Ilustrasi dan Renungan Part-5

MENGASIHI DI SAAT TEPAT

==============

Robertson MC Quilkin mengundurkan diri dari kedudukannya

sebagai rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan

merawat istrinya, Muriel, yang sakit alzheimer yaitu gangguan fungsi

otak. Muriel sudah seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan

untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu. Robertson

memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri,

karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Namun

pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bakas

ompol Muriel dan di luar kesadaran Muriel malah menyerakkan air

seninya sendiri, maka Robertson tiba-tiba kehilangan kendali

emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna

menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata

dalam hatinya, “Apa gunanya saya memukulnya, walaupun tidak

keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami

menikah, saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun

kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya

demikian. Ampuni saya, ya Tuhan,” Lalu tanpa peduli apakah Muriel

mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah

dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, Robertson dan Muriel, memasuki

hari istimewa karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson

melamar Muriel. Dan pada hari istimewa itu Robertson memandikan

Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan

Muriel dan pada malam harinya menjelang tidur ia mencium dan

menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, “Yesus yang baik, Engkau

mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah

kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar

nyanyian malaikatMu. Amin”.

Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan

sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk

mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis

kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama

berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil

Robertson dengan suara yang lembut dan bening, “Sayangku….

sayangku…”, Robertson melompat dari sepedanya dan segera

memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.

“Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan?” tanya Muriel.

Setelah melihat anggukan dan senyum di wajah Robetson, Muriel

berbisik, “Aku bahagia!” Dan ternyata itulah kata-kata terakhir yang

diucapkan Muriel kepada Robertson.

Memelihara dan membahagiakan orang-orang yang sudah

memberi arti dalam hidup kita adalah suatu ibadah di hadapan

Tuhan. Mengurus suami atau istri yang sudah tak berdaya adalah

suatu perbuatan yang mulia. Mengurus ayah/ ibu atau mertua adalah

tugas seorang anak ataupun menantu. Mengurus kakek atau nenek

yang sudah renta dan pikun juga adalah tanggung jawab para cucu.

Jangan abaikan mereka yang telah renta, apalagi ketika mereka

sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Peliharalah mereka dengan

kesabaran dan penuh kasih. (MS)


MENGECEK HASIL PEKERJAAN SENDIRI

==============

Seorang anak lelaki masuk ke sebuah apotek, menarik peti minuman dan meletakkannya di dekat telepon umum. Ia naik ke atasnya sehingga dapat mencapai tombol-tombol yang ada pada telepon. Lalu mulailah ia menekan tombol sampai tujuh dijit . Ia berkata, “Bu, apakah Anda membutuhkan bantuan untuk membersihkan

kebun Anda?”

Wanita di telepon itu menjawab, “Saya sudah membayar seseorang untuk membersihkannya.”

“Bu, Anda dapat membayar saya setengah harga saja.”

Sepertinya wanita itu sudah puas dengan hasil kerja dari orang

tersebut.

Namun anak itu tak kenal putus asa dan menawarkan, “Bu, saya juga akan menyapu pinggiran jalan dan trotoar rumah Anda, sehingga pada hari Minggu nanti Anda akan memiliki halaman terindah di North Palm Beach,Florida.”

Lagi-lagi wanita itu menolak.Dengan senyum, anak itu meletakkan gagang telepon.

Sang pemilik apotek menghampiri anak itu dan berkata, “Nak, saya suka sikapmu itu. Saya mengagumi semangat yang kaumiliki. Bagaimana kalau kamu bekerja untuk saya saja?” Anak itu menjawab, “Tidak, Pak. Terima kasih.

Sebenarnya saya hanya mengecek hasil pekerjaan saya sendiri.”

Papaku adalah bintang yang bersinar

Rambutnya diikat gaya buntut kuda, pakaian favoritnya diberi simpul

hias.

Hari ini Hari Ayah disekolah, dan sudah tak sabar ia ingin pergi.

Tapi mamanya mencoba menerangkan, mungkin sebaiknya ia tinggal dirumah. Sebab anak² yang lain mungkin tak bisa mengerti, bila ia datang ke sekolah sendiri. Namun ia tak takut Ia sudah tahu apa yang mau dikatakan. Apa yang harus diceritakan pada teman² sekelasnya, mengapa papa tak hadir hari ini. Tapi tetap mamanya kuatir, Bila putrinya menghadapi hari ini sendirian. Itu pula sebabnya ia coba sekali lagi, berusaha menahan putrinya dirumah.

Tapi gadis kecil itu tetap kesekolah, terdorong untuk bercerita pada

semuanya. Tentang seorang ayah yang tak pernah ia lihat, seorang ayah yang tak pernah tilpon. Banyak ayah sepanjang tembok di bagian belakang, Untuk dapat ditemui setiap orang. anak² menggeliat tak sabar lagi, gelisah terus di tempat duduk mereka.

Satu per satu gurunya memanggil, seorang murid dari kelasnya. Untuk memperkenalkan sang ayah, waktu perlahan berlalu.

Akhirnya guru memanggil namanya, tiap anak berbalik melongok. Masing² ikut giat men-cari², seorang pria yang tak hadir di sana

“Yang mana sih, papanya dia?”, ia dengar seorang anak laki bertanya.

“Ahh, mungkin dia memang tak punya,” seorang murid lainnya berseru.

Dan dari bagian belakang ia dengar seorang ayah nyeletuk, “Tuh, tampaknya ada seorang ayah yang kecapean, kelewat repot untuk membuang waktunya.”

Kata² itu tak menyakitinya, ketika ia tersenyum memandangi mamanya. Dan melihat kembali kepada gurunya, yang menyuruhnya untuk lanjutkan. Dan dengan kedua tangan di belakang, perlahan ia mulai bicara. Dan dari mulut seorang anak kecil, keluar kata² yang luar biasa uniknya.

“Papaku tak bisa datang ke sini, sebab ia tinggal jauh sekali. Tapi aku tahu ia ingin sekali bisa ada di sini, sebab ini kan hari yang istimewa.

Dan meskipun kalian tak bisa bertemu dengannya, aku ingin kalian tahu. Segala sesuatu mengenai Papaku, dan betapa ia sangat mencintaiku.

Ia gemar mendongengkanku cerita, Ia ajar aku naik sepeda. Ia memberi kejutan untukku dengan mawar merah-muda, dan mengajarku menerbangkan layangan. Kami biasa saling berbagi cemilan, dan menikmati es krim. Dan biarpun kalian tak bisa melihatnya Aku tidak berdiri sendiri disini.

Sebab Papa selalu ada bersama aku, biarpun kami terpisah. Aku tahu ini sebab Papa pernah bilang, ia selalu akan ada dalam hatiku.”

Dengan itu, tangan mungilnya ia naikkan dan diletakkan di dadanya.

Ia rasakan detak jantungnya sendiri, Di dalam baju kesukaannya

Dan nun di sana di antara kerumunan para ayah, berdiri ibunya berlinangkan air mata. Begitu bangga memandangi putrinya, begitu bijak melebihi umurnya.

Sebab ia membela cinta dan kasih seorang ayah yang tak pernah ada dalam hidupnya. Melakukan apa yang terbaik baginya, melakukan apa yang benar. Dan ketika ia turunkan tangannya ke bawah lagi, menatap lurus langsung ke semua orang. Ia akhiri dengan suara yang begitu lembut, namun pesannya jelas dan keras.

“Aku sangat sayang pada Papa, Papa adalah bintangku yang bersinar.

Dan seandainya ia bisa, ia pasti akan datang kesini, tapi surga terlalu

jauh. Ayah adalah pemadam kebakaran dan meninggal tahun lalu.

Ketika pesawat terbang menabrak kedua gedung itu dan mengajarkan orang Amerika merasakan artinya takut. Tapi terkadang bila kututup mataku, rasanya seperti ia tak pernah telah pergi.”

Dan lalu ia pejamkan matanya, Dan ia melihatnya hadir hari itu.

Dan ibunya jadi begitu takjub, terperangah menjadi saksi, Sebuah ruangan yang terisi penuh bapak dan anak, semuanya mulai menutup mata juga. Siapa yang tahu apa yang mereka lihat di depannya, siapa yang tahu apa yang mereka rasakan di dalamnya. Barangkali hanya untuk sedetik, mereka melihatnya di samping dia.

“Aku tahu Papa ada disini bersamaku,” teriaknya memecahkan keheningan.

Yang terjadi selanjutnya membuat percaya, Orang² yang sebelumnya masih ragu. Tak seorangpun dalam ruangan itu bisa menerangkan, sebab masing² terpejam matanya. Tapi disana, di meja di samping gadis cilik itu, ada setangkai mawar merah-muda yang harum. Dan seorang anakpun terberkati, walau cuma untuk sesaat, oleh kasih sayang dari bintangnya yang bersinar terang. Dan menerima karunia untuk percaya, bahwa ternyata surga tidak pernah terlalu jauh.

JM

Is your church a welcoming church?

A short time ago I was asked to speak to the adult Sunday school class

at a large church in Florida. My subject was evangelism in the context

of being a welcoming church. During a time for questions and comments an elderly woman jumped to and feet and exclaimed, “This is the friendliest church I’ve ever attended.”

The woman was obviously upset with some of my remarks which were

general observations based on my own visits to several hundred churches and notnecessarily specifically aimed at the church I was addressing. However, her comment is typical of those I’ve heard across the country.

Active, long time members will always say that their church is

friendly, because to them, it is. But research does not support this argument.

In study after study, one of the primary barriers to church growth is

the lack of an understanding of what it takes to be intentionally

welcoming. Just being open for worship and having a long history doesn’t translate into church growth unless there has been an intentional outreach to visitors and non-believers That begs the question, “Is your church a welcoming church?” To which I

respond, “It depends on who you ask.

Back to the comment made by the woman in Florida who said her church was the friendliest church she had ever attended.

As a visitor that day, this is what I experienced. After I entered the

building I saw several people who were speaking to each other and

nobody was nearby to welcome me. Not a single person said hello or even gave me eye contact. Just an usher who was positioned at the entrance of the sanctuary who handed me a bulletin (warta jemaat) without saying a word.

I found my way to a pew and sat alone. As people began to fill most of

the pews, not a single person sat anywhere nearby or even acknowledged me.

At the end of worship visitors were asked to join the congregation in

the parlor for coffee and fellowship.

I followed the crowd to the parlor and helped myself to a cup of

coffee. There I stood alone, sipping on my cup. Nobody ever noticed me. After about fifteen minutes an announcement was made that the adult Sunday school class was about to begin in a classroom down the hall. I made my way to the classroom just in time to be introduced as the guest speaker.

When the elderly woman made the remark that this was the friendliest

church she had ever attended it was a contrast to what I had experienced.

However, which experience was correct? Both were. For this woman, who has so many friends in the church, the church is indeed a friendly

church. But for myself, the stranger in their midst, it was anything but a friendly church.

Therein lies the challenge. How do we, as the children of God, ensure

that systems and processes are in place which welcome all so that nobody ever feels unwelcome in God’s house?

What would your response be to the question, “Is this a welcoming

church?” A resounding yes, or like I’ve experienced, “It depends on who you ask.”

Jadilah Tenang

Bruce Larson menulis dalam Wind and Fire, “Beberapa tahun yang lalu saya hampir tenggelam akibat badai laut di Teluk Mexico. Saat itu tanpa saya sadari saya telah berenang jauh dari pantai, dalam usaha mencapai perahu saya yang terhanyut. Saya terjebak dalam kesulitan itu adalah karena kebodohan saya sendiri, dan saya masih ingat saat itu saya berkata “Ya, inilah saatku”

Ombaknya kala itu setinggi tujuh atau delapan kaki, dan langit gelap dengan angin kencang dan kilat yang menyambar – nyambar. Saya sedang terhanyut di laut, saat Firman Tuhan datang pada saya dan menyelematkan nyawa saya. Yang saya rasa Ia katakan adalah, “Aku di sini, Larson, dan engkau tidak akan pulang secepat yang engkau kira. Bisakah engkau menjejak – jejakkan kaki di air ?”

Entah bagaimana hal itu tak pernah terpikirkan oleh saya. Seandainya saya terus saja dengan kalap berusaha berenang kembali ke pantai, tenaga saya pasti terkuras dan tenggelamlah saya”

Dalam segala macam keadaan kita sering menjadikan masalah lebih buruk dengan upaya – upaya kalap kita untuk menyelamatkan diri kita sendiri, padahal Tuhan sedang berusaha mengatakan kepada kita, Tenanglah. Kita membuat diri kita berada dalam keadaan tak berdaya dengan berbagai – bagai usaha, dan semakin kita berusaha semakin buruk jadinya.

Mungkin inilah saatnya bagi anda untuk berhenti sejenak dari upaya menggebu – gebu anda untuk mencari penyelesaian atau jawaban. Beri Tuhan waktu untuk melakukan karya-Nya, dan untuk enyampaikan hikmat-Nya kepada Anda.

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (1 Petrus 4:7)


KESAKSIAN MENOLONG BANYAK ORANG

==============

Seorang gadis kecil berdiri dipinggir keramaian selagi ayahnya memberikan suatu kesaksian tentang apa yang telah diperbuat Tuhan Yesus dalam hidupnya. Ayahnya sedang menyaksikan bagaimana Tuhan telah menyelamatkan dia dan menarik dia dari gaya hidupnya sebagai seorang pemabuk.

Pada hari itu ada seorang sinis yang berdiri diantara kerumunan tersebut yang tidak tahan lagi mendengar segala sesuatu tentang agama tersebut. Dia lalu berteriak, “Kenapa anda tidak duduk dan diam saja, orang tua. Anda hanyalah bermimpi.”

Tak beberapa lama, orang skeptik ini merasa ada tarikan dilengan jaketnya. Dia menoleh ke bawah dan melihat gadis kecil ini tadi telah berada di sampingnya.

Anak itu menatapnya lekat – lekat dan berkata, “Tuan, yang anda teriaki itu adalah ayah saya. Anda mengatakan ayah saya seorang pemimpi ? Biar saya ceritakan kepada ada tentang ayah saya.”

“Ayah saya dulu seorang pemabuk dan hampir setiap malam memukuli ibu saya. Dan bila itu terjadi, Ibu hanya dapat menangis sepanjang malam. Dan Tuan, kami juga tidak memiliki pakaian – pakaian yang bagus untuk dipakai karena ayah saya membelanjakan seluruh uangnya untuk whiski. Kadang – kadang saya bahkan tidak memiliki sepatu untuk dikenakan ke sekolah. Tapi lihatlah sepatu dan baju ini! Ayah

saya membelikannya untukku karena ia mempunyai pekerjaan yang baik sekarang!”.

Dan sambil menunjuk ke suatu arah, dia mengatakan, “Apakah anda melihat wanita yang sedang tersenyum di sana ? Itu adalah ibu saya. Dia tidak menangis lagi sepanjang malam. Sekarang dia bernyanyi sepanjang hari.”

Lalu suatu pukulan yang hebat tiba, ketika anak itu berujar, “Yesus telah mengubah perilaku hidup ayah saya. Yesus telah mengubah rumah kami. Jadi Tuan, jika ayah saya sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan dia!” (Steven J. Lawson)

“Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Lukas 16:31).

Kesaksian Ecleda Leemanouw


warta fa

==============

Pikirku seisi rumah menentangku dan berusaha mengekangku, aku berusaha memberontak. Tetapi harga yang mahal harus kubayar.

Jakarta, 16 Desember Malam minggu aku dijemput Mona, recananya mau nonton, habis itu ke disko. “Entar aku kenalin deh sama cowok keren. Oke punya!” kata Mona, temen akrabku. Ya boleh juga pikirku, habis be-te juga sich,banyak tugas di kampus yang bikin pusing. Setiap hari kegiatanku belajar, membosankan! So, apa salahnya aku bersenang-senang sebentar? Wah, malam itu aku senang sekali. Benar kata Mona, Tommy cute abis. Kayaknya cewek lain pada sirik ngeliat aku jalan sama dia. Rupanya kesenanganku cuma sampai di situ saja.

Di rumah, papa sudah berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang dan mama disebelahnya. Rupanya aku sudah ditungguin.

“Echa … kamu sudah besar, harusnya kamu tahu dong, sayang. Nggak baik anak gadis pulang malam-malam begini. Apalagi dari diskotik…”sorot mata mama memandangku penuh kasih. “Kamu seenaknya pulang jam dua pagi, apa kata tetangga nanti? kalau terjadi apa-apa bagaimana? siapa mau tanggung jawab, hah!” suara papa menggelagar bagai tamparan di wajahku.

Papa dan mama-sama sekali nngak bisa ngerti. Aku kan udah besar, sudah bisa jaga diri sendiri.

“Pokoknya papa nggak mau lihat kamu pulang pagi lagi” tegas papa sambil masuk ke kamarnya. “Sudahlah, sekarang ganti bajumu dan istirahat, ya. Besok sama mama ya, ke gereja,” tutup mama.

Sejak malam itu hubunganku dengan papa mulai renggang. Aku mulai merasa dikekang. Papa egois, maunya mikirin nama baik aja, lalu aku harus ikut semua kemauannya, egois…. Aku ingin sekali bisa bebas, seperti Mona, Karin dan beberapa temanku yang lainnya. Mereka bisa jalan ke mana dan kapan aja mereka suka.

Jakarta, 11 Januari Tahun baru datang lagi. Aku berharap banyak perubahan terjadi dan hal-hal yang menarik akan aku alami, tapi ternyata… Kabar pertama yang kudengar di awal tahun ini begitu menggagetkan, Karin, Roni, beberapa teman yang lain, dan Tommy! Mereka digrebek polisi saat sedang teler dipesta shabu-shabu di rumah Roni. Sebenarnya aku juga diajak mereka tapi papa melarangku pergi malam itu. Syukurlah.

Belum habis shockku, seminggu kemudian Mona datang ke rumah sambil nangis. Ternyata dia hamil! Nggak percaya rasanya, apalagi setelah tahu Rizal nggak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Belum tentu anaknya, kata Rizal. Tak kusangka oleh ortunya Mona dipaksa aborsi dan dikucilkan di rumah neneknya di Lampung. Tuhan , ke mana semua temen- temenku..?

Jakarta, 14 Januari

Aku memutuskan untuk tidak keluar rumah sepanjang hari ini, ya aku pengen ngobrol sama mama. “Ma, Echa mau minta maaf kalo belakanan ini sikap Echa kasar dan menentang papa dan mama. Echa janji dech nggak buat mama sedih lagi..” aku ermanja sama mama. Tiba-tiba aku ingin memeluk mama, hal yang udah lama nggak aku lakukan sejak kuliah.

“Echa…apapun yang terjadi, kamu tetap anak mama. Mama akan terus berdoa buat kamu, buat cita-cita dan masa depanmu. Mama tahu Tuhan Yesus sayang sekali sama kamu, “mama menciumku. Mama begitu baik dan lemah lembut, lain sama papa yang otoriter dan nggak pernah punya waktu untukku. Ah, sudahlah yg penting aku sudah minta maaf sama mama, pasti hatinya nggak sedih lagi. Besok jalan ke Mall ah..

Jakarta, 23 Januari

Hari ini aku jengkel sekali, papa marah sekali hanya gara-gara nilaiku cuma C dan D itu. Harus A, katanya. Aku dibanding-bandingkan dengan saudara sepupuku. Rasanya seperti mau meledak! Kenapa sih papa nggak mau ngerti

dan menerima aku apa adanya? Malam itu aku dan papa bertengkar hebat. Ketika satu tamparan mendarat di pipiku, aku putuskan untuk segera angkat kaki dari rumah neraka ini!

Bandung, 5 Maret

Setelah satu bulan lebih pelarianku ke Bandung, aku mendapat sebuah surat melalui seorang temanku tulisan tangan papa “Mama sakit, ingin bertemu kamu, segera pulang ke rumah”.

Jatungku berdetak keras! Mama.. Sore itu juga aku kembali ke Jakarta dan menemui mama di rumah sakit. Deg…! Mama yang cantik kini terbaring tak berdaya. Wajahnya terlihat letih dan tua, badannya kurus… secepat itukah

berubah? Aku menghampirinya, “Ma, ini Echa ma, Echa kembali…”

Mama membuka matanya perlahan-lahan. Ketika mama memandangku, tiba-tiba ada pancaran kehidupan yang keluar dari sepasang mata itu. “Echa..” panggil mama.

Aku terisak dan kucium pipinya. “Mama mau kamu memaafkan papamu. Sebenarnya papamu sangat sayang padamu, dia hanya ingin melihat kamu berhasil di kemudian hari” .

“Iya ma, Echa sudah memaafkan papa, Echa juga salah kok, maafkan Echa ya, pa,”aku menghampiri papa dan menggandeng tangannya. “Lihat ma, aku sudah baikan sama papa,” lanjutku terisak.

Mama tersenyum dan betapa hancurnya hatiku ketika tahu itulah senyumnya yg terakhir, hidup mama nggak lama lagi. Mama mengindap tumor ganas yang dapat menyerangnya sewaktu-waktu.

Jakarta, 21 April

Mama telah tiada. Wanita yg telah mengisi hidupku selama 20 tahun itu telah pergi. Rumah kami yang dulunya begitu riuh dengan debat dan canda, sekarang begitu lengang. Seakan-akan aku masih mendengar mama bernyanyi… “Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti Satu hal tanamkan di hati Indah semua yang Tuhan b’ri…”

Jakarta, 30 April

Rumah makin sepi. Oh Tuhan, aku rindu sekali sama mama… Perlahan kubuka pintu kamar kerja mama, nggak ada yang berubah. Semua masih sama seperti waktu mama ada. Sebuah buku di atas meja seeprti menarikku untuk membukanya. Lembar demi lembar tulisan tangan mama …

Jakarta, 24 Desember 1999

…. malam natal ini aku rindu dapat bersama anak dan suamiku pergi gereja. Setidaknya kami kumpul berdoa bersama…

Jakarta, 25 Januari 1999

Tuhan Yesus…sudah 2 hari berlalu dan aku tidak tahu di mana anakku sekarang. Sementara rasa sakit di kepalaku tak tertahankan… Aku kangen sama Echa dan ingin melihatnya kembali…

Jakarta, 3 Maret 1999

Bapa..aku tahu ajalku sudah dekat. Aku sangat mencintai anak dan suamiku. Aku ingin Engkau mendamaikan mereka .. cuma satu hal yang kuminta sebelum Kau menjemputku. Tuhan, pastikan anak dan suamiku juga memiliki kamar di rumah kau kelak di Sorga…

Aku nggak kuat lagi menahan air mataku. Ternyata papa sudah dibelakangku. Aku menagis di pelukan papa. Ketika kuangkat wajahku, papa.. papa juga menangis, aku tahu papa juga begitu kehilangan mama…

Jakarta, 10 Mei

Hari ini aku dan papa ke gereja. Lewat kematian mama, kami menyadari begitu besarnya kasih Allah yang terpancar dalam hidup mama, aku begitu bahagia dapat berdamai dengan papa. Dan ketika aku menoleh dalam bayanganku mama tersenyum melihat kami. Ahh..seandainya mama masih ada… (AD)

“Dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” (Lukas 1:17)

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma

8:28)

Ecleda Leemanouw


LUPUT DARI MUSIBAH LEGIAN

==============

Saat itu tanggal 12 Oktober 2002, dimana di GBI Lembah Pujian diadakan KKR yang mana saya seharusnya bertugas sebagai singer di sana, namun oleh karena saya baru sembuh dari sakit, teman maupun keluarga menganjurkan saya untuk tidak melayani dulu dan beristirahat. Tetapi terus menerus ada suara dalam hati saya untuk tetap pergi melayani. Tapi saya tidak menurut dan menggunakan waktu untuk beristirahat bersama keluarga setelah menjalani hari-hari kesibukan di tempat kerja, tepatnya saya bekerja di bidang pariwisata (travel).

Siang hari itu, kami berenang di salah satu hotel di area Nusa Dua hingga jam 7 malam, setelah itu, saya dan teman saya berpamitan kepada keluarga saya untuk jalan-jalan ke area Kuta tepatnya di McDonald Kuta dengan tujuan menikmati keindahan pantai Kuta untuk melepaskan ketegangan selama bekerja, namun karena terlalu gelap untuk melihat indahnya pantai Kuta, akhirnya kami berputar 2 kali dan menuju ke arah Legian dimana tempat ledakan itu terjadi.

Sampai di daerah Legian kami memarkir mobil di dekat Matahari Legian kemudian menyeberang dan berjalan menuju ke Circle K (supermarket 24 jam), kami memilih-milih minuman dan makanan kemudian melanjutkan ke toko-toko disebelahnya yang

mana terletak tepat di deretan SARI CLUB (pusat ledakan), kami memasuki toko pakaian dan sepatu satu demi satu, seperti EDWARD FORER, BODY & SOUL, dll…

Namun beberapa saat hati saya berdegup ingin segera pulang, entah kenapa, biasanya jika kami berjalan-jalan di kuta kami akan menghabiskan waktu sampai jam 11 hingga 12 malam, namun saat itu waktu baru menunjukkan pukul 20.30 dan saya terus menerus merasakan ingin segera pulang.

Waktu menunjukkan 20.45, kami pulang, jalan di sekitar Legian seperti biasa selalu macet dan kadang lumpuh total tidak bergerak sehingga teman saya yang menyetir mobil mulai emosi dan berteriak “PASTI SARI CLUB YANG MEMBUAT JALAN MACET, PASTI…!”, saat kami melewati SARI CLUB, memang sangat penuh dan ramai sekali, apalagi tempat ini hanya berlaku bagi para turis dan tamu lokal tidak diperkenankan masuk tempat ini. Setelah beberapa saat, akhirnya kami bisa melewati kemacetan, dan kembali pulang ke rumah yang mana rumah kami di RENON (ledakan pertama).

Malam itu 2 ledakan terjadi, kami tidak melihat jam berapa tepatnya, namun sekitar jam sebelasan, 2 ledakan terjadi, pertama di Renon, sekitar 4 km dari tempat tinggal kami

(bom berada di sebuah pohon, namun tidak ada korban) dan hampir bersamaan dengan ledakan bom yang super dasyat di Legian yang mana terjadi di tempat setelah kami berjalan-jalan di sana, semua toko yang kami masuki untuk berbelanja, hancur total dan rata dengan tanah.

Saya sangat terkejut dan shock mendengarnya dan sungguh sangat tidak menyangka.

Saya menangis terus dan mohon ampun kepada Tuhan karena saya lebih memilih untuk tidak melayani, meski Tuhan meminta saya untuk tetap melayani malam itu di KKR pemuda, saya sungguh mohon ampun dan sangat bersyukur karena Tuhan tetap selamatkan saya dengan menaruh pada hati saya untuk ingin segera pulang.

OOhhh Tuhan aku bersyukur, berterima kasih, dan lebih dari itu…

DIA telah selamatkan kami dari peristiwa itu DIA Allah yang maha kuasa yang melindungi anak-anak-Nya. Sungguh saya tidak dapat membayangkan, 2 jam

setelah saya meninggalkan tempat itu, BOM meledak begitu dasyat.

TERIMA KASIH TUHAN YESUS, KAU TELAH SELAMATKAN KAMI.

Begitu banyak korban jiwa dan bagian-bagian tubuh tercecer dimana-mana (di Legian), seluruh rumah sakit di area Denpasar dipadati oleh para korban yang terluka dan mayat-mayat bergelimpangan tanpa identitas. Saya menangisi para korban itu, mereka yang bermaksud berlibur, namun mereka mengalami hal seperti ini. Bom di SARI CLUB ini beradius 1 kilometer dengan api yang membumbung 200 meter ke atas. Keesokan harinya seluruh bidang pekerjaan yang bergerak di pariwisata baik hotel maupun travel mengalami kemacetan bisnis, semua tamu membatalkan perjalannya ke Bali dari 97% kini menjadi 10%, Namun saya percaya, anak Tuhan PASTI dibuat BEDA, amin.

Saudara, satu pesan dari kesaksian saya ini, TAATLAH akan suara TUHAN yang menggema dalam hatimu dan lakukanlah.

Tuhan pasti memiliki suatu rencana atas semua kejadian ini yang telah diijinkannya terjadi.

Semoga kesaksian ini menjadi berkat dan menguatkan saudara untuk tetap selalu tekun dan taat di dalam DIA yang mengasihi saudara dan saya.

“Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (Mazmur 34:8-9)

Sekantong Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada Beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: (“Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!”).

Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir (“Ya ampun orang ini berani sekali”), dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih.

Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuritak tahu terima kasih!”. Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri (subjektif) serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya. Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah orang lainlah yang pantas diberi pelajaran.

Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu terima kasih. Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.


Pemain Piano

==============

Seorang ayah, yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, twinkle2 little star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung.

Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata “Teruslah bermain”, dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk, di samping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut. Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung.

Sang anak jadi GR (Gede Rasa), pikirnya “Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Apa implikasinya dalam hidup kita ?

Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan-perbuatan besar yang telah berhasil kita lakukan. Tapi kita lupa, bahwa semua itu terjadi karena Allah ada di samping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada Allah di samping kita, semua yang kita lakukan akan sia-sia.

Tapi bila Allah ada di samping kita, sesederhana apapun hal yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

Semoga kita tidak pernah lupa bahwa ada Allah di samping kita.

TIDUR

==============

Mazmur 127:2 “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. “

# Mengapa Tubuh Anda Membutuhkan Tidur #

Tidur, atau paling tidak suatu jangka waktu istirahat, tampaknya merupakan hal yang umum di antara makhluk-makhluk hidup. Jika Anda mempunyai binatang peliharaan seperti kucing, anjing, atau burung, pasti Anda pernah memperhatikan bahwa kucing dan anjing secara berkala meringkuk dan tidur dan bahwa burung-burung menjadi senyap dan tidur bila malam tiba. Hampir semua binatang, burung, dan serangga membutuhkan tidur, atau paling tidak jangka waktu berkurangnya kegiatan. Bagi manusia, tidur merupakan keharusan.

Ada orang yang berpikir bahwa tidur hanyalah suatu jangka waktu istirahat. Tetapi tidur lebih daripada itu. “Tidur sebenarnya adalah proses yang rumit berupa otot-otot yang menegang dan rileks, denyut nadi dan tekanan darah yang naik turun dan pikiran yang memproduksi banyak sekali film buatan sendiri,” kata The Toronto Star. “Bila seseorang tertidur,” kata The World Book Encylopedia, “semua kegiatan akan berkurang dan otot-otot menjadi rileks. Denyut jantung dan kecepataan bernapas menjadi lambat.”

Meskipun para ilmuwan, dokter, dan peneliti telah mempelajari soal tidur selama puluhan tahun, misteri dasarnya tetap ada sehubungan fungsinya yang vital. Para penyelidik ini bahkan tidak mendapatkan jawaban, apa sebenarnya tidur itu atau mengapa kita tidur. Dr. Eliot Philipson dari laboratorium riset tentang tidur di Rumah Sakit Queen Elizabeth di Toronto mengatakan, “Kami tidak mengetahui peristiwa-peristiwa biologis yang sangat penting yang terjadi pada waktu tidur yang meperbaharui diri kita.”

Selama tidur, terjadi perubahan dalam tubuh yang mempengaruhi sistem kekebalan kita. Organ-organ tubuh menjadi rileks dan beristirahat, sehingga menetralkan kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan sehari-hari. Pekerjaan pembersihan secara menyeluruh yang dilakukan melalui aliran darah berjalan secara efisien, dan

keseimbangan kimiawi dipulihkan. Maka tidur dapat dibandingkan dengan sekelompok orang yang bekerja pada malam hari untuk memperbaiki dan membersihkan segala sesuatu untuk keesokan harinya.

Salah satu fungsi tidur yang paling penting adalah untuk memungkinkan sistem syaraf pulih setelah digunakan selama satu hari. Sebagaimana dikatakan The World Book Encyclopedia, “tidur memulihkan energi kepada tubuh, khususnya kepada otak dan sistem syaraf”.


TIDUR BERAPA LAMA?”

==============

Kebanyakan orang dewasa membutuhkan tujuh atau delapan jam tidur setiap malam. Ada yang tidak membutuhkan sebanyak itu, yang lain-lain lebih daripada itu. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka hanya membutuhkan empat atau lima jam tidur, meskipun beberapa dari mereka mungkin tidur siang. Bayi lebih membutuhkan lebih banyak tidur daripada orang dewasa.

Terutama bila orang semakin tua, mereka mungkin mendapati bahwa mereka terjaga beberapa kali pada malam hari. Beberapa orang mungkin merasa bahwa ini merupakan gejala awal dari problem tidur yang serius. Akan tetapi, meskipun orang lanjut usia mungkin tidak merasakan tidur senyenyak waktu mereka masih muda, eksperimen telah memperlihatkan bahwa terbangun beberapa kali pada malam hari bukanlah sesuatu yang perlu dicemaskan. Biasanya, orang lanjut usia akan terbangun sebentar saja, mungkin hanya beberapa menit, kemudian mereka tertidur lagi.

Namun, berapa pun usia seseorang, ia hendaknya tidak mengharap mutu tidur yang sama sepanjang malam. Tidur terdiri atas suatu siklus berupa tidur yang lebih nyenyak yang berganti-gantian dengan tidur yang kurang nyenyak. Sepanjang malam, seseoarang mungkin mengalami sejumlah siklus ini.

BAHAYA DARI KURANG TIDUR

“Para peneliti menjadi semakin khawatir akan jumlah orang yang tidur terlalu sedikit. Mereka memperingatkan bahwa kurang tidur secara kronis, dapat menimbulkan dampak yang berbahaya bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekeliling kita,” demikian laporan The Toronto Star.

“Orang-orang yang tidak tidur kehilangan energi dan lekas marah. Seseorang yang dua hari tidak tidur akan mendapati sulit berkonsentrasi untuk waktu yang lama. . . . Banyak kesalahan akan dibuat, terutama dalam tugas-tugas rutin, dan kadang-kadang ia tidak mampu memusatkan perhatian. . . . Orang-orang yang tidak tidur selama lebih dari tiga hari akan sangat sulit berpikir, melihat, dan mendengar dengan jelas. Beberapa orang akan mengalami periode halusinasi, yaitu mereka melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada,” demikian kata The World Book Encyclopedia.

Hasil tes memperlihatkan bahwa setelah seseorang tidak tidur selama empat hari, ia hanya dapat melakukan sedikit tugas rutin. Tugas-tugas yang menuntut perhatian atau bahkan kegesitan mental yang minimum akan menjadi sulit ditangani. Kehilangan kosentrasi dan kegesitan mental bukanlah faktor-faktor yang terburuk. Setelah empat setengah hari, ada gejala-gejala menggigau, dan dunia disekelilingnya menjadi sangat aneh di matanya.

Kurang tidur dapat mengakibatkan masalah besar. Lebih dari satu orang yang mengantuk telah tertidur dalam perjalanan sewaktu mengemudi mobil dan terlibat dalam kecelakaan fatal. Tidak tidur juga dapat mengakibatkan masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena terus-menerus kurang tidur membuat orang cepat marah danlebih sulit diajak bergaul. Tidur malam yang baik lebih penting daripada yang mungkin disadari beberapa orang.

MENDAPATKAN TIDUR MALAM YANG BAIK

Seorang pakar dalam masalah tidur, Dr. Jeffrey J. Lipsitz, dari Pusat Gangguan Tidur Metropolitan Toronto menyarankan hal berikut ini untuk mendapatkan tidur malam yang baik. Tidurlah di lingkungan yang aman, tenang, dan gelap serta di tempat tidur yang nyaman. Jangan tidur menjelang malam, meskipun pada malam sebelumnya Anda tidak cukup tidur;berupayalah untuk tetap bangun dan tidurlah pada jam Anda biasa tidur.

Hindari kafein sebelum waktu tidur. Jangan membaca atau menonton TV di tempat tidur. Jangan berolahraga terlalu berat dan menyantap banyak makanan tepat sebelum waktu tidur. Pertahankan jam tidur yang tetap, karena hal ini akan membantu tubuh mendapatkan ritme bangun dan tidur yang konstan.

Buatlah kebiasaan untuk rileks sebelum Anda tidur. Hindari melakukan hal-hal yang mungkin cenderung membut Anda bersemangat dan lebih terjaga. Misalnya, hindari nonton film, acara-acara TV, atau membaca bacaan yang menegangkan. Mengadakan pembahasan yang membangkitkan semangat tepat sebelum tidur juga cenderung membuat Anda susah tidur.

Bagi beberapa orang, mandi air hangat (tidak panas) atau membaca bacaan ringan yang tidak membangkitkan semangat bisa membantu. Demikian pula bantuan untuk merangsang tidur, seperti susu yang hangat, dadih, sedikit anggur, atau teh dari daun pohon hop, teh mentol, tetapi bukan teh yang mengandung kafein.

Akan tetapi banyak orang setuju, bahwa rileks saja sebelum tidur mungkin tidak cukup. Kehidupan yang sehat dan seimbang dengan olahraga yang teratur dan kehidupan yang bebas dari kekhawatiran dan frustasi yang disebabkan oleh ketamakan, iri hati, permusuhan, dan ambisi juga turut membantu mendapatkan tidur malam yang baik. Begitu pula kehidupan yang bebas dari makan dan minum secara berlebihan dan kehidupan yang bebas dari ketidakbahagiaan yang disebabkan oleh perbuatan amoral.


Yesus ku tersalib…ku mau turut Serta

==============

Orang yang memiliki perasaan pahit dan memerlukan

anggur bercampur empedu adalah orang yang tidak mau

memikul salib. Saat Tuhan Yesus disalib, Ia menolak

minum anggur bercampur empedu.

Banyak anak Allah yang seolah2 sedang memikul salib,

namun dalam realitasnya tidak demikian. Memikul salib

tidak memerlukan hiburan dan kesukaan diluar Allah.

Tetapi banyak orang yang sewaktu memikul salib, semua

tetangganya mengetahuinya. Jika mereka memikul salib

di

lantai atas, maka yang tinggal di lantai bawah

mengetahuinya. Raut muka, ekspresi dan suara mereka

seolah-olah memberitahukan orang banyak, “Lihat!Aku

sedang memikul salib!”Ketahuilah, jika kabar mengenai

salib telah tersebar, maka itu bukan lagi salib; jika

kabar mengenai salib telah tersebar, maka tiada salib

lagi. Kabar yang telah tersebar itu adalah anggur

bercampur empedu. Pada umumnya manusia cenderung

mencari penghiburan, mencari belas-kasihan; begitu

ada sedikit kesulitan, segera mencari simpati orang

lain. Tidak terhitung banyaknya jumlah orang yang haus

akan hal ini, tapi ini bukan salib. Satu kesulitan

yang sangat besar antara anak-anak Allah ialah Allah

tidak menjadi sukacita mereka, karena itu mereka

mencari sukacita lain di luar Allah. Karena Allah

tidak memuaskan hati mereka, maka mereka mencari

hiburan di luar Allah. Inilah anggur bercampur empedu.

Ini bukan salib.

Ada tiga macam perasaan berbeda pada diri anak-anak

Allah ketika mereka menderita. Ada yang perasaaanya

mengarah pada manusia lainnya; ada yang perasaannya

mengarah ke dalam diri sendiri; ada yang perasaannya

mengarah ke bawah. Mereka yang perasaannya mengarah

kepada manusia mudah marah-marah kepada orang lain,

membenci dan tidak mau memaafkan orang lain. Mereka

yang perasaannya mengarah ke dalam, mudah merasa

terluka, mengasihi diri sendiri, menyangka bahwa

mereka yang mengikuti Tuhan akan sangat menderita

seperti Tuhan. Mereka yang perasaannya mengarah ke

bawah, suka memaksa menekan-nekan perasaannya,

sehingga akhirnya menjadi pasif. Kita mudah marah,

kita mudah mengasihani diri sendiri, kita juga mudah

menjadi pasif. Beberapa anak Allah mengira, menjadi

pasif itu berarti menang. Hanya sedikit dari mereka

yang tahu bahwa menjadi pasif dalam perasaan juga

berarti mengharapkan anggur bercampur empedu. Pasif

adalah ekspresi lain dari terluka. Karena batinnya

kecewa, maka menjadi pasif; karena terlalu banyak

tuntutan, maka menjadi pasif. Pasif membuktikan tidak

ada salib, itu hanya penghempasan perasaan seseorang

dengan paksa.

Walaupun banyak di antara anak-anak Allah yang

menderita,namun tidak banyak dari mereka yang

benar-benar memikul salib. Ada beberapa ekspresi

ketika mereka sedang menderita. Ada yang merasa karena

dirinya adalah orang Kristen, maka seyogyanyalah dia

menderita. Memang diluarnya ia tidak berkata apa-apa,

seolah-olah dia benar-benar memikul salib, tetapi

diam-dia dia menggerutu. Orang-orang yang setelah

menderita lalu menggerutu adalah orang-orang yang

belum mengenal apakah salib itu. Karena di dalam batin

mereka dipenuhi dengan kepahitan, maka mereka

memerlukan anggur bercampur empedu.

Ada juga yang tidak menggerutu, baik dengan bersuara

maupun tidak ketika sedang menderita, tetapi mereka

menangis. Kita harus tau bahwa salib adalah tempat

darah dicurahkan dan tuguh dikurbankan. Salib bukan

tempat untuk mengangis dan mengasihani diri sendiri.

Mereka yang menangis dan mengasihani diri sendiri

adalah orang yang tidak mengenal salib. Menangis

berarti tidak rela menderita. Hanya orang yang ada

dibawah salib yang menangis, orang yang ada diatas

salib tidak menangis. Jikalau seseorang merasa terluka

setelah ia menderita sedikit kepedihan, atau merasa

rugi katika menderita kerugian, ia adalah orang yang

masih belum mengerti apa artinya salib. Ada juga orang

yang penuh dengan kesombongan dan berpura-pura menjadi

pemenang. Orang semacam ini juga bukan orang yang

tersalib; sebab eksperesinya hanya untuk menarik

perhatian orang. Seakan-akan ia memberitahu kepada

orang-orang,”Meskipun menderita, aku masih dapat

berkidung dan memuji syukur, aku adalah orang yang

memikul salib. Maksud tingkahlakunya adalah memperoleh

pujian manusia. Ini juga adalah anggur bercampur

empedu, bukan memikul salib.

Ada orang secara realitas tidak memikul salib, namun

sangat pandai berbicara mengenai salib. Mereka

menganggap bahwa pengalaman ini adalah pengalaman

salib, kejadian itu juga adalah pengalaman salib.

Peristiwa ini adalah salib, peristiwa itu juga adalah

salib. Yang diharapkan orang semacam ini adalah belas

kasihan manusia. Yang mendukakan hatinya adalah jika

tidak ada seorangpun menaruh belas kasih padanya.

Matanya selalu mencari dan mengharap ada orang yang

menaruh belas kasih padanya. Orang semacam ini haus

anggur bercampur empedu, ia bukan orang yang memikul

salib.

Watchman Nee


SISDIKNAS DAN SAYA

====================================

Oleh: Pdt. Gilbert Lumoindong

Ketika saya SD, saya bersekolah di SD “Dewi Sartika” Tebet, Jakarta.

Saya masuk tahun 1972. Waktu orang tua saya mendaftarkan saya, Kepala Sekolah waktu itu Ibu Soekaesih, menyatakan bahwa, disebabkan kurangnya murid yang beragama Kristen, maka berat baginya untuk menyediakan guru agama Kristen untuk mengajar beberapa orang anak saja; beliau berjanji jika jumlah anak mencukupi, sekolah akan menyediakan guru agama. Dalam

keseharian saya dari kelas 1 SD, jika seorang bertanya apa cita-cita

saya kelak, selalu saya jawab: MENJADI PENDETA; namun di sekolah saya justru mendapat pelajaran agama Islam.

Saya pun diwajibkan menghafal Al-Fatihah, nama-nama 25 nabi, dan

tugas-tugas lain yang berhubungan dengan keIslaman. Apakah itu merubah keyakinan saya bahwa Yesus adalah Tuhan? (tetap harus dimengerti, saya jalani semuanya sejak usia saya 7 tahun hingga 13 tahun) saya harus dengan tegas mengatakan, “SAMA SEKALI TIDAK” sebab lulus SMA, saya langsung mendaftar ke Institut Theologia & Keguruan Indonesia, Jakarta (Seminary Bethel). Bahkan manfaat yang saya terima, dari pelajaran-pelajaran agama Islam ketika saya SD, saya dapat memahami pandangan saudara-saudara saya muslim; sehingga saya juga dapat mengerti hal-hal yang dapat menimbulkan sakit hati saudara-saudara saya yang perlu kita jaga bersama,.

Untuk itu saran yang justru ingin saya sampaikan untuk menghindari

banyaknya “orang-orang fanatik tanpa arah” hari-hari ini adalah bahwa setiap sekolah, bukan hanya mengajarkan ajaran agama sesuai dengan agama si siswa, namun juga mengajarkan agama-agama lain yang ada di Indonesia untuk menghindari “kefanatikan bodoh.” Di sana-sini masih saja kita jumpai, sebagai contoh, orang meyebut orang Kristen sebagai orang kafir, hanya karena makan babi dan karena keyakinan iman, bahwa ALLAH ESA di dalam Bapa, Anak & Roh Kudus. Bagaimana jika orang Kristen yang tidak cukup mengerti tentang pandangan Islam itu Barbar karena memperbolehkan

menikah lebih dari satu kali…?? (Bukankah bisa hancur negara kita

jika masing-masing menyerang agama lain?).

Jadi saya begitu percaya, pelajaran agama di sekolah, seharusnya tidak dapat merubah keyakinan iman yang ditanamkan dalam keluarga. Justru pelajaran agama di sekolah membuka wawasan untuk kita mengerti secara formal, ajaran agama yang kita anut. Karena saya percaya iman dan agama adalah dua hal yang berbeda:

1. Agama memberikan pelajaran, iman memberikan teladan.

2. Agama membuka pikiran, iman mengisi hati.

3. Agama membuat orang berpikir, iman membuat orang bertindak.

4. Agama membuat orang pintar, iman membuat orang hidup benar.

Netters sekalian, marilah kita berdoa, agar urusan agama tidak disusupi urusan-urusan politik. Karena jika agama dipakai sebagai kendaraan politik, akan hancurlah bangsa kita ini. Doa kita, pihak-pihak yang berkompeten mengambil keputusan yang terbaik untuk bangsa kita dan generasi penerus kita. Sehingga generasi penerus kita bukan hanya beragama namun beriman. Doa saya menyertai netters sekalian.

Jika netters sekalian merasa diberkati dengan artikel ini dapat mem-forward kepada rekan-rekan lain agar menjadi berkat bagi yang lain,

maju terus dalam Yesus, Haleluya

Gilbert Lumoindong


ARTI CINTA

==============

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu,sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-2 saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif dan

Berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang

cinta.

Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.

“Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini”, jawab saya.

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya,

” Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”

Seseorang berkata, ‘mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit’

Dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya.

Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan,

“Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

Dia berkata, ” Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar

Kertas dengan coret-2an tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan?

Sayang,

“Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya

untuk menjelaskan alasannya.”

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.

“Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki programnya.”

“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu.”

“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-2 baru

yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”

“Kamu selalu pegal-2 pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”

“Kamu senang diam didalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi “aneh”.

Saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2

untuk menyembuhkan kebosananmu.”

“Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku mu dan mencabuti ubanmu.” “Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah? menceritakan warna-2 bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu?”

Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu?

Saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati?”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi

kabur? dan saya membaca kembali?

“Dan sekarang sayangku?k amu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar dan roti kesukaanmu?”

Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti.

Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan mengetahui saya harus melupakan “bunga” itu sendiri?

Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika seseorang

Dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian?

Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui?

Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan.

Diatas semua ini, pilar cinta sejati berdiri? dan itulah kehidupan kita?

Hadiah atas kerendahan hati

Tuhan sangat menyukai orang yang sungguh rendah hati.

Booker T. Washington, seorang pendidik berkulit hitam yang terkenal,

Adalah salah satu contohnya.

Tatkala ia menjadi pimpinan pada Institut Tuskegee di Alabama, ia

senang berjalan-jalan di pinggir kota. Suatu hari ia dihentikan oleh

seorang wanita kaya kulit putih. Karena tak mengenal Washington, maka ia menawarkan apakah laki-laki kulit hitam itu mau ia beri upah dengan memotongkan kayu untuknya. Setelah mengingat bahwa tak ada urusan mendesak pada saat itu, maka Profesor Washington menyatakan kesediaannya. Ia tersenyum, menggulung lengan baju, dan mulai mengerjakan pekerjaan kasar yang diminta wanita

tadi.

Kemudian ia membawa kayu-kayu itu ke dalam rumah dan meletakkannya di dekat perapian.

Seorang gadis kecil yang mengenalnya, kemudian mengatakan kepada wanita itu siapa Pak Washington sebenarnya. Keesokan harinya

wanita tadi dengan perasaan malu datang ke kantor Washington untuk

meminta maaf : “Tak apa-apa, Nyonya, saya sangat senang dapat menolong anda”. Wanita tadi dengan hangat menjabat tangan Pak Washington dan mengatakan bahwa perilaku Washington yang sangat terpuji itu tertanam dalam hatinya.

Tak lama kemudian wanita tadi menyatakan penghormatannya dengan

menyumbang beribu-ribu dolar untuk Institut Tuskegee.

Ingatlah bahwa mengerjakan sesuatu tanpa pamrih akan membuat anda dihormati manusia dan disayangi Allah. Ini merupakan hadiah sejati atas kerendahan hati.

“Tak ada pakaian yang lebih pantas bagi kita selain jubah kerendahan

hati”

Kesaksian: Kami Sungguh Rindu

Kami Sungguh Rindu

Sumber Kesaksian : Robby Sugara & Bertha

CBNI – Mengampuni berarti memaafkan apa yang sulit diampuni. Jika

tidak, pengampunan tidak ada artinya sama sekali. Kasih berarti mengasihi apa yang sulit untuk dikasihi. Jika tidak demikian maka tidak ada kasih.

Terngiang-ngiang dalam ingatan Bertha semua kata-kata dan ucapan

menyangkut perilaku Robby Sugara, suaminya.

“Etha, aku sungguh minta maaf, aku berjanji tidak akan berselingkuh

lagi!”

“Ma, aku pergi dulu yah!”

“Pa… mau kemana kamu?”

“Ma, papa kok tidak pulang-pulang?”

“Kita sabar saja yah anak-anak, nanti juga papa pulang”…..

Saya Bertha atau Etha, istri aktor Robby Sugara. Pada tahun 1984 pada waktu dunia perfilman sedang jatuh suami saya mencoba satu bisnis. Pada saat itulah suami saya terlibat affair dengan salah seorang teman bisnisnya hingga ia akhirnya meninggalkan kami sekeluarga. Saat kami ditinggalkan memang perekonomian keluarga sedang dalam keadaan ambruk. Dari suami saya tidak ada bantuan sama sekali. Tapi saya punya prinsip bahwa anak-anak saya harus sekolah dan makan dengan cara yang halal.

Keadaan ini membawa Bertha mengalami perjuangan yang keras.

Apapun saya lakukan saat itu. Saya mengisi dagangan kantin milik teman saya di kantor. Saya juga menjalankan barang-barang kreditan milik teman saya ke kantor-kantor. Memang ada perasaan sedih dan malu karena memikul nama suami saya. Tapi saya tutup telinga saya karena bagaimanapun saya tetap harus menghidupi ketujuh anak-anak saya.

Priscila, putri Robby menyatakan rindu akan ayahnya, mewakili

Saudaranya Kami bertemu papi hanya pada waktu Natalan saja, itupun tidak setiap tahun. Mungkin tiga tahun sekali kami baru bisa ketemu papi. Disaat seperti itu kami baru bisa melepas rasa kangen dan rindu. Kami benar-benar gunakan waktu untuk jalan bareng dan bercanda dengan papi. Tapi, hanya disaat itu saja kami mempunyai waktu dengan papi.

Petronela, putri sulung Robby sungguh merindukan kehadiran ayahnya.

Begitu bertemu papi semua perasaan sakit di dada rasanya langsung

hilang begitu saja. Tapi begitu papi mau pergi lagi, aku memeluk papi,

rasanya sayang untuk melepas papi pergi lagi. Kerinduanku akan papi besar sekali Kalau aku merasa kurang puas, aku biasanya akan tulis di diary atau di bukuku. Aku akan tulis : “Papi, aku kangen banget sama papi. Kok papi nggak merasa apa yang aku rasain sih?. Aku sungguh kangen papi!”.

Aku selalu menulis tulisan itu berulang-ulang dengan kata-kata yang

sama.

Dalam kepedihan hidup, Bertha membawa anak-anaknya mengenal Tuhan.

Disaat itulah saya berfikir untuk membawa mereka ke tangan Tuhan. Saya membawa anak-anak ikut Sekolah Minggu dan melibatkan mereka di kegiatan gereja lainnya. Saya melihat hasilnya sekitar satu tahun kemudian.

Setiap jam enam sore, anak saya yang paling tua selalu minta satu kamar dalam rumah kami. Satu saat saya ikuti, ternyata anak-anak saya sedang bergandengan tangan, menyanyikan lagu-lagu rohani dan berdoa. Saat anak-anak saya berdoa, saya menjadi begitu terharu, bangga dan bahagia.

Sebelum mereka memohon kepada Tuhan apa yang mereka inginkan, mereka ternyata lebih dulu mengampuni wanita yang telah mengambil papa mereka.

Anak-anak saya berdoa seperti ini : “Tuhan ampunilah perempuan yang mengambil papa saya. Tuhan berilah suami yang baik untuk perempuan itu dan Tuhan kembalikan papa kami”.

Waktu terus berlalu, 11 tahun kemudian.

Satu saat telepon berbunyi, ternyata telepon dari Robby. Robby selalu

memanggil saya Etha. Robby mengatakan hal ini kepada saya : “Halo Etha, ini aku. Etha, aku mau pulang dan kembali ke rumah. Kamu bersabar yah,

aku mau menyelesaikan semua masalah di sini. Aku pasti akan kembali padamu dan anak-anak!”. Setelah suami saya Robby berbicara seperti itu, suatu perasaan sayang, perasaan cinta sepertinya mulai timbul dan saya rasakan kembali.

Robby Sugara sendiri tidak menyadari bagaimana kerinduan itu timbul.

Kerinduan itu datang dari mana, saya sendiri tidak tahu. Tapi saya

rasakan dalam hati, dari sekian pertemuan, walau boleh dikatakan jarang sekali, saat saya bersama mereka saya selalu merasakan sukacita sekali. Sukacita seperti itu yang saya inginkan selalu ada, tetap langgeng dan tidak terputus, tidak dibatasi oleh waktu. Disaat malam yang sepi, saat orang-orang telah tertidur, kadang-kadang saya membayangkan keluarga dan anak-anak saya. Saya sering berfikir, bagaimana saya bisa kembali kepada mereka?. Kebanyakan pergumulan itu terjadi di tengah malam.

Bertha menyadari bahwa pemulihan itu tidak mudah.

Prosesnya tidak cepat. Satu tahun lewat, dua tahun lewat, tiga tahun

lewat. Sampai anak saya yang pertama selalu membeli hadiah untuk kado ulang tahun papanya. Anak saya tidak mau membuka kado-kado untuk papanya itu.

Suatu hari di bulan Januari 1998, Robby berjanji untuk kembali ke

rumah.

Saat itu Robby berjanji bahwa pada tanggal sekian dia akan pulang ke

rumah. Dan pada hari tersebut anak-anak menjemput ayah mereka. Namun saat bertemu Robby menyuruh kami pulang saja dulu ke rumah dan dia berjanji bahwa hari itu juga dia akan menyusul.

Hari itu Bertha dan anak-anak menanti suami dan ayah mereka kembali ke rumah. Mereka menanti bahkan hingga jauh malam. Disaat dini hari menjelang, doa-doa Bertha beserta anak-anaknya selam 14 tahun akhirnya berbuah. jawaban Tuhan-pun datang.

Akhirnya jam 2 pagi ada ketukan di pintu. Anak-anak membuka dan

ternyata Robby kembali…. Anak-anak bersuka cita sekali. Mereka memeluk papa mereka, saya sendiri terharu melihatnya.

Semua anak-anak Robby merasakan adanya beban yang terlepas.

Petronela : “Kita semua menangis, semua sakit di dada terlepas, Tuhan angkat”.

Priscila : “Saya tidak bisa ngomong apa-apa lagi, yang ada cuma

tangis!”.

Robby sendiri merasa bahagia atas penerimaan mereka.

Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, setiap kali saya bertemu dengan anak-anak dan keluarga saya, tidak pernah ada suatu kata-kata yang menyudutkan. Jadi malam itu saya pulang, yang saya dapatkan hanya sukacita.

Setelah 14 tahun berpisah akhirnya Robby Sugara berkumpul kembali

dengan keluarganya. Bertha, istri Robby, sungguh menerima hadiah terindah dari Tuhan

Tuhan memulihkan hati saya dan hati Robby. Wah..! pokoknya hubungan saya dan Robby lebih daripada masa pacaran. Saat ini saya merasakan satu kebahagiaan yang luar biasa. Kami tahu bahwa Tuhan campur tangan dalam kebahagiaan yang kami alami saat ini.

Robby Sugara tahu bahwa Tuhan yang menguasai hati keluarganya.

Untuk mau menerima orang yang telah sekian lama menyakiti hati tidaklah mungkin jikalau bukan karena campur tangan Tuhan. Keluarga saya, istri dan anak-anak saya telah diberi Tuhan kebesaran hati, mereka diberi kasih dalam diri mereka untuk dapat menerima saya. Saya rasa kalau bukan karena campur tangan Tuhan, itu tidak mungkin.

Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih

menutupi banyak sekali dosa. (1Petrus 4:7-8)

From: CBNInews

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on January 8, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: