Ilustrasi dan Renungan Part-1

Bunga cantik dalam pot yang retak (Warta fa)

Bacaan yang sungguh mengharukan.. dibaca ya.

============================

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar. “Aku rasa mungkin karena wajahku … Saya tahu kelihatannya memang

mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…” Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi2 juga sudah berangkat.” Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di veranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan. “Wah, terima

kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya

akibat luka ditulang punggung.

Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur

Pada Allah untuk suatu ber-kat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan. Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak2. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan

meminta suatu bantuan besar, ia berkata, “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi.” Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, “Anak2 anda membuatku begitu merasa krasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu.” Aku katakan

silahkan datang kembali setiap saat.

Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai

oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami.

Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang Oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai…

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. “Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!” Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul.

Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah

mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu Tanaman krisantemum yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata, “Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki.” Tapi temanku merubah cara pikirku. “Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu,” ia coba terangkan, “dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman.”

Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi

aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. “Hah, yang ini luar biasa bagusnya,” mungkin begitulah kata Allah saat Ia

sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu.” Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini.” Semua ini sudah lama terjadi, dulu — dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b)

Amal Kecil ternyata Bernilai Besar

============================

Suatu hari, ketika saya masih duduk dikelas 1 SMA, saya melihat

seorang anak dari kelas saya berjalan pulang dari sekolah .

Namanya Kyle. Ia menenteng semua bukunya. Lalu saya pikir, “

kenapa ada orang yg masih mau membawa bukunya pulang pada hari

Jumat. “

Tiba – tiba saya melihat sekelompok anak kecil berlari ke

arahnya, dan dengan sengaja menabraknya. Bukunya berhamburan, dan ia pun jatuh ketanah berlumpur. Kacamatanya melayang jatuh ke rerumputan, kira – kira 10 kaki jauhnya dari tempat dimana Ia jatuh.. Ia menatap ke atas, dan kulihat kesedihan yang amat mendalam

diwajahnya.

Hatiku tergerak, dan merasa kasihan kepadanya.

Aku melangkah perlahan menghampirinya. Sambil merangkak , ia

melihat ke sekeliling, mencari kacamatanya. Kulihat matanya berlinang.

Kuambil kacamatanya dan kuberikan padanya. ” Anak – anak tersebut

memang sangat nakal, ” kataku kepadanya.

Ia menatapku dan berucap lembut : ” Hey, terima kasih ” Ia

tersenyum lebar. itulah senyuman tertulus, tanda ucapan terima

kasih, yang pernah kulihat selama ini.

Aku bantu dia mengumpulkan buku – bukunya yang berserakan, sambil kutanya dimana Ia tinggal. Ternyata, Ia tinggal dekat rumahku.

Sepanjang jalan ia bercerita, sementara buku – bukunya kubawakan.

Selama 4 tahun kemudian, kami terus bersahabat.

Kyle seorang bintang kelas dan aku bahkan sering menggodanya

sebagai kutu buku. Sebagai bintang kelas, Ia harus menyiapkan

pidato perpisahannya .

Persis pada hari wisuda kami, aku lihat Kyle tampak begitu gagah.

Benar – benar seorang anak SMA yang kerja keras dan berhasil yang

sungguh – sunggu patut dicontoh.

Ketika hendak memulai pidatonya, dia mengambil nafas dalam –

Dalam dan mulai berkata: “Wisuda adalah saat untuk mengucapkan terima kasih kepada orang – orang yang telah membantu kita melewati masa – masa yang berat. Orangtua kita,guru – guru, teman sekamar, mungkin para tutor, tetapi yang paling banyak adalah teman. Saya berdiri disini dan akan menceritakan sebuah kisah nyata.”

Aku menatapnnya dengan rasa tidak percaya pada apa yang kemudian

kudengar. Ia bercerita bahwa suatu hari ia merasa sangat putus

asa, hingga ia berniat hendak bunuh diri diakhir minggu.

Ia memulai dengan mengosongkan lockernya supaya mamanya tidak

repot nantinya, dan ia mengangkut semua bukunya pulang.

Sambil terus bercerita, ia menatapku sambil tersenyum.

“Untungnya, saya diselamatkan. Seorang teman saya menyelamatkan saya dari rencana putus asa tersebut.”

Saya menangkap getaran dalam suaranya, dan ia terdiam mengambil

nafas dan mengatur emosinya kembali. Saya juga menangkap emosi

para hadirin, hampir semua para menahan nafas dan terhanyut dalam

cerita tersebut.

Semua mata menatap pemuda pintar dan tampan yang sungguh populer itu menceritakan kenangannya tatkala melewati masa yang paling sulit dalam hidupnya. Saya juga melihat orangtuanya melihat

kearahku dengan tersenyum.

Belum pernah aku merasakan rasa yang begitu mendalam..

Teman, jangan sekali kali meremehkan tindakan yang anda lakukan.

Bahkan dengan tindakan kecil-pun anda dapat saja mengubah hidup

orang lain.


Keledai Pintar ???

============================

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup – karena berbahaya) jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati teri sumur dan melarikan diri !

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari ‘sumur’ (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari ‘sumur’ dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ‘sumur’ yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !

Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!


Cantik

============================

1. Cantik itu bagaimana?

Sejak dihubungi Sonya, saya bertanya kepada banyak orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda: Cantik itu bagaimana? Jawabannya selalu sama:

Cantik itu dari luar dan dari dalam. Kalau cuma dari luar? Tidak

cantik. Kalau cuma dari dalam? Masih cantik. Pilih yang mana?

Kalau boleh sih … keduanya!

2. Cantik itu obyektif atau subyektif?

Kalau melihat kerumunan orang banyak atau foto orang banyak, kita bisa menun-juk: Yang ini, dan ini, dan ini cantik… Seperti bintang film

atau foto model untuk reklame sabun, dll. Jadi ada ukuran obyektif.

Tapi ada juga ungkapan-ungkapan seperti ini yang menjadikan cantik itu subyektif:

o Beauty is in the eyes of the beholder.

Kecantikan ada di mata orang yang memandangnya.

o You don’t love a woman because she is beautiful; she

is beautiful because you love her.

Anda tidak mengasihi seorang perempuan karena ia cantik; ia cantik

karena anda mencintainya. Ada sebuah cerita dari suku Indian tentang

seorang anak yang kesasar di hutan. Ia mencari ibunya yang “paling cantik di dunia”. Anda pasti mengenal Ibu Teresa dari Kalkuta. Wanita tua dan keriput. Bagi orang-orang miskin India yang mengalami sentuhan kasihnya dialah wanita paling cantik di dunia.

3. Apa yang menjadikan seseorang cantik dari dalam?

Upik: Ma, hari ini Mama cantiiik deh!

Mama: Loh, kenapa?

Upik: Habis, Mama hari ini tidak marah-marah.

Ilona tinggal di Smoky Mountain, Quezon City, sebuah gunung berupa

tumpukan sampah yang terus berasap karena dibakar. Di dekatnya ada perkampungan pemulung, rapi dan bersih, tidak seperti di Indonesia. Ketika saya masuk ke dalam rumahnya, ia

sedang menyapu. Saat dia menoleh, saya terpesona oleh wajahnya yang cantik berseri, secantik namanya. Sekaligus saya terperanjat, sebab ternyata lengannya cuma sebatas siku. “Ilona is beautiful because she’s happy,” kata tuan rumah kepada saya.

Seorang pastor muda (35 th) ketika ditanya siapa wanita paling cantik

dalam hidupnya, kontan menjawab, “Ibu saya!” Katanya, “Dulu, sebelum saya lahir, ibu saya lebih cantik. Itu yang nampak di foto. Tapi di mata saya kecantikan ibu tidak menjadi pudar,

malah ia semakin cantik saja. Ibu tumbuh secara rohani. Ia makin sabar, makin pasrah, makin lembut, makin penuh pengertian, makin ramah. Pokoknya makin suci, makin dekat Tuhan. Itu yang membuat dia makin cantik.”

4. Cantik menurut Kitab Suci

Kalau manusia, khususnya wanita disebut cantik, beautiful, itu karena

ia diciptakan oleh Allah yang “maha beautiful”.

One thing have I asked of the Lord ….

that I may dwell in the house of the Lord all the

days of my life, to behold the BEAUTY of the Lord …

(Mzm 27:4)

Dalam Alkitab Indonesia kata “beauty” itu diterjemahkan dengan

“kemurahan”. Kemuliaan dan keagungan Tuhan terpancar pada

ciptaan-Nya, khususnya manusia. Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulia

nama-Mu di seluruh bumi. keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan

…….

Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?

Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti

Allah (Mzm 8)

Kalau Allah itu maha beautiful, dan kita dijadikan menurut gambar dan

rupa-Nya (Kej 1:26), tak dapat tidak, kita masing-masing beautiful dan lovely. Sebuah wajah yang memancarkan senyum yang tulus dan gembira tak pernah jelek. Perhatikan senyum seorang anak. Bukankah cantik dan indah?

Cantik sama dengan “tak bersalah”, “innocent”, keadaan Adam dan Hawa sebelum berdosa, seperti Allah menciptakan mereka. Aneh bahwa kita sering bicara tentang dosa asal, ‘original sin’, dan tidak tentang ‘original innocence’, sebab inner beauty, cantik dari dalam, adalah innocence.

Kecantikan asli yang dari Tuhan, dirusak oleh dosa. Allah menilik bumi

itu, dan sungguh rusak benar,

sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak dibumi (Kej 6:12).

Sementara bertambah umur, kita kehilangan gambar asli, dan gambar

buatan kita sendiri menjadi lebih dominan.

Bahkan gambar Allah itu seolah pudar atau hilangkarena kita tidak

merawatnya atau memupuknya.

Dalam Kidung Agung, buku yang paling ‘romantis’, yang cantik adalah

yang dikasihi:

Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik

engkau,bagaikan merpati matamu…. (Kid 1:15)

Barangkali kita masih ingat kisah cinta Yakub yang menikah dengan Lea dan Rahel bersaudara. Tentang mereka tertulis:

Lea tidak berseri matanya,tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik

parasnya. Yakub cinta kepada Rahel. (Kej 29:16-17)

Pantas kita bertanya mengapa Lea tidak berseri matanya?

Menurut Kitab Amsal kecantikan itu sia-sia bila tidak dibarengi dengan

watak dan sifat-sifat yang baik:

Seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perempuan cantik yang tidak susila (Ams 11:22).

Dalam Kitab yang sama kita menemukan deskripsi seorang istri yang

ideal:

Istri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya,

suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada

suaminya, dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

Selanjutnya ia digambarkan sebagai wanita yang pandai berbisnis, yang optimis. Tapi ia juga mempunyai hikmat dan mengajar dengan lemah lembut.

Akhir kata, Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia,

tetapi istri yang takut akan Tuhan

dipuji-puji (Ams 31:10-31)

Sebenarnya kita semua cantik dari dalam, tapi kecantikan itu sering

tidak muncul karena tertutup oleh hal-hal yang tidak begitu bagus. Kita membangun benteng pertahanan di mana kita merasa aman. Kita menjadi defensif, lebih suka mempersalahkan orang lain atau situasi, daripada berkonfrontasi dengan kebenaran. Itulah sebabnya Adam mempersalahkan Hawa,

dan Hawa mempersalahkan ular (bdk Kej 3:12-13).

Allah menjadikan kita manusia bebas, tapi anehnya kita lebih suka

diperbudak. Ada sebuah buku berjudul “The

Beauty Myth”, mitos kecantikan. Buku itu mau membebasan perempuan dari apa yang disebut gambaran-gambaran kecantikan yang dipaksakan kepada perempuan. Contohnya kosmetik yang dijadikan keharusan bagi perempuan yang ingin cantik,

trend-trend mode yang harus diikuti perempuan. Perempuan menjadi obyek seks kaum lelaki, obyek kesenian, dan bukan karya seni itu sendiri.

Proses menjadi tua berdampak lebih negatif terhadap gambaran perempuan daripada laki-laki. Sungguh ironis bahwa kita melakukan banyak hal untuk meningkatkan kecantikan fisik, misalnya dengan menambah atau mengurangi bobot, macam-macam senam, bedah plastik, makanan khusus, obat dan dieet. Semua itu merupakan bisnis yang laku, sebab kita semua ingin kelihatan cantik. Namun wajah dan tubuh yang manis, tidak selalu sama dengan wajah dan tubuh yang cantik menurut ukuran “dunia”.

Inner beauty itu lebih dalam, karena bukan hanya bagian dari tubuh

fisik, melainkan dari seluruh kepribadian, termasuk wataknya. Cantik dari dalam adalah kuasa dan rahmat Allah yang memungkinkan seorang menjadi bahagia, penuh percaya, berani, bersemangat untuk menampilkan yang terbaik dari dirinya bagi keluarganya, ling-kungannya dan dunia. Seluruh sejarah keselamatan adalah karya Allah bersama manusia untuk memulihkan keindahan asali, bahkan menjadi lebih indah dalam Kristus.

Pada akhir zaman akan ada langit yang baru dan bumi yang baru. Umat Allah digambarkan sebagai Yerusalem baru:

Aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru,

turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan

pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

(Why 21:2).

5. Kiat menjadi cantik dari dalam

Allah menciptakan kita cantik dan penuh bakat. Adalah pilihan kita

untuk menjadi cantik atau tidak. Cantik dari dalam tidak membutuhkan polesan-polesan atau sarana-sarana dari luar. Beberapa kiat untuk menjadi cantik dari dalam:

a. Sehat rohani: Menerima bahwa hidup ini anugerah.

Dengan penuh percaya dan syukur menerima pemberian Tuhan kepada saya dan kepada setiap orang. Cantik dari dalam ialah kasih, sukacita dan damai yang terpancar dari wajah dan pribadi orang.

b. Percaya pada Tuhan yang menjadikan segalanya indah pada waktunya:

Pandai melihat segi yang baik, yang positif. Orang yang pasrah dan

optimis menjadi cantik karena ia gembira dan bahagia. Saya mengenal seorang ibu yang berjuang tujuh tahun dengan penyakit kankernya. Sampai hari terakhir hidupnya ia tetap di tengah

keluarganya, melayani suami dan anak-anaknya.Yang dipikirkan selalu

orang lain. Pada hari terakhir hidupnya dengan bibir yang pecah karena jatuh, ia masih sempat menilpon temannya untuk mengucapkan selamat HUT.

Suaminya bersaksi: Istri saya cantik, sebab ia wanita yang penuh iman, optimis, selalu gembira dan sungguh bahagia.

b. Mengasihi:

Kita semua ingin dikasihi, sebab yang dikasihi itu cantik di mata

kekasihnya. Seka-rang, bagaimana caranya supaya dikasihi? Tak ada jalan lain daripada mengasihi. Mengasihi dengan tulus, tanpa pamrih, tanpa target untuk balas dikasihi (itu namanya

bisnis kasih). Orang yang mengasihi selalu cantik.

Contohnya Ibu Teresa dari Kalkuta. Orang yang mengasihi, perhatiannya ditujukan keluar, kepada orang lain, untuk membahagiakan orang lain, membuat orang lain sejahtera.

c. Dekat dengan Allah. Allah adalah sumber keindahan, kecantikan. Makin suci seseorang, makin cantik dia dari dalam. Orang yang dekat dengan Allah makin ditransformasi, menjadi sehati dan sepikir dengan Allah. Untuk itu perlu mengenal Kitab Suci.

Tentang Musa dikatakan, bahwa Tuhan berbicara dengan Musa dengan

berhadapan muka seperti seorang berbicara

kepada temannya (Kel 33:11).

Maka kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan

Tuhan (Kel 34:29).

Kita akhiri dengan kata-kata penuh pengharapan dari Mzm 62:6-10

Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab daripada-Nyalah harapanku.

Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku,

kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku (kecantikanku)

gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya, Allah ialah tempat perlindungan kita.

Bandung, 2 April 2003

Sr. Emmanuel Gunanto, osu

Celoteh Anak Kecil

============================

1. Yunus Dan Ikan Paus

Seorang gadis cilik bicara soal ikan paus dengan gurunya. Guru

Itu menjelaskan bahwa ikan paus itu walaupun tubuhnya besar tetapi tidak dapat menelan manusia karena kerongkongannya sempit.

Gadis itu berkata: “Tetapi nabi Yunus ditelan oleh seekor ikan paus.”

Merasa kesal guru itu mengulangi bahwa ikan paus tidak mungkin dapat menelan manusia.

Gadis itu berkata lagi: “Nanti kalau masuk surga saya akan tanya

Kepada nabi Yunus.”

Guru itu bertanya: “Bagaimana kalau ia masuk neraka?”

“Kalau begitu bapak saja yang nanya,” jawab anak itu.

2. Wajah Tuhan

Seorang guru TK sedang mengawasi murid-murid yang sedang

menggambar.

Ia keliling untuk kontrol. Seorang gadis kecil tampak asyik sekali

menggambar. Guru itu bertanya kepadanya apa yang sedang digambarnya.

Anak itu menjawab: “Saya sedang menggambar Tuhan.” Guru itu tercekat dan bertanya: “Tetapi tidak ada kan yang tahu wajah Tuhan seperti apa.”

Bergeming tanpa lepas dari lukisannya anak itu menjawab: “Sebentar

Lagi mereka akan tahu.”

3. Sepuluh Perintah Allah.

Seorang guru Bina Iman membahas soal Sepuluh Perintah Allah

Dengan anak-anak usia lima dan enam tahun. Setelah menjelaskan perintah “Hormatilah kedua orang tuamu” ia bertanya, “Anak-anak adakah perintah yang mengajarkan bagaimana kita harus memperlakukan saudara-saudara kita?”

Tanpa sangsi seorang anak laki-laki (sulung di keluarganya) menjawab:

“Jangan membunuh!”

4. Uban Dan Kenakalan

Suatu hari seorang gadis kecil sedang duduk memperhatikan

Ibunya mencuci piring di dapur. Tiba-tiba perhatiannya beralih pada

helai-helai uban yang mencolok mata pada rambut ibunya. Kemudian ia bertanya:

“Ma, mengapa beberapa lembar rambut Mama ubanan sih?” Ibunya menjawab:

“Ya, setiap kali engkau nakal dan membuat Mama menangis atau sedih hati, selembar rambut Mama menjadi putih.” Anak gadis kecil itu merenung sesaat mendengar pencerahan itu dan kemudian berkata: “Mama, lalu mengapa SEMUA rambut nenek menjadi putih semuanya?”

5. Foto Bersama

Anak-anak semuanya sudah selesai berfoto bersama dan guru

Sedang mencoba membujuk mereka memesan masing-masing selembar foto nantinya.

“Coba pikirkan betapa indahnya bila kalian semua sudah dewasa dan

berkata: ‘Nah itu Yani, ia jadi pengacara’, atau ‘itu Miki yang kini jadi dokter.'”

Tiba-tiba terdengar suatu suara nyeletuk: “Dan itu ibu guru kita.

Dan kini ia sudah mati.

Met.. paskah

Ia Mengalami penderitaan yang luar biasa, fisik dan mental. Sekali

deraan, Yesus dicambuk 39 kali. Cambuk yang digunakan untuk mendera Yesus pada ujungnya disangkutkan bola timah dan disepanjang bola timah dan disepanjang tali cambut dijalin tulang-tulang domba yang tajam. Cambukan yang kuat dan bertubi-tubi mencabik-cabik kulit dan daging Yesus sehingga sekujur punggungNya rusak dan tulang-tulangNya nyaris terlihat.

Cambuk yang hina itu berubah warna, berlumuh darah maha suci.

Seandainya Yesus minta bantuan mailaikat pada Bapa, alias dilepaskan dari penderitaan, itu bisa saja. Tapi malam itu Yesus melihat suatu penglihatan bahwa dunia ini termasuk saya dan kamu sedang membutuhkan penebusanNya. yesus sadar. nggak cukup dengan darah yang tercurah, tapi segala-galanya. Mati.

Sesudah malam penyiksaan itu, Yeses diturunkan kelubang tahanan di

bawah tanah. Ditempat gelap dan pengap, Yesus sendirian, tidak bisa

berbaring karena punggungnya robek. Didalam sumur yang penuh dengan kotaran tahanan terdahulu, Yesus terus berdoa untuk kita. Ini bukan mimpi, bukan dongeng! But it’s real! Paginya, Yesus diadili di depan Pilatus. ranting duri kecil, runcing, tajam, sepanjang jari kelinking itu dianyam sebagai mahkota di kepala Yesus. Dalam sekejap wajahNya merah bersimbah darah. Sisa janggutnya menjadi kaku karena darah membeku. Sementara mata yang lebam, tenggelam dalam pembekakan akibat pukulan dan tinju yang

bertubi-tubi. Luka dipunggung masih basah, langsung dirobek waktu balok seberat 50 kg dibebankan di bahuNya. Sepanjang jalan via dolorosa yang sempit, ratusan orang mengejek, meludah, menendangNya. Beberapa kali Yesus jatuh, bebatuan dijalan merobek lututNya. Tulang pipnya retak terhantam bumi saat Ia terjerembab. Murid-murid tidak berani berbuat apa-apa.

Dibukit golgota tangan dan kaki Yesus dipaku. Darah segar menyembur saat paku sepanjang 20 cm menembus. Yesus harus menahan seluruh berat tubuhNya dalam tiga paku selama 6 jam. DadaNya mulai sesak, paru-paruNya terisi darah. Setiap kali Yesus ingin menarik nafas, ia Harus merenggangkan badanNya, sementara seluruh badanNya tertumpu pada kedua tangan yang terpaku. Keringat bercampur darah menetes dan membasahi MataNya.

PandanganNya mulai kabur. Dalam penderitaannya yang sangat hebat, Yesus masih sempat berkata, ” Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat” .

Seperti biasa, Ia selalu menengadah ke langit mencari Bapa yang menjadi sumber kekuatanNya. Tapi siang itu tak seperti biasa, BapaNya tak nampak disana, langit kelam. matahari disembunyikan awan pekat. Pekatnya dosa anak-anak bumi telah menutup jendela surga. Bapa memalingkan wajahNya, saat itulah Yesus berseru “Eli, Eli, lamasabakhtani?” Yesus berseru dalam bahasa aram yang digunakanNya saat masih kecil. Itulah puncak penghukuman yang ia terima karena dosa kita. Duri, cambuk dan paku tak cukup untuk melumatkanNya. Karena dosa tak hanya membawa duri ke dalam

dunia, tapi telah membawa keterpisahan dengan Bapa, hal itu yang Yesus tebus supaya kita tidak perlu lagi terpisah dan tidak pernah lagi terpisah dari Bapa akibat tragedi taman eden.

Kalau neraka memang tidak ada, Yesus tidak perlu lakukan ini semua.

Yesus menjalani penderitaan karena sadar bahwa seluruh perbuatan baik manusia tak cukup membawa manusia ke surga. Manusia perlu ditebus agar tidak mengalami maut kekal di neraka.

Remember! Kalau Yesus rela menderita hanya karena ingin disembah

sebagai Tuhan, Yesus nggak perlu lakukan ini semua. Terlalu gampang, karena Yesus memang Tuhan. Seekor sapi di india saja bisa menjadi ‘tuhan’ dan disembah banyak orang. Pohon, kayu, biantang dll begitu gampang disembah manusia. Terlalu murah alasannya kalau Yesus mati demi disembah doang.

Mau tahu alasannya? DEMI CINTA. Demi pulihnya hubungan yang indah dengan kita. Darah Yesus menjadi jalan masuk dalam hadirat Tuhan. Darah Yesus yang melayakkan kita untuk masuk dalam hadirat Tuhan yang maha kudus…

(diambil dari majalah Getfresh no 30)

Met nyambut paskah….


Bau Keringat

============================

Setiap Minggu pagi aku pergi ke gereja untuk berbakti. Dan selalu duduk di bangku nomer dua dari belakang. Kebiasaan tempat duduk ini sudah berjalan 3 tahun. Menjelang Natal, pengunjung gereja pun mulai meningkat. Dan kebanyakan orang kayaknya mempunyai kesenangan yang sama denganku, yakni duduk di bangku bagian paling belakang. Seperti hukum tak tertulis saja.

Di tengah-tengah kebaktian, ketika aku sedang konsentrasi untuk mendengarkan pendeta yang sedang berkotbah. Tiba-tiba tercium bau keringat seseorang yang menyengat hidungku. Aku berpikir, hal itu hanya kebetulan saja. Beberapa menit kemudian, tercium kembali bau tersebut. Kali ini bau tersebut lebih lama dan ‘tidak mau pergi?dari daerah sekitar hidungku. Aku mulai tak tenang. Tanpa kusadari tangan kananku menutup hidungku. Aku semakin tak dapat berkonsentrasi mendengarkan kotbah. Karena bau keringat itu masih menyengat.

Aku mencoba menoleh ke kanan ke kiri melihat orang-orang di sekitarku apakah mereka mencium bau keringat juga? Karena menurutku tidaklah mungkin hanya aku seorang yang mencium bau keringat tersebut, sedang yang lain tidak. Ku lihat ada tiga orang wanita juga menutup hidung mereka dengan ‘ti-siu? Aku asumsikan mereka juga mencium baru keringat itu. Aku mencoba memperhatikan kotbah yang disampaikan oleh pendeta yang berdiri di mimbar. Tapi? bau keringat itu tetap mengganggu. Aku pun berdoa dalam hati, memohon Tuhan supaya aku tidak terganggu. Puji Tuhan, paling tidak aku dapat kembali berkonsentrasi untuk beribadah, meski dengan tangan kananku yang masih menutup hidung.

Selesai kebaktian, masih pula tercium bau keringat tersebut. Dan hal itu membuatku lebih heran dan penasaran. Siapakah orang yang mempunyai ba u keringat tersebut ? Timbul pertanyaan dalam kepalaku, apakah orang tersebut mempunyai bau badan yang seperti bau keringat, atau?.dia belum sempat mandi, misalnya ?

Aku mencoba memperhatikan beberapa orang di sekitarku duduk. Untuk mencari kira-kira dari arah mana bau keringat tersebut tersebar. Pilihanku jatuh pada seorang pria yang duduk di bangku paling belakang. Dengan rambutnya yang sebagian telah memutih dan pakaian yang sederhana cukup mudah untuk dikenali, bahwa penampilan om tersebut tampak beda dengan jemaat yang lain. Akupun mencoba menghampiri dan menyapanya. Dugaanku memang tidak salah, bau keringat tersebut tercium lebih tajam, setelah aku berdiri di hadapannya. Aku juga baru mengenal om itu untuk pertama kali. Aku memanggil dia om Nusa.

Minggu depannya, aku melihat om Nusa kembali duduk di barisan bangku paling belakang. Waktu kebaktian aku mencium bau keringat kembali. Dan beberapa orang juga menutup hidung mereka. Dugaanku, bau keringat itu be rasal dari om Nusa. Aku merasa tidak enak jika ingin memberi tahu tentang hal ini secara langsung. Maka aku ada akal. Kebetulan saat itu menjelang Natal, maka tidak ada salahnya jika aku memberi om Nusa sepaket kebutuhan sehari-hari termasuk sabun mandi dan penghilang bau badan. Aku tidak ingin om Nusa tersinggung.

Dua minggu kemudian bertemu dengan om Nusa lagi. Aku bertanya, apakah paket kebutuhan sehari-hari itu sudah dipakainya. Dia sangat senang dengan paket tersebut dan telah memakainya. Aku pun juga senang kalau om Nusa telah memakai pemberianku. Cuma yang membuatku masih heran dan penasaran, waktu kebaktian tadi, aku masih mencium bau keringat.

Setelah mengajak om Nusa mengobrol lebih lama dan lebih jauh lagi. Aku baru tahu, kalau om Nusa termasuk kategori lansia dengan usia kepala enam. Dia hidup sendiri, istrinya telah meninggal, anak-anaknya telah berkeluarga dan tidak mau tinggal bersama dengan om Nusa. Uang pemberian anak-anaknya tidak mencukupi un tuk biaya hidupnya. Maka om Nusa harus bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Pada hari Minggu pagi pun om Nusa harus bekerja di pabrik pemotongan ikan. Setelah selesai bekerja, om Nusa berjalan kaki menuju ke gereja, yang ditempuhnya dengan kurang lebih setengah jam!

Di atas kepalaku seakan menyala lampu halogen yang sangat terang. Aku baru menyadari, dengan berjalan kaki kurang lebih setengah jam, maka tidak heran om Nusa berkeringat. Aku pun bertanya padanya, mengapa om Nusa tidak mau naik kendaraan umum saja untuk pergi kegereja, supaya tidak bersusah payah kelau ke gereja. Jawabnya sederhana, biar uang untuk angkutan umum itu bisa ditambahkan dengan uang persembahan yang telah dipersiapkannya. Aku pun tertegun mendengar jawaban om Nusa tersebut.

Pintu hatiku seakan diketuk untuk disadarkan setelah mendengar jawaban itu. Aku sebelumnya menyangka bukan-bukan tentang om Nusa. Kini aku lebih menyadari bahwa dugaanku dengan hanya melihat penampilan om Nusa d ari luar saja, itu ternyata salah besar. Dan aku tidak pernah berpikir apa yang terjadi sebenarnya. Apakah kebanyakan dari kita seperti demikian ? Ketika kita berhadapan dengan seseorang yang sederhana (terutama di gereja), kita belum-belum sudah mempunyai prasangka terhadap seseorang tersebut.

Ah, Tuhan seakan memberikan suatu pelajaran buatku, lewat caraNya yang unik. Karena dengan mencium bau keringat di waktu kebaktian itu, aku beroleh suatu pelajaran dari seorang tua yang sederhana. Dan aku mengenal satu jemaat lagi di gerejaku. Bukankah kita seringkali dalam satu gereja tidak pernah bertegur sapa dengan jemaat yang lain? Seringkali kita tidak pernah mengenal dan tidak mau mengenal jemaat yang duduk di sebelah kiri, kanan, depan, belakang kita. Sepertinya tujuan kita ke gereja itu begitu ‘agung??kita datang ke gereja hanya untuk beribadah kepada sang Pencipta kita. Kita tidak peduli dengan orang lain. Tetapi Tuhan mempunyai keinginan yang berbeda dengan kita. Tuhan menginginkan kita untuk dapat bersekutu dengan sesama kita juga.

Dari bau keringat om Nusa, aku dapat mengetahui masalah om Nusa yang terbatas dalam transportasi. Dan aku dapat memasukkan nama om Nusa dalam daftar doaku pula. Bukankah itu yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan? Kita dapat menolong sesama saudara seiman kita dan mendoakan. Jika kita tidak mengenal jemaat lain yang dalam masalah bagaimana kita dapat menolong atau mendoakan mereka ?

Setelah kejadian hari Minggu itu, pada minggu-minggu berikutnya aku pun dapat berbakti dengan tenang, tidak terganggu oleh bau keringat lagi. Karena sekarang om Nusa pergi ke gereja bersamaku dengan mengendarai mobil, sehingga om Nusa tidak perlu berjalan kaki dan ?.berkeringat.

Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (Ibr 10:24)

~ Vancouver, 21 Maret 2003

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on January 8, 2009, in Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. wah, bagus skali kisahnya..
    klo bisa, klo ada kisah baru tlg send ke e-mailq ya..

  1. Pingback: Renungan & Kesaksian Kristen :: Ilustrasi dan Renungan :: January :: 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: