Yesus Yang Mahakudus

HR Hati Yesus Yang Mahakudus : Hos 11:1.3-4.8c-9; Ef 3:8-12.14-19; Yoh 19:31-37
“Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air”

Ketika mulai terjadi kerusuhan antara lain pembakaran gedung gereja dan sekolah katolik beberapa tahun lalu kiranya cukup banyak orang merasa kesal dan marah. Namun di Situbondo, Jawa Timur, ketika gedung gereja dibakar ada seorang umat yang berkata ;”Gedung gereja dibakar, sekolah katolik juga ikut terbakar, dan hatiku pun juga terbakar untuk mencintai”. Gedung adalah harta benda duniawi yang mamang dapat hancur ketika terjadi musibah bencana alam seperti gempa bumi, banjir bandang atau kebakaran. Besi-besi beton yang kuatpun ketika terbakar juga akan meleleh, tak berdaya lagi, sebagaimana pernah terjadi dengan jembatan berkonstruksi baja di Salam, di atas sungar Krasak, perbatasan wilayah DIY dan Jateng beberapa tahun lalu, namun ada jenis besi yaitu emas murni ketika dibakar justru akan semakin nampak kemurniannya dan juga tidak hancur. Emas murni kiranya juga dapat menggambarkan hati yang suci, bersih dan murni, yang juga tidak mudah terpengaruh oleh aneka macam musibah yang mengganggu kehidupan bersama. Maka baiklah pada Hari Raya Hati Yesus Yang.Mahakudus hari ini kita mawas diri perihal hati kita masing-masing dengan bercermin pada Hati Yesus Yang Mahakudus.

“Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (Yoh 19:34)

Salib merupakan bentuk hukuman terberat dan pada umumnya dikenakan kepada para penjahat klas kakap. Yesus diperlakukan sebagai penjahat klas kakap, disalibkan, bahkan dalam puncak penderitaan di kayu salib lambungNya/hatiNya ditikam dengan tombak. Yang keluar dari lambung atau hatiNya ialah darah dan air. Darah dan air merupakan symbol kehidupan dan kesegaran. Salib yang bagi orang Yahudi dipercaya sebagai hukuman atau derita sangat berat alias kematian telah diubah oleh Yesus menjadi sumber kehidupan dan kesegaran. Dari deritaNya lahirlah aneka keutamaan-keutamaan yang menghidupkan dan menyegarkan, sebagaimana pernah Ia sabdakan :”Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (Yoh 16:21-22). Sebagai murid-murid atau pengikut Yesus Kristus marilah kita meneladan HatiNya, yang mengalirkan darah dan air, aneka keutamaan yang menghidupkan dan menyegarkan.

Di dalam hidup sehari-hari karena kesetiaan pada panggilan atau tugas pengutusan kita pasti akan menghadapi aneka tantangan, hambatan, derita dst.. yang berat dan dapat membuat kita merasa lelah dan lesu. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”(Mat 11:28-30), demikian sabda Yesus. Jika kita setia pada tugas, panggilan dan pengutusan yang dianugerahkan oleh Tuhan melalui pembesar atau atasan kita, maka meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan derita hendaknya tidak mengeluh, menggerutu atau kecewa. Aneka hambatan, tantangan dan derita akan membuat atau mendidik kita untuk menjadi lemah lembut dan rendah hati seperti Yesus. Maka baiklah aneka tantangan, hambatan dan derita tersebut kita hayati sebagai wahana untuk semakin meneladan Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, maka hadapi dan sikapi dengan lemah lembut dan rendah hati aneka tantangan, hambatan atau derita tersebut.

Dari dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita diharapkan lahir atau keluar segala sesuatu yang menghidupkan dan menyegarkan. Semakin banyak kenalan dan bergaul berarti semakin banyak teman atau sahabat, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita, demikian juga semakin tua atau tambah usia berarti semakin lembah lembut dan rendah hati. Maka marilah kita mawas diri: sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita begitu memikat dan menarik bagi orang lain untuk semakin lemah lembut dan rendah hati? Apakah kita atau mereka yang lebih berpengalaman atau lebih tua menjadi teladan hidup yang lemah lembut dan rendah hati?

“Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya “(Ef 3:12)

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Efesus di atas ini kebetulan juga menjadi motto saya ketika saya akan ditahbiskan menjadi imam, dimana saya pilih setelah mawas diri selama masa pembinaan menjelang atau mempersiapkan tahbisan imamat. “Di dalam Dia, di dalam Tuhan, kita beroleh keberanian atau kekuatan serta aneka macam keutamaan yang menghidupkan dan menyegarkan”, inilah pengalaman iman saya. Kutipan di atas ini kiranya mengajak kita semua untuk mawas diri sebagai orang yang terpanggil, entah terpanggil untuk hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster, menikah atau tidak menikah. Marilah kita sadari, hayati atau kenangkan kembali bahwa kita berani hidup berkeluarga, menjadi imam, bruder atau suster, menikah atau tidak menikah karena kita telah menerima anugerah dari Tuhan keinginan untuk mengabdiNya dalam dan melalui hidup terpanggil tersebut. Marilah kita masuki dan hayati hidup terpanggil dalam dan bersama dengan Allah, artinya sesuai dengan kehendak atau perintah Allah.

Menghayati panggilan sesuai dengan kehendak atau perintah Allah berarti hidup dan bertindak sesuai dengan aturan dan tatanan yang terkait dengan panggilan tersebut. “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,”(Ef 3:16-18). Kita dipanggil untuk hidup dan bertindak yang berakar dan berdasar di dalam kasih, yaitu kasih Kristus, dan untuk itu kita diharapkan memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. Kasih Kristus kepada dunia, kita semua, terjadi secara total dan tanpa batas; Ia telah mempersembahkan Diri sepenuhnya bagi keselamatan dunia dengan wafat di kayu salib.

Hidup dan bertindak dalam kasih Kristus berarti berani dengan jiwa besar dan rela hati `menyalibkan diri’ atau mempersembahkan diri seutuhnya demi keselamatan dunia, kebahagiaan dan keselamatan seluruh dunia dan seisinya, melalui aneka macam tugas, kewajiban dan pekerjaan kita masing-masing. Maka marilah kita kerjakan atau laksanakan aneka tugas, kewajiban dan pekerjaan kita dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan. Marilah setia dan disiplin dalam tugas, kewajiban dan pekerjaan kita masing-masing. “Berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri, sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10)

“Ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik” (Yes 11:3-4)

Jakarta, 19 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 19, 2009, in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Hello,

    Are you a part of the GKPB-MDC groep?

    GB,
    Michael
    (webmaster GKPB Netherlands)

  2. Apakah GKPB menggunakan Kalendarium Gerejawi Katolik ? sebab renungan diatas jatuh Pada Hari Raya Hati Kudus Yesus yang Mahakudus..
    mohon jawabannya

    • Tidak Pak Nicko,

      Renungan tersebut adalah kiriman email mailing list kami yang kebetulan dari renungan katolik!! kalau ada teman dari protestan, juga saya posting di blog ini!

      Kenapa pak? memangnya ada yang salah?

      Saya orang awam yang tak terlalu perduli seberapa jauh jarak antara protestan dan katolik, prinsifnya! sebenarnya kedua ajaran ini (protestan dan katolik) adalah satu! lihat juga http://renungankristen.blogsome.com

      Saya sendiri adalah masuk pada organisasi Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) Jemaat Sading, Mengwi, Badung, Bali.

      Jika ada yang perlu ditanyakan?

      silahkan kirim email ke
      IGB RAI UTAMA
      raiutama@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: