agama keimanan dengan agama perbuatan

SEMPURNANYA BU KRIS Bu Kris bertetangga dengan bu Is. Suatu pagi bu Kris berangkat ke pasar untuk berbelanja, begitu pula dengan bu Is. Mereka berangkat ke pasar sendiri-sendiri. Mereka berangkat dari rumah sama-sama hanya membawa sebuah dompet. Tapi tentu saja isi dompet merekalah yang berbeda. Sebagai orang kaya tentu saja bu Kris membawa uang yang lebih, sedangkan bu Is hanya membawa uang yang pas-pasan. Maka berbelanjalah mereka dengan barang-barang yang serupa; sekarung beras, sekarung gula, sekarung tepung terigu, dan lain-lainnya. Selesai dengan belanjanya, bu Kris memanggil tukang becak untuk mengangkuti barang-barang belanjaannya pulang ke rumah. Dan setibanya di rumah tukang becak itu pula yang menurunkan semua belanjaan bu Kris tadi. Praktis bu Kris ini tak direpotkan dengan barang-barang belanjaannya yang banyak, yang besar-besar dan yang berat-berat. Berangkat dan pulang ke rumah hanya cukup menjinjing sebuah dompet saja. Berbelanja tapi seolah-olah tidak berbelanja apa-apa. Sempurna sekali! Berbeda dengan bu Is. Karena uangnya pas-pasan, maka ketika berangkat ke pasar harus bersabar dengan berjalan kaki saja. Dan ketika pulang terpaksa harus memanggul sendiri barang-barang yang dibelinya. Bu Is tidak mempunyai uang untuk membayar tukang becak. Karena itu bu Is harus seringkali berhenti beristirahat, sebab berat sekali beban yang harus dipikulnya. Tak ada seorangpun yang peduli dan mau menolong membawakan barang-barang belanjaannya. Sebab masing-masing orang menanggung bebannya masing-masing. Sedangkan suaminya bu Is, pak Mamad, setiap harinya cuma berbaring di tempat tidur saja. Sudah 1,5 tahun ini lumpuh karena stroke. Praktis bu Is habis waktunya buat melayani suaminya yang lumpuh itu. Begitulah gambaran tentang 2 golongan agama, yaitu agama keimanan dengan agama perbuatan. Bu Kris adalah Kristen, sedangkan bu Is adalah Islam. Dompet adalah “pengakuan keimanan” yang harus dibuktikan melalui isinya – agar bukan cuma dompet doank yang nggak ada isinya apa-apa. Berkoar-koar “iman…iman…” tapi kenyataannya kosong! Adapun “uang” adalah tentang iman, yaitu alat pembayaran yang syah untuk membeli sorga di tokonya pak ALLAH. Uang yang cukup adalah iman yang cukup, sedangkan uang yang pas-pasan adalah iman yang pas-pasan pula. Tukang becak adalah YESUS KRISTUS – si JURUSELAMAT dunia! Matius 11:28-30: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” Pasar adalah Setan, sedangkan barang-barang belanjaan adalah perbuatan-perbuatan berdosa kita. Bahwa nggak peduli dia itu orang Kristen atau orang Islam sama-sama memiliki kecenderungan untuk berbuat yang salah, berbuat yang nista, jahat dan berdosa. Tanpa malu-malu orang-orang Islampun suka berkata: “Saya minta maaf jika pelayanan saya kurang memuaskan anda.” – “Maaf jika ada kata-kata atau perbuatan saya yang kurang berkenan di hati anda” – “Sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kesalahan”[kapan jadi malaikatnya?] – “Tidak ada gading yang tak retak”[berarti semua gading pasti retaknya?] – dan lain-lainnya. Tidakkah kata-kata tersebut menyatakan PEMBENARAN buat konsep kerja Alkitab yang suka Muslim katakan sebagai kitab yang najis?! Tidakkah itu juga merupakan PEMBENARAN buat pekerjaan ALLAH yang menyediakan JURUSELAMAT – YESUS KRISTUS?! – Masyarakat pasti akan menghujat Pemerintah jika di suatu kota tidak disediakan Rumah Sakit atau Mobil Pemadam Kebakaran. Sebab itu merupakan suatu kelengkapan yang amat penting buat penyelenggaraan Pemerintahan yang bersifat mengayomi dan melindungi masyarakat. Kalau pak RT membuat program kerja, selalu ada Pos Anggaran buat keperluan “lain-lain.” Dalam suatu rumah yang standart, selalu disediakan WC/toilet dan obat-obatan yang darurat sifatnya. Dalam suatu acara Upacara, biasanya selalu di stand by-kan dokter, ambulance dan unit pemadam kebakaran. Bagaimana dengan acara pertandingan sepakbola? Ada juga ‘kan?! Nah, bagaimana Muslim hendak berkata menolak: “kami tidak butuh anggaran lain-lain” – “kami tidak butuh WC” – “kami tidak butuh dokter, ambulance dan mobil kebakaran” – “kami tidak membutuhkan JURUSELAMAT.” Bahwa fatwa-fatwa MUI saja sudah cukup, aturan-aturan agama Islam sudah cukup, syariat Islam sudah cukup untuk menghapuskan pencuri dari muka bumi. Pondok-pondok pesantren sudah cukup untuk menghasilkan santri-santri yang soleh, sholat 5 waktu cukup untuk mencegah orang berbuat jahat, puasa Ramadhan cukup untuk menyingkirkan segala macam nafsu setan, ritual Haji cukup untuk me-mabrur-kan haji, jabatan-jabatan seperti; sunan, syekh, gus, kiai, kiai haji, dan rekan-rekannya adalah jabatan-jabatan yang bisa mendekatkan orang kepada allah hitam [Black allah?!] Benarkah itu semuanya? Tetapi pak Polisi selalu me-warning: “Berhati-hatilah selama bulan suci Ramadhan karena diprediksi akan terjadi peningkatan kejahatan.” Hah??? Ramadhan justru semakin meningkatkan kejahatan? Copet dan maling semakin meningkat, kecelakaan lalu lintas semakin meningkat, setan-setan semakin beringas: pembagian zakat menelan korban 21 jiwa, istri dan 2 anaknya digorok suaminya sendiri lalu bunuh diri, pembunuhan mutilasi menjadi 13 potongan, sebuah polsek di Madura diluluhlantakkan oleh ledakan mercon……………Pos-pos polisi didirikan di berbagai tempat, pos-pos jaga di kampung-kampung menjadi dihidupkan, antara sesama saling curiga-mencurigai………….

..Sesuatu yang tidak terjadi di hari-hari biasa, akan terjadi di hari suci Ramadhan. Kalau begitu mending nggak usah Ramadhan, nggak ada peningkatan kejahatan, semuanya “biasa-biasa” saja? Benar! Kalau anda berpikir begitu, itu adalah kebenaran! Saya setuju sekali itu! Hua…ha..ha..ha…. Pernahkah terjadi anda membeli sebuah sepeda motor atau mobil baru yang mesinnya tidak mau menyala/jalan? Pasti itu tentang merk-merk yang tidak terkenal! Sebab untuk merk-merk yang sudah ternama, yang demikian itu tak akan pernah terjadi! Jadi, bagaimana Muslim yang berkata: “Islam adalah agama yang sempurna, Al Qur’an adalah kitab yang sempurna, Muhammad adalah manusia yang sempurna…” tapi manusia-manusia yang dicetaknya bisa serba tidak sempurna? Koq bisa? Di mana letak kesalahannya? Matius 7:17-18: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” Matius 7:20: “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Ya, dari buahnyalah kita bisa mengenali pohonnya itu macam apa?! Buah adalah perbuatan, sedangkan pohon adalah ajarannya. Bahwa ajaran yang benar tidak mungkin akan menghasilkan manusia-manusia yang tidak benar! Apakah saya sedang berkata bahwa orang Kristen itu lebih baik dari orang Islam? Saya tidak sedang berkata begitu; justru saya sedang berkata bahwa orang Kristen itu sama brengseknya dengan orang Islam, Hindu, Budha dan rekan-rekannya. Tapi pada orang Kristen ada “kebenaran”-nya. Bahwa kalau nggak kuat memikul beban sendiri, pakailah jasa tukang becak, seperti yang diperbuat oleh bu Kris di atas. Kalau anda bukan tukang bangunan, ya jangan membangun rumah sendiri, tapi panggillah tukang yang ahli bangunan. Apa jadinya jika kita yang nggak ngerti bangunan tapi membangun rumah sendiri? Pasti buruk dan gampang roboh, bukan?! Yeremia 13:23: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” Kalau dari “sono”-nya [Adam-Hawa] sudah berdosa, mungkinkah lahir anak-anak yang tidak berdosa? Roma 3:12: “Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa berbuat baik! Matius 9:13: “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Bahwa YESUS menyiapkan diriNYA untuk menolong orang- orang yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri, bukan untuk mereka yang sudah merasa baik. Roma 11:6: “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.” Bahwa kalau gaji adalah upah dari pekerjaan, jerih lelah dan keringat kita. Sedangkan “hadiah” adalah pemberian cuma-cuma yang tidak diperhitungkan dengan keringat kita. Orang tidak akan berterimakasih karena gajinya, tetapi akan berterimakasih oleh sebab menerima hadiah! Sorga memang “hak”-nya orang yang baik. Itu lumrah! Bukan hal yang mentakjubkan. Bukan suatu berita yang besar! Bukan suatu “kabar yang baik.” Justru merupakan “kabar yang buruk” karena hanya membuat frustrasi orang-orang yang jahat! Mem buat banyak orang kehilangan pengharapannya! “Saya ini rakyat biasa, dari keluarga miskin, mana bisa saya hendak menjadi pegawai negeri yang uang sogoknya 50 juta?” “Mana mungkin saya yang miskin ini akan menjadi orang yang kaya raya?” – Imposible! Tapi “Judi Togel” membuka peluang yang seluas-luasnya buat semua orang tanpa kecuali mereka yang miskin. Sebab siapa saja yang beruntung akan mendapatkan hadiah 1 milyar! Maka sinar mata orang-orang yang miskinpun menjadi berbinar-binar karena harapan menjadi orang kaya dibukakan lebar-lebar untuk mereka. Sebab “Judi Togel” bersifat adil sekali, tidak memandang bulu. Ini menjadi “kabar baik” bagi kalangan orang-orang miskin. Sedangkan “pegawai negeri” adalah kabar buruk bagi mereka. Jadi, Islam itu “kabar baik” atau “kabar buruk?!” – mudah-mudahan amda pandai menjawabnya! Selanjutnya, kita kembali ke ilustrasi bu Is; bahwa tempat-tempat bu Is berhenti mengaso adalah titik-titik di mana kaum Muslim menandai tingkat ketaqwaan seseorang. Ada Islam awam, ada Islam santri, ada sholat 5 waktunya, ada kiblatnya, ada tasbihnya[sekarang sudah diganti sempoa], ada fatwa MUI-nya, ada syariat Islamnya, ada puasa Ramadhannya, ada Idul Fitrinya, ada minyak wanginya untuk mengharumkan nama Islamnya, ada ritual hajinya, ada jabatan syekhnya, ada sunannya, ada walinya, ada gusnya, ada kiainya, ada ini dan itunya. Ada manajemen qolbunya yang bisa memanage 2 istri sekaligus, dan lain-lainnya. Tapi semua itu nol besar sekali! Bagaikan tong yang kosong………… Kala Idul Fitri dikatakan “menjadi manusia kembali.” Lho, kalau sudah tidak Idul Fitri, kemana perginya? Apakah seperti orang-orang di kota Sekayu dan Kayu Agung[Sumsel] yang biasanya pergi melaut menjadi bajak laut kapal-kapal asing?! Kalau di bulan suci Ramadhan harus menahan amarah, apakah diluar Ramadhan boleh melampiaskan segala amarahnya?! Anda mendapati ada yang ganjil di sini? Itu namanya anda mikir! Orang Islam yang cerdas tidak akan menolong sesamanya di bulan-bulan biasa. Sebab nggak ada pahalanya. Mereka baru berzakat kalau bulannya Ramadhan. Kalau nggak begitu maka Ramadhan akan kehilangan arti dan kebesarannya. Ramadhan akan sederajat dengan hari biasa kalau di hari biasa kita menjadi orang yang baik. Ucapan “mohon maaf lahir dan bathin” menjadi tidak ada faedahnya kalau kita nggak kumpul-kumpul dosa di hari-hari biasa. Bersalam-salaman menjadi suatu basa-basi kalau kita nggak ada kesalahannya. Jadi, orang yang baik di hari-hari biasa, dia itu sedang merobohkan makna Ramadhan. Sedangkan orang yang jahat di hari-hari biasa dialah orang-orang yang menegakkan kebesaran Ramadhan. Sudah bisa mikir? Siapa yang saya ilustrasikan sebagai suaminya bu Is; pak Mamad? Tidak lain adalah Muhammad, sang nabi; seorang nabi yang kerjanya tidur melulu. Sudah 1500 tahun lamanya hanya terbaring saja, merepotkan bu Is. Pemimpin yang selalu menuntut untuk dilayani, bukannya melayani umatnya. Menuntut di shalawati, menuntut umatnya mati berjihad tapi dia sendiri matinya biasa-biasa saja. Membatasi poligami umatnya hanya 4 istri saja sedangkan dia sendiri makan 25 istri. Berbeda dengan pak Kris[KRISTUS], tidurNYA cuma 3 hari saja, sudah bangun dan bekerja melayani umatNYA kembali. Seorang PIMPINAN yang melayani, bukan menuntut untuk dilayani. Menyatakan kebesaran dan kekuatanNYA yang sejati! Sanggup menolong orang lain, itulah tanda KELEBIHANNYA! Markus 10:45: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Tidak ada orang Kristen yang mendoakan YESUS, tetapi berdoa kepada YESUS! Luar biasa sekali! Yohanes 15:5: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Kisah 4:12: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Cukupkah hanya dengan iman saja? Nggak, nggak cukup! Anda harus melampiri dengan photocopy KTP, membawa surat keterangan kelakuan baik dari nabi Musa, bahwa anda tidak pernah melanggar hukum Taurat, serta anda harus menyiapkan uang sogok untuk YESUS sebesar Rp. 50 juta. Mau? Senangkah anda dengan birokrasi model seperti itu? Bukankah Kristen mengajarkan orang berbuat yang baik? Benar sekali! Bahwa ALLAH pinginnya juga mempunyai anak-anak yang baik. Tapi ALLAH juga menyadari bahwa kita ini adalah anak-anak idiot yang nggak pandai berbuat yang baik. ALLAH membenci kejahatan, tapi ALLAH tidak berusaha memungkiri kenyataan kita yang berdosa. Dalam konsep Kristen, lokomotif keselamatannya ada pada iman, bukan pada perbuatan. Perbuatan adalah gerbong-gerbong yang ditarik oleh keimanan itu. Perbuatan adalah hasil atau akibat dari adanya keimanan. Dosa itu diukur dari pengetahuan orangnya, bukan dipaksakan sebagai perbuatan yang tidak didasari oleh kesadaran orang itu. Polisi bisa membuat jerah pencuri dengan aniayanya. Tapi polisi tidak bisa membuka kesadaran pencuri itu dengan tangan besinya. Karena itu jumlah pencuri akan selalu bergantung dari jumlah polisinya. Jika polisinya banyak maka pencurinya sedikit, jika polisinya sedikit maka pencurinya akan berbondong-bondong. Tapi seorang yang kesadaran berpikirnya sudah terbuka, dia nggak perlu hukum, nggak perlu hukuman dan nggak perlu polisi. Sebab baginya ada polisi ataupun tidak ada polisi dia tetap tidak akan mencuri. lukas 12:48: “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Karena itu Alkitab mutlak perlu dibaca dengan pengertian, bukan untuk dihafalkan saja. Alkitab itu diperuntukkan bagi orang- orang yang bisa membaca dan menulis, bukan untuk mereka yang buta huruf. Alkitab itu untuk orang yang pinter, bukan untuk orang yang bodoh. Bahwa ALLAH itu akan merasa terhina jika disembah oleh orang-orang yang dungu. Dan menjadi kemuliaan jika penyembah-penyembahNYA adalah orang-orang yang berotak brilliant. Bagaimana dengan orang-orang yang nggak sekolah? Lho, ini ‘kan bukan tentang sekolahan? Sekolahan itu lembaga, tapi akal budi itu jiwa manusia. Ibrani 8:10: “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Bahwa proyek keselamatan yang ALLAH selenggarakan ini bukanlah proyek yang main-main. ALLAH telah merancangkannya secara sempurna. Berbagai macam cara yang ALLAH bisa lakukan telah ALLAH lakukan. Sehingga tidak ada seorang manusiapun yang akan ketinggalan atau tertinggal. Tidak ada seorangpun yang tidak sanggup untuk mengerti kehendakNYA dan berkata: “Aku tidak mengerti apa kehendakMU.” ALLAH memperlengkapi semua orang dengan ROH KUDUS! Dan tanpa ROH KUDUS orang mempunyai Alkitabpun akan menjadi sia-sia. Mungkin dia bisa membaca dengan baik tapi belum tentu juga bisa mengertinya dengan baik. Tapi dengan ROH KUDUS, nggak bisa membaca Alkitabpun akan mempunyai pengertian yang lebih baik daripada yang bisa membacanya. 2Korintus 3:14-17: “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.”

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on October 8, 2008, in Kesaksian. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: