Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi”

(2Kor 9:6-11; Mat 6:1-6.16-18)

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.””Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”(Mat 6:1-6.16-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ketika terjadi musibah atau bencana alam seperti banjir bandang atau gempa bumi yang mengibatkan cukup banyak korban, ada pribadi atau organisasi dalam menyampaikan sumbangan atau bantuan dengan cara provokatif atau demi keuntungan sendiri, misalnya memasang atribut organisasi secara mencolok. Bahkan ada organisasi memanfaatkan kesemapatan tersebut untuk berkampanye. Perbuatan baik atau social menjadi komersial itulah yang terjadi. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk dengan tulus dan rendah hati dalam berbuat baik atau membantu orang lain. Yang utama dan penting adalah mereka yang harus dibantu atau ditolong memperoleh bantuan atau pertolongan. Marilah kita menyadari dan menghayati bahwa masing-masing dari kita dapat menjadi baik, damai dan sejahtera sebagaimana adanya pada saat ini tidak lain karena perbuatan baik orang lain, antara lain orangtua kita, para pendidik/guru atau pendamping kita maupun sesama , yang secara diam-diam atau tersembunyi telah berbuat baik kepada kita. Maka selayaknya jika kita berbuat baik kepada orang lain, yang penting orang lain tersebut menjadi baik dan kita tidak perlu ‘pasang bendera’ atau menyombongkan diri bahwa telah dapat berbuat baik. Hal yang sama juga berlaku pada diri kita sendiri ketika saya tumbuh berkembang menjadi baik karena matiraga hendaknya juga tidak menyombongkan diri, biarlah aneka perbuatan baik kita menjadi saksi bahwa kita adalah orang baik.

· “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9:6-7). Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Korintus ini kiranya baik menjadi permenungan dan pedoman atau acuan cara hidup maupun cara bertindak kita. Kita dipanggil untuk menaburkan kebaikan atau apa yang baik sebanyak mungkin sesuai dengan kemungkinan atau kesemapatan yang ada dengan rela hati, bukan karena paksaan. Marilah kita lihat dan perhatikan sesama atau saudara-saudari dalam lingkungan hidup maupun kerja kita, apakah ada orang atau pribadi yang membutuhkan kebaikan demi keselamatan atau kesejahteraan mereka. “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”, demikian peringatan Paulus. Memberi dengan sukacita akan memperteguh dan memperdalam sukacita yang telah ada, sebaliknya memberi dengan terpaksa yang berarti dengan sedih hati maka yang bersangkutan juga akan menjadi semakin sedih hati. Diri kita dan segala sesuatu yang menyertai kita atau yang kita miliki dan kuasai sampai ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui orang lain dengan sukacita dan rela hati, maka selayakn kita hidup penuh syukur dan terima kasih dengan menyalurkan atau meneruskan aneka anugerah tersebut kepada sesama kita dengan sukacita dan rela hati. Rela hati juga berarti murah hati, artinya hatinya dijual murah kepada siapapun atau memberi perhatian kepada siapapun, lebih-lebih atau terutama mereka yang sungguh membutuhkan perhatian kita. Kami berharap para orangtua atau orang dewasa, para pemimpin atau atasan dapat menjadi teladan atau saksi dalam menaburkan kebaikan dengan rela hati dan sukacita kepada siapapun juga.

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil” (Mzm 112:1-4).

Jakarta, 17 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 17, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: