Pergilah dan beritakanlah

“Pergilah dan beritakanlah”

(Kis 11:21b-26; Mat 10:7-13)

Romo maryo

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu” (Mat 10:7-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Barnabas, Rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Rasul berarti utusan, maka seseorang disebut rasul berarti yang bersangkutan memiliki tugas utama sebagai yang diutus. Hidup beriman atau beragama juga memiliki dimensi rasuli atau pengutusan. Sebagai yang diutus pada umumnya banyak bepergian untuk menyampaikan pesan dari yang mengutus. Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari kiranya untuk bepergian, entah jarak dekat atau jauh alias bergerak terus menerus. Sebagai orang beriman dalam bepergian atau bergerak kemanapun dan dimanapun kita dipanggil untuk memberitakan bahwa “Kerajaan Sorga sudah dekat”. Jika Yesus mengatakan bahwa dalam menjalankan tugar rasuli tidak boleh membawa bekal dan lain-lain, kiranya yang dimaksudkan adalah ‘merasul melalui cara hidup dan cara bertindak’ kita. Sejauh mana cara hidup dan cara berindak kita memberitakan ‘Kerajaan Sorga sudah dekat’?, artinya melalui cara hidup dan cara bertindak kita dapat dilihat dan dirasakan karya Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini dan siapapun yang kena dampak atau pengaruh hidup dan cara bertindak kita semakin beriman kepada Allah? Kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kemanapun ‘menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati atau lesu, mentahirkan orang kusta, mengusir setan’. Dalam situasi saat ini kiranya cukup banyak orang sakit (sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh/phisik) maupun lesu dan tak bergairah. Marilah dengan rendah hati dan lemah lembut kita dekat, sapa dan tolong mereka yang sakit dan lesu atau tak bergairah. Sakit atau lesu kiranya karena pengaruh setan atau karya setan, maka bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu menyembuhkan atau menggairahkannya, karena Tuhan senantiasa menang atas setan.

· Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan” (Kis 11:23-24). Rasul memang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman; secara yuridis fungsi rasuli ini di dalam Gereja Katolik ada di tangan Uskup, maka mereka yang terpilih menjadi Uskup kita imani sebagai pribadi yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Para Uskup juga bertugas untuk membawa orang kepada Tuhan. Kiranya tugas para Uskup membutuhkan bantuan dan kerjasama kita, umat Allah, maka kita semua juga dipanggil untuk menjadi baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Hanya dengan menjadi pribadi yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman kita dapat membawa orang kepada Tuhan. Tanda bahwa orang itu baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman adalah yang bersangkutan berudi pekerti luhur, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: “ekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Seorang rasul senantiasa juga dapat melihat kasih karunia Allah dalam diri sesama dan saudara-saudarinya, antara lain melihat keutamaan-keutamaan tersebut dalam diri sesamanya.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)

Jakarta, 11 Juni 2009

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on June 11, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: