Analisis Stakeholders Menuju Organisasi Gereja Berkesinambungan

Analisis Stakeholders Menuju Organisasi Gereja Berkesinambungan

Oleh

*)I Gusti Bagus Rai Utama, SE., MMA., MA.


Sebenarnya secara makna stakeholder sungguh tidak

terlalu asing dalam kehidupan bergereja. Jika seseorang memiliki sesuatu yang dapat menggerakkan sesuatu entah secara paksa maupun sukarela sebenarnya dia juga disebut stakeholder. Alkitab banyak mencatat tentang Para Nabi yang dapat menggerakkan umat, misalnya saja; Nabi Musa yang berhasil menggerakkan Umat Israel keluar dari tanah mesir, begitu juga sejumlah umat bersatu untuk menyuarakan niat dan dapat mempengaruhi organisasinya, maka dia juga adalah stakeholder.

Jesus Inside your OrganizationLalu apa yang sebenarnya yang disebut dengan (1) stakeholders? (2) Siapa saja yang disebut stakeholders dalam organisasi gereja?, (3) Ciri-ciri apa saja yang dimiliki oleh stakeholder? (4) Dapatkah stakeholders diidentifikasikan?


Sebelum menjawab empat pertanyaan di atas, mari kita ketahui apa itu stake? Menurut Mitchell (2006) Stake dapat mencangkup sesuatu nilai yang berbentuk sumberdaya; SDM, fisik bangunan tanah dan gedung, keuangan dan sebagainya, legalitas, moralitas, system dan tentunya juga budaya organisasi, dalam artian hal inilah yang akan di hold oleh stakeholders.

Stakhoders dalam organisasi dapat terdiri dari individu-individu dan kelompok yang diharapkan oleh sebuah organisasi dalam mewujudkan tujuan organisasi untuk pertumbuhan dan kelangsungan organisasi. Sedangkan stakeholders dalam kehidupan organisasi gereja terdiri dari para Pendeta dan Jemaatnya serta individu lainnya yang sesuai dengan definisi di atas. Mitchell, Eagle and Wood

(2006) menjelaskan bahwa Stakeholders dikelompokkan dalam beberapa tipe sesuai kemampuan mempengaruhi suatu organisasi berdasarkan power, legitimasi, dan urgensi yang dimilikinya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

 

1) Dormant stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki power namun tidak memiliki legitimasi dan urgensi.

2) Discretionary stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki legitimasi namun power dan urgensi tidak ada padanya.

3) Demanding stakeholder adalah stakeholder yang hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki power dan legitimasi

4) Dominant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan legitimasi namun tidak memiliki urgensi.

5) Dangerous stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power dan urgensi namun tidak memiliki legitimasi.

 

6) Dependant stakeholder adalah stakeholder yang memiliki legitimasi dan urgensi namun tidak memiliki power.

 

7) Definitive stakeholder adalah stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi.

Dari tujuh tipe stakeholder di atas, kita dapat mengkondisikan organisasi yang ada di gereja kita, apakah para stakeholder termasuk salah satu diantaranya? Power mungkin berupa uang, kekayaan material lainnya, karisma dan sejenisnya. Legitimasi mungkin berupa kewenangan untuk membuat keputusan dan bertindak, dan urgensi mungkin berupa keinginan, kebutuhan, dan kepentingan untuk keberlanjutan organisasi.

Tipe stakeholder yang dianut di atas akan berimplikasi pada kreasi, inovasi, dan loyalitas jemaat yang ada. Harusnya semua Stakeholder Gereja Bali ada dalam tipe definitive stakeholder yang memiliki power, legitimasi, dan juga urgensi sehingga kehidupan gereja akan mengalir dari loyalitas jemaat, jika loyalitas jemaat terbentuk maka alhasil kehidupan dalam bergereja akan dipenuhi dengan semarak saling asuh, asah, dan asih. Kebanyakan organisasi akan stagnan jika para stakeholder tidak memiliki ketiga indikator di atas. Mungkin ada sebuah organisasi di Gereja Bali, yang para stakeholdernya hanya memiliki urgensi namun tidak memiliki legitimasi dan power untuk bersuara hal ini mungkin akan menurunkan semangat kerja yang pada akhirnya menurunkan loyalitas terhadap organisasi dan sekaligus pula menurunkan produktivitasnya.

Konsep rantai pelayanan dan nilai akan sangat relevan pada saat ini. Misalnya saja, jika seorang Pendeta yang melayani Jemaat mau dan mampu melayani sesuai dinamika “konteks” kehidupan saat ini maka akan tercipta kondisi Jemaat akan merasa ingin dan butuh untuk menyantap Firman Tuhan pada setiap kebaktian di Jemaat, dalam hal ini para pendeta tidak cukup dengan kemampuan Biblical semata namun lebih daripada itu sehingga diperlukan kreasi dan inovasi yang berkelanjutan. Jika Jemaat merasa ingin dan memerlukan pelayanan Firman Tuhan senantiasi itu menandakan adanya korelasi yang nyata antara pelayanan seorang pendeta terhadap kehidupan jemaat yang digembalakannya. Jika kondisi ini terjadi maka telah terbangun loyalitas dalam organisasi sehingga konsep pelayanan diantara kita akan terbentuk dalam rantai pelayanan dan nilai organisasi. Setiap Jemaat yang datang ke gereja telah tertanam dalam benaknya, apa yang saya “dapat” hari ini? Jika kotbah seorang pendeta hanya dengan pendekatan Biblical semata, maka jemaat tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan atau “baca sendiri juga bisa

Stagnasi organisasi juga dapat disebabkan akan kurangnya inovasi dan kreasi para stakeholder yang disebabkan ketiadaan power dan urgensi atau dalam artian sederhana stakeholder yang tidak peduli akan keberlanjutan organisasinya. Organisasi masa kini harus mampu menyentuh dan bersentuhan dengan masalah yang berhubungan dengan kemanusiaan dengan berbagai permasalahannnya (Social Value), kesejahteraan para anggotanya (Economic Value), serta kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya (Environmental Value). Ketiga hal ini sangat menentukan keberlanjutan organisasi. Jika Gereja gagal membawa nilai nilai sosial maka gereja bagaikan garam yang tawar. Sedangkan jika gereja gagal membawa nilai nilai kekristenan pada lingkungannya maka dia tidak akan dapat menjadi terang dunia. Begitu juga, jika gereja tidak mampu menjadi inspirator nilai-nilai ekonomi (Intraprenurship) maka gereja akan menciptakan umat-umat miskin fisik dan tentunya Injil akan sangat sulit untuk diwartakan. Ketiga Value (Social-Economic-Environmental) sebaiknya dijadikan bingkai segitiga dalam pelayanan Gereja masa kini dan sekaligus menjadi jembatan penghubung antara misi GKPB yang pertama dan misi GKPB saat ini.

———————————

Intisari dari materi kuliah Sustainable Value Creation, E. Cavagnaro, PhD.

About Admin

Kontak Person: Rai Utama, Mobile Phone 081337868577 email; igustibagusraiutama@gmail.com

Posted on February 9, 2008, in Artikel and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: