Ilustrasi dan Renungan Part-2

Bedil

============================

Pernah ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih punya bedil tua dan tiga butir peluru. Jadi, ia putuskan untuk keluar dan menembak sesuatu untuk makan malam.

Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi luput. Lalu ia melihat seekor bajing, dia tembak tapi juga luput lagi.

Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya seekor kalkun liar di atas pohon dan ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi terdengar olehnya suatu suara yang berkata begini “Berdoalah dulu, bidik ke atas dan tinggallah tetap terfokus.”

Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor rusa yang adalah lebih menguntungkan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada ular berbisa di antara kakinya,siap2 untuk mematuknya, jadi dia turunkan lebih ke bawah lagi, mengarah untuk menembak ular itu.

Tetap, suara itu masih berkata kepadanya, “Aku bilang ‘berdoalah dulu,bidik ke atas dan tinggallah tetap terfokus.'”

Jadi orang itu memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan senapan itu tinggi ke atas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu. Peluru itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua itu lepas, jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali. Dan, ketika senapan itu meletus, ia sendiri terpental ke dalam kolam. Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya, ia dapatkan banyak ikan di dalam semua kantungnya.

Seekor rusa, dan, seekor kalkun untuk bekal makanannya. Ular (Iblis) mati konyol sebab orang itu mendengarkan suara Allah.

Makna :

Berdoalah sebelum kau lakukan apapun, bidik dan arahkan ke atas pada tujuanmu, dan tinggallah terpusat pada Allah.

Sebar luaskan ini agar ada seseorang lain yang bakal terberkati. Jangan kau dikecilhatikan oleh siapapun mengenai masa lampaumu. Masa lampau itu memang tepatnya begitu – “sudah lewat, sudah lampau.” Hidupilah setiap hari sehari demi sehari. Dan ingatlah bahwa hanya Allah yang tahu masa depan kita dan bahwa Ia tidak akan membiarkanmu melewati daya tahanmu.

Janganlah memandang pada sesamamu untuk meminta berkat melainkan lihat dan bergantungkah pada Tuhan. Ia bisa membuka pintu2 bagimu yang cuma Ia saja yang bisa lakukan. Pintu2 yang bukan kau masuki dengan menyelinap, melainkan yang hanya Ia yang sudah persiapkan bagi dan demi kamu.

Jadi, tunggulah, tenanglah, sabarlah: dahulukan Allah dan lain2nya akan nyusul dengan sendiriwnya

Apakah Tuhan Yesus Baik?

============================

Dr. John Wilson pernah mengisahkan satu cerita sebagai berikut.

Booth Tucker sedang memimpin Kebaktian Penginjilan dalam suatu Salvation Army Citadel yang besar di kota Chicago. Suatu malam, setelah ia selesai menyampaikan khotbah dengan tema “Simpatiknya Yesus kepada Manusia”, ada seorang pria maju ke depan dan bertanya pada tuan Tucker:

“Bagaimana sampai ia membicarakan tentang Allah yang penuh kasih, penuh pengertian dan penuh simpatik ini, jika isterimu baru saja meninggal, seperti apa yang sedang saya alami ini? Sementara anak-anakmu sedang menangisi ibu mereka yang pergi dan tidak mungkin akan kembali lagi, engkau pasti tidak akan berkata lagi seperti apa yang baru saja engkau khotbahkan.”

Beberapa hari kemudian, isteri tuan Tucker meninggal akibat kecelakaan kereta api. Jenazah isterinya di bawa ke Chicago serta dikuburkan di Citadel. Setelah kebaktian duka, Pengkhotbah yang sedang kehilangan isteri tercinta itu menatap peti mati dengan tenang, Kemudian memandang ke arah semua hadirin.

Lalu ia berkata: “Beberapa hari yang lalu, ketika saya berada di kota ini, ada seorang pria mengatakan bahwa jikalau isteri saya baru meninggal dan anak-anak saya sedang menangisi mama mereka, maka saya pasti tidak sanggup mengatakan bahwa Yesus itu simpatik padaku atau Yesus itu cukup baik bagiku. Seandainya pria yang saya maksudkan itu ada di sini, saya ingin menyampaikan kepadanya bahwa Kristus itu cukup baik bagiku. Hatiku sekarang hancur, bahkan berkeping-keping, namun ini ada sebuah nyanyian dari Kristus yang sangat mengasihi saya. Saya ingin mengatakan kepada pria itu bahwa Yesus Kristus telah menghibur hatiku melalui firmanNya hari ini.”

Pria yang dimaksud itu benar ada di situ dan ia datang menghampiri Tucker sambil berlutut serta menyatakan pada hari ini juga ia dan anak-anaknya mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka.

~ Gloria Cyber Ministries / Saumiman Saud


Perahu

===============

Aku duduk menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh. Ku lihat Yesus di ruang kemudi, menatapku dan berkata: “Lepaskan tambatan perahumu dan biarkan Aku membawa engkau ke seberang. Bukan rencanaKu, untuk engkau tetap tertambat di sini”.

Dengan takut, gelisah dan khawatir aku menjawabNya, “Tuhan bukankah lebih baik aku tetap disini. Aku tidak akan melihat topan, badai dan angin ribut. Dan aku dapat kembali ke darat kapanpun aku mau.”

Lembut Yesus memegang tanganku, menatap mataku dan berkata, “Memang disini engkau tidak akan mengalami topan, badai dan angin ribut . Tapi engkau juga tidak akan pernah melihat Aku mengatasi semua itu. Engkau tidak akan melihat Aku berkuasa atas semuanya itu, karena Akulah TUHAN. Dalam pergumulan berat, aku memandangi tali yang mengikat perahuku. Di tali itu ku lihat ada rasa khawatir akan keuangan, pekerjaan, pasangan hidup, dll”.

Dalam hati aku bertanya-tanya: tahukah IA akan apa yang aku inginkan? Mengertikah IA akan apa yang aku rindukan dan dambakan ? Yesus memelukku dan berbisik lembut. “Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang kau inginkan, rindukan dan dambakan bahkan mungkin kebalikannya yang akan kau dapat, tapi maukah kau percaya. RancanganKu adalah rancangan damai sejahtera, masa depanKu adalah masa depan yang penuh harapan”.

Ia memeluk dan menangis bersamaku, dengan berat aku melepaskan tali perahuku. Ku lepaskan semua rasa khawatir itu dari hatiku, ku taruh hak atas masa depanku di tanganNya. Aku tidak tahu bagaimana masa depanku, sambil menangis aku menatapNya dan berkata: “Jadilah Nakhoda dalam perahuku dan marilah kita berlayar”.

Teman maukah kau serahkan hak atas masa depanmu dalam tanganNya, tanpa engkau pernah tahu bagaimana Ia akan merancang semuanya itu, tapi hanya dengan satu keyakinan: Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yer 29:11)

~ Mickey Felder


Piala Dunia

===============

Pada satu hari Minggu malam di bulan Juni tahun yang lalu saya mengendarai mobil saya melewati jalan-jalan di kota Jakarta. Hari itu kota Jakarta tidak seperti biasa. Jalan-jalan yang biasanya ramai pada jam-jam itu, hari itu lengang. Ada apa gerangan? Jawabnya adalah ada pertandingan final piala dunia di televisi! Kebanyakan orang Jakarta, bahkan di seluruh dunia, memilih menjadi penonton pada jam itu.

Omong-omong mengenai penonton, ada sesuatu yang unik sehubungan dengan penonton khususnya penonton olah raga sepak bola. Ada sebagian penonton yang sangat fanatik dengan kesebelasan favoritnya. Mereka mengoleksi atribut-atribut kesebelasan yang mereka dukung dan melakukan apa saja untuk memberi semangat agar kesebelasan dukungan mereka menang. Padahal mereka tidak mendapat keuntungan sedikit pun kalau kesebelasan favorit mereka menang. Yang unik lagi sehubungan dengan penonton sepak bola ialah komentar-komentar penonton yang “membodoh- bodohkan” pemain yang gagal menyarangkan bola ke gawang lawan, padahal penonton itu sendiri tidak becus menendang bola. Memang penonton paling jago berkomentar!

Dalam gereja banyak jemaat yang memilih menjadi penonton. Tapi bukan penonton sepak bola! Tapi penonton pekerjaan pelayanan. Menurut hasil survey di kebanyakan gereja, hanya 10 persen dari seluruh anggota gereja yang terlibat dalam pelayanan. Padahal Firman Tuhan dalam Efesus 4:12 mengatakan bahwa semua orang Kristen harus menjadi pemain-pemain dalam pekerjaan pelayanan. Dengan menjadi pelayan Tuhan kita mengucap syukur atas anugerah keselamatan yang kita terima dan kita akan mengalami sukacita tersendiri dalam melayani Tuhan juga kita akan mendapat upah dari pelayanan kita.

JADILAH PEMAIN, TIDAK HANYA MENONTON DALAM PEKERJAAN TUHAN

~ Gloria Cyber Ministries / Pancha Wiguna Yahya


Pencapaian Terbesar

==============

Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat Suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan. “Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?”

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari guru,”Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu…”. Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid. “Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-temanmu…”.

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, “Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini”. Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.”Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!”

Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang. “Pak Guru..Pak, aku belum bercerita”. Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

“Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua”, ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. “Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?”,Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

“Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu”. Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, “Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan…hahaha”. Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, “Apa tak ada hal besar lain Yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu?” Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. “Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak…”.

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. “Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi”.

Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan. Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.

Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku.Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi”. “Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya”.

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. “Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti…”. Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal : “Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun. Sebesar apapun”.

~ unkwnown


Tuhan??

==============

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, pendeta atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.

Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Pendeta : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda

Pemuda : Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Pendeta : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan. 1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya. 2. Apakah yang dinamakan takdir ? 3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Pendeta tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?

Pendeta : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti

Pendeta : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit

Pendeta : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda : Ya

Pendeta : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !

Pemuda : Saya tidak bisa

Pendeta : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Pendeta : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda : Tidak

Pendeta : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?

Pemuda : Tidak

Pendeta : Itulah yang dinamakan Takdir

Pendeta : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda : kulit

Pendeta : Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda : kulit

Pendeta : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : sakit

Pendeta : Walaupun Setan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk setan.


Kesaksian Ibu Sumiasih

==============

From: FB. Suprayitno

Kesaksian

Yang Terbuang, Yang Terpilih

“Dari semua yang paling berharga di dunia ini, tak ada yang dapat

mengalahkan kasih Tuhan pada saya. Begitu besar kasihNya pada saya sehingga Ia mau mengutus tangan-tangan yang begitu mulia untuk menyelamatkan jiwa saya,” kata-kata ibu Sumiasih ini masih terpatri dalam benak pikiran kami.

Berkat kasihNya pula, wartawan Capella bersama Pastor Severinus

Sabtu, Pasutri Hilda-Robby, bu Tina dan pak Bin dari lingkungan St

Angela wilayah I tanggal 22 Maret 2003 yang lalu mendapat kesempatan mengunjungi terpidana mati, bu Sih, nama kecil ibu Sumiasih di LP Wanita Sukun-Malang. Berikut obrolan santai kami dengan bu Sih.

Pertama Mengenal Tuhan

“Mulanya saya tidak tahu sama sekali apa itu berdoa. Waktu di

Polda, saya selalu dianjurkan untuk berdoa, tapi selalu saya tolak.

Bagi saya, asal saya percaya adanya Tuhan, itu saja sudah cukup.

Waktu saya masuk di LP Kalisosok, saya tetap saja menolak kalau

disuruh berdoa,” cerita bu Sih membuka perbincangan dengan kami.

Semula kami merasa gemetar juga, sebab dalam bayangan kami yang

namanya bu Sumiasih ini pastilah berperingai keras, berwajah sadis

dsb. Namun ketika bu Sih muncul, kesan yang kami dapatkan malah

sebaliknya. Dengan senyum mengembang di bibir, bu Sih mempersilahkan kami duduk di ruang tamu. Penampilan sangat tenang, sederhana dan bertutur kata lemah lembut membuat kami terpaku dan tak terasa sampai 2,5 jam kami betah ngobrol dengannya.

Sosok bu Sih yang lahir di Jombang 28 September 1948 sempat

menggegerkan seluruh penduduk di negara ini karena kasus pembunuhan berencana keluarga Letkol Purwanto tahun 1988. Menginap di LP Kalisosok selama 5 tahun, dan di LP Wanita Sukun-Malang selama 9 tahun dengan segala suka duka tak membuat bu Sih patah semangat, justru di dalam ruang beruji besi inilah bu Sih menemukan Tuhan. Ia mulai tertarik menjadi pengikut Yesus yang setia ketika berada di LP Kalisosok. Karena diharuskan berdoa, ia menolak keras. Sampai pada suatu saat ada seorang pendeta yang mengajaknya berdoa. Merasa tertarik, bu Sih melakukannya dengan senang hati. Pada suatu malam ketika ia berdoa, tiba-tiba ia merasa tiang penyangga gedung jatuh, sekelilingnya terasa berguncang hebat. Seseorang datang menghampirinya, namun ia tetap berdoa, tak merasakan apa yang sedang terjadi. Sampai semuanya berhenti dengan sendirinya, dan ia merasa sangat bersyukur ternyata hal itu tidak benar-benar terjadi.

Mulai saat itulah bu Sih rajin berdoa secara Kristen namun belum

bisa menerima sepenuhnya, godaan selalu datang silih berganti

terutama dari pihak keluarga yang seringkali berkunjung. Ketika ia

dipindahkan ke LP Wanita di Sukun-Malang, bu Sih dikuatkan oleh ibu

Yani, pembimbing rohani yang tersentuh oleh penderitaan bu Sih. Dari

situlah bu Sih benar-benar bertobat, berpasrah diri kepada Tuhan.

Bahkan bu Sih mengajak teman-teman sependeritaan di LP Sukun-Malang untuk bertobat dengan jalan mulai mengenal Tuhan, mendekatkan diri padaNya dan belajar berpasrah diri.

“Itu tidak mudah, ada banyak cobaan. Diantaranya ketika saya

diam-diam mengajak teman-teman untuk membaca renungan harian kiriman dari bu Yani, para petugas LP malah marah-marah. Buku itu disobek atau dibakar dan saya tidak boleh lagi mengajak teman-teman untuk mengikuti jejak langkah saya.

Tapi atas kuasa Yesus Kristus, saya masih saja bisa melakukan

kegiatan saya ini. Lagi-lagi ketahuan, saya disiksa, dipukuli bahkan

diancam akan diberi laporan buruk untuk tingkah laku saya

(rekomendasi dari LP untuk permohonan grasi-Red). Saya sempat tak

tahan akan perlakuan petugas itu sampai saya minta bu Yani untuk

memindahkan saya ke Jakarta saja. Namun Tuhan menolong saya untuk keluar dari siksaaan ini. Saya mulai sadar ketika teman-teman

banyak yang marah. Saya minta mereka untuk membantu saya berdoa bagi para petugas itu agar Tuhan sudi menyadarkan mereka. Akhirnya kami berdoa untuk mereka. Tuhan sungguh mencintai kami semua. Doa-doa kami didengar olehNya.

Para petugas yang dulunya tak menyukai kami, sekarang malah menjadi sahabat kami semua. Bahkan terkadang ikut kegiatan doa kami. Sungguh, Tuhan itu sangat baik hati,” cerita bu Sih akan suka-dukanya ketika mencoba menyadarkan para napi lainnya.

Pasrahkan Semua PadaNya.

Bagaimana perasaan bu Sih ketika tahu bahwa ia harus menjalani

hukuman mati karena ke tiga grasinya ditolak Presiden? Bu Sih

tersenyum manis, dengan perlahan ia mulai menuturkan pandangannya.

“Tuhan Yesus adalah hakim dari segala hakim, pembela segala pembela. Manusia boleh saja menghakimi sesamanya sehendak hati. Saya mati di tangan manusia sungguh saya sudah siap. Apalah artinya saya di hadapan mereka? Tapi di hadapan Tuhan, saya ini masih berharga. Tuhan sangat mencintai saya meskipun saya penuh dosa. Saya sungguh-sungguh ingin berkenan di hadapan Allah. Saya sangat percaya bahwa Tuhan memberi yang terbaik untuk saya. Kalau memang harus menjalani hukuman mati, ya saya siap. Itu juga jalan menuju Surga. Apapun yang terjadi saya terima dengan gembira. Saya sudah memasrahkan semuanya pada Tuhan. RancanganKu bukanlah rancanganmu, seperti yang ada di dalam Yesaya 55:1-11, maka saya menjadikannya sebagai pegangan hidup saya.”

Sungguh luar biasa iman wanita ini. Kami yang terharu mendengar

seluruh ceritanya, bahkan sempat mata kami berkaca-kaca karena

terharu, bu Sih langsung tersenyum dan berkata, “mengapa ibu

menangis? Jangan tangisi diri saya, bu tapi menangislah di hadapan

Tuhan. Kita semua juga toh akhirnya mati juga meskipun dengan cara

berbeda. Saya nanti mati ditembak, paling banter merasakan sakit

sekian menit. Bagaimana dengan Tuhan Yesus yang disalib dan

menderita sampai 3 jam sebelum menghembuskan napas terakhir?”

Bagi bu Sih, hal yang terpenting adalah penyelamatan. Ia yakin

bahwa sebesar apapun dosa kita, Tuhan pasti akan tetap menyelamatkan kita semua. Seperti halnya ketika almarhum suaminya, Prayit akan menghembuskan napas terakhir. Tuhan tetap menyelamatkan jiwanya dengan tidak memberi siksaan berat ketika ia sampai pada ujung ajalnya. Dengan tabah bu Sih mendampingi suami tercintanya menghembuskan napas terakhir.

“Semua itu sudah jalannya. Kita harus menyerahkan diri seutuhnya

kepada Tuhan. Terserah Tuhan mau berbuat apa terhadap kita. Yang

terpenting adalah kita harus selalu siap, seperti halnya pencuri yang

datang dengan tiba-tiba. Kitapun harus selalu menyiapkan diri kita

kalau sewaktu-waktu Tuhan memanggil kita pulang. Dengan memasrahkan diri kepadaNya, mengandalkan hidup padaNya, tentu kita akan selalu siap,” ujar bu Sih sambil tersenyum.

Pesan Bu Sih.

Sosok bu Sih bukan saja hanya pandai berkotbah, lebih dari itu ia

juga mengajari ketrampilan membuat kerajinan tangan kepada para

narapidana yang lain. Dari bahan benang, monte, karton dan lainnya,

bu Sih mengajak teman-temannya berkarya. Ada gantungan kunci, salib, boneka, tempat telur paskah, bantal hias dll yang semuanya dijual kepada para pengunjung yang datang. Kami sempat membeli beberapa souvenir itu untuk dijadikan kenang-kenangan.

“Saya membuat kerajinan tangan ini semata-mata karena saya ingin

memberikan suatu ketrampilan khusus kepada teman-teman seperjuangan dengan saya. Kalau mereka bebas nanti, mereka bisa usaha sendiri.

Disamping itu saya juga ingin membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari kita di sini. Jatah dari petugas seringkali tidak mencukupi seperti

sabun, pasta gigi dll. Karena itu kami berusaha tidak bergantung dari

pemberian mereka. Hasil jualan kami ini 10% diberikan kepada LP

Wanita Sukun Malang dan sisanya kami bagi rata,” ujar bu Sih sambil

menunjukkan hasil karya bersama itu.

Sambil melihat hasil kerajinan tangannya itu, bu Sih juga sempat

bercerita mengenai sedikit kekecewaannya kepada ibu Megawati,

Presiden wanita kita.

“Mengapa saya harus menunggu 13 tahun untuk sebuah hukuman mati?

Tiga kali ganti Presiden, tiga kali pula grasi ditolak. Waktu

mendengar bu Mega jadi presiden, saya sungguh senang. Saya sangat

berharap agar hukuman ini diperingan. Saya pikir beliau sama-sama

wanita, lebih punya hati nurani seperti wanita lainnya. Ternyata

malah ditangannya hukuman mati harus dilaksanakan. Yah !… saya

sedih, tapi mau diapakan lagi? Toh semuanya sudah saya pasrahkan pada Tuhan. Biarlah Tuhan yang bekerja untuk saya. Saat ini pun saya sudah siap menghadapinya.”

Bu Sih memang sosok yang luar biasa. Sebelum pulang, kami masih saja dititipi oleh-oleh pesan untuk semua pembaca. “Harapan saya bagi semuanya saja, segala lapisan masyarakat bahwa kita harus siap

menghadapi hari Tuhan. Mulailah mengenal Tuhan, mencoba dekat

denganNya. Kalau kita sudah dekat denganNya, maka kita pun akan

mempunyai kasih yang besar kepada sesama seperti kasihNya kepada

kita. Karena kasih itulah, akan membuat kita bertindak dengan adil

dan bijaksana, tidak semena-mena terhadap sesama. Hiduplah dengan

kasih, agar kita berkenan kepadaNya. Tak ada yang lebih besar

daripada kasih Allah pada kita. Semua harta benda di dunia ini

hanyalah titipan dari Tuhan. Karena itu kita harus berani

menanggalkan harta duniawi agar hidup kita berkenan kepadaNya.”

Sosok yang disisihkan dan terbuang di mata manusia karena perbuatan daging, namun oleh Tuhan ia sungguh berarti. Bagaikan batu yang dibuang tukang-tukang batu kini menjadi batu penjuru. (MULIANI.T)


TERDAMPAR DI SEBUAH PULAU

==============

Dua orang yang kapalnya karam terdampar di sebuah pulau. Salah seorang, John, berteriak-teriak, “Kita akan mati! Kita akan mati!” Temannya, Joe, tenang dan hanya bersandar di pohon kelapa.

John bertanya, “Bagaimana kamu bisa setenang itu? Joe menjawab, “Saya berpenghasilan $100,000 dolar per minggu. Dan saya tidak akan mati.”

John bertanya, “Kita akan mati dan apa hubungannya dengan penghasilanmu yang $100,000 per minggu itu?”

Joe menjawab, “Ya saya memperoleh penghasilan $100,000 setiap minggu dan saya selalu memberikan perpuluhan untuk setiap sen yang saya dapat.

Pendeta saya pasti mati-matian mencari saya.”

HEBAT! … LUAR BIASA!

Seorang anggota jemaat yang sangat kaya datang ke pendetanya, “Saya ingin Pak Pendeta bersama Ibu melakukan perjalanan ke Tanah Suci dan seluruh ongkos akan saya tanggung. Bila Anda kembali saya akan memberi kejutan buat Anda. Pendeta itu menerima tawaran tersebut, dan ia bersama isterinya melakukan perjalanan ke Timur Tengah.

Tiga bulan kemudian mereka kembali dan ditemui oleh jemaat yang kaya itu. Ia mengatakan bahwa selama mereka bepergian ia telah membangun sebuah gereja baru. “Itu adalah gereja terhebat yang pernah ada, Pak Pendeta,” kata orang itu. Dan ia benar, Gereja itu sangat megah baik di luar maupun di dalam.

Tetapi ada sesuatu yang aneh. Di situ hanya ada sederetan bangku yang letaknya paling belakang. Sebuah gereja hanya dengan sederet bangku?” tanya pendeta itu.

“Lihat saja hari Minggu nanti,” kata orang kaya itu.

Ketika tiba waktunya untuk kebaktian Minggu, mereka yang datang pertama menduduki sederet bangku itu. Setelah deretan itu penuh, orang kaya itu memencet tombol dan deretan yang sudah penuh itu bergeser maju ke depan dan sederetan bangku yang kosong muncul dari bawah secara otomatis di belakang bangku yang sudah penuh itu. Begitu seterusnya hingga gereja itu penuh dari depan hingga belakang..

“Hebat!” kata pendeta, “Luar biasa! Jadi tidak ada bangku depan yang

kosong.”

Kebaktian pun mulai, tiba saatnya pendeta berkhotbah. Tetapi sampai jam

12:00 tampaknya ia masih bersemangat, tidak ada tanda-tanda bahwa

khotbahnya akan berakhir. Tiba-tiba terdengar suara bel, dan sebuah pintu jebakan di belakang mimbar terbuka dan pendeta itu lenyap.

“Hebat!” kata jemaat, “Luar biasa!”

RAHASIA DIAKEN

==============

Dua orang diaken suatu gereja di pinggiran kota sedang minum-minum di sebuah bar ketika mereka melihat pendeta mereka lewat dan memandang agak lama pada mobil pick up mereka yang di parkir di depan bar itu.

Salah satu diaken itu berkata dengan cemas, “Saya harap Pak Pendeta

tidak melihat kita dan mengenali mobil pick up saya.”

Diaken yang satu lagi menjawab, “Ya apa bedanya. Betapapun Tuhan tahu kita berada di sini … dan hanya Dia yang bisa menghakimi kita.”

Diaken yang pertama menyahut, “Ya, tetapi Tuhan tidak akan bilang pada isteri saya.”

KALAU BEGITU KE GEREJA LAIN SAJA

==============

Untuk kesekian kalinya Ny. Youngston datang ke pendetanya dan

melaporkan, “Pak pendeta, saya sangat takut! Joe bilang bahwa ia akan melukaiku bila saya terus datang ke gereja Anda.”

“Ya, ya, anakku,” jawab Pendeta Francis McGrady yang agak bosan

mendengar laporan itu berulang-ulang. “Saya akan selalu berdoa untuk Anda, Bu.

Berimanlah – Tuhan akan selalu melindungi Anda.”

“Oh ya, Pak, dia memang tidak melakukan apapun hingga sekarang, tetapi… “

“Tetapi apa anakku?”

“Ya Pak, sekarang ia bilang bila saya tetap datang ke gereja Anda, ia

akan melukai ANDA!”

“Kalau begitu,” kata pendeta, “Mungkin lebih baik kalau Anda datang ke gerejanya Pendeta Lawrence Greider saja.”

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on January 8, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: