Dengarlah arti perumpamaan penabur itu

“Dengarlah arti perumpamaan penabur itu”.

(Kel 20:1-17; Mat 13:18-23)

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”(Mat 13:18-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam Warta Gembira hari ini kiranya mau lebih ditekankan pentingnya keutamaan ‘mendengarkan’ dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Kita semua diharapkan menjadi “tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lihat, ada yang tiga puluh kali lipat”. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya kita manfaatkan untuk belajar atau bekerja, dan selama bekerja pun jika mendambakan berhasil dengan baik juga harus dijiwai sikap mental belajar. Orang belajar pada umumnya di sekolah, dimana terjadi berbagai penelitian, penyampaian aneka ajaran dan aliran atau pemhaharuan-pembaharuan. Marilah tempat hidup maupun tempat kerja dimana kita hidup atau bekerja kita sikapi sebagai ‘sekolah’., dan masing-masing dari kita adalah orang-orang yang sedang belajar. Pelajar yang baik pada umumnya bergairah, terbuka, rajin, tekuin, cermat, teliti, siap-sedia diberitahu, dibina atau dididik, dst.., sehingga ketika mereka sedang belajar diperkaya oleh berbagai pengajaran atau pengetahuan yang berguna bagi hidup mereka masa kini maupun masa depan. Sikap mental pelajar yang baik ini hendaknya juga menjadi sikap mental kita dimanapun dan kapanpun entah sedang belajar atau bekerja, agar kita semakin memahami dan menguasai banyak pengetahuan dan keterampilan dan kemudian dalam cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah yang didambakan dan berkelimpahan. Sekali lagi kami mengharapkan para orangtua atau bapak-ibu untuk sedini mungkin membina dan membiasakan sikap mental belajar terus menerus dalam diri anak-anaknya di dalam keluarga masing-masing. Kebiasaan untuk senantiasa bersikap mental belajar terus menerus yang diperoleh di dalam keluarga akan sangat berguna bagi anak-anak di masa depan.

· “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.” (Kel 20:12-17). Kutipan ini kiranya merupakan perintah moral yang cukup jelas, maka marilah kita hayati bersama-sama dalam cara hidup dan cara bekerja kita dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi saya ingatkan bahwa perintah moral ini rasanya sedini mungkin perlu dibiasakan bagi anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan orangtua atau bapak-ibu. Agar anak-anak menghormati ayah dan ibunya, kiranya para ayah dan ibu layak untuk dihormati, bukan karena lebih tua, tetapi karena berbudi pekerti baik, antara lain “tidak membunuh alias tidak mudah marah, tidak berzinah, tidak mencuri/bohong, dst.. “. Perkenankan saya mengangkat hal ‘tidak membunuh atau tidak mudah marah’, mengingat dan memperhatikan cukup banyak ayah atau ibu mudah marah terhadap anak-anaknya maupun pasangannya. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain alias melanggar hak azasi manusia. Kebalikan dari marah adalah menghormati atau menjunjung tinggi. Marilah kita hormati dan junjung tinggi anak-anak, karena mereka lebih suci dan lebih baik daripada orangtuanya atau ayah-ibunya. Dalam hidup beriman yang layak dan harus dihormati ialah mereka yang lebih suci atau lebih baik, dan hemat kami anak-anak lebih suci dan lebih baik daripada orangtua atau ayah-ibunya. Menghormati dan menjunjung tinggi anak-anak antara berarti mendidik dan membina anak-anak agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur atau memiliki kecerdasan spiritual.

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah”(Mzm 19:8-11)

Jakarta, 24 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 24, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: