Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat

“Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”

(2Kor 5:14-21; Mat 5:33-37)

“Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:33-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Antonius dari Padua, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ketika membuat rencana anggaran belanja ada perkiraan atau tambahan kurang lebih itu wajar, tetapi laporan belanja ada kurang lebihnya jelas tidak wajar alias jahat. “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakana tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dan bertindak jujur. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17). “Be honest” (=Jujurlah), itulah tulisan yang terpasang di pagar besi lapangan sepak bola Kolese Kanisus. Kejujuran memang sedini mungkin harus diajarkan dan dibiasakan kepada anak-anak, entah di dalam keluarga atau sekolah, dan tentu saja perlu teladan dari para orangtua atau para guru. Tentu saja kami berharap kejujuran sungguh menjadi kebiasaan hidup dan bertindak di dalam keluarga, sebagai basis atau dasar hdup bersama. Kami percaya jika telah terjadi kebiasaan hidup dan bertindak jujur di dalam keluarga, maka seluruh anggota keluarga, bapak-ibu dan anak-anak pasti akan menjadi saksi atau teladan kejujuran dalam hidup bersama di luar keluarga; dan mungkin tidak hanya menjadi teladan tetapi juga berjuang memberantas aneka kepalsuan dam kebohongan yang masih marak dalam kehidupan dan kerja bersama pada masa kini. Jujur merupakan nilai pada diri sendiri, artinya jika kita hidup jujur dimanapan dan kapanpun serta dalam keadaan dan kondisi apapun, tanpa diperintah orang lain, maka kita akan tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman. Dengan kata lain dengan hidup dan bertindak jujur kita sungguh diuntungkan, sebaliknya jika tidak jujur maka kita sungguh akan dirugikan.

· “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5:21). Kutipan ini kiranya menggambarkan apa yang telah dilakukan oleh Yesus dan juga menjadi inspirasi St.Antonius dari Padua, yang bekerja keras menjalankan tugas sampai lupa makan dan kurang tidur. “Dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”, inilah yang terjadi dalam diri Yesus dan juga St.Antonus. Banyak orang terkesan dan terkesima terhadap wejangan, kotbah maupun nasehat St.Antonius, bahkan diimani bahwa ikan-ikan pun mendengarkan kotbahnya. Kita semua kiranya dipanggil untuk meneladan St.Antonius, antara lain dengan hidup dan bertindak sedemikian rupa sehingga mengesan dan memikat orang lain dan mereka yang terkena dampak hidup dan cara bertindak kita semakin ‘dibenarkan oleh Allah’, artinya semakin dekat dan mesra dengan Allah, semakin suci atau semakin beriman. Marilah kita bekerja keras dalam melakanakan tugas pengutusan atau kewajiban kita. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Jika sedang bekerja marilah kita sungguh bekerja dan bila sedang belajar marilah kita sungguh belajar, sehingga semakin terampil dalam bekerja atau belajar. Orang yang terampil dalam melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaannya kiranya mengesan dan memikat bagi siapapun yang melihatnya. Sebaliknya para pemalas akan membuat orang lain muak dan mudah marah dan dengan demikian menjadi batu sandungan bagi orang lain, menjadi pendorong atau motivasi bagi orang lain untuk berdosa.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat” (Mzm 103:1-4),

.Jakarta, 13 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 13, 2009, in Renungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: