ORGANISASI YANG BERKESINAMBUNGAN

ORGANISASI YANG BERKESINAMBUNGAN

Jesus and Church

ORGANISASI YANG BERKESINAMBUNGAN
Oleh
I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA

Kalau berbicara oraganisasi, pastilah kita berbicara tentang manusia. Jika kita mendengar Jemaat GKPB, kita akan membayangkan ada persekutuan individu-individu yang mempunyai maksud dan tujuan setidak-tidaknya mirip atau hampir sama. Jika masing-masing individu pada sebuah organisasi hanya focus pada diri sendiri (Care for me) pastinya organisasi tersebut diragukan kesinambungannya.

Pada tahap-tahap awal berdirinya sebuah oraganisasi jika ingin berlanjut selangkah saja, setidak-tidaknya diperlukkan interaksi dua arah antar anggotanya. Terjadi jalinan komunikasi dua arah sehingga permasalahan internal sebuah organisasi akan menjadi ringan karena semakin banyak orang turut mengangkatnya. Masih ada kata-kata manis terucap di bibir para anggota jemaat yang mendukung sesamanya (Care for me and you), misalnya saja “kalau aku diselamatkan, engkau juga harus selamat”. Mungkin pada permulaan berdirinya GKPB diawali oleh tahapan ini, namun itu dulu, persoalan jemaat masih sederhana dan masih bisa dipantau oleh pengamatan orang biasa.

Sekarang, zaman sudah berubah, tantangan dan ancaman sebuah organisasi pada zaman ini sungguh sangat kompleks, dan mungkin saja tidak dapat kita amati dari satu atau dua dimensi saja. Permasalahan menjelang masa global diperlukan pengamatan multidimensi. Para pemimpin dipaksa untuk dapat berpikir multidimensional (Care for all and Interinpendency), jika tidak, pastilah para anggotanya akan berantakan. Kalau boleh mengutip satu kalimat dari sebuah artikel di Bali Post bunyinya seperti ini, “Agama tidak hanya mengurus urusan ceremonial saja tetapi agama harus mampu juga memecahkan masalah kesejahteraan anggotanya”, masalah harmoni keluarga, dan masalah lainnya yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh para pemimpin agama. Mungkin saja GKPB telah melakukan usaha-usaha semacam ini namun perkembangan zaman dan permasalahaan selalu lebih cepat dari apa yang telah dibayangkan oleh para pemimpin kita. Zaman telah menguji bahwa organisasi-organisasi gereja di dunia barat/eropa terancam akan menjadi museum karena para generasi muda tidak tertarik lagi datang ke gereja. Ada pertanyaan seperti ini “Mereka kan sudah makmur kenapa gereja hanya dikunjungi oleh kaum manula saja?” itu artinya, permasalahan gereja sangat kompleks tidak hanya bisa dilihat dari factor kemakmuran saja tetapi banyak factor lain lagi yang mempengaruhi keberlangsungan organisasi gereja apalagi menjelang globalisasi.

Sekarang persoalannya, mungkinkah akan ditemukan pemimpin gereja yang dapat berpikir multidimensional? Kalau mungkin!, mungkin hanya seorang dari duaratus juta orang jemaat karena pada prinsipnya manusia memiliki kelemahan disamping juga kelebihan yang diberikan oleh Tuhan.

Tanpa memandang siapa yang menjadi pemimpin, care for me and you akan menjadi tangga pertama untuk menciptakan organisasi yang berkesinambungan, sembari kita berjalan bersama, menaiki tangga berikut yang berlabel care for all. Setiap jemaat proactive dalam melayani tidak harus menunggu petunjuk pendetanya. Optimis bahwa program yang akan dijalankan pasti mampu untuk diselesaikan, dengan catatan berdasarkan realitas dan factual (begin with the end in mind). Membuat program jemaat yang bersifat penting pada prioritas awal untuk dijalankan kemudian program-program yang lainnya (put first things first). Program yang baik bukan karna banyaknya item program tetapi kualitas dari penyelesaian dari sebuah program. Jika terjadi konflik dalam berjemaat hendaknya diselesaikan dalam level kekeluargaan terlebih dahulu tetapi tidak ada jemaat yang merasa kalah atau menang, namun semua merasa dimenangkan (think win-win).

Jemaat yang modern tidak mudah untuk menghakimi sesamanya, namun turut bersama-sama mencari akar permasalahan kenapa permasalahan bisa terjadi, artinya kita berusaha untuk mengerti permasalahan terlebih dahulu sebelum kita mengerti benar masalahnya lalu turut memberikan solusi yang dapat kita sumbangkan (seek first to understand, then be understood).

Ada anggota jemaat paling hoby tidak datang jika diundang pertemuan misalnya pertemuan masalah pembangunan, rapat jemaat atau pertemuan yang lainnya dengan alasan bahwa pendapatnya tidak berarti apa-apa. Nah, persoalannya bukan masalah berarti atau tidaknya sebuah pendapat. Kembali lagi pada ungkapan lama, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Semua pendapat akan menjadi sama pentingnya walaupun ia hanya berpendidikan tidak terlalu tinggi, mungkin saja ia mampu melihat solusi dari dimensi yang tidak terjangkau oleh anggota yang lainnya (synergize).

Banyak sekali para pemimpin gereja yang merasa pengetahuan dan ketrampilannya sudah cukup untuk melayani jemaat, dikiranya jemaat ini statis, oh, tidak! Jemaat kita sangat dinamis, mungkin saja dalam setiap lima tahun muncul sarjana-sarjana baru di jemaat-jemaat, level permasalahan jemaat juga akan semakin kompleks dan mungkin saja tidak terjangkau oleh pendetanya yang agak malas untuk improve diri. Kalau saja hal ini benar-benar terjadi di GKPB, akan ada jemaat yang merasa persoalannya tidak tertangani akan beralih pada pelayan jemaat yang dianggap mampu menyelesaikan masalahnya (Always improve our skills including verbal, mental and physical skills).

Solusi di atas mungkin akan menjadi Brainstorm solutions/ideas untuk organisasi yang ingin sustainable, tidak terbatas hanya organisasi GKPB saja, termasuk juga organisasi yang lainnya karna pada prinsipnya organisasi yang ada di dunia ini adalah tentang manajemen manusia. Tuhan Yesus datang dengan sebuah goal yang amat penting yakni sebuah goal Penyelamatan Manusia agar tidak jatuh ke dalam api neraka melainkan beroleh hidup yang kekal. Kalau boleh diterjemahkan dalam istilah dunia yakni “sustainable-life”. Dapat dipastikan tanpa harus diuji dengan uji statistic atau survey, semua organisasi yang ada di dunia ini menginginkan organisasinya berkesinambungan sepanjang masa.

Note:

• Jika anda membaca secara seksama artikel ini, sebenarnya anda telah membaca satu seri buku best seller yang berjudul “The Seven Habits of Highly Effective People dari Stephen R. Covey” secara lengkap.

• Penulis adalah Dosen Tetap STIM Dhyana Pura, Mahasiswa Master of Art in International Leisure and Tourism Studies CHN Leeuwarden, Belanda.

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on February 9, 2008, in Artikel and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: