Ilustrasi dan Renungan Part-3

Tiket, tiket!

==============

Di stasiun, tiga orang insinyur yang akan menghadiri sebuah konperensi membeli tiket, masing-masing satu. Mereka melihat ada tiga akuntan yang juga membeli tiket tetapi mereka bertiga hanya membeli satu tiket.

“Bagaimana kamu tiga orang hanya membeli satu tiket?” tanya salah seorang insinyur. “Lihat saja nanti,” jawab salah satu dari akuntan itu. Mereka pun naik ke kereta. Ketiga insinyur itu mengambil tempat duduknya masing-masing tetapi ketiga akuntan itu masuk ke kamar kecil. Mereka berdesakan di situ dan menutup pintu. Tak lama setelah kereta berangkat kondektur datang memeriksa tiket. Ia mengetuk pintu kamar kecil dan berteriak, “Tiket, tiket!” Pintu kamar kecil membuka sedikit dan satu tangan menjulur keluar menyerahkan tiket. Kondektur itu melubangi tiket dan mengembalikannya. Ketiga insinyur itu melihatnya dan berpikir cerdik juga cara akuntan-akuntan itu.

Setelah konperensi selesai ketiga insinyur itu pulang. Mereka bermaksud meniru cara yang cerdik akuntan-akuntan itu. Di stasiun mereka hanya membeli satu tiket untuk menghemat uang. Namun mereka sangat heran karena mereka kembali bertemu dengan ketiga akuntan dan mereka tidak membeli tiket. “Bagaimana Anda naik kereta tanpa tiket?” tanya salah seorang insinyur itu terheran-heran. “Lihat saja nanti,” jawab akuntan itu.

Setelah mereka naik ke kereta ketiga insinyur itu masuk ke salah satu kamar kecil dan menutup pintu. Lalu ketiga akuntan itu juga masuk ke kamar kecil di sebelahnya. Kereta pun berangkat. Sesaat kemudian salah seorang dari akuntan itu keluar dari kamar kecil dan mengetuk kamar kecil tempat ketiga insinyur itu berada. Ia mengetuk pintu dan berteriak, “Tiket, tiket!”

Break Through Mission

==============

Anda pernah dengar Break Through Mission? Break Through Mission adalah tempat rehabilitasi bagi para pecandu Narkoba dan obat-obatan psikotropika.

Break Through Mission didirikan tahun 1993, berpusat di Singapura,

mottonya adalah If the Son therefore shall make you free, Ye shall be free indeed (John 8:36 ). Kemampuan Break Through memullihkan mereka-mereka yang kecanduan tidak diragukan lagi. Dalam menyembuhkan, mereka sama sekali tidak menggunakan obat-obatan. Break Through Mission dalam menjalankan “tugasnya” sepenuhnya hanya bersandarkan pada Tuhan. Sudah banyak dari

para pecandu yang telah bebas dari kebiasaannya. Ada yang telah menikah dan mempunyai anak, ada yang menjadi hamba Tuhan dan ada sebagian dari mereka yang telah dikirim oleh Break Through Mission ke negara-negara yang tingkat kecanduannya tinggi untuk bisa bersaksi tentang kelepasan mereka.

Dengan begitu diharapkan semakin banyak orang-orang yang dapat diselamatkan.

Kemarin di kebaktian gereja saya, saya sangat bersyukur boleh mendengar kesaksian mereka. Berikut ini adalah kesaksian yang paling menonjol.

Adalah Xing-Xing yang sejak usia muda telah mengenal ganja. Orang tuanya telah meninggal. Semuanya itu bermula dari coba-coba. Sekali coba, akibatnya sampai 20 tahun lamanya. Karena konsumsi ganja yang sudah kelewat batas membuat Xing-Xing terjun bebas dari lantai 15 suatu apartement dan menimpa sebuah mobil (foto mobil yang penyok berat di bagian atasnya diperlihatkan). Ada 7 bagian tubuh yang tulangnya sudah hancur. Selama 2 bulan ia koma dan ada di rumah sakit selama 10 bulan. Selama 10 bulan itu ada seorang

dokter yang dengan setia membacakan Alkitab dan setiap hari berdoa

untuk dia. Dan akhirnya ia menerima Tuhan. Sepulang dari RS ia diantar dokter tadi ke Break Through Mission. Di sana dengan mujizat Tuhan yang luar biasa ia disembuhkan, walaupun ia harus merelakan kedua kakinya lumpuh. Yang menggembirakan, Break Through sekarang ada di Indonesia dengan nama Break Through Indonesia yang semua tenaga ahlinya didatangkan langsung dari Singapura. Tuhan telah menggerakkan hati seorang James Riady ( anak dari

Mochtar Riady, Chairman Lippo Group Bank ) untuk menyumbangkan sebidang tanah di Bukit Sentul, Jakarta seharga $2.000.000 Singapura dengan kapasitas 100 orang. Break Through Mission membentuk vokal grup beranggotakan 7 orang dengan nama B7 dan saat ini sedang mempersiapkan album mereka yang ke 3 dan 4. Perlu diketahui kesemua lagu-lagu tersebut dari album 1-4 diciptakan sendiri oleh para personelnya.

Hari Senin ini ( tgl 24 Maret ) jam 14.30 mereka berangkat ke Bogor

untuk rekaman album ke 3 dan 4 dan harus selesai sebelum tanggal 29 karena tanggal itu merupakan batas terakhir mereka di Indonesia setelah 1.5 bulan. Dan seluruh perjualan kaset dan CD-nya, mereka

akan sumbangkan ke Break Trough Indonesia.

Saya mempunyai brosur ( dalam terjemahan Indonesia )dan CD tentang kesaksian mereka + sebagian dari lagu-lagunya ( dalam bahasa Mandarin ).

Bila ada diantara teman-teman yang ingin membantu teman Anda yang kebetulan pecandu Narkoba dan ingin tahu lebih lanjut, saya siap meminjamkan nya. Perlu diketahui Break Through Mission tidak memungut biaya se-sen-pun. Semoga info ini dapat sedikit membantu mengurangi saudara-saudara kita yang kecanduan.

Mari kita dukung dalam doa untuk Break Through Mission dan Break

Through Indonesia. Mari kita jadikan negeri ini bebas dari Narkoba. Puji Tuhan dan seluruh kemuliaan hanya bagi Dia. Amen.

“The LORD bless you and keep you;

the LORD make his face shine upon you

and be gracious to you;

the LORD turn his face toward you

and give you peace.”

YUDAS, ORANG YANG TIDAK PERNAH TAHU

by Max Lucado

==============

Kadang-kadang saya bertanya-tanya orang seperti apa Yudas itu. Mukanya, cara bertindaknya, siapa teman-temannya.

Saya rasa saya sudah menggambarkan dia sebagai tipe standar. Saya selalu melukiskan dia sebagai orang yang kurus tapi kuat, matanya bulat kecil seperti manik-manik, orang yang licik dan tidak dapat dipercaya sama sekali lengkap sampai janggut kambingnya. Saya gambarkan dia sebagai orang yang sudah terasing dari rasul-rasul lain. Tidak punya teman. Jauh dari orang. Jelaslah bahwa dia seorang penghianat. Mungkin hasil dari keluarga yang pecah. Anak berandal di masa mudanya.

Tetapi saya bertanya-tanya apakah itu benar. Kita tidak punya bukti

(kecuali sikap diam Yudas sendiri) yang mengisyaratkan bahwa ia menyendiri. Pada Perjamuan Terakhir, ketika Yesus mengatakan bahwa pengkhianat-Nya duduk semeja dengan Dia, kita tidak mendapati para rasul langsung berbalik memandang Yudas sebagai orang yang jelas berwatak pengkhianat.

Saya kira kita sudah salah menilai Yudas. Mungkin dia justru

berlawanan dari gambaran kita. Dia bukan licik dan kurus kering, tetapi mungkin kokoh, baik hati dan gembira. Daripada orang yang pendiam dan introvert, dapat saja dia berwatak ramah dan bermaksud baik. Saya tidak tahu.

Tetapi di samping semua yang tidak kita tahu tentang Yudas, ada

satu hal yang kita tahu pasti: ia tidak ada hubungan dengan sang Guru. Ia sudah melihat Yesus, tetapi ia tidak mengenal Dia. Ia sudah mendengar Yesus, tetapi ia tidak mengerti Dia. Ia punya agama tetapi tidak punya hubungan.

Ketika iblis mencari jalan mengelilingi meja makan di ruang atas

itu, ia membutuhkan seseorang yang khusus untuk mengkhianati Tuhan kita. Ia memerlukan orang yang sudah melihat Yesus tetapi tidak mengenal-Nya. Ia memerlukan orang yang mengenal tindakan-tindakan Yesus tetapi luput dari pengenalanya akan misi Yesus. Yudaslah orangnya. Ia mengenal kekaisarannya tetapi tidak pernah mengenal Pemiliknya.

Kita mendapat pelajaran ini dari si pengkhianat. Sarana penghancuran iblis yang terbaik tidak terdapat di luar gereja tetapi di dalamnya.

Sebuah gereja tidak akan mati karena kelanggengannya di Hollywood atau karena kourpsi di Washington. Ia mati karena kerusakan internal dari mereka yang memakai nama Yesus tetapi tidak pernah bertemu dengan Dia dan dari mereka yang mempunyai agama tetapi tidak punya hubungan (dengan Yesus).

Yudas memakai mantel agama tetapi tidak pernah mengenal hati

Kristus. Marilah kita jadikan sasaran kita untuk mengenal Dia …. secara mendalam.

To think about

Here’s something to think about :

A man went to a barber shop to have his hair and his beard cut as always. He started to have a good conversation with the barber who attended him. They talked about so many things and various subjects.

Suddenly, they touched the subject of God.

The barber said: “Look man, I don’t believe that God exists as you say

so.”

Why do you say that?” – asked the client.

Well, it’s so easy, you just have to go out in the street to realize

That God does not exist. Oh, tell me, if God existed, would there be so many sick people? Would there be abandoned children? If God existed, there would be no Suffering nor pain. I can’t think of a God who permits all of these things.”

The client stopped for a moment thinking but he didn’t want to respond so as to prevent an argument. The barber finished his job and the client went out of the shop. Just after he left the barber shop he saw a man in the street with a Long hair and beard (it seems that it had been a long time since he had his cut and he looked so untidy).

Then the client again entered the barber shop and he said to the

barber:

You know what? Barbers do not exist.”

“How come they don’t exist?”-asked the barber.

“Well,I am here and I am a barber.”

“No!” – the client exclaimed.

“They don’t exist because if they did there would be no people with

long hair and beard like that man who walks in the street.”

“Ah, barbers do exist, what happens is that people do not come to me.”

“Exactly!”- affirmed the client. “That’s the point.

God does exist, what happens is people don’t go to Him and do not look for Him that’s why there’s so much pain and suffering in the world.”

Tuhan Menyelamatkan Saya Dengan Ban Mobil Kempes

Shaloom….

Kisah ini merupakan pengalaman pribadi yang saya alami belum lama ini, tepatnya, Senin, 12 Mei lalu. Tuhan Yesus masih menyayangi saya

sehingga diri ini tidak mengalami musibah.

Berawal pada Senin pagi, ketika saya akan pergi ke kantor. Biasanya

saya ke kantor mengendarai mobil pribadi. Ketika akan berangkat dari rumah seperti biasa saya melakukan cek kendaraan, seperti air di radiator, oli dan ban mobil. Semuanya beres dan tidak ada masalah.

Kemudian saya memanaskan mobil dan menjalankan mobil saya menuju ke tempat kerja. Baru berjalan sekitar 100 meter dari rumah, saya merasakan ada gangguan pada roda mobil saya. Ketika dilihat ternyata ban mobil saya sebelah kanan belakang kempes. Saya menjadi heran kok bisa kempes mendadak. Padahal tadi sewaktu diperiksa kondisinya bagus. Seandainya pecah ban pasti akan terdengar suara letusan.

Melihat kondisi ban seperti ini. Saya tidak mengganti ban mobilnya tapi mobil saya paksa putar balik ke rumah. Setibanya mobil di rumah, saya putuskan berangkat ke kantor dengan menggunakan taksi.

Selama perjalanan menuju kantor memakai taksi, saya tidak merasakan apa apa. Kondisi fisik yang saya rasakan sehat. Setibanya dikantor saya melakukan aktifitas seperti biasa malah telah menyusun rencana untuk melakukan berbagai pertemuan diluar kantor. Rencanannya akan menggunakan mobil.

Sekitar pukul 10.00, tiba tiba saya merasa badan saya tidak enak. Kok, seperti orang yang kehilangan keseimbangan badan. Rasanya mau jatuh setiap kali mau berjalan ataupun berdiri. Saya belum pernah mengalami perasaan seperti ini, padahal setelah makan siang ada janji rapat dengan klien.

Merasa kondisi badan yang mendadak tidak enak ini. Saya memutuskan untuk pergi ke poliklinik yang ada di kantor. Dokter yang menerima saya kemudian memeriksa badan ini dan melakukan tensi darah. Ternyata tekanan darah saya (untuk pertama kali) sangat tinggi, sehingga membuat badan saya hilang keseimbangan dan orientasi.

Terbayang dalam benak saya, seandainya kondisi ban mobil saya baik,

kemudian saya jalan menemui klien (saya bawa mobil sendiri) melalui jalan tol, selanjutnya saya kehilangan keseimbangan dan orientasi. Tentunya akan terjadi peristiwa buruk yang bisa berakibat fatal terhadap saya.

Ternyata Tuhan Yesus bersama para malaikatnya masih menyayangi saya sehingga peristiwa buruk tersebut tidak terjadi. Tuhan menjaga saya dengan memberikan peristiwa berupa kempesnya ban mobil secara mendadak. Suatu peristiwa yang tidak pernah terlintas dalam pikiran saya kalau hal ini berdampakbagi kehidupan saya.

Tuhan Yesus selalu memberikan pertolongan melalui hal hal yang tidak

pernah terpikirkan oleh kita semuanya. Melalui hal kecil dan sederhanapun Ia akan selalu menjaga dan melindungi umat yang percaya kepadanya.

Saya hanya bisa berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang selalu menjaga dan melindungi saya. Adapun penyakit yang saya alami ini secara beragsur pulih.

Ludi Hasibuan

Wujud Kasih

Pagi semuanya, sehat khan????

hari ini gue mengalami suatu hal yg sangat menyedihkan dan membuatku merenung lalu hampir menangis.

Kemarin ada satu orang anggotaku kerja (Cowok sudah berkeluarga dgn satu orang anak) tidak masuk kerja.

ketika dia telp. ke pt untuk konfirmasi dengan aku, tetapi aku sedang

patroli lapangan shg tidak dapat berbicara dgn dia.

Akhirnya dia hanya titip pesan yg menyatakan bahwa dia tidak masuk

kerja karena anaknya sakit dan sedang dirawat.

dan pagi ini (dia masuk shift I) dia tidak masuk lagi, dan terus terang

aku agak sedikit kecewa krn untuk mengatur komposisi orang yg

melaksanakan tugasnya masing2 aku akan kerepotan karena kondisi man power yg pas2 an.

Tiba2 ada orang yg masuk keruanganku, setelah kulihat ternyata dia

sedang membawa form pengajuan cuti selama dua hari (kemarin dan hari ini).

Sebelum menyetujui form itu aku bertanya kepada dia perihal kejelasan mengenai kondisi anaknya.

Akhirnya dia bercerita, bahwa anak nya kejang2 dan harus dibawa ke

CASA untuk mendapatkan “PERAWATAN DARURAT”, setelah itu baru paginya dia menuju klinik yang ditunjuk oleh perusahaan, dan setelah itu dia mendapat rujukan ke RS Budi Kemuliaan.

Tetapi hari ini (baru saja), walaupun dokter belum mengijinkan anaknya untuk dia bawa pulang, akhirnya dia memutuskan untuk tetap membawa anaknya pulang karena “UNTUK ONGKOS KE RUMAH SAKIT SAJA DIA TIDAK PUNYA UANG”. Dengan pertimbangan dirumah lebih irit, akhirnya dia membawa itu anak pulang, walaupun menurut dokter kondisi HB nya yg masih kurang.

Hatiku merasa terenyuh dgn keterangan yg dia berikan, akhirnya aku

mengambil langkah:

1. Menyuruh dia ambil cuti 3 hari saja (Senin – Rabu, lalu kamis n

jum’at kan memang libur) untuk lebih konsentrasi jaga anaknya.

2. Memberi pinjaman Rp. 150.000 (kebetulan banget gue hari ini bawa

uang sekitar Rp. 250 ribu utk bayar telephone, biasanya duit gue maksimal cuma Rp. 20 ribu dan itupun hanya untuk persiapan kalau2 motor bocor dijalan.)

3. Menyuruh dia untuk kembali membawa anaknya ke klinik dan menerangkan kpd dokter kondisi yg sebenarnya mengenai anak ini, dan kembalikan tuh anak ke rumah sakit kalau memang mendapat rujukan lagi.

HAL YG GUE DAPATKAN HARI INI

Tuhan itu sungguh baik bagi gue, mungkin sampai selama ini gue merasa selalu kurang dan terus kurang. Sehingga ungkapan syukur gue thd Dia tidak dengan sungguh2 banget.

Ternyata tidak sedikit orang yg berada di sekeliling kita dan untuk

makan saja susah. Mereka masih berpikir “MAKAN APA KITA HARI INI?”,

sementara kita sudah berpikir ,”MAKAN DIMANA KITA HARI INI?”.

BERSYUKUR, BERSYUKUR, BERSYUKURLAH…. BERSYUKUR ATAS KASIH SETIANYA….

Dan sekarang gue sungguh merasakan sukacita.

Thanks

Pung

Bejana Yang Retak

Bejana Yang Retak; Sebuah Kisah Tentang Keunikan

Seorang pembawa air di India memiliki 2 buah bejana besar yang setiap hari menggantung di ujung-ujung pikulan yang dibawanya diatas bahunya.

Salah satu bejana itu memiliki retakan, sedangkan satunya lagi sempurna & selalu berhasil membawa penuh air sepanjang perjalanan dari sungai ke rumah tuan si pembawa air.

Selama 2 tahun hal itu terus terjadi, si pembawa air setiap hari selalu

hanya berhasil membawa satu setengah bejana air. Tentu saja bejana yang sempurna itu bangga dengan hasil yang dicapainya; sesuai & sempurna sebagaimana selayaknya ia diciptakan. Tetapi bejana yang retak malu dengan ke-tidak sempurna-an yang ada pada dirinya & merasa sedih karena ia hanya mampu membawa setengah dari jumlah seharusnya ia diciptakan.

Setelah waktu 2 tahun berlalu dengan merasakan pahitnya kegagalan,

suatu hari di tepi sungai si bejana retak berkata kepada si pembawa air.

“Aku malu terhadap diriku & aku ingin minta maaf kepadamu.”

“Kenapa? Apa yang membuatmu merasa malu?” tanya si pembawa air.

“Selama 2 tahun ini aku hanya mampu membawa setengah dari yang

seharusnya aku bisa bawa. Semua ini karena retakan di tubuhku yang

mengakibatkan air keluar lagi selama perjalananmu kembali dari sungai ke rumah tuanmu. Karena cacatku ini, kamu tidak mendapatkan nilai yang setimpal dengan tenaga yang kamu keluarkan.” kata si bejana retak.

Si pembawa air merasa iba kepada si bejana tua yang retak itu & dengan penuh kasih ia berkata, “Saat nanti kita berjalan kembali menuju ke rumah tuanku, aku mau kamu memperhatikan bunga-bunga indah di jalan setapak sepanjang perjalanan pulang.”

Memang, ketika mereka mulai menaiki bukit, si bejana tua melihat sinar mentari menyinari bunga-bunga liar yang tumbuh indah di sisi jalan setapak. Hal itu membuat dia sedikit terhibur. Di akhir perjalanan, ia masih merasa bersalah karena setengah dari bawaannya telah mengucur keluar,

ia kembali minta maaf. Si pembawa air berkata kepada bejana itu,

“Apakah kamu menyadari bahwa bunga-bunga di sepanjang jalan setapak itu hanya ada pada sisi dimana engkau ada tapi tidak ada di sisi bejana satu lagi? Itu karena aku selalu tahu mengenai cacatmu & aku ‘mengambil keuntungan’ darinya. Aku menanam benih-benih bunga di sepanjang sisi jalan dimana kamu ada & setiap hari ketika kita kembali dari sungai, kamu menyirami mereka. Selama 2 tahun aku bisa memetik bunga-bunga indah itu untuk menghiasi meja tuanku. Kalau kamu tidak menjadi sebagaimana kamu ada,

tuanku tidak akan pernah menikmati keindahan bunga-bunga itu yang turut menyemarakkan rumahnya.”

Setiap dari kita memiliki ‘kecacatan yang unik’. Kita semua adalah

bejana yang retak. Tapi bila kita mengijinkan hal itu ada pada diri kita,

Tuhan kita akan menggunakan ke-cacat-an itu untuk menyemarakkan

‘meja-Nya’. Dalam prinsip ekonomi Allah yang luar biasa, tidak ada yang terbuang percuma. Maka ketika kita mencari cara untuk melayani bersama dengan saudara seiman lainnya & ketika Allah menunjukmu untuk mengerjakan bagian yang diberikan kepadamu, jangan takut dengan ke-cacat-an yang ada pada dirimu. Akui itu & biarkan Allah mengambil keuntungan darinya. Maka kamupun bisa menjadi penyebab keindahan yang ada di sepanjang jalan yang Ia buat. Jalanilah dengan berani, karena kita tahu bahwa dalam

kelemahan kita, kita akan menemukan kekuatan-Nya.

Author Unknown


BISKUIT YANG DITUKAR DENGAN BUNYI

(Kepulauan Vanuatu, 1848 – 1872)

==============

“Darat!” seru seorang kelasi yang sedang bertengger di mercu yang tiang itu. “Ada darat di sana!” Suaranya mengalun dari atas ke bawah, ke geladak kapal layar yang sedang melintasi Lautan Pasifik itu.

Seluruh isi kapal itu segera naik dari bawah. Sudah lama mereka rindu menyaksikan daratan! Ada kelasi yang mulai naik ke tiang layar untuk dapat melihat lebih jauh ke arah haluan. Ada penumpang yang lari ke kayu rimbat di pinggir geladak.

Salah seorang penumpang itu adalah seorang pemuda bernama John Geddie. Ia pun rindu sekali menyaksikan daratan yang sudah nampak di kejauhan itu. Pasti daratan itu lain sekali daripada apa saja yang pernah dilihatnya sepanjang umur.

John Geddie berasal dari negara Kanada, propinsi Nova Skotia. Ia sudah mengenal lautan, tetapi lautan di sana ditumbuhi pohon cemara dan pines, dan sering tertutup salju.

Lain sekali dengan daratan yang sedang dituju oleh kapal layar itu! John Geddie telah datang ke daerah Pasifik Selatan yang panas lembab, agar ia dapat memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus kepada para penduduk Kepulauan Vanuatu. Atau lebih tepat, Ia berharap ada kesempatan memberitakan Kabar Baik kepada mereka, sebelum mereka sempat memakan dia, karena pada tahun 1848, masih ada di antara penduduk Vanuatu itu yang suka makan daging manusia.

Selama kapal berlayar mendekati pelabuhan, John Geddie menunggu dengan perasaan kurang sabar. Pulau itu nampaknya seperti zamrud hijau ditengah-tengah lauatan nan biru. Pohon-pohon palem menjulang tinggi di pantai pasir putih.

Ternyata pulau yang pertama-tama dilihat John Geddie itu bernama pulau Aneityum. Penduduk pulau itu sudah biasa didatangi orang asing. Mereka suka berdagang dengan para pendatang yang naik kapal dari jauh. Jadi, John tidak usah khawatir akan dibunuh dan dimakan selama ia menetap dipulau Anityum itu.

Dengan mudah John Geddie menyewa sebuah rumah. Para tetangganya yang baru itu rupanya cukup ramah. Namun mereka kurang berminat akan ajarannya tentang Tuhan Yang Maha Esa.

“Kami punya ilah-ilah sendiri,” demikian kata orang-orang Vanuatu itu. “Buat apa kamu mau mendengar tentang ilah lain yang diceritakan orang asing yang warna kulitnya sudah luntur itu?”

Tidak lama kemudian, kapal laut yang telah membawa John Geddie ke pulau Aneityum itu berangkat lagi. Ia berdiri di pantai sambil melambaikan tangannya selama layar itu kelihatan semakin kecil di kejauhan.

Di pantai itu, di kelilingnya berdiri bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak. Mereka semua asyik bercakap-cakap. Namun tidak ada satu kata pun yang dapat dipahami oleh John Geddie.

“Sudah jelas, aku harus belajar bahasa mereka,” kata John dalam hatinya.

Maka pada saat kapal layar itu makin menghilang di lautan lepas, ia mulai mendengarkan baik-baik lagu kalimat yang sedang diucapkan disekitarnya.

Penduduk pulau Aneityum yang suka berdagang itu cukup pandai berbicara bahasa Inggris. Mereka biasa bisa menggali akar ararut (ubi garut), lalu menawarkannya kepada para pendatang. Biasanya daripada menerima uang, mereka lebih suka tukar-menukar saja, sehingga dengan demikian mereka mendapat barang-barang yang mereka inginkan.

Tetapi masalahnya, bahasa Inggris yang cocok untuk perdagangan tukar menukar itu, bukanlah bahasa Inggris yang cocok untuk memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus. Apa lagi, John Geddie tidak berminat mengajarkan bahasa Inggris kepada penduduk pulau itu.

“Buat apa aku mengajar mereka membaca Alkitab dalam bahasa Inggris?” tanya John pada dirinya sendiri. “Sebaiknya, aku mau belajar bahasa Aneityum, bahasa mereka. Bila aku menceritakan isi Alkitab, aku ingin supaya mereka semua dapat mengerti, dari nenek yang paling tua samapi anak yang paling kecil. Aku ingin menjadi begitu pandai berbicara dalam bahasa mereka, sampai-sampai mereka akan merasakan bahwa aku adalah salah seorang dari antara mereka.”

Tidak lama kemudian, John Geddie memang dapat mengucapkan banyak kata dalam bahasa Aneityum. Namun ia belum puas. Ia sering meminta orang-orang Vanuatu mengulangi sampai berkali-kali satu kata yang sama. Ia pun minta supaya satu kata itu mereka ucapkan dengan sangat pelan-pelan, agar ia dapat membeo bunyi yang sedang didengarnya itu.

Tetapi penduduk pulau itu kurang senang jika terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama. Malu rasanya, jika harus bertalu-talu mengluarkan bunyi yang sama, hanya agar seorang asing dapat memperhatikan mulut mereka. Lambat laun mereka tidak segan-segan menyatakan rasa bosan atau rasa tersinggung mereka; satu persatu mereka meninggalkan di seorang diri.

“Wah, bagaimana aku dapat menguasai bunyi bahasa ini?” tanya John Geddie pada dirinya sendiri. “Apa lagi, jika aku tidak dapat menguasai bunyinya, bagaimana aku dapat menyusun tanda-tanda tulisan untuk bahasa ini yang belum pernah ditulis?”

Pada suatu hari John sedang mengunyah sepotong biskuit kapal. Biskuit kapal itu lain daripada biskuit kaleng–keras sekali, dan rasanya asin.Justru karena kerasnya, biskuit semacam itu dapat bertahan lama. Pada masa lampau, selama pelayaran yang memakan waktu panjang, biskuit kapal biasa dibawa serta sebagai bekal.

Mula-mula John Geddie tidak suka memakan biskuit kapal. Tetapi lambat laun ia mulai menyukai rasanya, sehingga pada waktu kapal hendak melanjutkan perjalanannya, ia minta supaya ditinggalkan satu peti biskuit itu baginya. Sewaktu-waktu ia mengunyah sepotong biskuit yang keras dan asin rasanya itu.

Pada waktu John sedang makan-makan, kebetulan lewatlah seorang Vanuatu. Ia salah seorang penduduk setempat yang telah meninggalkan John tanpa pamit, karena ia bosan atau tersinggung jika diminta berulang-ulang mengucapkan kata yang sama. Namun John ingin tetap bersikap ramah terhadap tetangganya itu, maka ia menawarkan sepotong biskuit kapal kepadanya. “Silakan coba!” katanya dalam bahasa Inggris.

Dengan agak was-was orang itu mulai mencicipi. Ia mengunyah biskuit yang keras itu. Ia menjilat dengan lidahnya. Lalu ia mengunyah lagi. Sudah jelas, ia menyukai biskuit yang asin rasanya itu.

Setelah selesai, ia mengulurkan tangannya. Tetapi John Geddie baru mendapat akal. Ia tidak segera memberikan lagi kepada tetangganya itu.

“Ayo, tukar!” kata John. Dan memang mereka mulai tukar-menukar. Yang diterima John sebagai pengganti biskuit itu, bukannya barang melainkan bunyi-bunyi yang diucapkan berulang-ulang.

Dengan cepat berita itu mulai tersiar, “Orang asing yang aneh itu rela memberikan makanan yang enak, asal saja ada penduduk yang rela membuang waktu dengan berkali-kali mengucapkan kata-kata dalam bahasanya sendiri!” Maka selanjutnya John tidak pernah kekurangan penolong dalam usahanya belajar bahasa setempat.

Sepotong demi sepotong ia menawarkan biskuit kapal itu kepada penduduk setempat. Satu demi satu ia menguasai bunyi yang biasa dilafalkan dalam bahasa mereka, sampai dapat membeo setiap kata dengan tepat dan jelas.

Sementara itu, John Geddie juga sudah menyusun semacam abjad bahasa Aneityum. Ia mulai mencatat kata-kata dalam bentuk tulisan. Tidak lama kemudian, kepada para tetangganya ia dapat bercerita tentang Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga dapat bercerita tentang Yesus Kristus, yang sangat mengasihi semua orang.

Cerita-cerita yang disampaikan John Geddie itu berasal dari Kitab Injil Markus. Setiap kali bercerita, ia pun mencatat kata-kata dari ceritanya itu. Lambat laun ia dapat menyusun seluruh Injil Markus dalam bahasa Aneityum.

Penduduk pulau itu sudah mulai mengenal John Geddie; ia pun sudah semakin mengenal mereka. Mereka mulai saling mempercayai dan saling mengasihi. Oleh para tetangganya John sering dibawa serta pada waktu mereka pergi menjala ikan atau memelihara tanaman ubi ararut. Mereka memperlihatkan kepadanya bagaimana mereka menggali akar ararut, serta menyiapkan hasil tumbuhan itu untuk dijual.

Mereka juga mengajar John tentang adat mereka, tentang dongeng mereka,tentang cara mereka beribadah. Dengan panjang sabar John pun mengajar mereka tentang Tuhan Yesus Kristus. Lambat laun ada banyak di antara mereka yang menjadi orang Kristen.

Di samping mengajar, John Geddie juga masih terus menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Setelah Kitab Injil Markus selesai, naskahnya dikirim ke Australia untuk dicetak. Ketika buku-buku kecil yang berisi Injil Markus itu sudah kembali lagi, sebagian penduduk Vanuatu merasa sangat senang: Mereka dapat membaca firman Allah dalam bahasa mereka sendiri! Tetapi sebagian lagi merasa sangat sedih, karena mereka itu masih buta huruf.

Maka John Geddie mulai mengajar orang-orang yang buta huruf itu, agar mereka dapat membaca bahasa mereka sendiri. Sementara itu, ia pun terus mengalihkan Firman Allah ke dalam bahasa mereka. Ketika Kitab Injil Matius selesai, John berhasil membeli sebuah alat cetak kecil.

Selanjutnya hasil karyanya itu dapat langsung dicetak di Vanuatu.

Akhirnya seluruh Kitab Perjanjian Baru selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Aneityum. Dengan gembira John Geddie berkata kepada kawan-kawannya, “Sekarang kita harus mencetaknya.”

Tetapi Kitab Perjanjian Baru itu terlalu tebal; tak mungkin dikerjakan dengan alat cetak kecil yang sudah ada. Maka John Geddie mengumpulkan para pemimpin masyarakat setempat.

“Sekarang sudah ada Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa kalian sendiri,” ia mengumumkan.

“Benar!” jawab pemimpin mereka yang tertua.

“Sungguh bagus dan ajaib, bahwa hal itu sudah terwujud.”

“Selanjutnya,” kata John, “banyak salinan yang harus dibuat oleh mesin.”

Para pemimpin masyarakat akan menunggu perkataannya lebih lanjut.

“Hal itu menuntut uang.”

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

“Aku tidak punya uang,” kata John dengan sedih.

“Kami juga tidak punya uang,” kata para pemimpin.

Hening sejenak. Lalu John Geddie berbicara lagi: “Namun kalian sudah biasa menawarkan akar arurat kepada para pedagang kapal. Apakah kalian rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil tukar-menukar itu? Apakah kalian rela menguangkan yang sepersepuluh itu, agar dapat dipakai untuk mengongkosi pencetakan Alkitab?”

Para pemimpin itu pulang dan berunding dengan rakyat. Lalu mereka melaporkan bahwa rakyat Vanuatu memang rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil perdagangan mereka.

Setelah sepersepuluh itu diuangkan, hasilnya dua ribu dolar. John Geddie mengirimkan uang itu beserta naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Aneityum, agar dapat dicetak ditempat yang jauh.

Berbulan-bulan lamanya John dan kawan-kawannya menunggu. Lalu pada suatu hari, ada sebuah kapal yang sedang membongkar muatannya di pulau Aneityum. Di antara muatannya itu ada beberapa bungkusan besar yang dialamatkan kepada John Geddie.

Setiap keluarga di pulau itu menerima sebuah Kitab Perjanjian Baru. Namun di antara mereka masih ada yang belum pandai membaca.

“Mari kita mengadakan sayembara!” usul John. Beberapa hadiah di tawarkan kepada orang-orang yang berhasil membacakan Perjanjian Baru secara tepat dan jelas. Dengan rajin mereka bersaing untuk menjadi pandai membaca Firman Allah. Ternyata setiap hari ada sebanyak dua ribu orang Vanuatu asyik membacakan Alkitab. Dan sisa penduduk pulau itu asyik mendengarkan pembacaan mereka.

Sementara itu, John Geddie masih tetap meneruskan tugasnya sebagai guru dan penerjemah. Menjelang tahun 1872, hampir seluruh Kitab Perjanjian Lama sudah dialihkan ke dalam bahasa Aneityum.

Dua puluh empat tahun sudah lewat sejak kelasi itu menyerukan “Darat!”

dari mercu tiang layar yang sedang membawa John Geddie dari jauh. Dan pada tahun yang kedua puluh empat itu juga, John Geddie pun tutup usia.

Para penduduk Vanuatu berkabung. “Ia telah meninggalkan kita,” kata mereka. “Ia telah berpulang ke surga.” Lalu mereka memasang sebuah plaket pada dinding gedung gereja terbesar di pulau Aneityem. Di atas plaket itu terukir kata-kata ini:

“Ketika ia mendarat pada tahun 1848, Di sini tidak ada orang Kristen.

Ketika ia berpulang pada tahun 1872, Di sini tidak ada orang kafir.”

Buah hatiku Rumah Kristus

Oleh Hitoshi Syujiro

Aku adalah seorang yatim piatu. Aku tidak mengenal siapa ayah dan ibuku yang sebenarnya. Namun oleh ebesaran rahmat Allah, aku boleh diangkat sebagai anak-yang serasa dilahirkan kembali- dalam sebuah keluarga sederhana. Sebuah keluarga Kristen yang taat dan patuh pada Tuhan.

Dalam keluarga inilah aku mengenal Tuhan dan melalui keluarga ini juga aku mempersilahkan Kristus menjadi Tuan atas rumah hatiku.

Aku mempunyai saudara-saudara lain yang merupakan anak-anak kandung dari orang tua angkatku. Seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Namun berbeda dengan anak-anak angkat dalam keluarga lain, aku tidak merasakan adanya pilih kasih orang tua terhadap kami bertiga. Orang tuaku mengasihi aku sama persis dengan mereka mengasihi anak-anak kandung mereka sendiri. Hal itu tidak berarti setiap kami diperlakukan sama. Kami, anak-anaknya, masing-masing diperlakukan dengan cara yang berbeda menurut usia, kepribadian, kelebihan, kekurangan dan terutama keunikan kami sendiri. Dan justru dengan cara demikian kami anak-anaknya menerima kasih dalam proporsi yang sama.

Walaupun sekarang aku sudah berpisah dengan orang tuaku, hatiku tetap mengingat dan mengenang segala sesuatu yang telah keluarga ini berikan. Alangkah tulus dan alangkah indah didikan mereka. Dan harta terbesar yang telah mereka berikan -dan tetap mereka miliki- kepada setiap kami anak-anaknya adalah Yesus. Di dalam merekalah aku melihat Kristus dengan jelas.

Yesus bukanlah Seorang yang biasa-biasa saja. Sejak aku persilahkan Dia masuk ke rumah hatiku, Dia menjadi segala-galanya bagiku. Dialah Allahku, Tuhan, Kepala rumah hatiku, Pemimpin, dan orang tuaku. Tapi, Dia bukanlah Tuhan yang tinggal jauh dari aku. Dia juga adalah Sahabat setia, yang memberikan sahabat-sahabat setia yang lain dalam hidupku. Dia juga adalah Temanku dalam sukacita dan kesusahan, Penasehatku, Penghiburku, tempat aku mencurahkan segala isi hatiku. Antara aku dan Dia tidak ada yang kurahasiakan. Sungguh, Dialah segalanya bagiku.

Kasih Allah Dalam Kasih Orang Tuaku, secara khusus untukku

Saat ini aku dan Yesus sedang bercengkrama di ruang istirahat. Kami baru saja bersaat teduh bersama seperti yang biasa kami lakukan setiap pagi. Namun hari ini adalah hari yang cukup unik. Tidak seperti biasanya, hari ini justru Yesuslah memintaku bercerita. Yesus memintaku menceritakan pada-Nya bagaimana papa dan mama memperkenalkan aku kepada-Nya. Biasanya Yesuslah yang bercerita tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan, dan hal-hal yang telah Bapa lakukan pada dunia ini. Tapi, hari ini akulah yang harus bercerita; menceritakan apa yang telah Allah lakukan secara khusus kepadaku melalui papa dan mama.

Tentu saja aku tidak dapat menceritakan semuanya. Apa yang papa dan mama sudah lakukan padaku sudah terlalu banyak. Selain itu, aku rasa Yesus mengetahui apa yang mereka lakukan. Tapi aku yakin Ia ingin mendengarkan dari mulut bibirku sekali lagi. Akupun tidak berkeberatan tentang hal itu, bahkan aku senang menceritakannya.

Aku teringat satu peristiwa yang sangat indah yang pernah terjadi dalam hidupku. Suatu momen yang sangat menyentuh ruang hatiku yang terdalam. Aku mengajak Yesus menelusuri ruang waktu untuk kembali ke masa kecilku.

PECAHNYA JENDELA TSUNEKAWA SAN !

Sore ini, seperti biasa aku bermain dengan teman-teman tetangga sebelahku. Hari ini kami bermain sepakbola di halaman tetangga kami, Tsunekawa San (Tn. Tsunekawa). Anaknya, Naoya, hari ini tidak ikut bermain karena dia akan menghadapi ulangan. Namun itu tidak mengurangi keinginan kami untuk bermain bola.

Tapi sesuatu terjadi. Saat kami bermain bola, aku tidak sengaja memecahkan jendela rumah Naoya. Kontan seketika itu juga kami bubar. Kami bahkan tidak menghiraukan apa yang terjadi kemudian dengan jendela yang pecah itu.

Mama sedang memasak untuk makan malam nanti ketika aku masuk ke dalam rumah. Tentu saja mama langsung menyuruhku mandi agar tidak mengotori seisi rumah.

“Hari ini kamu main apa, Sayang?” tanya mama padaku. Aku takut. Aku takut mengatakan yang sebenarnya. “Hari ini kami bermain layangan,” jawabku singkat. “Wah, pasti sore yang menyenangkan bagi kalian. Bukankah tadi siang hujan gerimis?

Tentu saja angin masih cukup kuat untuk menaikan layangan kalian.” “Ya,” jawabku berusaha menutupi kegelisahan hatiku. “Tapi, bukankah kemarin layanganmu sudah putus? Artinya kamu tidak mempunyai layangan lagi, bukan? Apakah kamu membeli yang baru?” “Oh, tidak, Ma, saya meminjam layangan Naoya. Kebetulan Naoya besok akan ada ulangan, jadi dia meminjamkan layangan padaku.”

Tidak lama kemudian makan malam tiba. Hari ini giliran Kak Takeshi memimpin doa makan. Aku menikmati acara doa makan ini. Dan bagiku, ini acara yang unik karena tidak terdapat di dalam keluarga lain. (Agama Kristen adalah agama minorotas di Jepang, red) “Hari ini, kami sekeluarga mengucap syukur atas hari yang Allah berikan kepada kami. Kami boleh melakukan kegiatan kami dan kami diberi kesempatan untuk memuliakan Engkau dalam kegiatan kami. Kami mengucap syukur untuk cuaca yang tidak begitu cerah pada siang hari ini, kami mengucapkan syukur untuk kesibukan kami, baik dalam pekerjaan papa-mama maupun dalam pelajaran kami. Kami juga mengucap syukur untuk hidangan di depan kami. Kiranya

Engkau berkati tangan papa yang sudah bersusah payah, juga tangan mama yang mengolahnya. Berkatilah juga kami semua yang menerimanya, sedemikian sehingga kami boleh menjadi berkat bagi orang-orang sekitar kami. Secara khusus kami juga berdoa untuk Pak Ijime sekeluarga dan juga keluarga Pak Kajima, mereka yang berkekurangan, berilah kiranya berkat yang sama kepada mereka untuk menikmati kelezatan anugrah-Mu. Dan lebih dari segala syukur kami, kami mengucap syukur karena Engkau ada di tengah-tengah kami, Amin!”

Tidak lama kemudian telepon berdering. Dari Ibu Tsunekawa, ingin berbicara dengan mama. Aku sedikit tersentak, “Alamak ! Pasti gara-gara jendela yang pecah tadi.” Apalagi mama sempat melirik sedikit ke arahku. Aku mulai gelisah. Setelah itu, mama kembali makan dengan tidak mengatakan apa-apa selain “Jendela Keluarga Tsunekawa pecah.” Dan mama tidak menceritakan lebih jauh tentang hal itu.

Baru setelah kami selesai makan, mama memintaku untuk berbicara empat mata di kamarnya. Apalagi kalau bukan masalah jendela itu. Akupun memenuhi permintaan mama, masuk ke kamarnya dengan kepala tertunduk.

“Apakah tadi kamu turut bermain bola di halaman rumah Naoya?”.

Aku mengangguk sambil tertunduk.

“Mama yakin engkau tahu siapa yang memecahkan jendela rumahnya. Maukah engkau memberitahukannya kepada mama?”.

“Mama hanya ingin tahu darimu saja dan tidak dari yang lain. Bagaimana?”

Pertanyaan yang aku takutkan dan akhirnya dipertanyakan juga.

“Aku tahu siapa yang memecahkannya. Akulah yang memecahkannya,” jawabku, “Aku tidak bermain layangan tadi sore, aku telah membohongi mama.”

Aku pikir lebih baik aku mengaku seluruh kesalahanku termasuk kebohonganku daripada aku menyembunyikannya dan tersiksa dengan kesalahan itu.

“Mama bahagia engkau mau mengakui kesalahanmu. Mama yakin kamu tidak sengaja memecahkan jendela rumah keluarga Tsunekawa. Tapi mama sedih mengapa engkau tidak mengatakan dari awal. Bahkan engkau telah membohongi mama.”

“Mama tidak suka dengan caramu memperlakukan mama. Mama bukan orang lain bagimu, mama selalu mencoba untuk mengerti. Tidak pantas engkau menyembunyikan sesuatu dari mama. Mama lebih sedih lagi karena kamu tidak segera meminta maaf kepada mama Naoya setelah memecahkan jendelanya. Menurut mama, tindakanmu itu sangat mempermalukan nama Tuhan.”

Mama terdiam sesaat.

Aku lihat, mama terisak ketika mengucapkan kalimat terakhir itu. Secara tidak sadar akupun mencucurkan airmata. “Di hadapan Tuhan, mama bersalah kalau tidak mendidikmu dan mengajarimu kebenaran yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Mama tidak mau anak mama mempermalukan nama Tuhan. Juga setelah engkau besar nanti. Jadi apapun engkau, entah engkau nanti hamba Tuhan, pengusaha besar, pedagang, intelektual, entah engkau hanya karyawan biasa, tukang becak, penjaja makanan di jalan, tidak masalah bagi mama. Yang jadi masalah apakah engkau memuliakan Tuhan atau tidak.”

Salah satu yang aku kagumi dari papa dan mamaku adalah bahwa mereka tidak pernah memdidik aku dari sudut pandang ekonomi. Tidak seperti keluarga Jepang lainnya, papa-mama tidak pernah mengatakan, “mau jadi apa kamu nanti? Jadi gembel? Jadi tukang bacak?”, “Bagaimana kamu bisa jadi kaya kalau hidupmu begini?”, “Lihat penjaja makanan itu. Aku tidak mau satu dari anakku menjadi seperti dia.”, atau kalimat-kalimat senada. Bagi papa-mama, selama hal itu memuliakan Tuhan, jadi apapun aku, jadilah. Hanya dengan cara demikian aku dapat mempertanggunjawabkan seluruh talenta yang Dia berikan padaku. Mungkin inilah salah satu hal yang unik dari keluarga ini.

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on January 8, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Ilustrasi ini sangat-sangat bermanfaat didalam kehidupan saya….ketika saya merenungkannya siang dan malam…
    bahkan saya tidak bisa hidup tanpa bersahabat dengan seseorang…??

  1. Pingback: Renungan & Kesaksian Kristen :: Ilustrasi dan Renungan :: January :: 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: