Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya

“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

ROMO MARYO

Di sebuah rumah sakit ada seorang pasien yang harus menjalani operasi berhubung dengan sakit yang dideritanya. Ketika pasien tersebut diberi tahu akan dioperasi maka nampak pucat dan ketakutan. Beberapa waktu setelah informasi tersebut seorang perawat mencek tekanan darah yang bersangkutan, dan ternyata tekanan darah pasien cukup tinggi, maka tindakan operasi ditunda. Hal itu terjadi di pagi hari, dan sorenya pasien dicek tekanan darahnya lagi dan ternyata masih tetap tinggi, maka dokter memutuskan untuk memberi obat penenang serta minta saudara-saudari pasien untuk mempersiapkan saudaranya yang sedang sakit tersebut agar tidak takut dioperasi. Orang yang sedang dalam ketakutan memang mengalami kenaikan tekanan darah dan pada umumnya juga mudah marah, pesien dalam tekanan darah tinggi tak mungkin untuk dioperasi. Takut rasanya pernah kita alami dan kiranya dalam situasi dan kondisi hidup yang sarat dengan tantangan, hambatan dan perjuangan masa kini cukup banyak orang menjadi takut. Gelombang kehidupan begitu menggoncang dan membuat banyak orang tidak tenang serta ketakutan.

Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40)

Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”(Mrk 4:35). Menyeberangi danau yang cukup luas diwaktu malam kiranya terasa sepi dan menakutkan, apalagi ketika taufan dahsyat yang mengombang-ambingkan perahu yang sedang ditumpanginya. Itulah yang sedang terjadi dan dialami oleh para rasul bersama dengan Yesus yang sedang tertidur. Dalam ketakutan dan kerja keras mengayuh perahu para rasul berkata: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa? Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”(Mrk 4:38-40). Para rasul tidak percaya bahwa Yesus berada di tengah-tengah mereka dan bersama denganNya pasti tidak akan binasa karena taufan dahsyat.

Tuhan hadir dimana-mana dan kapan saja terus menerus di dalam kehidupan dan kebersamaan kita, maka baiklah ketika kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan pekerjaan berat marilah kita sadari dan hayati kehadiran dan karyaNya, Tuhan yang senantiasa mendampingi atau menyertai hidup, kerja, kesibukan dan pelayanan kita. Dengan kata lain marilah dalam dan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita lihat, temui dan hayati kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup sehari-hari, antara lain dalam diri sesama dan saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Lihat, cari dan hayati apa yang baik, indah, mulia dan benar di dalam sesama dan lingkungan hidup kita dengan rendah hati dan dalam keheningan.

Kita renungkan dan refleksikan sabda Yesus :”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”. Takut antara lain berarti kinerja syaraf dan metabolisme darah kita lemah dan dengan demikian penakut akan mudah terserang oleh berbagai penyakit atau hati, jiwa, akal budi dan tubuh tidak segar dan sehat dan dengan demikian akan hidup ngawur. Sebaliknya jika kita tidak takut berarti hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita sehat dan segar bugar dan dengan demikian kita akan mampu melihat aneka kemungkinan dan kesempatan untuk mengatasi aneka tantangan dan hambatan. Beriman berarti juga tidak takut terhadap apapun, karena bersama dengan Tuhan kita akan mampu mengatasi segalanya. Apa yang baik, indah, luhur dan mulia adalah berasal dari Tuhan dan dengan demikian tentu menarik dan mimikat kita sehingga kita tidak takut, sedangkan apa yang jahat, jelek atau jorok adalah berasal dari setan dan kita tidak perlu takut karena bersama Tuhan kita pasti mampu mengatasinya, Tuhan menang atas setan.

Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka “ (2Kor 5:14-15)

Kita dipanggil untuk hidup bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia, Tuhan, yang berarti hidup bagi keselamatan dunia seisinya, kesejahteraan  dan kebahagiaan seluruh  umat manusia. Di dalam hidup beriman atau menggereja ada empat pedoman yang kiranya harus dihayati baik dalam hidup beriman, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara, yaitu: (1) kemandirian, (2) subsidiaritas, (3) solidaritas dan (4) keberpihakan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, maka baiklah secara singkat dan sederhana saya coba menguraikan empat pedoman tersebut:

(1) Kemandirian. Mandiri berarti tidak tergantung pada siapapun dan dapat bekerja sendiri dengan baik, namun hendaknya tetap dihayati bersama dan bersatu dengan Tuhan. Apa saja atau segala sesuatu yang memungkinkan kita dapat mandiri merupakan anugerah atau kasih karunia Tuhan, maka jika dapat mandiri hendaknya tetap rendah hati serta tidak menjadi sombong.

(2) Subsidiaritas. Subsidiaritas berarti terjadi pembagian tugas atau pendelegasian, dan hal ini pada umumnya harus dilakukan oleh para pimpinan atau atasan. Pembagian tugaa atau pendelegasian didasari atau kepercayaan, pemimpin atau atasan percaya bahwa bawahan atau anggotanya mampu melakukan apa yang ia tugaskan atau delegasikan kepada mereka. Ketika tugas sudah didelegasikan kepada orang lain hendaknya tidak terlalu banyak campur tangan, memang jika nampak akan terjadi sesuatu tindakan yang dapat merangsang ke perilaku dosa maka pemimpin atau atasan dapat mengingatkan atau menegornya. Subsidiaritas juga merupakan bentuk penterjemahan penghayatan kepempimpinan partisipatif.

(3) Solidaritas. Solidaritas terjadi pada tingkatan yang kurang lebih sama atau sejajar, dimana orang saling membantu atau bekerja sama atau bergotong-royong dalam melakukan sesuatu. Solidaritas berasal dari akar kata bahasa Latin ‘solido/solidare’ yang dapat berarti memperkuat, mengukuhkan, menegakkan, meneguhkan, maka menghayati solidaritas berarti saling memperkuat, mengukuhkan, menegakkan dan meneguhkan. Solidaritas dapat diwujudkan dalam bentuk tenaga, harta benda, uang atau kehadiran, dst..

(4) Keberpihakan  kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. Penghayatan pedoman ini kiranya merupakan bentuk hidup bagi yang lain yang konkret dan menantang. “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya”(2Kor 8-7-9) Marilah meneladan Yesus yang berpihak kepada mereka yang miskin dan berkekurangan untuk memperkaya mereka.

“Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka. Mereka menolak negeri yang indah itu, tidak percaya kepada firman-Nya. Mereka menggerutu di kemahnya dan tidak mendengarkan suara TUHAN. Lalu Ia mengangkat tangan-Nya terhadap mereka untuk meruntuhkan mereka di padang gurun(Mzm 106:23-26)

Jakarta, 21 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 23, 2009, in Renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: