Ilustrasi dan Renungan Part-6

PERJUANGAN

Warta FA

==============

‘duh…dia cantik sekali’ aku berguman dalam hati. Sambil membelai

rambutnya, aku menyapa dan memberi salam padanya.

Sudah lama kita tidak kebaktian bareng, terakhir kali kebaktian New

Year’s Eve di Hyatt S’pore. Entah kenapa, aku suka sekali kalo bisa

kebaktian bersama-sama dengannya. “Yen, sudah makan belum?” Pertanyaan klasik yang selalu aku tanyakan. Dia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Senyumannya membuat aku nggak bisa apa-apa.

Kemudian ia mulai membuka tas dan mengambil HPnya dan meminta aku untuk membaca beberapa SMS dari temen-temennya. Sambil membaca, entah kenapa mata ku mulai berkaca-kaca. Untung dia tidak mengetahui hal ini.

Selesai membaca aku melihat dia tersenyum manis dan seneng. Semakin dia tersenyum, semakin hatiku sedih dan diam-diam air mataku mengalir.

Dalam hati ku, ‘untung gelap…’ kita berdua tenggelam dalam event

pembukaan NPC di Istora Senayan, Jakarta.

Nggak kerasa, sudah masuk hari terakhir NPC. Didalam taxi, kita

masing-masing sibuk dandan. Aku paling suka melihat dia memakai Lipstik.

Selalu tepat dan tidak meleset🙂

Ia mulai membuka percakapan. “Cie, aku nggak tau kapan lagi kita bisa ketemu.” Kemudian ia mulai berkata-kata seakan-akan kita akan lamaaa sekali untuk dapat bertemu lagi. Sambil memegang pipinya, aku berkata :

“Jika kita bertemu lagi, mata mu pasti sudah sembuh! Kamu akan melihat betapa indahnya dunia ini. Satu hal yang paling penting…(aku menarik tangannya untuk memegang pipiku) kamu akan melihat betapa cantiknya cie-cie mu ini……” ‘Hahahahahahah…” Kita berdua tertawa terbahak-bahak…….

Tapi, tiba-tiba kita terdiam dan tenggelam dengan pikiran

masing-masing.

Aku mulai berdoa dalam hati, ‘Tuhan kuatkan aku…jangan sampai aku

bersedih dihadapannya. Aku harus menguatkannya, aku tidak boleh sedih didepan dia. aku harus menghibur dia…….harus!!!’

Kemudian ia memengang tangan kananku, membuat aku tersentak dan cepat-cepat membasuh air mata dipipi dengan tangan kiriku. Lalu ia berkata “Udah mau sampai belum?” aku berkata “belum”

katanya “Kita doa yuk!” Aku membelai rambutnya dan memegang tangannya

….tapi akhirnya kita hanya bisa tenggelam dalam pelukan

dan………….

Sambil berdoa aku mulai membayangkan: bagaimana ia dandan, bagaimana ia menekan tombol HP untuk SMS, bagaimana ia mencuci baju sendiri, membereskan baju, bagaimana ia mempertahankan imannya dihadapan setiap orang yang ia temui, bagaimana ia menghadapi proses-proses yang Tuhan ijinkan dan bagaimana ia harus melayani dengan tidak tergantung pada orang lain. Bagaimana iya dapat melakukan hal itu sendiri dengan mata yang buta total? bagaimanaaaaaaaaa????

* * * * * *

Itulah yang disebut PERJUANGAN. Setiap dari kita pasti sedang dalam

perjuangan untuk mengadapi segala sesuatu didepan kita. Mungkin berjuang dalam hal : sakit-penyakit, kemiskinan, percaya diri, ato segala macam pergumulan yang ada.

Satu hal yang harus kita tanamkan didalam hati kita :

Tetap berharap kepada Tuhan dan BERJUANG! Kita pasti akan melihat

banyak perkara-perkara yang besar dan ajaib yang Tuhan kerjakan didalam setiap segi kehidupan kita.

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah

dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Rm 5:5)


Dibesarkan dalam Kasih

==============

“Keluarga,” kata Ibu Teresa, “adalah tempat untuk belajar mengenal Yesus. Tuhan telah membuat keluarga yaitu suami istri dan anak-anak menjadi KasihNya”

Dalam tulisannya tentang Kasih Ibu Teresa menulis , “Suatu kali seorang wanita datang kepada saya dalam kesedihannya dan mengatakan bahwa anak perempuannya telah kehilangan keluarga.

Dan semua kesedihan itu berubah menjadi kebencian yang tertuju kepada ibunya yaitu wanita tadi.

“Jadi saya berkata kepadanya, ‘Sekarang pikirkanlah sesuatu yang anakmu sangat sukai pada waktu dia masih kecil. Mungkin bunga atau makanan tertentu. Berikanlah semua itu tanpa mengharapkan balasan.’

“Dan wanita itu mulai melakukannya , dia memajang bunga kesukaan anaknya di meja dan juga membuat makanan kesukaannya. Dan dia tidak mengharapkan apapun dari anaknya itu.

“Beberapa hari kemudian anaknya berkata padanya, ‘Ibu, kesinilah ibu, aku mencintaimu ibu, terima kasih.’

“Karena diingatkan akan kenangan indah masa kecilnya, anaknya menjadi terhubung kembali ke keluarganya. Tapi dia harus mempunyai kenangan indah di masa kecilnya supaya dia bisa kembali pada kasih ibunya.”

Hari ini , pikirkanlah cara-cara yang indah untuk mengingatkan keluarga anda pada kasih anda kepada mereka; lakukanlah!

Nyanyian Seorang Kakak

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee, USA.

Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua.

Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya yg

pertama yg baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yg masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh di luar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.

Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia

merengek terus! “Mami,… aku mau nyanyi buat adik kecil!”

Ibunya kurang tanggap. “Mami, ….aku pengen nyanyi!” Karen terlalu

larut dalam kesedihan dan kekuatirannya. “Mami, ….aku kepengen

nyanyi!” Ini berulang kali diminta Michael bahkan sambil meraung

menangis.

Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. Baru ketika harapan

menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!

Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan!

Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: “Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya!” Suster terdiam menatap Michael dan berkata, “Tapi tidak boleh lebih dari lima menit!”

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus

lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya…… lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “…..You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey….” Ajaib! Si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

“You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my

sunshine away.”

Denyut nadinya menjadi lebih teratur.

Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan

terus,….terus Michael! “Teruskan sayang!” bisik ibunya….

“The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my

hands…..” dan……Sang adikpun meregang, seolah menghela napas

panjang.

Pernapasannya lalu menjadi teratur…….. “I’ll always love you and

make you happy, if you will only stay the same…….”

Sang adik kelihatan begitu tenang …. sangat tenang.

“Lagi sayang!” bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael

terus bernyanyi dan…. adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan

damai……. lalu tertidur lelap.

Suster yg tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak

menyaksikan apa yg telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian

yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan

pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yg menimpa

pasien yg satu ini.

Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Mujizat Ilahi yg menolongnya. Dan ingat Mujizat Ilahipun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Dan ternyata Mujizat Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak

Kecil seperti Michael untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi. Nyanyian tulus membawa mukjizat.


Melawan Hantu Ketakutan

==============

Saya Melda, saya mengalami phobia yaitu ketakutan yang berlebihan sejak saya anak-anak hingga saya ada di bangku SMA. Kejadian itu berawal ketika saya dan ibu pergi untuk mengobati seorang ibu yang menderita satu penyakit. Saat itu ibu tersebut dalam keadaan kritis, artinya kami seperti menunggu kematian orang tersebut.

Waktu itu saya berdiri pada posisi kepala ibu itu, mata saya dan mata ibu tersebut bertatapan. Saya melihat mata ibu itu yang sedang melotot ke atas. Akhirnya ibu itu mengatupkan matanya dan meninggal. Setelah ia menutup matanya untuk yang terakhir kali, ada suatu ketakutan yang luar biasa masuk dalam diri saya. Ada ketakutan yang tidak bisa saya ceritakan merasuki diri saya. Dunia saya sepertinya berubah hari itu.

Sejak hari itu jika saya melihat kursi, meja, pigura, kotak atau apapun, yang saya lihat bukanlah bentuk benda atau nama barang itu tapi yang saya lihat adalah wajah ibu yang telah mati itu dan juga peti mati. Tidak hanya itu, jika saya tidur saya ingin kondisi kamar saya dalam keadaan terang benderang, tidak dihiasi apapun dan tidak ada barang apapun di kamar itu kecuali satu ranjang dan lampu yang cukup terang. Saya juga tidak bisa tidur dalam keadaan seorang diri.

Pernah satu waktu orang tua menemani saya tidur. Sewaktu dilihatnya saya telah tertidur, orang tua meninggalkan saya sendiri. Tapi malamnya saya terbangun dan saya melihat bahwa orang tua saya tidak ada lagi di kamar saya, saya langsung keluar dari kamar dan mendobrak pintu kamar orang tua saya untuk masuk ke kamar mereka. Semua ketakutan ini membuat hidup saya tersiksa, saya tertekan sekali dengan ketakutan yang berlebihan ini sehingga ini membuat saya berontak, saya putus asa. Saya seakan ingin menyudahi hidup saya, saya merasa tidak kuat mengalami pergumulan ini setiap hari.

Saya mengalami ketakutan ini sekitar sepuluh tahun lamanya. Akhirnya saya sampai pada satu titik dimana saya menyadari bahwa saya harus bebas dari semua ketakutan ini. Yang saya lakukan pada waktu itu adalah datang dan berdoa pada Tuhan. Waktu itu saya berdoa seorang diri di kamar doa tanpa didampingi siapapun. Saya mulai berdoa dan meraung seperti orang yang sedang kesakitan saya meraung pada Tuhan. Saya meminta : “Tuhan malam hari ini saya ingin Tuhan tuntaskan semua ini”.

Harapan Melda tidak terjadi dengan mudah.

Ketika saya berdoa, jawaban itu tidak langsung saya alami.artinya ketika saya berdoa saya langsung mendapatkan kebebasan. Ada satu pertarungan yang saya alami saat itu. Di satu sisi roh dan hati saya ingin berdoa tapi disisi yang lain saya mengalami ketakutan. Terjadi pertarungan, ketika saya mulai memejamkan mata, saya merasa di belakang seperti ada yang datang dan ingin memegang kepala dan pundak saya. Bukan pertarungan yang mudah dan gampang waktu itu karena saya bertarung melawan ketakutan saya sendiri. Saya berusaha melawan ketakutan yang menguasai saya. Pada klimaksnya di satu titik saya berhasil untuk tidak keluar dari ruang doa atau berhenti berdoa. Saya benar-benar minta kepada Tuhan, saya katakan : “Tuhan, saya tidak akan tidur malam ini sampai Tuhan menjawab doa saya”. Dan Tuhan akhirnya menjawab doa saya.

Semenjak malam itu saya mengalami perubahan hidup yang luar biasa sekali. Saya tidak merasa ketakutan lagi. Sya tidak takut lagi yang namanya orang mati, peti mati atau kondisi yang gelap. Saya tahu itu semua bermula dari satu pribadi yang menyembuhkan saya yang memberikan kelepasan dan kemenangan dalam hidup saya yaitu Tuhan yang saya sembah. Tidak ada satu pribadipun yang saya ketahui yang dapat menyembuhkan saya kecuali Tuhan Yesus. Dialah penyembuh saya.

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan,

melainkan roh yang membangkitkan kekuatan,

kasih dan ketertiban. (2 Timotius 1:7)


Puji Tuhan, pemilik rumah bordil bertobat !!

From: “dronnelly”

==============

Hai saudara saudari yang dikasihi dalam Kristus,saya mendirikan group ini pada bulan september 2002 dengan tujuan agar bisa mendapatkan gambar2/video2/cerita2 tentang seks dan saya berhasil,total gambar/video clips/cerita2 yang saya download dari internet berjumlah sekitar 13GB (gigabyte).sejauh ini member group ini sudah mencapai 5700an orang.

jauh sebelum ini saya memang sudah menjadi seorang umat Kristen tetapi tidak pernah sungguh2 melaksanakan ajaran2 Tuhan,hal2 berdosa selalu saya lakukan walau ada rasa takut akan hukuman Tuhan, tetapi godaan iblis lebih besar.Saya seorang yang sudah berumahtangga dan memiliki 2 anak serta istri yang setia.Saya mengalami banyak masalah dalam kehidupan saya baik itu pekerjaan saya/keuangan saya/kesehatan anak2 saya/dan juga keadaan istri saya.

Sebelum menikah saya rajin ke gereja dan ikut kelas pembaptisan (sesama org kristen yg mau nikah hrs dibaptis bila ingin dinikahkan oleh pendeta),namun setelah itu saya menjadi malas2an dan akhirnya timbul banyak masalah2 dan saya selalu tidak pernah merasakan sukacita dalam hidup saya.

Atas dorongan orangtua dan istri agar saya lebih sungguh2 beribadah kepada Tuhan,maka saya mulai aktif ke gereja lagi dan mulai sungguh2 mengikuti khotbah2 pendeta.ternyata saya mulai merasakan perubahan dalam hidup saya,keresahan/stress yang saya rasakan selama ini seakan berangsur hilang dan terasa jadi ringan walaupun masalah itu belum selesai tetapi saya merasakan bahwa Tuhan mulai melakukan pekerjaannya dan mendengar doa saya walaupun masih ada yang sudah

saya minta berkali-kali lewat doa tetapi seakan Tuhan belum mengabulkannya.

Maka saya lakukan introspkesi diri saya sendiri bahwa Tuhan melakukan itu pasti ada sebabnya,mungkin ada yang belum saya lakukan dalam ajaran dan perintahNya.Maka saya teringat akan gambar2 porno/cerita2 seks/video2 clips porno yang saya kumpulkan selama ini dan tepatnya kemaren tgl 09 Juni 2003 saya hapus seluruhnya dari harddisk saya dan hari ini baru saya teringat bahwa saya masih ada group ini yg menyediakan akses bagi orang utk terjerumus ke dalam dosa,maka hari ini juga saya hapus seluruh isi group ini dan saya jadikan tempat untuk membahas tentang kehidupan kita dan campur tangan Tuhan Yesus.

Saya tau pasti ada yg tidak senang dan marah pada saya atau mengatakan saya sok suci/munafik,tetapi saya yakin mulai hari ini juga saya percaya akan banyak member group ini yang jadi sadar dan mungkin saja mulai percaya Yesus.”Halleluya”.

Percayalah bahwa kita hanya manusia biasa yang selalu melakukan dosa akan tetapi kalau kita selalu tekun dan rajin mengikuti ajaran dan perintah2Nya maka kita akan selalu diingatkan/ditegur saat akan melakukan dosa.Puji Tuhan.

Sekian dari saya dan saya harap member group ini akan lebih banyak dari pada member sebelumnya.Bawalah teman2 anda ke group ini dan mulailah kita berbuat sesuai kehendakNya maka Dia juga akan berbuat sesuai kehendak kita.Amin

Saudara-Saudara Kembar Kedamaian

Penulis: Gede Prama

==============

Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tidak mengenal ampun ini, dari dalam mobil kadang saya bertanya : adakah kedamaian di sini ? Lebih-lebih di jalan raya, raja jalanan seperti bus kota berhenti dan lari seenak perutnya, pemakai jalan hanya mementingkan satu keperntingan : dirinya sendiri, di kantor kita bertemu tidak sedikit muka yang haus uang dan promosi jabatan. Tidak jarang terjadi, rekan dan sanak saudara yang baru-baru mengenal Jakarta banyak yang bertanya keheranan : ?bisa hidup damai dalam lingkungan seperti ini ??.

Entah Anda setuju atau tidak, bagi saya it?s all in the mind. Mau di

Jakarta, Bandung, Bali atau di danau Toba sana, kedamaian hanya akan hadir dalam fikiran yang mau memproduksi kedamaian. Persoalan menjadi lain dalam fikiran yang memilih benar dibandingkan bahagia. Dalam fikiran jenis terakhir, orang membuat ukuran di kepalanya, untuk kemudian memaksa orang lain agar ukurannya sama. Begitu ada orang yang berbeda, disebutlah mereka sulit, brengsek, tidak tahu diri, tidak mau mengerti, keras kepala,

dll.

Dalam keadaan demikian, tentu saja kedamaian akan jarang berkunjung.

Yang lebih sering berkunjung malah marah, emosi, stres dan frustrasi.

Belajar dari ini semua, yang terpenting sebenarnya bukan apa yang

terjadi, namun bagaimana kita mengolahnya dalam fikiran. Tahi sapi bagi orang kota adalah kotoran, namun bagi petani ia adalah pupuk. Mobil mewah bagi banyak orang adalah lambang keberhasilan, namun bagi orang lain adalah pintu menuju godaan-godaan hidup yang sulit dipecahkan. Demikian juga dengan semua hal yang lewat di depan mata dalam seluruh perjalanan hidup. Ia menjadi berkah atau musibah, bukan disebabkan oleh kejadiannya, namun oleh hasil olahan fikiran.

Persoalannya sekarang, siapakah saudara-saudara kembar kedamaian ?

Terutama, yang bisa membantu fikiran agar lebih mudah memproduksi kedamaian

? Anda boleh berteori dengan teori Anda sendiri, namun pengalaman saya menemukan sejumlah saudara kembar kedamaian.

Saudara kembar pertama adalah kuantitas dan kualitas rasa syukur

terhadap hidup sang kehidupan. Ada orang yang menunggu sampai punya uang banyak, rumah mewah dan mobil wah agar bersyukur. Kalau demikian keadaannya, saya khawatir kita tidak akan pernah bersyukur. Sebab, keinginan untuk memiliki harta bergerak seperti kita mengejar bayangan. Tidak ada habis-habisnya.

Orang-orang seperti ini, saya khawatir, jarang sekali menemukan

kedamaian.

Untuk itulah, saya sering mendidik diri agar bersyukur sekarang pada

detik ini, pada tingkat kekayaan yang kita miliki hari ini, bersama istri dan anak-anak yang kita punya di rumah, serta di tempat kita berada

sekarang ini. Bilamana perlu, katakan cukup pada uang dan kekayaan. Berperilaku sedikit sombong pada hal-hal yang berbau materi, untuk kemudian mensyukuri dengan penuh nikmat apa-apa yang kita miliki hari ini. Kedamaian ? Ia akan datang dan bersahabat dengan sendirinya pada kita.

Saudara kembar kedamaian yang kedua adalah cinta. Inilah berkah Tuhan yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun, siapapun dan dimanapun. Cinta bisa merubah segalanya, bisa melakukan banyak sekali hal. Dalam kalimat cantik Mel Gibson di film The Theory of Conspiracy : ?love gives us wing?. Ia bisa membuat kita terbang !. Meninggalkan banyak sekali beban seperti sakit, stres, frustrasi dan kemauan bunuh diri. Oleh karena itulah, setiap kali saya duduk dalam posisi sebagai terapis, langkah pertama saya adalah mengembalikan orang ke posisi awal : mencintai dirinya sendiri. Langkah yang paling berat namun paling menentukan. Begitu seseorang sampai di

sini, maka sayappun mulai tumbuh di sisi kiri maupun kanan.

Banyak orang bertanya, apa itu cinta ? Anda boleh saja punya pengertian sendiri yang sederhana maupun kompleks, namun bagi saya cinta berarti menerima apa adanya. Setiap keinginan untuk merubah, merekayasa, membentuk dan sejenisnya ? lebih-lebih dilakukan dengan cara yang keliru ?

mereduksi kualitas cinta. Saya memang belum bisa mempraktekkannya secara sempurna, namun akar cinta ada pada keikhlasan untuk menerima apa adanya. Begitu keikhlasan itu ada, maka Anda sudah memegang seluruh bagian dari pohon cinta. Entah itu ikhlas menerima istri/suami, pekerjaan, anak-anak, harta dan semuanya. Apa lagi menerima orang tua. Jarang sekali orang tua yang

membaca psikologi menjadi orang tua efektif dulu, baru kemudian menikah dan punya anak. Sering saya kemukakan di depan banyak orang, orang tua adalah salah satu hal yang tidak bisa kita pilih dalam kehidupan. Satu-satunya pilihan adalah menerimanya.

Untuk mencintai, Anda memang tidak perlu mencium semua orang, mendanai semua panti asuhan, atau tindakan-tindakan ?besar? lainnya. Membiarkan orang hidup di luar prasangka dan kritik-kritik kita, memiliki nilai cinta yang lebih besar dari sumbangan sebesar apapun. Begitu Anda sampai pada akar cinta ini, jangan terlalu khawatir dengan kedamaian. Ia akan otomatis ditarik secara amat mudah oleh cinta.

Saudara kembar kedamaian terakhir adalah mengendalikan nafsu untuk menang.

Sebagaimana pernah ditulis Chuang Tzu, keinginan menang yang berlebihan melenyapkan kekuatan. Bagi saya, setiap bentuk paksaaan ? ke diri sendiri, ke orang lain maupun kepada kehidupan ? justru menimbulkan efek memperlemah. Kedamaian dan kemajuan ada pada sikap yang lentur. Sebagaimana air, bukankah dengan lentur kita menjadi kuat ?***

If I Walk With Thee…..

Sejak di PHK dari perusahaan asing tempat saya bekerja, saya mencari nafkah dengan menjadi guru bhs Inggris di rumah. Murid saya dari bermacam-macam latar belakang, ada anak SMU, mahasiswa bahkan karyawan. Salah satu murid saya, namanya Daniel. Dia termasuk anak yang tidak pandai. Nilainya selalu paling jelek. Tetapi dia anak yang rajin, tidak pernah putus asa. Kehidupan rohaninya pun cukup baik, dia rajin ke gereja dan rajin berdoa.

Daniel belajar bhs Inggris karena dia ingin sekali bekerja di luar

negeri.

Walapun sebetulnya keluarganya sudah menganggap dia gila, karena

Keluarganya tahu bahwa dia bukan seorang anak yang pandai …. Dan untuk bekerja diluar negeri pada perusahaan yang akan dilamar oleh Daniel, standar bhs Inggrisnya harus excellent. Jadi keluarganya selalu menyuruhnya untuk melupakan impiannya dan menyuruhnya bekerja di Indonesia saja. Apalagi biaya yg harus dikeluarkan oleh keluarganya lumayan besar untuk membiayai keberangkatannya.

Tetapi Daniel tetap berusaha keras dengan belajar dan berdoa.

Kalau pada anak normal 3-5 bulan saya mengajar sudah terlihat

kemajuannya, ibaratnya seekor burung, maka sudah bisa berkicau walaupn belum sempurna.

Tapi Daniel ini, sudah 3-5 bulan kondisinya tetap saja “bisu”, tidak

Ada satu katapun yang bisa dia katakan, yang membuat saya sukacita.

Saya tetap dengan sabar mengajar dia, tapi sesudah 7 bulan tidak ada

kemajuan yang berarti saya akhirnya mulai putus asa. Saya mencoba

berbicara dengan dia dari hati ke hati. Maksud saya supaya dia melupakan impiannya untuk bekerja di luar negeri karena kemampuannya belajar bhs Inggris sangat kurang, dan saya juga akan meminta dia untuk berhenti les dari saya, karena saya sungguh2 sudah putus asa. Saya kan juga tidak mau dibilang menerima

uang les dengan cuma2 tanpa ada kemajuan dari sang murid.

Setelah saya utarakan semua uneg2 saya, saya melihat raut muka Daniel yang sedih, saya pun sedih … bagaimana tidak, 7 bulan sudah menjadi murid saya dan saya minta dia untuk berhenti belajar karena saya putus asa ….

Tetapi jawaban Daniel sungguh “menampar” iman kepercayaan saya sebagai seorang Katolik yang percaya dan bergantung pada Yesus … Daniel berkata:”Ibu, kalau saya berjalan dengan Tuhan, saya percaya saya akan mendapatkan pekerjaan ini”.

Saya sungguh malu, bagaimana tidak … Daniel seorang muda dan sudah mempunyai keyakinan iman yang menakjubkan. Saya berkata:”OK, you can joint my class again if you can say that words once again in a good English!”

(baiklah, kamu boleh belajar lagi sama saya kalau kamu bisa mengatakan sekali lagi perkataanmu tadi dalam bhs Inggris yang baik) – ini dengan maksud bahwa kalau dia tidak bisa mengatakan dengan baik, maka saya mempunyai alasan untuk menyuruh dia berhenti belajar (dasar saya sudah putus asa). Tapi tidak saya sangka Daniel mengulangi perkataannya dengan bhs Inggris sempurna:”Mam, if I walk with Thee, I believe that I can get this job”. Rupanya perkataan ini selalu diulang2 Daniel untuk membangkitkan iman dia pada saat dia sendiri putus asa …. (makanya pada waktu saya minta dia

mengatakannya dlm bhs Inggris dengan lancar dia berkata … jadi bukan krn dia pintar, tetapi karena dia sudah hapal …)

Maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengajarnya lagi, setelah

belajar selama 12 bulan, tibalah waktunya Daniel untuk maju interview di perusahaan asing tempat dia melamar. Saya sebetulnya tahu bahwa bhs Inggrisnya belum sempurna sekali dan masih dibawah standar yang ditentukan oleh perusahaan, tapi kemauan dan iman dia bahwa dia akan ditolong Tuhan membuat saya pun bisa melepas dia interview dengan hati besar. Pada hari dia interview saya berdoa terus, saya mohon kepada Tuhan agar Tuhan tidak mengecewakan Daniel yang sungguh bergantung pada Tuhan.

Siang jam 2, Daniel tilpon saya dan mengatakan dia LULUS! Puji Tuhan!! Saya menangis terharu, saya merasa pasti bahwa tangan Tuhan yang sudah menolong Daniel, bukan karena saya guru yang hebat, atau bukan karena kemampuan Daniel berbahasa Inggris. Tapi betul2 karena tangan Tuhan … Saya minta dia datang ke saya dan menceritakan semuanya secara detail. Ternyata si interviewer, yaitu orang asing yang seharusnya menginterview Daniel pada hari itu tidak ada, karena harus pulang kampung ke London karena ibunya meninggal, dan penggantinya adalah orang Indonesia yang nama

Keluarganya atau marganya sama dengan Daniel … yaitu “Sianturi”. Jadilah interview itu bukan bhs Inggris full … tapi seperti ngobrol ngalor ngidul campur2 bhs Inggris dan Batak …… Saya PERCAYA bahwa ini bukan suatu KEBETULAN,

Yaitu KEBETULAN orang asingnya harus pulang kampung, dan KEBETULAN penggantinya “saudara sekampung” Daniel …. TAPI INI SUNGGUH MUJIZAT TUHAN ….

Akhirnya, tentu saja Daniel lulus interview dan sekarang dia sudah

Bekerja di Miami. Setiap kali telepon saya, Daniel selalu saya ingatkan bahwa dia mendapatkan pekerjaan ini hanya karena kebaikan Tuhan …. bukan kehebatan dia …. (karena dia memang bukan anak yang pandai) dan juga bukan kebetulan. Daniel menyadari itu dan selalu berkata:”Don’t worry Mam, I always walk with Thee …”

“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak” Maz 37:5


Saya hanya seorang kusta

From: Gani

==============

Kami duduk melingkari meja makan yang sangat besar. Suara musik dari TV mengalun mendendangkan lagu-lagu lama. Pembicaran kami meloncat dari satu hal kelain hal. Sebetulnya kami berkumpul untuk membahas sebuah tema untuk acara beberapa bulan mendatang, namun tampaknya tema pembicaraan beralih dari acara ke pengalaman hidup. Pergulatan hidup selama ini.

Dua temanku adalah imam yang telah beberapa lama meninggalkan hidup imamatnya. Dia sudah menikah dan mempunyai anak. Kulihat kehidupannya sekarang sudah mapan dan bahagia. Dia menceritakan beratnya hidup setelah meninggalkan pasturan. Bukan soal ekonomi melainkan pandangan masyarakat. Menurutnya orang-orang yang dulu mempunyai hubungan cukup dekat dengannya sekarang pergi menjauh. Pernah ada seorang ibu yang dulu sangat baik padanya namun suatu hari ketika berpapasan denganya dia memalingkan

wajah. Jadi jangankan menyapa melihatpun orang tidak mau. Menurutnya itu sudah menjadi resiko yang harus diterima dari sebuah keputusan. Teman ini melanjutkan sharingnya. Pernah dia akan merayakan ulang tahun anaknya di sebuah tempat, tapi karena dia seorang bekas imam maka dia ditolak. Ini sangat memedihkan. Begitu burukkah dirinya sehingga orang tidak mau lagi bertegur sapa dengannya? Dia tidak bisa menggunakan sebuah tempat, meski sudah membayar uang muka? Tapi semua itu dia dilihatnya secara positif, bahwa orang yang sekarang membencinya itu dulu sangat mencintainya. Mereka kecewa akan keputusan yang diambilnya.

Sharing terus berlangsung. Aku bayangkan seandainya aku jadi dirinya. Betapa pedih hatiku ditolak oleh banyak orang, dijauhi sebab aku orang yang sangat berdosa. Bahkan melihatpun orang tidak mau. Apakah ini tidak ubahnya seorang kusta pada jaman Yesus hidup? Mereka menderita bukan hanya disebabkan oleh penyakitnya terlebih oleh sikap masyarakat yang menyingkirkannya.

Sambil mengunyah makanan yang cukup mewah aku merenungkan peristiwa Ayub. Dia adalah seorang kaya raya, namun dalam sekejap semua musnah dan dirinya pun ditimpa penyakit kusta. Semua orang meninggalkannya bahkan istrinyapun turut meninggalkan. Aku lihat teman-teman di depanku tidak ubahnya seperti Ayub. Memang bedanya Ayub menderita bukan karena sebuah keputusan. Dia menderita sebab setan memberikan penderitaan. Diluar kehendak atau keputusan bebas Ayub. Sedangkan teman-temanku menderita

sebagai buah dari sebuah keputusan. Dia disingkirkan sebab dia memutuskan untuk meninggalkan panggilan hidupnya selama ini. Tapi apakah meninggalkan tugas imamat berarti sebuah dosa besar sehingga dia menjadi manusia yang sangat menjijikan maka tidak pantas lagi untuk disapa, diterima atau dimanusiakan? Tidak ada lagi tempat baginya di komunitas Gereja?

Seorang teman pernah mengatakan bahwa seorang imam yang meninggalkan tugas imamatnya itu seperti seorang tentara yang desersi dalam saat perang. Dia layak dihukum berat. Tapi hukuman tentara adalah hukuman fisik, sedangkan temanku ini dihukum non fisik. Dia disingkirkan oleh masyarakat. Kerap menjadi bahan gunjingan dan ejekkan. Hukuman itu tidak ada batasnya, bahkan sampai matipun masih diingat oleh orang. Anak-anak yang lahir dari perkawinannya pun kena getah dari dosa orang tuanya. Ada seorang teman yang tidak mau membaptis anak seorang mantan imam. Alasan

temanku ialah bagaimana orang tuanya bisa mendidik iman anaknya kalau dia sendiri tidak setia akan imannya? Ada lagi yang mempersoalkan pernikahan orang tuanya yang bukan pernikahan Katolik atau orang tuanya tidak memiliki surat nikah Katolik. Tentu saja temanku yang meninggalkan tugas imamatnya tidak mungkin bisa menerima sakramen perkawinan. Dia akan menikah diluar Gereja. Namun bagiku apakah seorang anak harus menanggung dosa orang tuanya? Bukankah mereka tidak tahu dosa orang tuanya? Dia lahir bukan dari sebuah pilihan. Dia tidak memilih akan lahir dari orang

tua yang bekas seorang imam, tapi mengapa dia harus menanggung dosa yang bukan keputusannya?

Temanku sambil meminum es menceritakan bahwa dia sebetulnya rindu untuk menerima sakramen lain misalnya ekaristi, tobat dan sebagainya. Dia rindu untuk melayani umat. Namun hal itu tidak mungkin. Dia masuk gereja saja banyak mata yang memandangnya penuh dengan keheranan dan pelecehan. Banyak orang berbisik-bisik menggunjing. Bagaimana dia tahan dalam komunitas seperti itu. Seorang teman yang lain bertanya jika Yesus saja mau mengampuni orang yang tertangkap berbuah jinah, pemungut cukai, orang

berdosa lain, apakah Dia tidak bisa mengampuni kami? Aku tidak mampu menjawabnya.

Dalam perjalanan pulang sharing teman-temanku terus menghantui diriku. Betapa berat hidup dalam masyarakat yang mengucilkan. Betapa berat hidup yang serba salah. Kalau dia hidup dalam kemiskinan maka orang akan mengatakan penuh hinaan itulah akibat orang yang meninggalkan tugas imamat. Jika dia kaya maka orang dengan penuh kecurigaan mengatakan bahwa lihat orang itu mencari enaknya aja. Semua serba salah. Belum lagi pandangan-pandangan penuh hinaan. Orang menjadi enggan untuk berteman lagi bahkan menyingkir. Ya memang meninggalkan tugas imamat berarti

menjadi orang kusta parah. Menjijikan dan harus disingkiri agar tidak

tertular. Anak-anak dan istrinya pun harus disingkiri juga.

Tidak adakah pengampunan? Tidak adakah kesediaan menerima sebagai bagian dari orang yang bermartabat sama? Bukankah alam Roma 12: 19 Paulus mengatakan bahwa penghakiman itu adalah milik Allah. Dalam Rm 14 Paulus juga mempertanyakan mengapa kita menghina dan menghakimi saudara kita, sebab pengadilan adalah hak Allah? Semua orang harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri di hadapan Allah, maka orang tidak boleh saling menghina dan menghakimi. Paulus hanya menyarankan agar manusia tidak membuat batu sandungan bagi sesamanya. Teman yang meninggalkan tugas

imamatnya dia harus mempertanggung jawabkan keputusannya pada Allah, maka sebetulnya teman yang lain tidak bisa menghakimi. Tapi hal ini sangat sulit. Mereka sudah dianggap sangat berdosa. Temanku yang satu mengatakan bahwa hidupnya saat ini sama dengan perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Dia diadili dimuka umum. Jika Yesus datang apakah yang akan dilakukan? Apakah kami akan mengalami apa yang dialami oleh Yudas yang gantung diri dan dikatakan lebih baik tidak lahir saja? Atau masihkah ada pengampunan seperti yang dialami oleh Petrus?

Aku tahu bahwa mereka mengingkari kaul yang sudah pernah mereka

ikrarkan. Kaul adalah janji seseorang pada Tuhan. Ini lebih daripada sumpah apalagi janji. Dengan kaul orang tidak lagi berhadapan dengan manusia, melainkan Tuhan. Ketika dia mengingkari kaul, maka dia mengingkari kesepakatan dengan Tuhan. Seorang teman lain pernah mengatakan jika dengan Tuhan saja dia mengingkari bagaimana dengan sesama? Kesimpulan ini aku anggap tidak pas. Dalam 1Yoh 4 ditulis bagaimana manusia bisa mencintai

Tuhan yang tidak nampak bila dia tidak bisa mencintai sesamanya yang nampak. Hal ini hendak menunjukan besarnya cinta manusia pada Tuhan tampak pada besarnya cinta manusia pada sesama. Teman-temanku yang meninggalkan kaulnya bisa hidup bahagia dengan istri dan anaknya. Dia bisa mencintai mereka dengan sungguh. Dia pun terlibat dalam pelayanan pada Gereja lain, bukan untuk mencari popularitas atau dana bagi hidupnya namun dia melakukan itu untuk menyalurkan dorongan semangat melayani. Sebuah pelayanan yang tulus. Bukankah ini bukti cintanya pada Tuhan?

Memang banyak orang masih belum mampu menerima kenyataan adanya seorang imam yang meninggalkan tugas imamatnya. Banyak orang kecewa ketika melihat orang yang dihormatinya mengambil sebuah keputusan yang mereka anggap salah. Kekecewaan ini muncul dari rasa cinta dan harapan yang besar. Semakin besar cinta, harapan dan kebanggaan diletakan maka semakin dalam kekecewaan yang akan dialaminya. Kekecewaan ini terungkap dalam aneka sikap, perkataan dan cara dia memposisikan dirinya. Namun apakah hanya

itu? Kalau keluarnya seorang imam dari imamat dianggap sebagai dosa yang besar, apakah memang hanya dia yang dapat dicap sebagai pendosa besar? Jika dia dianggap sebagai orang yang sudah mengkhianati Tuhan bagaimana dengan kita? Apakah kita tidak pernah mengkhianatiNya? Jika mereka dianggap tidak setia, apakah kita juga setia pada Tuhan? Berapa kali dalam sehari orang meninggalkan Tuhan? Berapa kali dalam sehari orang menutup mata akan kehadiran Tuhan dalam wajah orang miskin dan lemah?

Temanku yang satu mengatakan jika Yesus datang mungkin Dia akan mengatakan ulang, siapa yang tidak bersalah silakan melempar terlebih dahulu.

Sesama adalah cermin dari diri. Jika aku mulai melihat dosa di dalam

wajah sesama dan menjadi benci padanya, jangan-jangan ada dosa sama yang

kusembunyikan dalam diri, aku benci akan dosa itu namun aku harus

menanggungnya, sebab dia ada dalam dirku. Rasa benci ini membuatku benci

pada orang yang melakukan hal yang sama. Sebetulnya kebencian itu adalah

persoalanku sendiri. Antara aku dengan diriku. Ketika aku dengan keras

mengatakan bahwa temanku itu tidak setia, jangan-jangan itu adalah

pantulan diriku yang sering meninggalkan Allah. Aku tidak berani menatap

diriku sendiri yang terpantul dari sesamaku.

Di halaman pasturan temanku pamit pulang dan berjanji akan bertemu

denganku kembali. Kulihat mereka meninggalkan aku sendiri di depan kamarku.

Beberapa anak muda masih asyik membaca dan mendengarkan lagu-lagi dari

komputer di kamarku. Mereka bertanya aku dari mana. Pertanyaan tidak

kujawab, namun aku bertanya pada mereka. Seandainya aku meninggalkan

imamat apakah mereka masih mau bersahabat denganku?

Teman-temanku menatapku bingung. Tidak ada jawaban.

salam

gani


Tidak Punya Anakpun Adalah Berkat

Warta fa

==============

Orang menikah karena bersehati untuk menempuh hidup ini bukan lagi secara terpisah melainkan secara bersama. Tujuan pernikahan adalah kehidupan bersama. Cerita Kejadian mencatat motivasi Allah dalam menciptakan lembaga pernikahan sbb. : Allah berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.”

Apa sebabnya kedua orang itu menjalin kehidupan bersama ? Karena mereka saling membutuhkan. Baik pria maupun wanita mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tujuan pernikahan adalah untuk saling melengkapi kekurangan itu. Dalam cerita Kejadian ditulis bahwa Allah menciptakan “penolong yang sepadan”.

Jadi menurut cerita ini tujuan pernikahan adalah hidup bersama yang

saling melengkapi, dan sama sekali tidak mengatakan bahwa pernikahan bertujuan untuk mempunyai anak. Memang ada cerita lain dalam Kejadian di mana ditulis bahwa Allah berkata, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu .. ” Cerita ini memperlihatkan bahwa Allah menciptakan kemungkinan agar manusia bisa berkembang biak (prokreasi). Prokreasi dicatat bukan sebagai tujuan pernikahan, melainkan sebagai kemungkinan yang Tuhan ciptakan untuk menjaga kelangsungan hidup.

Sama seperti bangsa-bangsa purba lain, untuk umat Israel di zaman

Perjanjian Lama, menjaga kelangsungan hidup memang berarti melahirkan banyak anak. Ini disebabkan karena jumlah penduduk yang masih sedikit, padahal tenaga manusia dibutuhkan untuk berladang, berburu dan berperang. Pertambahan penduduk pun diperlukan untuk menggantikan mereka yang mati akibat banyaknya perang dan penyakit menular. Tidak mengherankan bahwa dalam masyarakat purba melahirkan anak dianggap sebagai perbuatan yang

sangat bermanfaat.

Dari situ timbullah kebudayaan yang memandang rendah infertilitas.

Dalam Alkitab ada beberapa cerita di mana wanita yang infertil icemoohkan dan dihina. Istri yang tidak melahirkan dianggap sebagai aib bagi seluruh keluarga. Dan orang menarik kesimpulan bahwa kemandulan adalah hukuman Tuhan.

Tetapi Alkitab mempunyai garis yang lain. Dalam berita tentang

kesediaan Tuhan membela mereka yang berkedudukan rendah dan lemah, dikatakan bahwa Tuhan akan “mendudukan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita” (Mzm 113:9). Ketika Nabi Yesaya memberitakan pengharapan untuk umat yang sedang ditekan oleh negara tetangga, umat itu digambarkan sebagai wanita mandul yang patut bersorak-sorai oleh pengharapan beroleh anak (Yes 54:1). Dan ketika Tuhan Yesus menggambarkan

penderitaan berat yang masih akan datang menimpa pengikut-Nya, Ia

berkata, “… akan tiba masanya orang berkata : Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui” Luk 23:29).

Bagaimana kita melihat masalah infertilitas secara Kristiani ? Kita

mengaku bahwa dalam perjalanan hidup, yang berjalan bukan hanya Tuhan dan bukan pula hanya manusia melainkan Tuhan dan manusia. Suami istri bisa menempuh terapi mengatasi infertilitasnya sambil meminta berkat Tuhan akan terapi itu. Tetapi berkat Tuhan tidak selalu berarti terkabulnya keinginan kita. Mendapat anak adalah berkat, tetapi sebaliknya, tidak mendapat anak pun adalah berkat dari Tuhan. Sebab suami istri yang tidak mendapat anak mempunyai waktu dan kesempatan luas yang bisa digunakan misalnya untuk engembangan karier mereka atau untuk pelayanan gereja dan pngabdian sosial kepada masyarakat.

Lagipula tidak punya anak bukan selalu berarti bahwa suami atau istri

itu infertil. Ada suami istri yang bisa mempunyai anak, namun sengaja

menetapkan untuk tidak mempunyai anak. Ada wanita yang demi pengabdian kepada kepakarannya atau profesinya memutuskan untuk tidak mempunyai anak. Keputusan untuk tidak mempunyai anak yang dilakukan setelah pertimbangan yang masak dan kesepakatan bersama antara suami dan istri menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar di hadapan Tuhan.

Ada pula suami istri yang menetapkan untuk tidak mempunyai anak kareana alasan lain. Saya mengenal sepasang suami istri di Virginia yang mempunyai lima orang anak yang kesemuanya adalah anak pungut dari Botswana.

Suami istri itu berkata, “Kami sengaja menetapkan untuk tidak mempunyai anak, sebab di Botswana banyak anak yatim piatu terlantar akibat perang saudara. Daripada kami melahirkan, lebih baik kami memelihara anak-anak yang sudah ada. “Suami istri itu kedua-duanya adalah dokter yang bekerja sebagai misionari di Botswana.

Pernikahan memang bukan bertujuan untuk melahirkan dan mempunyai anak.

Jika pernikahan tidak dikaruniai anak itu sama sekali bukan berarti

bahwa pernikahan itu gagal. Baik pernikahan yang dikaruniai anak maupun yang tidak, dihadapan Tuhan merupakan pernikahan yang diberkati.


Miracle after Mass (Sebuah Kesaksian)

From: Frans L

==============

Perkenankan saya berbagi kesaksian atas peristiwa yang saya alami.

Selama lebih kurang satu setengah bulan terakhir saya menderita

kesakitan tiap kali buang air kecil. Sudah beberapa obat saya minum dan beberapa dokter saya datangi tetapi tidak memuaskan. Saya juga coba explore penyakit ini di internet, mulai dari kemungkinan gangguan prostate (kecil kemungkinannya karena masih muda kata dokter) s/d kencing batu/ batu ginjal, tetapi tidak menemukan jawaban. Sementara itu saya tidak mengkonsumsi obat2 khusus selain antibiotic (untuk mencegah infeksi) dan saya memutuskan tidak ke dokter lagi. karena saya merasa dokter tidak bisa mendeteksi apa2 lagi setelah pemeriksaan dokter dan saya lihat sendiri hasil USG maupun rontgen tidak mendeteksi sesuatu yg aneh.

Oleh karena itu saya berpasrah berdoa, terutama doa berdasarkan pesan Bunda Maria melalui visionary di Medjugorje bahwa kalo ingin sembuh dari sakit berdoalah Aku Percaya, 7x Bapa Kami, 7 x Salam Maria dan Kemulian.

Hari Minggu kemarin setelah Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan Yesus, saya secara tak terduga mendapatkan mukjizat..

Kotbah room waktu misa pagi pk 7.00 itu menyentuh saya.

1. Tuhan berjanji pada kita bukan hanya akan mewarisi kerajaanNya,

2. Dan bukan hanya (Yesus) akan senantiasa menyertai kita sampai akhir jaman, dll

3. Tetapi nyata Tuhan sendiri hadir dan masuk ke tubuh dan darah

kita melalui Sakramen Maha Kudus (Ekaristi) dengan menyambut tubuh dan darah Kristus.

(Kita dimudahkan dengan menyantap dalam bentuk roti dan anggur dengan esensi yg sama dengan tubuh dan darah Yesus sendiri setelah konsekrasi, kalo bener2 diberi daging dan darah harafiah belum tentu kita sanggup menyantapnya)

Dari inti kotbah itu, tiba2 saya merasa sangat yakin bahwa Yesus tidak

akan membiarkan tubuh yang tidak sehat ini menjadi tempat semayamnya.

Atau dengan kata lain, saya yakin setelah saya menerima tubuh Kristus pasti sakit saya sembuh.

Dan hasilnya luar biasa. begitu selesai berkat penutup dan doa

pribadi.. Saya tiba2 pengin buang air kecil dan langsung menuju toilet gereja.

Sewaktu kencing terasa ada benda yg melewati saluran kencing saya.. yg bikin saya merinding. dan berhenti di ujung saluran kencing saya dg posisi sedikit membuka. Saya coba sentuh, ternyata sangat tajam spt karang sehingga disitu saya tidak sanggup untuk mencabutnya. karena khawatir darah yg keluar akan banyak. Sehingga saya balut dengan tisu dan saya putuskan untuk pulang ke rumah dulu..

Dan dirumah berhasil saya tarik dengan kesakitan dan darah… dan

ternyata benar2 karang dengan ukuran panjang 1,3 cm dan diameter sekitar 0,7 cm. (dari gambar tampak ukurannya sekitar 2/3 ukuran peniti disampingnya)

Puji Tuhan…sekarang saya telah sembuh. Terima kasih Yesus dan Bunda Maria, karena ini merupakan mukjizat kesekian kalinya saya terima selama hidup saya.

Frans L

Setiap Kali Kalau Tukang Lemper itu Datang

Dr. Andar Ismail

Ketika saya berumur enam atau tujuh tahun kadang-kadang datang seorang penjual lemper ke rumah kami. Ia bukan sembarangan pedagang. Sebab ia singgah dan masuk ke dalam rumah seperti seorang tamu. Menurut cerita ibu, orang itu adalah mantan pegawai ayah ketika dulu ayah mempunyai sebuah perusahaan. Ibu sering bercerita bahwa orang itu jujur dan rajin,

tetapi ia terpaksa berhenti bekerja karena perusahaan ayah bangkrut.

Siapa nama orang itu, saya sudah lupa. Tetapi saya masih ingat raut

mukanya. Orangnya sudah tua, wajahnya keriput, senyumnya ramah, pendiam, pakaiannya sederhana dan memakai peci hitam. Yang saya ingat lagi adalah apa yang terjadi setiap kali ia datang.

Setiap kali tukang lemper itu datang, ia dipersilahkan masuk. Ia duduk

di lantai. Ia meletakkan tenong terbuat dari kaleng di depannya. Ia

membuka tutup tenong itu. Dalam tenong itu ada banyak lemper. Ia mengatur lemper-lemper itu menjadi semacam barisan. Kadang-kadang ia menghitung jumlah lemper itu. Saya juga duduk di lantai menghadapi tenong itu.

Daun pisang pembungkus lemper itu berkilau karena berminyak. Ada

bagian-bagian tertentu dari daun itu yang tampak hangus terpanggang berwarna kehitam-hitaman. Saya membayangkan isinya, pasti lemper itu enak. Tetapi kami tidak pernah makan lemper itu. Ibu tidak akan mengeluarkan uang untuk hal-hal seperti itu. Ibu sangat berhemat. Keuangan keluarga kami pada tahun-tahun itu sangat terbatas. Kami adalah anggota diakoni (anggota yang menerima bantuan uang dan beras dari gereja).

Yang berbekas dalam pikiran saya hingga kini adalah apa yang diperbuat oleh ibu. Selama saya duduk di lantai memandangi lemper-lemper itu, ibu tampak repot. Ia membuka lemari. Ia membuka laci. Ibu repot mencari sesuatu. Kadang-kadang ia tampak bingung. Akhirnya ibu datang dengan sebuah bungkusan. Diberikannya bungkusan itu kepada tukang lemper.

Itulah yang terjadi setiap kali tukang lemper itu datang. Ibu memberi

sesuatu kepadanya. Pernah saya menjadi kecewa dan masgul karena ibu memberikan sepotong ikan gabus kering yang sudah lama kami simpan dengan baik. Bagi kami pada waktu itu sepotong ikan asin merupakan barang yang berharga. Saya telah menunggu beberapa minggu untuk makan ikan gabus itu. Saya sangat senang makan ikan gabus goreng yang dipotong tipis. Rasanya gurih sekali. Apalagi kalau dimakan dengan sayur asem.

Tetapi sekarang ikan gabus itu sudah tidak ada lagi. Rupanya ibu

melihat muka saya yang kecewa. Ia tersenyum dan menghibur saya, katanya, “Nanti kita dapat lagi.”

Sekarang kadang-kadang saya merasa heran, mengapa kejadian yang terjadi sudah begitu lama masih berbekas dalam pikiran saya. Saya ingat betul melihat ibu begitu bingung mencari sesuatu untuk diberikan kepada tukang lemper itu. Kadang-kadang saya juga merasa heran dan kagum, mengapa ibu begitu spontan mencari dan memberi sesuatu. Padahal ibu sendiri hidup dalam kekurangan. Ibu bekerja membanting tulang dari pagi sampai malam dengan melakukan rupa-rupa pekerjaan untuk mencari nafkah dari hari ke hari. Soalnya, ayah sudah lama tidak bekerja karena sakit menahun. Tanggungan ibu sangat berat. Tetapi heran, ibu bisa memberi.

Sekarang kalau saya membaca ucapan Tuhan Yesus tentang seorang ibu yang memberi dari kekurangannya di Markus 12:41-44, saya langsung teringat kepada kejadian ini. Kepala saya tertunduk mengenang almarhum ibu, dan terbayanglah lagi di depan mata apa yang di perbuat ibu setiap kali kalau tukang lemper itu datang.

Kebahagiaan orang yang dosanya diampuni

Warta fa

Berbahagialah orang yang dosanya diampuni, dan kesalahannya dimaafkan.

Berbahagialah orang yang kejahatannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak suka menipu.

Selama aku tidak mengakui dosaku, aku merana karena mengaduh sepanjang hari.

Siang malam Engkau menekan aku, TUHAN, tenagaku habis seperti diserap terik matahari.

Lalu aku mengakui dosaku kepada-Mu, kesalahanku tak ada yang kusembunyikan. Aku memutuskan untuk mengakuinya kepada-Mu, dan Engkau mengampuni semua dosaku.

Sebab itu setiap orang saleh hendaknya berdoa pada waktu mengalami kesesakan, sehingga kalau banjir kesusahan datang, ia tidak dilanda.

Engkaulah tempat persembunyianku, Kaubebaskan aku dari kesukaran. Maka aku bersorak gembira, sebab Engkau telah menyelamatkan aku.

Kata TUHAN, “Aku akan menunjukkan jalan yang harus kautempuh, engkau akan Kubimbing dan Kunasihati.

Jangan seperti kuda yang tidak berakal, yang harus dikendalikan dengan kekang dan tali supaya menurut.”

Orang berdosa ditimpa banyak sengsara; tetapi orang yang berharap kepada TUHAN tetap dilindungi oleh kasih-Nya.

Hai orang-orang saleh, bergembiralah dan bersukacitalah karena apa yang telah dilakukan TUHAN. Bersoraklah gembira, hai semua orang yang tulus hati!


TEMANKU INGRAM SHIA

Dr. Andar Ismail

==============

Orangnya pendiam. Perawakannya sedang. Air mukanya tenang. Rambutnya masih hitam. Semula saya menduga ia seumur dengan saya, ternyata ia sebelas tahun lebih tua. Itulah Ingram Shia, Rektor Sekolah Tinggi Teologi Taiwan di Taipe. Tetapi yang akan saya ceritakan di sini bukanlah Ingram sebagai Rektor, melainkan Ingram sebagai anak belasan tahun seperti yang dituturkannya kepada saya pada suatu senja.

Ingram mengalami masa kecil ketika Taiwan berada dalam keadaan susah akibat pendudukan Jepang. Ayahnya, seorang pendeta, meninggal ketika Ingram berusia 13 tahun. Untuk membiayai hidup, ibunya menerima rupa-rupa panggilan kerja. Tiga tahun kemudian ibunya menjadi sakit dan semakin lemah lalu meninggal dunia. Tinggallah Ingram yang berusia 16 tahun yang bertanggung jawab atas tiga orang adik yang masih kecil.

Pada hari-hari pertama setelah kematian ibunya, banyak anggota gereja mengirimkan makanan. Tetapi setelah itu kiriman makan semakin langka. Sementara itu Ingram belum juga berhasil mendapatkan pekerjaan. Akibatnya keempat anak ini tidak mempunyai persediaan makanan lagi.

Pada malam hari, adik bungsu Ingram yang berusia empat tahun sering terbangun dan menangis karena lapar. Untuk menahan lapar itu, Ingram mengenyangkan adiknya dengan beberapa gelas air. Setelah kenyang dengan air, adiknya itupun tertidur lagi.

Namun pada suatu malam, adik bungsu itu tetap saja menangis karena lapar. Ingram bingung, ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Tiba-tiba seorang adiknya yang lain berkata, “Kakak berdoa untuk dia”. Tetapi Ingram tidak tahu harus berdoa apa. Lalu seorang adiknya yang lain mengusulkan, “Doa Bapa Kami saja”. Kalau Doa Bapa Kami memang mereka hafal.

Lalu mereka pun mengucapkan doa Bapa Kami. Tetapi ketika mereka sampai pada kalimat, ” … berikanlah kami pada hari ini makanan…. “. Keempat anak itu tiba-tiba menangis dengan meraung-raung sampai akhirnya mereka tertidur dalam isak tangis.

Keesokan paginya Ingram dikejutkan oleh bunyi ketukan pintu. Ternyata itu pendeta mereka yang datang membawa sebuah karung. “Tadi malam kami mendapat ubi. Ini untuk kalian. Dan saya membawa kabar. Ada lowongan kerja untuk kamu. Mulai sebentar pukul delapan .. “

Langsung keempat anak itu sibuk membuat api untuk merebus ubi dan Ingram sigap untuk pergi bekerja. Dua minggu kemudian Ingram mendapat pembayaran upahnya yang pertama. Uang itu diterimanya pada hari yang sungguh tepat, sebab pada hari itu ubi yang terakhir dari karung sudah habis.

Mengenang kisah itu Ingram berkata, “Saya tidak tahu harus berkata apa dalam doa pada malam itu. Walaupun begitu, Tuhan memberi apa yang kami perlukan”.

Inilah salah satu misteri hubungan manusia dengan Allah. Di dalam

menyatakan pertolongan-Nya, Allah tidak tergantung pada kata-kata yang kita ucapkan. Doa tidaklah tergantung pada perkataan kita.

Demikian cerita yang dituturkan Ingram ketika pada suatu petang kami berada di kapal Ferry “Belle of Louisville” yang menyusuri sungai

Mississippi. Pemandangan alam di sepanjang sungai pada petang itu sungguh indah. Matahari senja seolah-olah menyepuh semua warna menjadi kemerah-merahan: awan, pohon ek, rumah papan, perahu bermotor yang ditambat dan burung pemakan ikan yang menyambar-nyambar ombak sungai. Tetapi perhatian Ingram dan saya tenggelam dalam dunia lain, dunia masa kecil kami masing-masing: Ingram di Taipei dan saya di Bandung.

Ketika kapal ferry itu merapat di dermaga Louisville, Ingram menekan

lengan saya kuat-kuat dan dengan penuh perasaan ia berbisik, “We emerged from the same pot of poverty.” (Kita muncul dari panci kemiskinan yang sama). Saya terdiam sebentar lalu menjawab “You’re right. Your father and my father as well died of tuberculosis” (Kau benar. Baik ayahmu maupun ayahku meninggal karena tuberkulose). Ingram lalu memandang saya dan berkata, “And both your mother and my mother died of heart failure”

(Dan ibumu serta ibuku juga meninggal karena kelemahan jantung). Mata Ingram tampak basah menggenang air mata. Demikian juga mata saya.

Aliran Kuasa Menjamah Anakku

Sumber Kesaksian : Ibu Sri

CBNI – Ibu Sri adalah seorang pembantu rumah tangga yang mempunyai

seorang anak perempuan. Anak semata wayangnya ini mengalami sakit bengkak

di leher semenjak kelahirannya. Tentu saja hal ini sangat menyusahkan

hatinya.

Waktu dilahirkan anak saya ini diperiksa oleh bidannya. Bidan melihat

ada kelainan di bawah dagunya seperti lubang sebesar jarum. Semakin lama

lubang ini semakin tumbuh dan mengeluarkan bau. Lama keadaan ini tidak

lagi saya perhatikan, saya pikir sakit ini akan sembuh sendiri kalau

anak saya besar nanti. Tapi setelah anak saya berumur dua tahun, di leher

anak saya ada bengkak sebesar bola kasti.

#2Karena saya tidak mampu pergi ke dokter spesialis, anak ini saya bawa

ke dokter puskesmas. Kata dokter anak saya ini harus dioperasi. Tapi

saya jadi bingung karena saya ini dari keluarga ekonomi rendah. Saya

hanya bisa pasrah dengan semua ini.

Hampir setiap hari ibu Sri berjalan kaki mencari kesembuhan bagi anak

yang dikasihinya. Tetapi usahanya ini tidak berhasil. Walau demikian

setiap hari ibu Sri selalu berdoa memohon kesembuhan bagi anaknya.

#3Satu malam saya menyetel TV. Waktu itu saya menonton pembawa acara

Solusi memandu penonton untuk beriman. Penonton yang punya masalah dan

problem apa saja diminta untuk mengangkat tangan. Waktu itu saya

mengangkat tangan dan saya imani dalam doa. Saya juga meminta ampun jika selama

ini saya merasa penderitaan ini akibat saya jauh dari Tuhan. Saya sudah

lama meninggalkan Tuhan, jadi saya merasa ini hukuman bagi saya.

Akhirnya saya berdoa minta ampun dulu untuk semua itu.

#4Tangan kiri saya saya pegangkan ke bagian bengkak anak saya sedangkan

tangan kanan saya angkat ke televisi. Saya berdoa memohon pada Tuhan

karena saya tidak punya uang untuk operasi. Sambil saya minta ampun saya

imani terus doa saya. Saya imani doa saya di dalam nama Tuhan Yesus,

akhirnya amin.

Beberapa hari kemudian saya melihat bengkak di leher anak saya

mengempes terus. Padahal sebelumnya bengkak itu seperti mau pecah. Saya sampai

ketakutan sebelumnya. Kalau nanti Tuhan ambil anak saya ini bagaimana

jadinya?, saya pasti tidak tahan. Heran sekali tidak sampai satu minggu

setelah berdoa, bengkak anak saya langsung kempes. Saya hanya bisa

menguicap syukur pada Tuhan, benar-benar mengucap syukur sampai-sampai saya

ingin menelpon ke Solusi.

#5Puji Tuhan saya bersyukur untuk semua ini. Ini berarti saya masih

harus bersama-sama dengan suami saya karena selama ini suami saya belum

datang pada Tuhan dan saya ingin meninggalkan dia. Tapi dengan kejadian

ini saya belajar bahwa dosa sebesar apapun Tuhan akan ampuni kalau kita

minta ampun.

“Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia

harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-

ucapan yang menipu. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar,

dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah

Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” (1 Petrus 3:10,12)

From: CBNInews

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on January 8, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: