Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai

“Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai”

(Kel 3:1-6.9-12; Mat 11:25-27)

“Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”(Mat 11:25-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bonaventura, uskup dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang-orang pandai yang bergelar sarjana atau doktor atau professor pada umumnya sering kurang memperhatikan hal-hal kecil dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Kebanyakan dari mereka bekerja di depan meja dan kurang kurun ke bawah alias melihat kenyataan konkret, seperti kebersihan, sarana-prasarana kebutuhan hidup sehari-hari, dst.. Ketika mereka menjadi petinggi atau atasan sering juga enggan turun ke bawah untuk melihat realitas kehidupan, apa yang dikerjakan oleh para pembantunya yang rendah atau kecil. Memang dalam situasi dan kondisi yang biasa-biasa saja dan damai pada umumnya mereka yang rendah atau kecil kurang diperhatikan dan dinilai kurang fungsional, tetapi pada situasi atau kondisi yang kurang baik pada umumnya yang rendah dan kecil dicari-cari dan dibutuhkan, misalnya ada kotoran di lantai atau ruangan, dst.. Yang rendah dan kecil memang sering fungsional dalam situasi genting dan kurang aman. Memang yang rendah dan kecil dalam hal bekerja secara phisik pada umumnya lebih berat daripada mereka yang pandai dan terhormat di dunia ini. Memperhatikan sabda Yesus hari ini kami mengajak dan mengingatkan mereka yang merasa bijak dan pandai untuk memperhatikan hal-hal atau mereka yang rendah dan kecil, mendukung apa yang sering dinyatakan oleh para Uskup yang menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina. St.Bonaventura yang kita kenangkan hari ini belajar menjadi bijak dari Salib Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”(Fil 2:6-8)

· “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” (Kel 3:12), demikian firman Tuhan atas pertanyaan Musa, yang diutus untuk membebaskan bangsanya dari perbudakan. Tuhan senantiasa menyertai mereka yang terpilih untuk melaksanakan tugas pengutusanNya; Ia yang mengutus juga membekali mereka yang diutus secukupnya. Kita semua kiranya juga diutus untuk membebaskan saudara-saudari kita dari aneka macam bentuk perbudakan, misalnya menjadi budak seksual, budak kenikmatan duniawi/hawa nafsu, budak minuman keras/narkoba/ganja dll, budak makanan dan minuman alias makan dan minum dengan serakah dan tak teratur, dst.. Generasi muda masa kini nampaknya cukup banyak yang menjadi budak seksual atau obat-obat terlarang, dan tentu saja hal itu terjadi karena kurangnya perhatian dari para orangtua yang memadai. Maka dalam rangka pembebasan siapapun yang telah menjadi budak aneka macam bentuk, kiranya peran orangtua penting sekali, antara lain dengan keteladanan hidup baik dan berbudi pekerti luhur serta mendidik dan membina anak-anaknya secara memadai, sesuai dengan tuntutan perkembangan dan pertumbuhan zaman. Anak-anak sedini mungkin dilatih untuk berani mengatakan ‘tidak’ terhadap aneka macam tawaran bentuk kenikmatan yang akan memperbudak dirinya. Hidup ibadah di dalam keluarga hendaknya juga diperdalam dan diperkuat, antara lain sering, syukur dapat setiap hari, diadakan doa bersama di dalam keluarga serta curhat bersama-sama. Doa-doa pribadi juga sangat diharapkan sebagai kekuatan untuk melawan aneka macam godaan setan yang menggejala dalam aneka macam bentuk kenikmatan duniawi yang tidak sehat.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,” (Mzm 103:1-4)

Jakarta, 15 Juli 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on July 14, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: