Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan

“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,”

(Kel 11:10-12:14; Mat 12:1-8)

“Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”(Mat 12:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Di dalam pemilu Capres dan Wapres yang baru saja terjadi cukup ramai dibicarakan perihal hak azasi manusia sebagai warganegara untuk memilih. Pembicaraan cukup ramai sekitar DPT dan konon cukup banyak warganegara yang tak tercatat di DPT. Maka atas desakan kelompok tertentu MK memutuskan bahwa warganegara yang belum tercatat di DPT dapat mencontreng dengan alasan utama bahwa hak azasi tidak dapat dinegasi oleh aturan administrasi apapun. Namun masih ada pengamat yang mengatakan bahwa keputusan MK tersebut masih mengambang karena masih ada pembatasan territorial, artinya pemegang KTP hanya dapat memilih di tempat dimana yang bersangkutan tercatat sebagai warganegara, sebagaimana tertulis dalam KTP. Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan…Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”, demikian sabda Yesus hari ini. Aneka aturan dan tatanan hidup kiranya dibuat berdasarkan kasih, maka harus disikapi dalam kasih juga, sayang dalam hidup berpolitik aturan dan tatanan hidup lebih bersifat politis, sehingga keputusan politis pada umumnya kurang dijiwai oleh kasih dan dengan demikian kurang memuaskan banyak orang. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa menyikapi aneka tatanan dan aturan hidup dalam dan oleh kasiih, artinya aturan dan tatanan hidup demi manusia bukan manusia demi aturan atau tatanan hidup. Memang karena penghayatan perihal hak azasi atau kasih kurang mendalam, maka aneka keputusan sering kurang memuaskan. Maka baiklah dari dan dalam keterbatasan kita masing-masing, marilah kita sikapi aneka keputusan atau kebijakan dari pimpinan atau yang berwenang dalam dan oleh kasih, dengan demikian kita akan lebih mengutamakan belaskasihan bukan persembahan, kasih pengampunan bukan peraturan.

· Pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN” (Kel 12:12). Kekerasan hati Firaun yang didukung oleh kuasa politisnya akan dihancurkan atau dimusnahkan oleh Allah, itulah janji Allah kepada Musa dan Harun. Untuk mengalahkan kekerasan hati dan keputusan politis Firaun atau penguasa ini umat diminta partisipasinya antara lain dengan matiraga, yang oleh bangsa terpilih lakukan dengan makan sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan akan lewat dan berkarya untuk membawa kebenaran dan belaskasihan, itulah yang akan terjadi. Bagi kita sekarang hal itu antara lain berarti kita dipanggil untuk bermatiraga dan membuka diri terhadap Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup dan tugas pengutusan kita sehari-hari serta meninggalkan aneka bentuk kebijakan yang lahir dari hati yang keras dan membeku. Kepada mereka yang masih keras hatinya atau hanya mengikuti nafsu dan kehendak sendiri kami ajak dan ingatkan untuk bertobat, jika mendambakan tidak akan segera dibinasakan. Sejarah telah membuktikan bahwa mereka yang memiliki hati keras dan membatu serta tidak membuka diri terhadap Penyelenggaraan Ilahi atau berbagai kemungkinan dan kesempatan untuk berubah, dalam waktu singkat hancur atau sengsara sampai mati. Membuka diri terhadap Penyelenggaraan Ilahi antara lain memang berarti terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk berubah atau bertobat alias siap sedia untuk memperbaharui diri terus menerus. Tidak siap sedia untuk berubah pasti akan tertinggal dan segena musnah.

“Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN… Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya” (Mzm 116:12-13.17-18)

.

Jakarta, 17 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 16, 2009, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: