Masuklah melalui pintu yang sesak itu

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu”

(Kej 13:2.5-18; Mat 7:6.12-14)

ROMO MARYO

“Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang yang dengan mudah dapat memperoleh uang atau kekayaan, entah karena korupsi atau warisan, pada umumnya dengan mudah juga memboroskan uang atau kekayaannya, dan ada kemungkinan uang atau hartanya segera habis dan yang bersangkutan menderita. Demikian juga muda-mudi yang tidak sabar menikmati seks alias dengan mudah mengadakan hubungan seks bebas, kiranya yang bersangkutan juga akan menderita di kemudian hari. Kebiasaan ingin cepat-cepat kaya atau merasakan kenikmatan tersebut kiranya terjadi karena di masa pendidikan/di sekolah yang bersangkutan memiliki budaya menyontek atau beli nilai/ijasah. “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya mengajak dan memanggil kita semua untuk mengikuti ‘proses yang benar’ , proses menjadi kaya, pandai/cerdas, hidup bahagia dan damai sejahtera. Kebiasaan mengikuti atau menghayati proses ini hemat saya sedini mungkin hendaknya dibiasakan pada diri anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja perlu keteladanan dari para orangtua. Marilah kita hayati dan sebar-luaskan motto UNESCO dalam memasuki Millenium Ketiga :”learning to be, learning to do, learning to learn, learning to live together”. Hidup maupun bekerja adalah suatu proses pembelajaran terus menerus yang harus dihayati dengan rendah hati, sabar, tekun, teliti, tertib, dst… Sebagai orang yang sedang dalam proses pembelajaran memang harus siap sedia dan rela untuk berkorban dan berjuang dalam menghadapi aneka tantangan dan hambatan.

· “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”(Kej 13:8-9),  demikian kebijakan yang diambil setelah terjadi pertentangan para gembara Abram dan Lot.  “Minum malum”, yang terbaik dari yang tidak baik atau kurang sempurna itulah kebijakan yang diambil: untuk menghindari perkelahian atau tawuran  antar saudara atau kerabat untuk sementara diajakan perpisahan, saling menjauh. Kebijakan macam ini kiranya sering perlu kita lakukan juga mengingat keterbatasan dan kelemahan kita, berpisah untuk sementara.  Di dalam kesempatan tidak bertemu dengan ‘musuh’ tersebut hendaknya diadakan mawas diri atau refleksi, mencari alasan atau sebab perkelahian atau permusuhan. Dan kiranya untuk itu perlu disertai dengan doa-doa juga, mohon rahmat pencerahan dari Tuhan dalam mengatasi aneka masalah yang menimbulkan perkelahian atau permusuhan. Di dalam hidup berkeluarga antar suami-isteri hal itu sering disebut ‘pisah ranjang’, tidak setempat tidur atau serumah untuk sementara. Yang sering menimbulkan perkelahian atau permusahan adalah aneka macam perbedaan yang ada, padahal kita semua ini saling berbeda. Maka untuk membangun persaudaraan atau perkerabatan, hendaknya untuk sementara yang berbeda disimpan dan ramai-ramai atau bersama-sama menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam. Jika apa yang sama di antara kita dihayati secara mendalam maka apa yang berbeda antar kita akan fungsional untuk memperdalam dan memperkuat persahabatan atau perkerabatan.  Maka dalam kesempatan berpisah untuk sementara atau ‘pisah ranjang’ tersebut masing-masing pihak hendaknya mawas diri secara mendalam apakah apa yang sama di antara kita sudah dihayati dengan mendalam. Jadikanlah apa yang berbeda menjadi daya tarik stsu daya pikat untuk saling mengenal, mendekat, bersahabat atau berkerabat.

“Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya” (Mzm 15:2-5)

Jakarta,  23 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 23, 2009, in Renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: