Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan

“Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan.”

(Kel 3:13-20; Mat 11:28-30)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”(Mat 11:28-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Biarlah ordo-ordo religius lain lebih unggul daripada kita dalam hal puasa, pantang tidur dan macam-macam lakutapa yang lain. Mereka menjalankan hal itu secara ikhlas menurut pola hidup dan peraturan masing-masing. Akan tetapi, dalam hal ketaatan yang sejati lagi sempurna, apalagi dalam hal penyangkalan kehendak dan pendiriiannya, kalianlah saudara-saudara yang terkasih, yang mengabdi Allah Tuhan kita dalam Serikat ini, kuharapkan menjadi unggul” (Surat .Ignatius Loyola, tgl 26 Maret 1553). Warta Gembira hari ini hemat saya mengajak dan mengingatkan kita pentingnya keutamaan ‘ketaatan’ dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Kalau kita cermati dalam hidup sehari-hari, antara lain sebagaimana nampak dalam apa yang terjadi di jalanan, rasanya cukup banyak orang kurang taat pada aneka tatanan dan aturan. Cukup banyak para pengendara sepeda motor, mobil atau pejalan kaki melanggar rambu-rambu lalu lintas seenaknya. Demikian juga dalam hal makanan, minuman atau obat serta aneka macam sarana-prasarana dalam kemasan antara lain tertulis peraturan pemanfaatan atau pemfungsian, namun kiranya banyak orang kurang atau tidak memperhatkan aturan pakai atau pemfungsian tersebut. Apa yang terjadi di jalanan maupun hidup sehaii-hari dalam hal makan, minum dan penggunaan sarana-prasarana hemat saya merupkan cermin kwalitas atau mutu warganegara/bangsa. Marilah kita tegakkan dan hayati keutamaan ketaatan di dalam hidup sehari-hari. Kita dapat belajar dari dan bercermin pada apa yang terjadi di dalam anggota tubuh kita. Masing-masing anggota tubuh kita setia di tempatnya dan pada saat dibutuhkan ia langsung berfungsi sebagaimana diminta atau diperintahkan. Misalnya ketika ada tugas makan: tangan mengambil makanan langsung dimasukkan ke mulut, mulut mengunyah seperlunya dan kemudian diteruskan ke perut melalui leher, dan Tuhan menganugerahi ‘mesin canggih’ di perut kita untuk mengolah makanan yang kemudian disalurkan ke seluruh tubuh. Anggota-anggota tubuh saling mentaati dan menghormati sehingga seluruh tubuh segar-bugar, sehat wal’afiat. Maka marilah kita saling mentaati satu sama lain demi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup bersama.

· AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”(Kel 3:14), demikian kutipan jawaban Allah atas pertanyaan Musa perihal siapa yang mengutusnya untuk membebaskan saudara-saudarinya dari perbudakan. Musa diutus oleh Allah, dan kita semua kiranya juga memperoleh tugas pengutusan dari Allah melalui atasan atau pemimpin kita. Maka hemat saya mentaati tugas pengutusan dari atasan atau pimimpin hemat saya juga berarti taat kepada kehendak Allah. Sebagai orang beriman kiranya kita senantiasa berusaha untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, maka baiklah hal itu kita wujudkan atau hayati antara lain dengan mempersembahkan diri pada atasan atau pemimpin dimana kita hidup atau berkarya. Pertama-tama rasanya baiklah kita mawas diri sejauh mana kita telah mentaati orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing. Pengalaman taat pada orangtua atau bapak-ibu merupakan modal atau kekuatan untuk taat kepada orang lain, entah di dalam masyarakat atau tempat kerja, pada atasan atau pemimpin di mana kita hidup dan bekerja. Demikian juga pengalaman saling menghormati dan mentaati kakak-adik juga merupakan modal dan kekuatan untuk saling mentaati antar rekan kerja atau hidup bersama. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak para orangtua atau bapak-ibu untuk memperhatikan perihal pengghayatan keutamaan ketaatan ini di dalam keluarga. Bapak-ibu atau suami-isteri hendaknya menjadi teladan dalam saling mentaati dan menghormati sebagaimana telah dijanjikan ketika mengawali hidup baru, hidup berkeluarga, dalam upscara perkawinan. Keteladanan bapak-ibu atau suami-isteri dalam saling mentaati dan menghormati merupakan cara utama dan pertama dalam mendidik dan mendampingi anak-anak agar tumbuh berkembang menjadi pribadi atau orang yang saling mentaati dan menghormati antar sesama mereka.

“TUHAN membuat umat-Nya sangat subur, dan menjadikannya lebih kuat dari pada para lawannya; diubah-Nya hati mereka untuk membenci umat-Nya, untuk memperdayakan hamba-hamba-Nya. Diutus-Nya Musa, hamba-Nya, dan Harun yang telah dipilih-Nya; keduanya mengadakan tanda-tanda-Nya di antara mereka, dan mujizat-mujizat di tanah Ham:” (Mzm 105:24-27)

Jakarta, 16 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 16, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: