Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala

Mg Biasa XVI: Yer 23:1-6; Ef 2:13-18; Mrk 6:30-34

“Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala

Di dalam tradisi hidup beriman atau beragama ada doa harian, dan dalam tradisi katolik ada doa malam yang antara lain berisi ‘pemeriksaan batin’. Istilah lain yang senada dengan pemeriksaan batin antara lain ‘evaluasi, mawas diri, feedback’ dst.. Evaluasi yang cukup umum dilakukan antara lain dengan menggunakan metode ‘SWOT’ atau “KEKEPAN”: Strengths, weaknesses, opportunities, threats atau kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman. Di dalam evaluasi kita diajak untuk menihat aneka kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, dengan harapan setelah mengadakan evaluasi cara hidup atau cara bertindak lebih baik dan berhasil sebagaimana didambakan. Evaluasi ini sangat penting, apalagi ketika kita harus menghadapi banyak masalah atau pekerjaan, sebagaimana dihadapi oleh Yesus dan para murid. Dalam proses pelaksanaan tugas pengutusanNya Yesus mengajak para murid untuk menyendiri sementara: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!”

“Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!

(Mrk 6:31)

“Jika orang tidak butuh istirahat, jangan-jangan ia cepat tua dan istrahat selamanya atau selama bekerja beristirahat terus alias tidak bekerja sungguh-sungguh dan main-main saja”, demikian kata seorang bijak. Beristirahat secara phisik berfungsi untuk mengembalikan kebugaran tubuh, sehingga setelah beristirahat sejenak orang dapat bekerja dengan baik. Beristirahat di tempat yang sunyi sendirian dalam kebiasaan masa kini antara lain berupa rekoleksi atau retret atau oleh St.Ignatius Loyola disebut ‘latihan rohani’. “Yang dimaksud dengan kata latihan rohani ialah setiap cara memeriksa hati, meditasi, kontemplasi, doa lisan dan batin, serta segala kegiatan rohani lainnya, sebagaimana akan dikatakan kemudian. Sebagaimana gerak jalan, jarak dekat atau jarak jauh, dan lari-lari disebut latihan jasmani, begitu pula dinamakan latihan rohani setiap cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur, dan selepas dari itu, lalu mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan jiwa kita” (St.Ignatius Loyola, LR no 1).

Berbagai tawaran dan rayuan yang bersifat duniawi masa kini dapat mempengaruhi hidup kita dikuasai oleh segala rasa lekat tak teratur, sehingga kita menjadi orang yang tertindas oleh berbagai kenikmatan duniawi serta tidak lepas bebas atau tidak bebas merdeka dalam hidup maupun bekerja., hidup dan melangkah mengikuti selera pribadi dan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai ciptaan Allah kita dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya, agar kita dapat menyelamatkan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Agar kita lebih terampil dan cekatan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, maka kita diharapkan tidak melupakan kebiasaan hidup rohani seperti ‘pemeriksaan batin, rekoleksi, retret atau latihan rohani’ setiap hari, bulan atau tahun. Kita perlu memperkuat dan memperdalam hidup rohani kita dalam rangka menghadapi begitu banyak masalah dan pekerjaan berat masa kini. Kita diharapkan terampil dalam pembedaan roh atau ‘spiritual discernment’ agar dapat memilah dan memilih dari aneka tawaran sesuai dengan kehendak Allah

“Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka”(Mrk 6:34), demikian berita pilihan Yesus setelah melihat orang banyak seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Hati yang tergerak oleh belas kasihan, itulah kiranya yang juga harus terjadi dalam hati kita masing-masing dalam menghadapi aneka masalah dan pekerjaan berat. Memang untuk itu kita harus memiliki hati dan jiwa yang cerdas alias kecerdasan spiritual. Maka sekali lagi disini saya kutipkan ciri-ciri kecerdasan spiritual yang harus kita mohon dan usahakan, yaitu:

1. mampu untuk fleksibel (adaptasi aktif dan spontan) –hidup dari Roh/kehendak Tuhan

2. memiliki kesadaran diri yang tinggi- pendosa yang dicintai dan diutus oleh Tuhan

3. mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan- salib – kebodohan bagi orang Yunani, batu sandungan bagi orang Yahudi, keselamatan bagi yang percaya

4. mampu menghadapi dan mengatasi rasa sakit- mengikuti Yesus -> menelusuri jalan salib

5. hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai- konstitusi, pedoman, asas-dasar, anggaran dasar ??

6. enggan untuk menyakiti orang lain-  hidup kasih pengampunan

7. melihat hubungan dari yang beragam (holistik)-  menghayati dan mengusahakan persaudaraan sejati

8. bertanya ‘mengapa’ dan ‘apa jika’ untuk mencari jawaban mendasar- bersemangat magis, ongoing formation

9. kemampuan/kemudahan untuk ‘melawan perjanjian’- berjiwa reformasi, bertobat terus menerus

“Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa(Ef 2:17-18)

Sebagai murid-murid atau pengikut Yesus kita juga dipanggil untuk “memberitakan damai sejahtera kepada yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat”. Dengan kata lain kepada siapapun dan dimanapun kita dipanggil untuk memberitakan damai sejahtera agar semua orang “beroleh jalan masuk kepada Bapa’, kembali ke sorga untuk hidup mulia dan damai sejahtera selamanya bersama Allah setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Tentu saja dari pihak diri kita sendiri diharapkan senantiasa dalam keadaan damai sejahtera atau melaksanakan kehendak Allah dalam hidup dan langkah-langkah atau sepak-terjang kita.

Damai sejahtera kiranya sangat mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini mengingat masih maraknya aneka bentuk permusuhan, pertentangan, kebencian yang telah membawa korban cukup banyak. Karena orang hanya mengikuti kemauan, kehendak atau selera pribadi maka terjadilah ketegangan yang berkembang menjadi permusuhan dan tawuran yang menyakitkan. Hidup dalam damai sejahtera yang sesuai dengan kehendak Allah antara lain dapat kita wujudkan dengan mengakui dan menghayati aneka kehendak baik yang ada dalam diri kita maupun sesama kita. Setiap orang kiranya berkehendak baik,  maka baiklah kita saling bertukar pengalaman dan mendengkarkan aneka kehendak baik yang ada di antara kita dan kemudian kita sinerjikan dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa berpikir positif terhadap sesama dan saudara-saudari kita, agar kita dapat saling bertukar dan mendengarkan kehendak baik. Jauhkan aneka bentuk pikiran negatif terhadap sesama dan saudara-saudari kita serta perkuat dan perdalam ‘hati yang tergerak oleh belas kasihan’ bagi mereka yang tidak berkehendak baik atau tidak tahu berbuat baik. Kita semua berasal dari Allah dan diharapkan kembali kepada Allah ketika kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia.

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mzm 23)

Jakarta, 19 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 21, 2009, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: