Ilustrasi dan Renungan Part-4

KASIH DALAM CAMBUK !

==============

“Ma, saya sadar saya bersalah kepada keluarga Tsunekawa, papa dan mama karena peristiwa ini. Saya minta maaf. Saya juga akan meminta maaf kepada keluarga Tsunekawa. Apakah itu cukup?” tanyaku pelan. “Tidak, terlebih lagi engkau bersalah kepada Tuhan. Tidakkah engkau sadar akan hal itu?” Aku berpikir cukup lama tentang hal itu sebelum menggangguk tanda mengiyakan.

“Baiklah, sekarang kita berlutut bersama dan berdoa, meminta pengampunan dari Tuhan, setelah itu kita bersama ke rumah keluarga Tsunekawa untuk meminta maaf dan berjanji padanya akan menggantikan jendela yang pecah itu.” Kami kemudian berlutut dan mama memimpin doa:

“Inilah kami dengan segala kesalahan dan dosa kami, ya Tuhan. Ampunilah hamba-Mu yang lalai dalam mendidik anak yang Kautitipkan pada hamba. Ampunilah juga anak hamba yang masih belum mengerti bagaimana ia seharusnya memuliakan Engkau. Berilah kami hikmat bagaimana untuk menyenangkan hati-Mu. Kami bersyukur karena Engkau masih mau menegur kami. Kami sadar itu karena Engkau sungguh mengasihi kami dan tidak membiarkan kami berjalan di jalan yang salah. Sebentar lagi hamba akan menghukum anak hamba. Biarlah dia mengerti bahwa setiap hukuman yang hamba arahkan padanya menyakiti hati hamba sendiri, juga menyakiti hati Tuhan, yang mengasihi dia. Biarlah melalui peristiwa ini dia mengerti akan kebesaran kasih dan keadilan Tuhan. Juga kami akan ke rumah Tsunekawa. Ajar kami untuk berkata-kata sehingga setiap kalimat yang kami ucapkan tidak lebih mempermalukan-Mu lagi, melainkan boleh menyejukkan hati keluarga Tsunekawa yang belum mengenal Engkau. Biarlah mereka memaafkan kami dan menerima kami. Inilah doa permohonan kami, ya Tuhan. Terimalah dan sempurnakanlah. Dalam nama AnakMu yang sempurna dan menyempurnakan kami berdoa.

Amin!”

Eksekusi diberikan. Tapi tidak mengurangi rasa bersalah dan penyesalanku. Kamipun ke rumah Naoya, meminta maaf dan mama berjanji akan mengganti segala kerugian yang disebabkan olehku. Bapak Tsunekawa pun dengan senang hati memaafkan kami, bahkan tidak berkeberatan halamannya dipakai lagi untuk bermain bola, asal lebih hati-hati tentunya.


SECARA KHUSUS UNTUK PAPA DAN MAMA…..

==============

“Aku bersyukur Allah menganugrahkan orang tua yang demikian untukku,” tutupku.

“Ya, adalah suatu anugrah yang istimewa bagimu mempunyai orangtua semacam itu. Itulah yang seharusnya terjadi dalam setiap keluarga yang mengenal Tuhan. Aku kadang sedih melihat keadaan banyak keluarga Kristen. Walaupun mereka menyebut dirinya Kristen, tetapi mereka tidak pernah menanyakan apa kehendak-Ku bagi anaknya. Mereka mengasihi anaknya; sayangnya, sebagian besar dari mereka mengasihi dengan cara yang salah, cara yang tidak berkenan kepada Allah. Ada orangtua yang demikian keras terhadap anaknya, sehingga menghancurkan pribadi anak (Kolose 3:21). Ada juga yang

demikian lunak, sehingga sang anak menghancurkan dirinya sendiri. Ada yang tidak mau mengerti isi hati anaknya. Ada yang selalu mencoba untuk mengerti tanpa membuat sang anak mengerti tentang kebesaran kasih dan keadilan Allah.

Sesungguhnya, mereka menjalankan hidupnya sendiri tanpa menghiraukan Aku !” Kata-Nya mencurahkan kesedihan hati-Nya.

Aku terharu melihat kasih-Nya yang demikian besar terhadap anak-anak sekalipun. Yesus ingin mengenal dan ingin dikenal oleh semua anak-anak -kesederhanaan, kepolosan, kemurnian, keutuhan, ketulusan manusia-manusia kecil tersebut. Tapi seringkali justru orang tua merekalah yang menghalangi.

“Tuhan Yesus, bolehkah aku mengatakan beberapa hal mengenai kedua orang tuaku?” tanyaku.

Aku tahu pasti Ia menyetujuinya, tapi aku ingin memberikan ketegasan kesungguhan hatiku.

“Tuhan Yesus, aku berterima kasih untuk kedua orang tua yang telah Engkau berikan kepadaku. Mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah hadir dalam hidupku:

Orang tua yang selalu ingin mendengar segala isi hatiku, orang tua yang selalu bersedia mendampingiku di kala aku sedih.

Orang tua yang selalu menemani aku ketika aku sendiri.

Orang tua yang selalu memberikan penghiburan, memberikan semangat ketika aku sedang surut.

Orang tua yang selalu menegurku ketika aku salah, dan berusaha membawa aku kembali ke jalan yang benar.

Orang tua yang selalu menunjukan kepadaku Jalan Kebenaran tanpa mengatakan dirinya sendiri benar.

Orang tua yang selalu mencoba untuk mengerti diriku dan selalu mencoba membuatku mengerti kehendak dan rencana-Mu dalam hidupku.

Orang tua yang selalu memberikan yang terbaik bagiku secara tulus dan tanpa pamrih.

Orang tua yang tidak pernah meminta balas jasa.

Orang tua yang penuh kasih, kelemahlembutan, ketulusan.

Orang tua yang pantas menjadi teladan dalam hidupku. Dalam diri merekalah aku pertama melihat diri-Mu.

Orang tua yang mengajariku berdoa.

Orang tua yang mengajariku membaca Alkitab, Firman Allah yang tertulis, dan daripadanya memperkenalkan aku kepada Engkau, Kristus, Firman Allah yang hidup.”

“Terima kasih, ya Yesus, untuk orang tua yang sedemikian baik. Hari ini, bahkan setiap hari, adalah hari yang istimewa bagiku karena seorang ayah dan seorang ibu yang bersedia membawa anaknya kepada Allah.”

(Walaupun cerita ini fiksi belaka, namun ditulis sebagai tanda terima kasih kepada Papa dan Mama yang telah menanamkan iman yang kuat untuk bersandar kepada Kristus. Terima kasih Pa, terima kasih Ma.)

END

“Aku mengasihi kamu”

“Aku mengasihi kamu!” deg..hatiku terenyuh. Lagi-lagi kata itu yang

selalu membuat aku nggak mampu berbuat apa-apa. Seakan-akan aku sudah terhipnotis dengan kalimat itu, sehingga aku bisa cepet ngelupain atas kejadiaan yang tidak mengenakkan hati.

Tak terasa sudah masuk tahun ke-4 di tahun ini, aku jadiaan ama dia.

Kalo aku ditanya, kenapa bisa jadiaan ama dia?

aku nggak bisa jawab panjang-lebar. Soalnya, ternyata dia sudah

memperhatikan aku sejak dari dulu. Ngehnya, pada saat dia nyataiin cinta pertama kali ke aku. Perasaan aku saat itu terharu sekali. Kenapa? Karena aku adalah wanita biasa yang tidak cantik dan nggak pantas berjalan bersama-sama dengan dia. Tapi kenapa justru dia memilih aku? bukankah ada banyak wanita lain yang lebih pas untuk dia pilih?

Tapi, setelah berjalannya waktu… aku baru ngerti. Ternyata dia

mengasihi aku dengan kasih yang sejati. Dia tidak melihat keberadaan aku.

Pokoknya dia mengasihi aku apa adanya. Wow… itu yang membuat aku amaze dan sayang ama dia. Bukan hanya sayang, aku ngerasa sejak ketemu dia itu aku jadi beda. Aku mulai tidak menyentuh apa yang dia tidak suka.

Memang agak sulit sih… tapi entah kenapa, aku mau belajar untuk

menghindari hal-hal yang dia tidak suka. Meskipun belum sanggup seluruhnya tapi setidaknya aku mau mencoba. Aku pikir, rasa sayang itu yang membuat aku mampu melakukannya.

Perjalanan kita ternyata tidak semulus yang aku kira. Ada aja yang

sirik akan kedeketan kita. Mereka berusaha memisahkan aku dan dia dengan berbagai macam cara. Trik dan usaha mereka sangat gencar. Beberapa kali aku bisa lolos, tapi dua minggu yang lalu ternyata aku kena juga jebakan mereka. Hmmm….kalo ingat kejadiaan itu aku jadi malu sendiri.

Ternyata aku orangnya egois banget… hanya karena harga diri, aku bisa nyuekin dia dan cemberut sepanjang hari. Sehingga membuat suasana hati tidak enak.

Aku pikir, susah bener sih jalan ama dia. Banyak yang tidak suka dan

aku juga musti menghadapi berbagai macam tantangan. Lebih baik udahan aja deh… dari pada ribet! Cape juga kalo setiap hari musti berjuang.

Tapi sepertinya dia mencium keputusasaanku dan dengan lembut dia

membisikan keywordnya ke telingaku “Aku mengasihi kamu”. Kata-kata yang sangat simple tapi kena dihati. Kenapa yah… kenapa aku cepet sekali luluh setiap kali dia mengatakan hal itu? Humm… iyaa, aku tahu jawabannya.

Aku tahu bahwa aku benar-benar jatuh cinta padanya. Sehingga aku mau memulai lagi perjalanan kita, sampai menuju ke jenjang pernikahan kita nanti.

Temen-temen, dia disini bukan sembarang dia. Tetapi, Dia disini adalah Dia yang 100% Manusia dan 100% Allah. Dia adalah Allah yang luar biasa, Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Dia yang agung dan perkasa yang akan datang ke dua kalinya ke dunia ini dengan segala kemuliaanNya dan yang akan menjemput kekasih-kekasih hatiNya.

Sudahkah temen-temen menjadikan Dia sebagai kekasih hatimu?

Maleakhi 1:2a “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN.

Buku Telpon

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas.

“Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?”

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari guru, “Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu…”.

Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid. “Nah, kamu Andry, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-temanmu…”.

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, “Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini”. Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu. “Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!”

Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya.

Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang. “Pak Guru..Pak, aku belum bercerita”. Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

“Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua”, ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. “Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?”, Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

“Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu”. Sesaat senyap. Sedetik kemudian, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik,bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, “Ha? Aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan…hahaha”. Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, “Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu?” Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. “Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak…”.

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara.

“Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi”.

Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan. “Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.”

“Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi”.

Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur setiap malam di dalam mobil yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya”.

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. “Itu artinya,akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti…”. Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal : “Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun. Sebesar apapun.


Dosa-Dosa Kecil

==============

Dua orang pendosa mengunjungi hamba Tuhan yang bijak dan meminta nasehatnya

“Kami telah melakukan suatu dosa,” kata mereka dan suara hati kami

terganggu. “Apa yang harus kami lakukan ?”

“Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan, Anakku,” kata hamba Tuhan tsb.

Pria pertama mengatakan ,”Saya melakukan suatu dosa yang berat dan mematikan.” Pria kedua berkata,”Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan.”

“Baik,” kata hamba Tuhan tsb, “Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa yang telah kamu lakukan !”.

Pria pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang amat besar. Pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.

“Sekarang,” kata hamba Tuhan tsb, “Pergilah dan kembalikan semua batu itu tepat dimana kamu telah menemukannya!”.

Pria pertama mengangkat batu besar itu dan memikulnya kembali ke

tempat dimana ia telah mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang telah diambilnya, maka ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu berada didalam tasnya. Katanya,”Itu pekerjaan yang sulit.”

“Dosa itu seperti batu-batu itu,’ kata hamba Tuhan bijak tsb, “Jika

seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu

besar dalam suara hatinya, tetapi dengan penyesalan yang sejati,

memohon ampun dan mengakui Nama Tuhan, maka kesalahannya diampuni seluruhnya oleh Tuhan.

Tetapi pria yang terus menerus melakukan dosa-dosa ringan dan ia tahu itu salah, namun semakin membekukan suara hatinya dan ia tidak menyesali sedikitpun, maka ia tetap sebagai seorang pendosa. Ia sulit membuang batu-batu itu kembali ke tempatnya dan terus menerus membawanya seumur hidup.

“Maka ketahuilah,anak-anakku,” nasihat hamba Tuhan itu, “adalah sama untuk menolak dosa-dosa ringan seperti menolak dosa-dosa berat !”

Hal Terbaik mengenai SeorangTeman

Suatu hari seorang guru meminta kepada para muridnya untuk membuat daftar semua nama murid di kelas itu pada dua lembar kertas dan memberikan tempat kosong di setiap nama. Kemudian ia meminta mereka untuk memikirkan hal yang terbaik mengenai teman mereka dan menuliskannya.

Tugas itu ternyata menyita sisa waktu pelajaran untuk diselesaikan dan ketika para murid meninggalkan kelas, setiap orang menyerahkan hasilnya.

Sabtu itu, sang guru menuliskan nama dari setiap murid di kertas yang terpisah, lalu membuat daftar apa yang telah dikatakan oleh murid yang lain mengenai murid itu.

Dan pada hari Senin, ia memberikan setiap murid daftarnya. Tidak lama kemudian, seluruh kelas mulai tersenyum. “Sungguh?” ia mendengar suara bisik-bisik. “Aku tidak tahu bahwa aku berarti untuk orang lain!” dan, “Aku tidak tahu kalau yang lain sangat menyukaiku.” Begitulah komentar yang didengar oleh sang guru.

Tidak ada orang yang menyinggung daftar itu di kelas lagi. Ia tidak pernah tahu apakah para murid membicarakannya di luar kelas atau kepada para orang tua mereka, tetapi tidak masalah. Latihan itu telah sampai tujuannya. Para murid sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lainnya.

Beberapa tahun kemudian, salah seorang dari murid itu tewas terbunuh di Vietnam dan gurunya menghadiri pemakaman murid itu. Ia tidak pernah melihat seorang tentara di dalam peti jenazah militer sebelumnya. Muridnya itu sangat tampan, sangat dewasa.

Seluruh gereja dipenuhi oleh teman-temannya. Satu persatu yang mencintainya menghampiri peti jenazah itu. Sang guru adalah orang yang terakhir yang mengucapkan salam perpisahan.

Ketika ia berdiri di sana, salah seorang dari tentara yang bertugas sebagai pengangkut peti jenazah itu menghampirinya. “Apakah kamu guru matematikanya Mark?” tanyanya. Sang guru mengangguk, “iya.” Kemudian tentara itu melanjutkan : “Mark banyak membicarakan dirimu.”

Setelah pemakaman, bekas teman sekelas Mark bersama-sama pergi ke tempat makan siang. Ayah dan ibu Mark ada di sana, sangat jelas terlihat bahwa mereka tidak sabar untuk berbicara dengan guru Mark.

“Kami ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu,” kata ayah Mark, sambil mengambil dompet dari sakunya. “Mereka menemukan benda ini pada Mark ketika ia tewas. Kami kira Anda mungkin akan mengenalinya.”

Sambil membuka dompet itu, ayah Mark dengan sangat hati-hati mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah diisolasi, dilipat berkali-kali. Sang guru langsung mengenalinya, bahwa kertas itu adalah kertas yang dibuat olehnya berisikan daftar kebaikan Mark yang ditulis oleh teman-teman sekelasnya.

“Terima kasih karena telah melakukan hal itu,” ibu Mark berkata. “Seperti yang Anda lihat, Mark menyimpannya sebagai salah satu hartanya.” Semua mantan teman sekelas Mark mulai berkumpul.

Charlie tersenyum dengan malu-malu sambil berkata, “Aku juga masih

menyimpan daftarku. Daftarku itu berada di bagian atas laci meja belajarku di rumah.”

Istri Chuck berkata, “Chuck memintaku untuk meletakkannya di album

pernikahan kami.”

“Aku juga memilikinya,” kata Marilyn. “Daftarku ada dalam buku harianku.”

Kemudan Vicki, teman sekelas yang lain, mengambil buku sakunya, kemudian mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan daftarnya yang sudah kusam dan lecek kepada yang lain. “Aku membawanya bersamaku setiap waktu,” ujar Vicki, lalu sambungnya : “Aku rasa kita semua menyimpan daftar kita masing-masing.”

Pada saat itu, sang guru terduduk dan menangis. Ia menangis karena Mark dan seluruh temannya tidak akan mungkin melihat Mark kembali.

Begitu banyak orang yang datang dan pergi di kehidupan kita. Dan kita tidak mengetahui kapan hari itu akan tiba. Jadi katakanlah kepada orang yang Anda kasihi dan cintai, bahwa mereka sangat penting dan spesial dalam kehidupan Anda.

Katakanlah kepada mereka sebelum terlambat !


HARTAMU SANGAT BERHARGA ?

==============

Di depan gerbang sebuah jembatan di salah satu kota Eropa, duduk seorang peminta-minta yang buta. Untuk mencari nafkahnya, ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang.

Di depannya terletak kaleng kosong yang diharapkannya orang-orang yang lalu lalang merasa iba terhadapnya, dan melalui musik biola-nya, mereka akan memberinya sedikit uang. Begitulah pengemis miskin ini melakukan kebiasaannya setiap harinya.

Pada suatu hari, seseorang yang berpakaian sedikit rapih, berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya. Tentu saja dengan sigap pengemis itu menolak untuk meminjamkan kepada orang yang baru dikenalnya, apalagi dia tidak dapat melihat rupa orang tersebut, maka berkatalah pengemis itu “Tidak! Ini adalah hartaku satu-satunya yang sangat berharga!”.

Pendatang ini tidak putus asa, dan membujuk lagi si pengemis agar mau meminjamkan biolanya tersebut hanya untuk sebuah lagu. Akhirnya seperti ada rasa kepercayaan pada pengemis buta itu, lalu dengan perlahan ia memberikan biola tuanya kepada pendatang tersebut. Pendatang tersebut mengambil biola tersebut, dan mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu merdu. Suara biola yang begitu bening di tangan si pendatang membuat orang yang lalu lalang berhenti dan mereka mulai berkeliling mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Begitu merdu dan bagusnya permainan biola si pendatang tersebut membuat semua orang terpaku, dan si pengemis buta ternganga tak dapat mengucap sepatah katapun. Kaleng yang tadinya kosong tanpa disadari kini telah penuh dengan uang, dan lagu demi lagu telah dimainkan oleh si pendatang tersebut.

Akhirnya tiba waktunya si pendatang ini harus menyelesaikan permainannya, dan sambil mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis. Si pengemis sambil berurai air mata haru, bertanya: “Siapakah anda orang budiman?”. Si pendatang tersenyum ramah dan dengan perlahan menyebutkan namanya “Paganini”.

Semua orang terdiam, karena mereka mengenal akan nama itu, ya seorang maestro biola. Paganini, telah memberikan banyak berkat kepada sang pengemis yang telah bersedia memberikan harta kesayangan satu-satunya untuk dipergunakan oleh sang maestro.

Demikian jugalah dalam kehidupan kita mengiring Yesus, adakah kita sudah rela memberikan seluruh harta kekayaan kita kepada Yesus ?

Sebab sekiranya kita ingin diberkati oleh Tuhan Yesus maka kebenaran Firman Tuhan mengatakan :

“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21)


Melawan Godaan dosa

Oleh : Michael L. Brown

==============

Karena saya sering berbicara di depan umum di berbagai belahan dunia, saya sering kali menginap di hotel dan telah menjadi kebiasaan saya semenjak beberapa tahun yang lalu untuk meminta petugas hotel yang saya tinggali untuk menyingkirkan televisi dari kamar saya. Mengapa ?

Pertama, adalah terlalu mudah untuk membuang – buang waktu berharga untuk melayani, berdoa, belajar atau istirahat, dengan menonton acara – acara TV malam yang “aman” seperti olahraga dan siaran berita. Kedua, adalah terlalu mudah untuk melihat sekilas hal -hal yang tidak senonoh pada waktu kita memindah – mindah saluran. Ketiga, saya mengatakan hal ini dalam kapasitas seseorang yang tidak pernah membuang – buang uang untuk menonton siaran TV kabel di kamar hotel – adalah terlalu mudah bagi kita untuk melihat sesuatu yang menimbulkan dosa seperti film – film porno yang tersedia di sebagian besar hotel di Amerika dan Eropa.

Bagi saya, adalah lebih mudah menyuruh petugas hotel memindahkan pesawat televisi daripada menjadikan saya memboroskan waktu atau yang lebih buruk lagi, membiarkan pikiran saya terkontaminasi oleh gambar – gambar najis yang membakar hawa nafsu.

Sejujurnya, ada waktu – waktu tertentu dimana saya masih dapat menikmati kudapan tengah malam sambil menonton siaran – siaran olahraga.

Tetapi itulah pengorbanan saya untuk menghindari percobaan dalam kehidupan saya. Jika hal ini terasa ekstrem bagi anda, kemungkinan besar anda tidak pernah bepergian untuk pelayanan, urusan bisnis dan masuk dalam jadwal kerja yang ketat dan melelahkan. Setelah mengucapkan selamat malam kepada kolega dan teman – teman anda, anda mendapati diri anda sendirian di kamar, ribuan mil jauhnya dari rumah, dalam kondisi

lelah.

Tiba – tiba mata anda menatap sebuah pesawat televisi besar di pojok kamar. Maka timbullah godaan untuk menyalakan televisi itu sebagai ‘teman’, agar suasana tidak terlalu sunyi. Mungkin acara – acara Kristen cukup menarik untuk menghidupkan suasana.

Tetapi masalahnya, sudah sering terjadi orang menggunakan waktu beberapa menit untuk menonton acara – acara yang baik, tetapi berakhir dengan menonton hal – hal yang kotor dari televisi yang sama. Karena itu, setiap kali saya bepergian, jika pihak hotel tidak mau memindahkan televisinya, maka saya minta resepsionis untuk memutus saluran TV kabel saya. Semua ini saya lakukan demi keselamatan saya sendiri.

Pada suatu hari, ketika sedang memikirkan tentang masalah – masalah yang ditimbulkan oleh televisi, saya bertanya kepada diri sendiri : “Kenapa tadi saya tidak minta pihak hotel untuk menyingkirkan TV itu ? Ini pasti karena saya sendiri masih ingin membuka kesempatan untuk menontonnya !”

Dari sini saya menarik sebuah kesimpulan : Jika sejak awal saya memiliki kesempatan untuk menutup pintu pada pencobaan tetapi saya gagal melakukannya, maka itu berarti saya sendiri sedang mencari – cari masalah. Dengan kata lain, bila saya tidak menjauhkan diri dari dosa, maka saya pasti sedang berjalan menuju ke arah dosa itu sendiri.

Dengan demikian, satu – satunya cara untuk mengatasi dosa dan kehendak daging ialah dengan : memiliki ketetapan hati untuk mengubah gaya hidup dan membuat pilihan – pilihan yang sulit dengan tenang, bijaksana dan berkepala dingin. Setelah itu, manakala pencobaan itu mengetuk pintu hati anda, segeralah membanting pintu hati dan menguncinya baik-baik.

Sebagai contoh, jika anda dan tunangan anda sepakat untuk tidak masuk ke apartemen anda dengan berdua saja, maka anda berdua lebih mudah menghindari dosa – dosa seksual. Peperangan itu dimenangkan sebelum dimulai. Sebaliknya, jika anda sudah tahu bahwa berdua – duaan di apartemen yang sepi adalah perbuatan yang sembrono, tetapi anda tidak mempedulikannya, itu berarti anda sedang mengundang pencobaan itu ke

dalam hidup anda.

Lagi pula, jika anda melewatkan waktu berdua saja dengan tunangan anda di apartemen itu, mungkin anda sudah tidak mampu lagi menahan diri dari godaan dosa. Bagaimanapun, anda telah melemahkan kehendak anda sendiri dengan mengesampingkan “radar dosa” yang ditempatkan Allah dalam hati anda dan berkata “ya” kepada daging dengan menyerahkan diri pada keinginan – keinginan duniawi. Untuk mengatasi hal ini, lebih baik anda ‘memenggal’ tangan yang menyebabkan anda berbuat

dosa – yang artinya, dalam kasus ini, mengurangi waktu – waktu berduaan dalam suasana yang romantis.

Tentu saja, secara harfiah kita memahami bahwa tangan, kaki dan mata tidak menyebabkan kita berbuat dosa. Kita berbuat dosa sebab kita menyerah kepada keinginan hati dan pikiran kita. Yesus berkata : “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal – hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang ” (Markus 7:21- 23).

Kebenaran ini kembali mengingatkan kita bahwa kita tidak secara literal benar – benar mengamputasi tangan yang mencuri atau mencungkil mata yang memancarkan kebencian. Tetapi Tuhan ingin agar kita dapat bersikap tegas terhadap dosa. Pisahkan dosa itu dari kehidupan anda, amputasilah dia dari jiwa anda, campakkanlah itu dari hati anda – berapa pun harga yang harus dibayar ! Kita wajib siaga dan waspada terhadap dosa. Awas, sebuah tindakan yang sembrono dapat menjadi suatu malapetaka besar.


Pelayan Hotel

==============

Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua

dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam.

“Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?” tanya sang suami.

Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.

“Semua kamar kami telah penuh,” pelayan berkata. “Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam ini.”

Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. “Jangan

khawatir tentang saya. Saya akan baik- baik saja,” kata sang pelayan.

Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki- laki tua itu berkata kepada sang pelayan, “Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika.

Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk anda.”

Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut

mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai

dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini

datang mengunjungi pasangan tua tersebut.

Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit “Itu,” kata laki-laki tua, “adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola”.

“Anda pasti sedang bergurau,” jawab laki-laki muda.

“Saya jamin, saya tidak,” kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum

lebar.

Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur

bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.

Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt.

Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

Pelajarannya adalah…….. perlakukanlah semua orang dengan kasih,

kemurahan dan hormat, dan anda tidak akan gagal.


ILUSTRASI MEMIKUL SALIB

==============

Ada 3 orang; A, B ,dan C di beri tugas oleh Tuhan untuk memikul salib yang sama besar dan sangat berat menuju puncak sebuah bukit.Di sana Tuhan berjanji akan menjemput mereka ke Surga. Di tengah jalan ketiga orang itu melihat sebuah gergaji, si B mulai berpikir dan menghasut kedua temannya untuk memotong salib mereka supaya salib itu menjadi ringan. Namun kedua temannya tidak menuruti usul si B karena mereka taat dan mengasihi Tuhan. Kasih mereka kepada Tuhan membuat mereka mau dan rela memikul tanggung jawab yang Tuhan sudah berikan tanpa keluhan.

Singkat cerita si B memotong salibnya, shg dngan mudah ia mendahului kedua temannya. Sampai dipuncak bukit, si B melihat sebuah jurang yang teramat lebar memisahkan puncak bukit itu dengan gerbang Surga. Di seberang jurang terlihat malaikat Tuhan yang sudah menanti kedatangan mereka. Dengan bersemangat si B menanyakan jalan mana yang bisa dipakainya untuk sampai ke gerbang Surga, tapi malaikat Tuhan itu menjawab, “Tuhan sudah sediakan jalan itu”.

Si B sangat bingung karena dia samasekali tidak melihat jalan yang dimaksud sang malaikat Tuhan. Beberapa saat kemudian, si A dan C tiba di puncak bukit tersebut. Seperti halnya si B, mereka bertanya ttg jalan ke seberang pada malaikat Tuhan, mereka mendapatkan jawaban yang sama, “Tuhan sudah menyediakan jalan itu”. Kemudian Roh Kudus bukakan pikiran mereka berdua dan mereka mengerti sesuatu, ukuran salib yang berat dan besar itu sudah Tuhan buat tepat sama dengan jarak antara puncak bukit dan terbang Surga, itulah jalan yang Tuhan sudah sediakan.

Mereka segera sadar akan hal itu dan bergegas meletakkan salib mereka dan mulai menyeberang. Si B kebingungan karena salib yang Tuhan beri untuk dia sudah dia potong hingga tidak bisa berfungsi sebagai jembatan. Namun dipikirnya dia dapat meminjam salib A atau C untuk menyeberang. Tapi sungguh kasihan, begitu A dan C selesai menyeberang dengan salib mereka, salib itu tiba-tiba menghilang, itu berarti si B tidak dapat menyeberang ke pintu Surga…..

(,”) Dari ilustrasi ini, ditunjukkan bahwa seringkali kita menganggap Tuhan begitu kejam mengijinkan “salib” itu ada dalam hidup kita, kita juga sering mengeluh karena sepertinya pemrosesan (yang pahit) itu tidak kunjung selesai. Akibatnya kita terlalu sering mencari jalan keluar sendiri dan tidak mau taat pada Tuhan,sehingga memotong salib yang seharusnya kita pikul. Namun, justru “salib” itulah yang akan menolong kita mengerti akan kasih Tuhan pada kita. Ia ijinkan kita mengalami pemrosesan yang sulit supaya kita menjadi semakin sempurna. “..karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” ~ Ibrani 12:6 “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

~ Ibrani 12:10,11

Sebuah cerita tentang hidup dari negeri India….

Saya pikir, hidup ini kayaknya cuma nambahin kesulitan-kesulitan saya aja! ‘Kerja menyebalkan’, hidup tak berguna’, dan nggak ada sesuatu yang beres!! Tapi semua itu berubah… sejak kemarin…Pandangan saya tentang hidup ini benar-benar telah berubah!

Tepatnya terjadi setelah saya bercakap-cakap dengan teman saya. Ia

mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 pekerjaan dan

berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita. Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 putrinya, ditambah lagi tagihan-tagihan rumah tangga yang numpuk!!!

Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India. Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat. Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India.

Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya Sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok!! Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun!!, terus menghantuinya sampai sekarang. Kamu mungkin sekarang bertanya-tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu?

Apa anaknya itu ‘so naughty’ atau tangannya itu terkena suatu Penyakit sampai harus dipotong? Ternyata tidak!!! Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat..MENGEMIS…!! Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang-orang saat mengemis di jalanan !! Saya benar-benar tidak dapat menerima hal ini, tetapi ini adalah KENYATAAN!! Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri !!

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan-jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah. Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira-kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu… mereka berebutan untuk memakannya!! (suatu reaksi yang alami dari kelaparan).

Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu

menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat. Ia menemukan 2 toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu! Pemilik toko sampai kebingungan, tetapi ia bersedia menjual semua rotinya.

Kurang dari $100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (jadi

Tidak sampai $0,25 / potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $ 100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari-hari. Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang-barang keperluan sehari-hari kepada anak-anak (yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang-orang dewasa disitu! Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tak ternilai harganya, yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang-orang yang kurang beruntung ini!! Untuk pertama kalinya dalam

hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $ 0,25!! Ia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat. Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi,punya begitu banyak

hal dimana orang-orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN!!

Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga!

Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya? TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali!! Nah, bagaimana dengan kamu? Mungkin di waktu lain saat kamu mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan..!!

Saudara, banyak hal yang sudah kita alami dalam menjalani kehidupan kita selama ini, sudahkah kita BERSYUKUR???

Apakah kita mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa

Yang sudah kita miliki??

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on January 8, 2009, in Renungan. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: