HARGA KEPEMIMPINAN

ARTIKEL 1

HARGA KEPEMIMPINAN

Persiapan untuk menjadi seorang pemimpin mencakup banyak waktu

mencucurkan air mata dan ujian-ujian yang menyakitkan (lihat Ibrani

5:7-8). Ini karena Anda dilatih untuk bertahan terhadap

tekanan-tekanan yang dahsyat yang menimpa seorang pemimpin.

Kepemimpinan Kristen bukanlah hal yang penuh kesenangan/glamor;

tetapi adalah suatu peperangan.

Anda berperang dengan setan dan dunia. Anggota-anggota keluarga Anda

bisa salah mengerti terhadap anda, sahabat-sahabat dan

saudara-saudara seiman juga bersikap demikian. Seiring dengan ini,

Anda juga akan sering mengalami celaan dari orang-orang karena

mereka iri hati dan takut.

Kisah yang tercatat dalam Alkitab mengenai Musa di dalam Kitab

Bilangan, merupakan gambaran tepat tentang apa yang tercakup di

dalam kepemimpinan. Musa bertanggung jawab untuk jemaat yang terdiri

dari dua setengah juta manusia. Mereka merupakan kelompok yang

terdiri dari para pengeluh, penggerutu, dan para pemberontak yang

suka mencemarkan nama orang. Mereka ingin menyaksikan mukjizat,

tetapi tidak lama kemudian menuntut sesuatu yang lain lagi.

Bahkan, saudara laki-laki dan saudara perempuan Musa sendiri pun

mencela dia dan menentang kepemimpinannya (dan sebagai akibatnya

mereka dihukum).

Tak mengherankan bila Allah memersiapkan Musa selama empat puluh

tahun sebelum ia berada di posisi kepemimpinan. Jika Musa tidak

melewatkan waktu selama empat puluh tahun di padang gurun yang sunyi

bersama domba-domba mertuanya, ia tidak akan pernah menjadi pemimpin

besar seperti itu.

DUA PEMIMPIN YANG TERBESAR

Musa dan Elia adalah dua orang yang nampak di Bukit Pemuliaan

bersama Yesus. Dari hal ini (dan bagian firman Tuhan lain) kita

mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah dua pemimpin terbesar dan

terpenting dalam Perjanjian Lama.

Sejumlah tekanan yang diderita seorang hamba Allah dalam

kepemimpinan dengan jelas dipaparkan melalui kehidupan Musa dan

Elia.

MUSA

Sekalipun Musa telah mengalami tahun-tahun persiapan yang lama,

tekanan itu begitu dahsyatnya sampai Musa memohon agar Allah

membunuhnya. Seseorang tidak mungkin berdoa demikian jika hidupnya

tidak sangat sengsara.

Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN, “Mengapa Kau perlakukan hamba-Mu

ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di

mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas

seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau

akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku:

Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu,

berjalan ke tanah yang Kau janjikan dengan bersumpah kepada nenek

moyangnya? Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada

seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata:

Berilah kami daging untuk dimakan. Aku seorang diri tidak dapat

memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat

bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau

membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu,

supaya aku tidak harus melihat celakaku.” (Bil. 11:11-15)

Hanya mereka yang sudah sampai pada pengalaman itu, yang

mengetahuinya. Kepemimpinan selalu dibarengi dengan beban-beban yang

sangat berat. Musa menjadi begitu tawar hati dan putus asa

menghadapi situasi itu sehingga ia ingin mati saja.

ELIA

Elia juga mengalami kelemahan seperti ini dalam pelayanannya.

Terjadinya setelah kemenangannya yang terbesar, yaitu ketika ia

minta api turun dari surga dan api itu telah membunuh empat ratus

nabi-nabi Baal. Sungguh tak beruntung, lembah kekecewaan sering

mengikuti pengalaman puncak gunung dari suatu kemenangan besar.

Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia

dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel

menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya

para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika

besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama

seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” Maka takutlah ia, lalu

bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke

Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di

sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan

jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin

mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku,

sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” (1 Raja-

raja 19:1-4)

Tuhan menjawab doa Elia dan membebaskan dia. Ia diangkat ke surga

dalam sebuah kereta beberapa minggu setelah ia menyampaikan doa ini.

Bagi saya, ini merupakan suatu pernyataan yang besar dari kasih dan

pengertian Allah terhadap pemimpin-pemimpin-Nya, dan Ia menghormati

Musa dan Elia dengan mengizinkan mereka berada pada saat

kemuliaan-Nya (Matius 17).

Ya, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang pemimpin.

Jika persiapannya nampak sulit, ingatlah hal ini: tekanan-tekanan

yang berlaku bagi para pemimpin utama lebih sulit dari pada latihan

yang membawa Anda ke sana.

Diambil dan disesuaikan dari:

Judul buku: Pembentukan Seorang Pemimpin

Judul bab: Kepemimpinan — Harganya dan Jerat-Jeratnya

Penulis: Ralph Mahoney

Penerbit: World Missionary Assistance Plan, California

Halaman: 92 — 94

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on May 9, 2008, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: