Monthly Archives: November 2008

ASURANSI TERBAIK DI DUNIA

This is my comfort in my affliction, for Your Word has given me life (Psalm 119:50)
“The God who washed away our sins will also wipe away our tears”

ASURANSI TERBAIK DI DUNIA

TRAKTAT: ASURANSI
Anda bingung menentukan asuransi mana yang ingin dibeli? Kami
ingin menawarkan sebuah perusahaan asuransi yang pasti tidak
mengecewakan. Berikut fiturnya:


PERUSAHAAN ASURANSI INI MENJAMIN:

Kehidupan
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Kesehatan
Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala
penyakitmu (Mazmur 103:3)

Pakaian
Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam
api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang
kurang percaya! (Lukas 12:28)

Kebutuhan Sehari-hari
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan
kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19 )

Kenyamanan
"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga
kepada-Ku. (Yohanes 14:1)

Persahabatan
Dan ketahuilah "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir
zaman." (Matius 28:20)

Kedamaian
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan
kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia
kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. (Yohanes 14:27)

Rumah yang abadi
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku
mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat
bagimu. (Yohanes 14:2)


ALASAN-ALASAN UNTUK IKUT ASURANSI INI:
1. Adalah perusahaan asuransi paling tua di dunia.
2. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mengasuransikan berbagai
kehilangan dalam api zaman akhir.
3. Satu-satunya perusahaan asuransi yang mencakup area yang kekekalan.
4. Kebijakannya tidak pernah berubah.
5. Manajemennya tidak pernah berganti.
6. Aset perusahaan terlalu banyak untuk dihitung.
7. Satu-satunya perusahaan asuransi yang membayarkan premi anda.

PREMI
Roma 5:8
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus
telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Efesus 2:8
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan
hasil usahamu, tetapi pemberian Allah
I Korintus 6:20
Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena
itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

PROSEDUR APLIKASI
Kisah Para Rasul 5:8
Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu
dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu,
maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
Kisah Para Rasul 16:31
"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat! .."
Semua premi untuk aplikasi ini telah dibayar oleh YESUS.
Lamar Boschman - "When I worship, I would rather my heart be without words
than my words be without hearth".

Berkat yang Retak

Berikut ini adalah cerita bijak dari Cina, sebagai bahan renungan

Seorang ibu di Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakan untuk mencari air, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya  di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di  tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu  itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.

Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai.

“Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.”

Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?

Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu.

Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.

Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.”

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing  …

Namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan.

Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.

Rekan-rekan sesama tempayan yang retak, semoga hari kalian menyenangkan.

Jangan lupa mencium wanginya bunga-bunga di jalur kalian.

Luangkanlah waktu untuk mengirimkan pesan ini kepada semua rekan yang juga seperti tempayan yang retak ini …

Tuhan tahu ada berapa dan siapa saja mereka!!!

KASIH ITU EGOISTIS

KASIH ITU EGOISTIS?

Saya akan ungkapkan satu kebenaran yang sederhana
kepada anda, bahwa kasih sejati itu sifatnya adalah
“mementingkan dirinya sendiri.” Kaget?! Lumrah!
Sebab selama ini anda malas mikir dan bisanya cuma
manggut-manggut ketika mendengarkan omongan orang.
Tapi sekarang saya ajak anda untuk mikir dan lebih
waspada terhadap ajaran-ajaran yang sepintas lalu
“baik” dan enak didengar oleh telinga, padahal itu
sangat menyesatkan.
Ketika mendengar kata: “kasih” mungkin yang
terbayang dalam benak anda adalah tentang seseorang
yang memberi sesuatu kepada orang yang lainnya?
Begitukah? Itu bukan kasih! Itu adalah pemelihara
anjing sedang memberi makan “tulang” kepada
anjingnya, sedangkan dagingnya sudah habis dimakannya
sendiri.
Tapi YESUS KRISTUS, ANAK ALLAH KHALIQ PENCIPTA
mengajari kita: “Kasihilah sesamamu manusia seperti
DIRIMU SENDIRI.” – Itulah sabda agung YESUS KRISTUS
selengkapnya.
Jadi, pada saat kita menolong seseorang, kita
diminta untuk masuk menjelma sebagai orang yang kita
tolong itu. Bahwa orang yang sedang ada di depan kita
itu bukanlah orang lain melainkan diri kita sendiri.
Nah, kalau orang itu adalah diri kita sendiri, maka
apakah yang pasti akan kita berikan kepadanya?
“Tulang” atau “daging?” – Nggak mungkin kita
akan memberi diri sendiri “tulang”, bukan?
Dalam ajaran Kristen tidak ada konsep “orang
lain” itu. Semua orang adalah “SAMA.” -
“sesama.”
Sebab tidak mungkin ada orang yang mau memberikan
sesuatu kepada orang yang lainnya. Itu mustahil
sekali! Kecuali dipaksa oleh ajaran yang memberikan
iming-iming sorga-neraka, pahala-dosa, maka
terpaksalah kita ini memberikan sesuatu kepada orang
lain. Karena itu apa yang kita berikan kepada orang
lain itu adalah “tulang”, nggak pernah
“daging.”
Konsep ALLAH sendiri juga begitu: “AKU ini TUHAN,
itulah namaKU; AKU tidak akan memberikan kemuliaanKU
kepada yang lain…………..” – Yesaya 42:8.
YESUS KRISTUS turun ke dunia menjadi PENEBUS dosa
kita, itu juga atas dasar konsep kasih yang sama,
yaitu kasih yang egoistis. YESUS “membayangkan”
jika diriNYA sebagai manusia[kita], DIA juga akan
bernasib sama seperti kita. Jika YESUS itu lahir di
Lamongan, maka DIA akan menjadi seperti Amrozi
liarnya. Jika YESUS itu lahir di Banten, maka DIA bisa
menjadi seperti Imam Samudera ganasnya. Jika YESUS itu
lahir di Jerman, maka DIA akan seperti Hitler. Jika
lahir di Semarang pasti juga akan seperti Syekh Puji
yang mengawini bocah 12 tahunan itu. Jika lahir di
Tanah Arab pasti juga akan melakukan poligami dengan
25 istri kayak si Mamad itu. Begitu juga jika lahir di
Beijing-China, maka DIA akan menjadi penyembah pak Gao
yang mesam-mesem juga. Jika lahir di Amerika akan
menjadi George Bush yang membombarder negeri Irak
juga. Jadi, sama aja, nggak ada bedanya!
Karena kenyataan demikian itulah YESUS mengambil
langkah-langkah untuk memberikan pertolongan kepada
kita. Ketidakmampuan-ketidakmampuan kita ditanggung ke
atas bahuNYA, sebab DIA tahu secara pasti bahwa kita
ini tidak berdaya.
Bahwa si Rudy bisa menjadi Amrozi dan Amrozi bisa
menjadi Rudy. Antara George Bush dengan Osama bin
Laden itu sama saja. Antara anda dengan saya itu sama
saja.
Itulah sebabnya YESUS nggak berani turun ke dunia
secara telanjang seperti kita, melainkan dikawal
secara ketat oleh ROHKUDUS semenjak kejadianNYA.
Supaya konsep-konsep dunia tidak sempat meracuni akal
budiNYA. Itu saja yang membedakan antara kita dengan
DIA.
Jadi, YESUS mengasihi kita itu adalah atas dasar
kasih terhadap diriNYA sendiri itulah! Dari sanalah
kita ini mendapatkan derajat kemuliaan yang sama
seperti DIA. YESUS memberikan apa yang terbaik dan apa
yang IA punyai [nyawaNYA], sebab DIA sedang mengasihi
diriNYA sendiri. Dan kita menikmati itu sebagai suatu
pemberian yang amat luar biasa, sebab kita yang
manusia ini bisa menikmati fasilitas sebagai anak-anak
ALLAH!
Bukankah keinginan kita: “andaikata masuk ke sorga
itu bisanya dimudahkan, nggak dibelat-belit, nggak
usah harus begini atau begitu, nggak usah dituntut
harus suci, tetapi bisa secara apa adanya kita?!”
Nah, apa yang kita rindukan itulah yang YESUS berikan
kepada kita. Sebab YESUS-pun nggak mau disulit-sulit
seandainya DIA menjadi kita. Pinginnya pasti yang
praktisnya itu yang gimana?! YESUS sangat mengerti
keinginan kita!
Bukankah anda pingin menjadi pegawai negeri yang
gratis? Bukankah anda pingin harga barang-barang
murah? Bukankah anda pingin sekolah gratis?
“Presiden di republik mimpi” itu pun membayangkan
seandainya dia yang menjadi rakyat seperti kita saat
ini, bukankah itu pula yang akan dia rindukan? Nah,
karena bayangan “presiden di republik mimpi” itu
seperti itu, yaitu membayangkan tentang dirinya
sendiri yang menjadi rakyat, maka itulah sebabnya kita
sekarang ini menikmati semua itu. Tapi karena presiden
kita yang nyata sekarang ini adalah “pemelihara
anjing”, maka tidaklah salah kalau yang kita nikmati
sekarang ini adalah tulang-belulangnya saja. Sebab
kita ini anjing di matanya!
YESUS tidak demikian! Kita adalah diri YESUS
sendiri. YESUS mengasihi kita seperti YESUS sedang
mengasihi diriNYA sendiri. Kita bukan orang lain
bagiNYA!
Nah, ternyata enak ‘kan model kasih yang egoistis
itu?! Sangat menguntungkan kita ‘kan?! Berbeda dengan
model kasih yang ditawarkan oleh si Mamad, bukan?
Suatu kasih yang sangat tidak realistis, yang nggak
mungkin bisa dijangkau oleh kita. Bagaimana kita akan
memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang lain?!
Nggak mungkin itu! Paling yang bisa kita berikan ke
orang lain adalah tulang.
Tapi kasih YESUS sangat sederhana, sangat mudah
untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Syaratnya cuma satu saja; siapakah orang yang ada di
hadapanmu itu? Dirimu sendirikah ataukah anjing
peliharaanmukah?! Mata yang mana yang engkau pakai
untuk melihat agar orang lain itu bisa terlihat
sebagai diri kita sendiri? Mata jasmani kita atau mata
rohani kita? Asal mata kita beres maka pemberian kita
juga akan beres. – Baca tulisan saya: “Melihat
ALLAH.”
Dengan kasih yang egoistis ini kita nggak mungkin
akan membenci seorangpun. Nggak akan mencubit orang
apalagi mengebom orang. Nggak akan lahir Amrozi-Amrozi
lagi!
Pola hidup jemaat yang mula-mula di kitab Kisah Para
Rasul akan bisa kita nikmati;
“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap
bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan
bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta
miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang
sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun
dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari
dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah
masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama
dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji
Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap
hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang
diselamatkan.” – Kisah 2:44-47.

“Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu,
mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang
berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah
miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah
kepunyaan mereka bersama. ………….Sebab tidak ada
seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena
semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual
kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu
dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan
keperluannya. – Kisah 4:32-35.

Tapi, bukankah makan daging sendiri dan memberikan
tulang kepada orang lain itu yang dimaksud dengan
egois? Bukan! Itu bukan egois, tapi kebodohan! Orang
itu nggak mikir bahwa setiap saat dirinya bisa dirubah
hidupnya menjadi seperti orang yang diberinya tulang
itu. Daya pikirnya nggak sampai sejauh itu. Karena
itu, itu bukanlah egois melainkan kebodohan.

Bukankah Paulus katakan bahwa kasih itu tidak
mementingkan dirinya sendiri? Adakah itu bertentangan
dengan perkataan saya? Jelas tidak. Paulus
membahas/melihat dari sisi permukaannya, sedangkan
saya dari sisi hakekatnya. Apa yang saya sebut sebagai
kebodohan, itulah yang Paulus maksudkan sebagai
mementingkan dirinya sendiri.

Kaca Spion

Kaca Spion
oleh Andi F. Noya

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan
Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.

Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu.. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepad! a istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi adalah hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.

Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika
masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta.. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja! di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh.. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi tra! uma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma
enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya.

Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, ! yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat
kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya
putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu
berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.

Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena
sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk
itu. Sebab! kamu sudah bekerja keras.”

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado
yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.

Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin
melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha
meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban! yang harus mereka pikul.

Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Toko Grosir Surga

Semoga jadi berkat sepanjang minggu ini.

2 Korintus 8:9

Suatu hari dalam perjalanan hidup saya, saya melihat sebuah papan bertuliskan, “Toko Grosir Surga”.

Ketika saya berjalan dan hendak masuk ke toko itu, pintu segera terbuka dengan begitu lebar.

Sementara saya berdiri dalam kebingungan ketika berada dalam toko tersebut, saya melihat banyak malaikat yang berdiri dimana-mana. Salah satu dari mereka memberikan keranjang belanja kepada saya sambil berkata,

“Anakku, berbelanjalah dan pilih apa saja yang engkau mau, semua kebutuhan orang Kristen tersedia di toko ini dan jika engkau tidak bisa membawa semua belanjaan mu, engkau boleh kembali lagi kesini.”

Pertama-tama saya mengambil KESABARAN dan KASIH, karena keduanya berada di rak yang sama.

Dibawah rak itu saya melihat PENGERTIAN dan saya pun mengambilnya.

“Kau selalu memerlukannya dimanapun kau pergi,” kata malaikat yang ada di depan saya.

Saya mengambil 2 kotak KEBIJAKSANAAN dan sekantong IMAN.

Saya juga tidak melupakan ROH KUDUS karena itu terletak di setiap tempat di dalam toko itu.

Saya berhenti sejenak untuk mengambil sebungkus KEKUATAN dan KETEGUHAN HATI untuk menolong dan memampukan saya melalui perjuangan hidup ini.Meskipun keranjang saya sudah penuh, tetapi saya teringat bahwa saya membutuhkan ANUGERAH.

Saya juga tidak melupakan KESELAMATAN karena saya tahu itu merupakan barang yang gratis di toko tersebut.

Saya mengambil lebih, agar bisa membagikannya kepada orang lain yang membutuhkannnya.

Saya berpikir, “ini kan cuma-cuma.” Keranjang saya kini benar-benar penuh dan saya berjalan ke kasir untuk membayar belanjaan. Saya berpikir, “Dengan semua yang saya beli, saya pasti bisa menyenangkan Tuhan saya.”

Di depan kasir saya melihat DOA dan tanpa menunggu lebih lama saya segera mengambilnya karena saya tahu tanpa DOA saya akan segera jatuh dalam pencobaan.

DAMAI dan SUKACITA adalah dua hal penting yang hampir saya lupakan. Saya segera mengambil satu keranjang kecil untuk keduanya dan untuk NYANYIAN PUJIAN.

Pada akhirnya saya berkata kepada malaikat, “Sekarang berapa yang harus saya bayar?”

Ia hanya tersenyum dan berkata, ” Kamu tinggal membawanya saja.”

Sekali lagi saya bertanya dalam kebingungan, “Sungguh, berapa harga semua ini?”

Ia tersenyum dan berkata, “Anakku, bertahun-tahun yang lalu Yesus telah membayar semuanya untuk mu.”

Aku terharu, aliran-aliran bening membanjiri mataku.

Di dalam Iman semuanya sudah tersedia bagi kita yang percaya kepada YESUS.

Kita tinggal mengambilnya kapan dan berapa banyak yang kita mau.

Alkitab berkata bahwa Ia datang supaya kita memiliki hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

DIA menjadi miskin agar kita kaya dalam segala hal.

Saat ini “Toko Grosir Sorga” masih terbuka, dan YESUS mengharapkan agar kita semua datang dan menikmati hasil dari pengorbananNYA.

Jika anda merasa diberkati dengan renungan ini, tolong kirimkan kepada orang-orang yang anda kenal supaya berkat itu selalu mengalir.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.