berhala, ‘lembu emas’. Sebagai pemimpin, yang sendirian, Musa merasa bertangungjawab atas apa yang dibuat atau dilakukan oleh bangsanya, orang-orang yang dipimpinya dalam perjalanan menuju ‘tanah terjanji’. Apa yang dilakukan oleh Musa ini kiranya dapat menjadi teladan atau cermin bagi siapapun yang merasa menjadi pemimpin atau berfungsi dalam jajaran kepemimpinan. Jika rakyat brengsek maka pemimpin yang bertanggungjawab, jika anak-anak brengsek maka orangtua yang bertanggungjawab, jika ada pegawai/buruh yang brengsek maka direktur atau kepada bagian yang bertanggungjawab, dst… Maka dengan ini kami mengingarkan dan mengajak mereka yang menjadi pemimpin atau berfungsi dalam jajaran kepemimpinan untuk ‘turba’, turun ke bawah, melihat dan memperhatikan apa yang telah dikerjakan oleh mereka yang dipimpin. Hendaknya menjadi pemimpin tidak hanya menerima laporan dari bawahan begitu saja, melainkan sering atau secara rutin langsung menyapa dan memperhatikan mereka yang dipimpin atau bawahannya; dan jika ada sesuatu yang tidak baik segera diperbaiki, yang tidak beres segera dibereskan, dst.. Usaha atau gerakan preventif lebih murah daripada kuratif. Perbaikan atau pemberesan segera akan membantu agar ketidak-beresan atau penyelewengan meraja lela. Segera lokalisir ketidak-beresan yang ada antara lain dengan segera ditangani atau dibereskan. Menunda pemberesan atau perbaikan berarti membiarkan penyakit atau ketidak-beresan berkembang menjadi besar, dan jika itu dilakukan oleh pemimpin berarti sang pemimpin yang salah atau mungkin tidak mampu menjadi pemimpin.

“Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput.Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir:perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka” (Mzm 106:19-23)

Jakarta, 27 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 28, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: