Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”

(2Kor 6:1-10; Mat 5:38-42)

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Mat 5:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam perjalanan sambil nyopir saya mendengarkan kotbah melalui radio yang disampaikan oleh seorang haji. Dalam kotbah tersebut antara lain dikatakan :”Ada ajaran yang mengatakan ‘siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu’. Enak saja, kalau saya ditampar pipi kanan saya, maka saya tendang atau jotos orang tersebut, jika ada orang mencubit saya maka saya pukul orang tersebut…dst..”. Balas dendam yang lebih berat itulah yang sering terjadi dalam kehidupan bersama pada masa kini, antara lain terjadi suami membunuh isteri karena dituduh menyeleweng, para pejabat membunuh wartawan yang memberitakan kekurangan atau pelanggaran jabatan mereka dst.. “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”, demikian sabda atau perintah Yesus . Sebagai murid atau pengikut Yesus marilah kita hayati atau laksanakan sabda ini. Yesus sendiri telah menghayati apa yang Ia sabdakan, antara lain Ia mendoakan mereka yang telah menyalibkanNya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Kita sering merasa orang lain berbuat jahat kepada kita atau menyakiti kita, tetapi hendaknya disadari dan dihayati bahwa kebanyakan dari mereka tidak bermaksud berbuat jahat kepada kita, melainkan tidak tahu atas apa yang mereka lakukan atau perbuat. Dengan kata lain hemat saya pada umumnya kebanyakan orang berkehendak baik dan ingin berbuat baik, namun karena keterbatasan dan kelemahannya mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan atau perbuat menjadikan yang lain sakit atau menderita. Orang yang tidak tahu berarti tidak salah, dan sekiranya salahpun sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk mengampuni dan mendoakannya. Marilah kita hayati aneka perlakuan atau perbuatan orang lain kepada kita sebagai perwujudan kasihnya, dan kemudian kita tanggapi dengan berkata “terima kasih”.

· Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.” (2Kor 6:1), demikian nasihat Paulus. Paulus sendiri telah menghayati nasihat tersebut sebagaimana ia sharingkan :”Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,”(2Kor 6:3-4). Setia pada panggilan dan tugas pengutusan memang tidak akan pernah terlepas dari aneka macam bentuk penderitaan, kesesakan dan kesukaran. “Jer basuki mowo beyo” = untuk hidup mulia, damai sejahtera, orang harus berani berjuang dan berkorban, demikian kata pepatah Jawa. Sebagai pelajar atau pekerja yang baik, setia dalam belajar atau bekerja pasti akan menghadapi aneka penderitaan, kesesakan atau kesukaran. Marilah kita hayati atau hadapi aneka penderitaan, kesesakan dan kesukaran dengan penuh kesabaran. “Sabar adalah sikap atau perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 24). Kita hayati aneka penderitaan, kesesakan dan kesukaran yang tidak lain merupakan konsekwensi dari kesetiaan kita sebagai kasih karunia Allah, maka kita hayati dan hadapi dengan penuh kesabaran.serta ceria, gembira ria. Bukankah ketika kita menerima kasih karunia dari sesama kita maka kita ceria dan gembira ria. Dalam kesabaran, keceriaan dan kegembiraan kita akan mampu mengatasi aneka penderitaan, kesesakan maupun kesukaran.

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!”(Mzm 98:1-4)

Jakarta, 15 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 15, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: