Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi

“Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi”

(Kej 12:1-9; Mat 7:1-5)

ROMO MARYO

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Mat 7:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Apa yang terjadi dalam proses pengadilan di ‘meja hijau’ kantor pengadilan pada umumnya orang saling menghakimi alias mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, tetapi juga ada yang berusaha  menutupi kesalahan atau penyelewengan yang telah dilakukannya. Proses pengadilan guna mencari kebenaran tersebut pada umumnya berlangsung lama, melelahkan serta membutuhkan beaya yang cukup besar. Maukah dalam hidup sehari-hari kita diwarnai oleh proses pengadilan atau saling menghakimi tersebut? “Jangan kamu menghakimi dan munafik” itulah kehendak atau perintah Tuhan kepada kita semua. “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”. Orang yang banyak dosa atau kesalahannya pada umumnya dengan mudah melihat dosa dan kesalahan sesamanya, sebaliknya orang baik dan benar pada umumnya akan lebih melihat apa yang baik dan benar dalam diri sesamanya. Mereka yang memiliki hobby atau kebiasaan melihat dan menyebarluaskan kesalahan atau kekurangan atau dosa orang lain pada umumnya dosa, kekurangan atau kesalahannya lebih besar dan dengan demikian juga akan semakin besar. Marilah dengan rendah hati dan jujur di hadapan sesama kita mengakui dan menghayati kekurangan, dosa atau kesalahan kita serta mohon kasih pengampunannya agar kita kemudian memiliki mata tubuh dan mata hati yang jernih dan dengan demikian dapat melihat dan mengakui kebaikan dan kelebihan orang lain serta tidak mudah menyalahkan atau menghakimi orang lain. Kami berharap kepada para orangtua, guru, pemimpin atau atasan untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau menghakimi anak-anaknya, anggotanya atau bawahannya melainkan lebih melihat dan mengakui kebaikan dan kelebihannya.

· “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”(Kej 12:1-3), demikian perintah atau firman serta janji Tuhan kepada Abraham, bapa umat beriman  Abraham pun melaksanakan perintah Tuhan tersebut dan ia menjadi berkat bagi keturunannnya, bagi kita semua, putra-putri Abraham. Kita dipanggil untuk memberkati bapa Abraham dan keturunannya, maka berarti kita dipanggil untuk saling memberkati, meneruskan berkat, kasih karunia dan rahmat Tuhan kepada sesama dan saudara-saudari kita. Kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada hendaknya menjadi berkat bagi sesama dan saudara-saudari kita. Hendaknya jangan saling mengutuk atau menyalahkan satu sama lain. Apa yang disebut berkat senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan, maka cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun hendaknya membahagiakan dan menyelamatkan orang lain. Abraham diminta untuk meninggalkan sana saudara dan rumah bapanya, artinya hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, dijiwai oleh Roh Kudus. Bagi kita hal itu berarti kita diminta dan dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kharisma atau spiritualitas yang kita peluk dan sedang kita geluti. Bagi mereka yang berkeluarga atau suami-isteri hendaknya hidup dan bertindak sesuai dengan janji perkawinan dan dengan demikian akan menjadi berkat bagi anak dan cucu-cucunya. Bagi kita para imam, biarawan atau biarawati berarti setia dan taat pada janji imamat atau kaul hidup bakti. Yang sedang belajar berarti setia belajar, yang sedang bekerja berarti setia bekerja, dst..

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia  Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm 33:12-13.18-19)

Jakarta, 22 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 23, 2009, in Renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: