Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia

Mg Biasa XVII: 2Raj 4:42-44; Ef 4:1-6; Yoh 6:1-15

“Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Ketika terjadi bencana alam seperti banjir atau gempa bumi, misalnya jebolnya waduk’Situ Gintung’ di di wilayah Ciputat yang baru lalu atau gempa bumi di Yogyakarta, pada umumnya banyak orang baik yang tergerak oleh belas kasihan yang mengulurkan aneka macam bantuan bagi para korban, entah berupa makanan, minuman, pakaian atau uang dan tentu saja tenaga sebagai relawan. Kalau dicermati kiranya masih cukup banyak orang miskin yang membutuhkan bantuan untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan atau minuman. Di dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan tentang ribuan orang yang mengikuti Yesus untuk mendengarkan ajaran-ajaranNya sampai hari semakin malam dan mereka nampak kelaparan. Melihat hal ini Yesus minta kepada para murid/rasul untuk mengusahakan makanan, namun para murid menjawab:tak mungkin mengusahakan makanan untuk ribuan orang ini. Tiba-tiba Andreas berkata: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?“(Yoh 6:9). Mendengar kata Andreas ini Yesus pun akhirnya melakukan mujizat dengan menggandakan ‘lima roti dan dua ikan’ tersebut, sehingga ribuan orang dapat makan sampai kenyang, bahkan berkelimpahan. Kisah yang diwartakan dalam Warta Gembira hari ini digambarkan dengan ornamen dari kaca, dan anda dapat melihat ornamen atau gambar tersebut di Kapel Kolese Kanisius – Jakarta, terpasang di tembok dan berada di atas tabernakel. Setelah ribuan orang dapat makan kenyang karena muzijat tersebut, maka mereka pun berkata: “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 6:14).

“Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Sebagai orang beriman yang percaya kepada Yesus Kristus, kiranya kita semua dipanggil untuk meneladan Yesus atau anak yang menyerahkan semua bekalnya, ‘lima roti dan dua ikan’. Mungkin untuk meneladan Yesus dengan mengadakan mujizat tidak mungkin dapat kita kerjakan, tetapi meneladan anak yang merelakan bekal makanan kiranya dapat kita lakukan. Maka baiklah kita meneladan anak tersebut serta membiasakan atau mendidik anak-anak kita untuk bertindak demikian juga. Marilah kita hayati dua prinsip hidup beriman atau menggereja yaitu “solidaritas dan keberpihakan kepada yang miskin dan berkekurangan”.

Solidaritas berasal dari kata bahasa Latin “solido / solidare” yang antara lain berarti memperkuat, mengukuhkan, mengutuhkan kembali, menegakkan, meneguhkan. Solidaritas dilakukan oleh mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah, yang sehat terhadap yang sakit, yang kaya terhadap yang miskin, yang pandai dan cerdas terhadap yang bodoh, yang berkelimpahan terhadap yang berkurangan, dst.. Marilah kita lihat dan cermati siapa-siapa saja dari saudara-saudari kita, entah di dalam masyarakat atau tempat kerja, yang lemah, sakit, miskin, bodoh dan berkekurangan, dan kemudian kita tolong atau bantu dengan kekayaan atau harta yang kita miliki atau kuasai saat ini. Kiranya dalam membantu atau menolong tidak perlu menunggu kita berkelimpahan, melainkan dari kekurangan dan keterbatasan kita. Memberi dari kelimpahan berarti menjadikan orang lain, yang menerima sebagai tempat sampah dan dengan demikian melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia atau melanggar hak-hak azasi manusia. Marilah kita memberi dan membantu orang lain dari kelemahan dan keterbatasan kita, yang meneladan anak yang menyerahkan semua bekalnya: ‘lima roti dan duka ikan’. Biarlah mereka yang melihat atau menyaksikan tindakan kita berkata tentang kita “dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia”. Kita semua dipanggil untuk menjadi pribadi ‘pemurah’, yang memiliki sikap dan perilaku yang murah hati, pengasih dan penyayang. Ingat dan hayati bahwa hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui orang-orang yang telah berbuat baik dan bermurah hati terhadap kita, maka selayaknya kita berbuat baik dan bermurah hati kepada sesama atau saudara-saudari kita yang membutuhkan.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef 4:2-6).

Ada tiga keutamaan yang diharapkan kita hayati atau laksanakan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman, yaitu “rendah hati, lemah lembut dan sabar”. Maka baiklah secara sederhana dan mungkin tidak sempurna saya coba menguraikan tiga keutamaan tersebut:

1) “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit” Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kerendahan hati hemat saya merupakan keutamaan dasar yang mendasari keutamaan-keutamaan lainnya serta kebalikan dari kesombongan. Maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan dalam hal penghayatan kerendahan hati ini.

2) “Lemah lembut kiranya memperkuat atau memperteguh kerendahan hati. Orang yang lemah lembut antara lain nampak dalam cara bicara/wacana maupun bertindak yang sopan, enak didengarkan maupun dilihat, sehingga pribadi yang bersangkutan sungguh menarik dan memikat. Lemah lembut bersumber dari hati, yang penuh syukur dan terima kasih, karena segala sesuatu yang ada padanya merupakan anugerah Allah.

3) “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (ibid hal 24). Kesabaran pada masa ini rasanya mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang kurang atau tidak sabar, antara lain dapat dilihat dan dicermati di jalanan dimana para pengendara atau pemakai jalan yang melanggar aturan lalu lintas, di dalam pergaulan muda-mudi yang bebas tanpa kendali akhirnya terjadi kehamilan sebelum/diluar nikah atau perkawinan.

Dengan dan melalui penghayatan tiga keutamaan di atas diharapkan terjadilah kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati di antara kita: satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua. Sekali lagi saya angkat dan ingatkan bahwa kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati ini hendaknya pertama-tama terjadi di dalam keluarga, antara suami-isteri, anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Penghayatan akan kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati rasanya pada masa ini dapat menjadi ‘nabi’, dan siapapun yang melihat atau kena dampak cara hidup dan cara bertindak itu akan berkata :”dia ini benar-benar nabi yang akan datang di dunia ini”. Dengan kata lain penghayatan kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati merupakan bentuk tugas perutusan berupa teladan atau kesaksian, yang utama dan pertama.

“Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya; Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup. TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan”(Mzm 145:15-18)

Jakarta, 26 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 25, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: